Sore itu cuaca sedang sangat bersahabat. Matahari menggantung malu-malu di langit, tertutup sedikit awan putih yang menggumpal seperti kapas. Angin berhembus ringan, membelai pepohonan di sepanjang jalan kompleks perumahan elite tempat keluarga Brian dan Keisha tinggal. Suara burung bersahutan dari balik pepohonan, dan para anak-anak tetangga mulai ramai bermain sepeda atau sekadar berlari-lari di halaman. Adnan baru saja pulang dari latihan futsal di sekolah. Kaosnya sudah basah oleh keringat, dan tas olahraga tergantung berat di punggungnya. Ia berjalan santai menuju rumah dengan langkah santai—sampai matanya tanpa sengaja menangkap sosok yang amat dikenalnya di ujung jalan. Mata Adnan menyipit. Ia berhenti sejenak, mencoba memastikan apa yang ia lihat bukan sekadar bayangan karena lela

