Bab 1. Pertengkaran Malam Pertama.
"Pelan, Edric ... sakit ...," rintih Evelyn yang malam itu berada dalam kungkungan pria yang baru beberapa jam lalu resmi menjadi suaminya.
Air mata wanita berusia 28 tahun itu tak mampu terbendung seiring dengan hentakan kuat Edric Santoso. Kedua tangannya yang berkuku panjang mencakar punggung kekar pria itu sebagai pelampiasan rasa perih pada inti tubuhnya.
Akan tetapi, Edric sama sekali tak menghiraukan rintihan kesakitan sang istri. Ia memperlakukan istrinya dengan kasar, menjadikannya pelampiasan amarah yang terpendam.
Bukan tanpa alasan ia bertindak demikian. Semua itu ia lakukan karena Evelyn telah menipunya, hingga membuatnya terjebak dalam pernikahan yang tak pernah ia inginkan.
"Nikmati rasa sakitmu, Evelyn! Rasa sakit yang kamu terima ini tak sebanding dengan sakit hati yang aku rasakan," geramnya tertahan, masih dengan gerakan kasar yang tak memberi jeda.
Suara desahan dan rintihan bercampur, mengisi malam panas yang penuh ketegangan. Hingga beberapa saat kemudian, tubuh Edric menegang sesaat sebelum akhirnya menyemburkan cairan hangat ke dalam rahim Evelyn.
Setelah itu, ia bangkit dari atas tubuh sang istri, lalu memungut celana yang tergeletak di lantai dan mengenakannya dengan gerakan cepat tanpa menoleh.
Evelyn segera menarik selimut tebal untuk menutupi tubuh polosnya. Ia menyandarkan diri pada kepala ranjang, sementara isakan lirih masih terdengar, memenuhi kamar pengantin bertipe suite room tersebut.
Wanita itu hanya memerhatikan pergerakan sang suami dalam diam. Hingga beberapa saat kemudian, sebuah surat yang terselip bolpoin dijatuhkan kasar ke atas pangkuannya.
"Segera tanda tangani! Aku ingin mengakhiri pernikahan yang menjijikkan ini secepatnya," kata Edric dengan nada dingin.
Evelyn membuka lipatan surat tersebut dengan tangan gemetar. Mata yang semula memerah karena tangis, kini berubah diselimuti amarah saat membaca isi surat tersebut.
Surat Pernyataan Cerai.
Di bawahnya, tertera nama Edric Santoso sebagai pihak penggugat dan namanya sebagai pihak tergugat.
Seketika, tatapan nyalang ia layangkan ke arah pria yang masih berdiri angkuh di hadapannya.
"b******k kamu, Edric! Setelah merenggut keperawananku ... kamu mau membuangku," geramnya tertahan.
Namun, Edric justru membalas dengan senyuman sinis.
"Gak usah berlagak jadi korban, Evelyn. Di sini akulah korbannya. Kamu menipuku ...." Edric melangkah mendekati ranjang, lalu menyibak selimut yang menutupi tubuh Evelyn dengan kasar.
"Bagaimana jadinya kalau bercak merah ini aku tunjukkan pada semua orang? Nama baikmu yang sudah hancur itu akan semakin buruk di mata mereka. Semua orang akan tahu kalau kamu cuma hamil palsu. Kamu gak pernah hamil anakku dan kamu menjebakku!" teriaknya di akhir kalimat sambil menunjuk noda merah di seprai putih tersebut.
Evelyn tertegun masih dengan tubuh yang terbalut selimut seadanya. Tatapan penuh amarah yang sempat menyala kini perlahan memudar menjadi tatapan kosong. Tangannya meremas kuat selimut dalam dekapannya.
"Kalau gak mau masalah ini aku sebarkan, cepat tanda tangani surat cerai itu! Aku gak mau jadi bidakmu!" Suara Edric kembali menggema memecah keheningan kamar, menarik paksa kesadaran Evelyn.
"Aku gak mau cerai," sahut Evelyn lemah, dengan pandangan lurus ke depan.
