Bab 75

715 Kata

Suasana di ruang sidang pagi itu sangat tegang. Kamera dari media-media nasional berjajar di luar gedung. Para wartawan tak henti melontarkan pertanyaan, berharap bisa mendapatkan pernyataan resmi dari pihak keluarga Keisha maupun keluarga Clara. Tapi di dalam, semua terasa sunyi—hanya detak jam dan desahan napas para penonton sidang yang terdengar jelas. Clara duduk di kursi terdakwa dengan kepala tegak. Ia mengenakan blazer abu tua yang rapi, rambutnya disanggul dengan anggun, namun tak mampu menyembunyikan sorot matanya yang tajam dan penuh dendam. Di sebelahnya duduk seorang pria paruh baya—pengacaranya, Pak Gautama. Pria dengan pengalaman puluhan tahun dalam hukum pidana dan perdata, dikenal tangguh dan loyal. Hakim utama, Ibu Ratna Wirawan, seorang perempuan berwibawa dan tegas, me

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN