Hari-hari berlalu dan hubungan antara Adelina dan Marko mulai membaik. Namun, seperti cinta yang tumbuh dari luka, selalu ada keraguan kecil yang mengintip dari sudut hati. Adelina belajar untuk mempercayai lagi, meski tak mudah. Ia masih sering terbangun di malam hari, memikirkan apakah semua yang dijanjikan Marko adalah nyata. Ia takut menjadi lemah oleh cinta—takut jika pada akhirnya dirinya hanya akan terluka lagi. Namun Marko tak menyerah. Ia mulai menunjukkan ketulusan lewat hal-hal kecil: menjemput Adelina sepulang kuliah, membawakan bekal buatan sendiri, hingga menuliskan catatan kecil yang ia sembunyikan di dalam buku Adelina. > *“Cinta bukan sekadar kata. Tapi pilihan yang kuteguhkan tiap harinya—untuk kamu.”* Kalimat sederhana itu membuat Adelina menangis diam-diam di ruan