Ucapan itu justru menyulut amarah dalam diri Edric. Pria itu mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat. Dengan gerakan kasar, ia mencengkeram dagu Evelyn, lalu mendekatkan wajah mereka.
"Sepuluh tahun tinggal di Keluarga Wijaya telah mengubahmu jadi penipu ulung, Evelyn," geram Edric tepat di depan wajahnya. "Kamu bukan lagi Evelyn-ku yang lugu. Kamu sudah berubah. Kamu penipu, Evelyn!"
Kedua mata Evelyn memanas mendengar tuduhan itu, seiring dengan rasa perih yang semakin menyayat di dalam d**a.
Ia ingin membantah, ingin berteriak bahwa dirinya tak pernah berniat menipu. Namun, kata-kata itu seolah tersangkut di tenggorokan, tak mampu keluar.
Sorot kekecewaan di mata Edric terlihat jelas. Sekali lagi, ia telah mengecewakan pria itu—pria yang dulu pernah bertahta di hatinya—seperti sepuluh tahun yang lalu.
Dulu, mereka pernah menjalin hubungan semasa sekolah. Edric adalah kakak kelasnya saat SMA. Hubungan itu kandas karena keputusan sepihak darinya, tepat sebulan setelah kedua orang tuanya meninggal dan ia diasuh oleh Keluarga Wijaya.
Semua masalah ini bermula di malam pernikahan kakak sulungnya, Nathalia Wijaya. Waktu itu, Adrian–Kakak keduanya menyebarkan sebuah fitnah tak berdasar, yang menuduhnya menggoda suami Nathalia.
Tuduhan itu dilontarkan tanpa ragu, bahkan tanpa bukti, tetapi cukup untuk menghancurkan reputasi Evelyn dalam sekejap.
Nathalia yang biasanya selalu memercayainya pun ikut terhasut oleh tudingan itu. Ia terus menangis sambil memaki dirinya. Sementara anggota keluarga lainnya memandang Evelyn dengan jijik, seolah ia benar-benar w*************a.
Evelyn berkali-kali mencoba membela diri. Namun, tidak ada seorang pun yang mau percaya atau pun sekadar mendengar pembelaannya. Ia sendirian. Benar-benar sendirian seperti terdakwa tanpa pembela.
Sampai akhirnya, dalam keputusasaan, ia melakukan satu hal yang bahkan tidak pernah ia rencanakan sebelumnya.
Ia mengaku hamil anak Edric Santoso
Detik itu juga, Keluarga Wijaya langsung gempar. Edric Santoso adalah bagian dari keluarga yang selama ini menjadi rival mereka.
Dalam sekejap, arah tuduhan berubah.
Evelyn bukan lagi sekadar penggoda suami kakaknya, tapi berbalik arah dianggap sebagai pengkhianat keluarga yang berani menjalin hubungan dengan keluarga musuh.
Namun, Evelyn tidak peduli dengan tuduhan itu. Baginya, ini adalah satu-satunya jalan keluar.
Dengan menyeret Edric ke dalam masalahnya, ia punya kesempatan untuk keluar dari neraka itu.
Sampai akhirnya, terjadilah pernikahan ini. Pernikahan yang dianggap sangat menjijikkan oleh Edric.
Hanya gelengan pelan yang mampu ia berikan, menggantikan kata-kata yang tak mampu terucap.
"Kamu tahu penipuan, kan?" lanjut Edric dengan suara lebih rendah, bahkan terpaan napasnya terasa di wajah Evelyn. "Pasal 378 KUHP tentang Penipuan. Kamu bisa aku tuntut, Evelyn. Kamu akan mendekam di dalam penjara."
Mata Evelyn membola sempurna. Ia langsung menggeleng keras disertai kepanikan yang tergambar jelas di wajah. Ia tak ingin masalah ini sampai masuk ke ranah hukum.
Ancaman itu bukan sekadar gertakan. Jika Edric yang mengatakan, maka itu bisa menjadi kenyataan. Sebagai seorang pengacara akan sangat mudah bagi Edric untuk menjerat Evelyn, bahkan menyeretnya ke balik jeruji besi.
