Aku duduk di samping ranjang tempat aku mengistirahatkan tubuh ini. Namun kini, di sana terbaring seseorang yang biasanya melayani semua kebutuhanku. Aku terus memperhatikan tubuh mungil itu. Aku juga melihat seluruh luka di tubuhnya yang mulai sembuh sedikit demi sedikit. Aku yang terbiasa hidup sendiri, kini mulai merasakan perasaan kasian terhadap orang lain. Terutama, orang itu peduli terhadap kita. Aku memperhatikan wajah Merku yang masih belum menunjukkan tanda- tanda akan bangun. Meski aku tahu, dia juga yang membantu sang Ratu saat menjadikan aku sebuah kelinci percobaan. Namun, aku masih sangat merasa iba terhadap Merku. Karena, dia dan Uhi adalah orang- orang yang selalu menemaniku di dunia yang aneh ini. Kini perhatianku beralih kepada ruangan tempat aku berada sekarang. Ruang

