Langit senja Jakarta mulai memerah saat Adelina berjalan sendiri di trotoar kawasan Kemang, membawa buku-buku dari kampus. Kepalanya penat, pikirannya kalut. Sudah hampir enam bulan sejak ia terakhir bicara dengan Marko. Hubungan mereka terputus tanpa kejelasan. Bukan karena tak cinta, tapi karena terlalu banyak tekanan—dari lingkungan kampus, keluarga, dan dari dirinya sendiri. Tapi malam itu... segalanya berubah. Saat ia hendak menyebrang jalan, sebuah mobil berhenti mendadak di hadapannya. Jendela diturunkan perlahan. Seseorang menatapnya dari balik kemudi. Seseorang yang membuat jantungnya seperti berhenti berdetak. “Adelina...” Suaranya serak tapi hangat. Sorot matanya belum berubah. Masih penuh kerinduan. “Marko?” Ia membuka pintu mobil itu tanpa pikir panjang. --- **Di seb