Ini masalah pribadi. Evelyn tak ingin semuanya menjadi semakin rumit.
"E-Ed, tenang, ya ... tolong, jangan bawa-bawa hukum. Kita selesaikan baik-baik," ucapnya terbata, dengan sorot ketakutan yang tergambar jelas di matanya.
"Cara menyelesaikannya cuma satu ... tanda tangani surat cerai itu." Edric menekan paksa surat dan bolpoin ke tangan Evelyn.
Setelah itu, ia berdiri dan menghempaskan wajah wanita itu hingga tertoleh ke samping.
Evelyn menatap nanar lembar surat berlogo pengadilan agama tersebut. Namun, dalam sekejap, tatapannya berubah tajam. Alih-alih menurut, ia merobek surat itu menjadi potongan-potongan kecil, lalu menghamburkannya ke udara.
Sikap yang ditunjukkan Evelyn berhasil mengobarkan amarah dalam diri Edric.
"Kamu ingin cerai, kan? Kalau kamu tetap memaksa ... sama saja kamu menyakiti ibumu, Edric. Apa kamu tega melihat Tante Linda sedih?”
Raut wajah Edric dalam sekejap berubah saat mendengar nama sang ibu disebut. Rahangnya tak lagi sekeras tadi. Tubuhnya mematung di tempat.
“Jangan bawa-bawa mamaku."
Senyum sinis tercetak di bibir Evelyn melihat perubahan signifikan pada raut wajah sang suami.
“Kenapa gak boleh? Aku cuma bilang fakta! Faktanya ibumu sangat bahagia saat tahu aku hamil. Bahkan ibumu memiliki andil besar dalam pernikahan kita," ucapnya pongah. Ia merasa puas melihat Edric tak berkutik, sebab berhasil menyerang tepat titik lemah pria itu.
Edric hanya bisa menggeram tertahan dengan kedua tangan terkepal kuat di sisi tubuh. Ia terdiam sesaat memikirkan ucapan Evelyn. Bayangan wajah bahagia sang ibu kembali berkelebat dalam ingatan.
Ibunya terlihat sangat bahagia saat mengetahui dirinya kembali bersatu dengan Evelyn. Ia tidak tega membuat ibunya bersedih oleh keputusan sepihak darinya.
"Baik, aku turuti keinginanmu. Kita tidak akan bercerai.”
Evelyn tersenyum penuh kemenangan mendengar ucapan Edric. Namun, senyuman itu tak bertahan lama. Senyum lebar yang sempat terukir dalam sekejap memudar mendengar kelanjutan ucapan sang suami.
"Tapi aku ingin membuat kesepakatan. Pernikahan ini akan tetap berlanjut sesuai keinginanmu.'' Edric menjeda sejenak ucapannya, yang berhasil membuat Evelyn menahan nafas.
''Pernikahan kita akan berlangsung selama 1000 hari. Selama itu, kamu harus hamil dan melahirkan anakku. Setelah itu, kita akan bercerai dan hak asuh sepenuhnya jatuh ke tanganku.''
Evelyn meremas kuat sisa surat yang ada di tangan. Tatapannya tajam ke depan menatap sang suami yang masih berdiri angkuh di hadapannya.
Ia tertegun sejenak. Waktu seribu hari bukanlah waktu yang sebentar.
Edric mengajukan kontrak untuk pernikahan mereka. Tapi baginya ini bukan sekedar kontrak. Ini adalah perangkap, bahkan bisa jadi ini adalah hukuman untuk dirinya. Setelah Edric gagal mengancamnya.
Evelyn menghela napas panjang. Ia tidak boleh menyerah demi harga dirinya dan demi kebohongan yang terlanjur ia buat agar tidak terbongkar.
''Oke, aku setuju. Tapi dalam kurun seribu hari, kalau aku bisa membuatmu jatuh cinta lagi ... otomatis kesepakatan kita gugur, Edric Santoso. Aku akan menjadi istrimu untuk seterusnya sampai aku bosan dan membuangmu."
''Deal!''