Untuk ke sekian kali, aku berdiri di samping pohon ini. Dengan situasi dan ketegangan yang masih sama seperti semula. Dua makhluk ini memandangi diriku dengan sangat serius. Akhirnya, aku yang akan meminta pintu penghubung antara dua dunia ini. “Oke, sayang. Kamu sudah siap?” Ratu menanyakannya kepada diriku. “Mmmmm... siap Bunda.” Siap atau pun tidak, aku harus tetap meminta pintu itu untuk muncul di sini. Aku berusaha untuk tenang. Aku pikirkan sebuah tempat yang pernah aku kunjungi. Tentu saja, aku tidak bisa menyebutkan nama tempatnya. Karena saat ini, pohon roh yang masih belum pergi dari tempatnya. Dia bisa membaca pikiranku. Ratu tadi sempat memaksa diriku untuk memanggil nama pohon roh itu. Sehingga mau tidak mau, dia pasti bisa mendengar suara hatiku. Setelah aku memegang pucu

