Keberuntungan demi Keberuntungan Adit

1194 Kata
            Adit kemudian melangkah pasti emnuju lapak si abang yang tadi menawarinya minuman gratis itu.             “Beneran ni bang, gratisan buat aye?” tanya Adit memastikan. Ia takut kalau bukan ia yang dipanggil, namun ternyata memang Adit lah yang di maksud oleh abang penjual minuman itu.             “Nih dek air mineralnya. Abang memang lagi pengen berbagi, nah kebetulan adek lewat sekalian aja deh ini buat adek. Ambil aja dua, kebetulan dari tadi lapak abang laris manis tanjung kimpul” ujar abang yang berusia sekitar tiga puluh tahunan itu.             “Wahhh, makasih banyak ya bang, kebetulan aye lagi kagak bawa duit. Alhamdulillah dapat rezeki, air mineral cuma-cuma dari abang. Sekali lagi makasih banyak ya bnag” ujar Adit. Ia sangat senang sekali, ternyata memang terbukti sumpit yang ia miliki sakti mandraguna sehingga apa yang ia inginkan bisa menjadi kenyataan. Satu hal yang menarik adalah kenapa Adit yang terpilih untuk memiliki barang ajaib aja. Apakah memang sudah jalan rezekinya sehingga hal yang dulunya ia anggap mustahil sedikit demi sedikit menjadi mungkin untuk ia miliki. Namun ia harus ingat pesan yang disampaikan sang kakek bahwa ia adalah orang yang terpilih untuk memiliki dan menjaga barang yang kelak akan membuat orang lain iri dan berduyun-duyun untuk berusa memilikinya dengan cara yang tidak baik sekalipun.             Adit kemudian membawa dua botol air mineral dingin menuju ke tempat Adhim berada. Sedikit rgesa karena ia tak ingin membuat Adhim yang sedang kehausan harus emnunggu lama, padahal sebenarnya Adit memang sudah berada lumayan lama dalam usaha pencarian minuman gratis itu. Ia ingin benar-benar memastikan apakah benar sumpit yang ia miliki itu ajaib dan ternyata memang karena sumpit itulah ia bisa menjadi seperti sekarang. Mendapatkan sesuatu yang sebelumnya hanya khayalan saja namun secara tiba-tiba berubah menjadi kenyataan bagi dirinya dan juga keluarganya. Satu per satu potongan puzzle yang awalnya sangat sulit terangkai, satu persatu bisa Adit temukan polanya. Ia harus pandai-pandai memanfaatkan keadaan dan jangan sampai salah membayangkan agar taka da penyesalan di belakang nantinya.             “Dhim, nih abang bawakan air mineral. Buruan Di minum, katanye tadi aus?” ujar Adit sambil menyerahkan satu kemasan air mineral yang tampak berembun di bagian luarnya karena masih dalam keadaan dingin.             “Loh, abang dapat dari mana, bukannya abang kagak bawa duit ya?” tanya Adhim sambil membuka tutup kemasan dan meminum isinya hingga nyaris tinggal setengah saja.             “Abang tadi ketemu temen abang, di kasihlah abang ini. Kebetulan dia beli aernya kebanyakan, jadi abang di kasih deh ma die” ujar Adit, Tak enak sebenarnya harus menutupi sesuatu dengan sesuatu yang lainnya, namun mau tak mau harus dilakukan atas konsekuensi yang harus ditanggung dari segala kemudahan yang telah ia dapatkan dari sumpit ajaib nan sakti mandraguna.             “Wahhh, kawan abang pada baek-baek semua ya bang. Ntar kalo Adhims egede abang, temen-temen Adhim pada baek juga kan ya kayak temen-temen abang?” tanya Adhim lagi. Adit hanya mengangguk ragu, namun ia tak menampik bahwa sekarang ia memiliki teman dalam bentuk lain yang akan selalu membantu Adit mendapatkan apa yang Adit inginkan, dan semuanya pasti akan terwujud. Mengenai hal lain tentang syarat ataukah ada hal yang ta kia dapatkan, Adit masih harus menerka-nerka dulu karena biasanya kalau ada yang bisa dikabulkan otomotas ada hal yang tidak bisa dikabulkan, namun entah apa. Seiring berjalannya waktu, smeuanya pasti akan terkuak dengan jelas.             Adit dan Adhim kemudian menuju ke rumah, karena sudah cukup lama berjalan hingga menimbulkan rasa penat. Setelah meminum air kemasan hingga tandas, mereka berdua berjalan dengan santai menuju ke rumah. Sambil bersenda gurau sepanjang jalan, dua bersaudara itu terlihat akrab walaupun terkadang saling jahil menjahili adalah makanan sehari-hari ketika terkadang beraktifitas berdua.             “Assalamualaikum, nyak. Adit sama Adhim dah pulang” ujar Adit sebelum masuk ke dalam rumah. Kemudian mereka berdua melepas sepatu olahraga beserta kaus kaki dan meletakkannya di rak sepatu yang ada di balik pintu.             “Waalaikum salam, yaudah mandi dulu sana baru sarapan bedua. Nyak sama bapak sudah sarapan, nyak tinggal ya. Nyak mau ke pasar dulu, mau nyak belikan apa nanti?” tawar nyak kepada Adit dan Adhim.             “Adhim pengen makan ayam, boleh nggak nyak?” tanya Adhim spontan tanpa berpikir sebelumnya. Entah kenapa tiba-tiba Adhim menginginkan hal itu padahal sebelumnya karena sudah tahu bagaimana perekonomian keluarga yang sangats ederhana, makan dnegan lauk sayur dan tahu tempe atau ikan saja sudah sangat bersyukur.             Adit dan nyak saling berpandangan, heran dengan permintaan Adhim yang tiba-tiba ingin makan ayam. Ya, walaupun tak menampik memang sudah cukup lama rasanya keluarga ini tidak makan ayam. Kalaupun ada, biasanya menu ayam tersaji ketika ada nasi berkat dari tetangga yang sedang ada hajatan. Terlihat ibu menatap Adhim.             “Insya Allah kalau ada rezeki nanti nyak beliin ayam ya buat Adhim. Ntar nyak masakin sop ayam, sama ayam goreng krispi kesukaan Adhim. Nyak nggak janji ya nak, soalnya nyak cuman bawa uang sedikit buat beli lauk hari ini.             Tak lama kemudian, nyak pamit pergi ke pasar. Biasanya nyak menyusul bapak sampai depan pengkolan, kemudian meminta bapak untuk mengantarkan nyak pergi ke pasar untuk berbelanja. Nyak tidak setiap hari berbelanja, biasanya bisa dua sampai tiga hari sekali baru pergi ke pasar. Selama masih ada beberapa stok sayur, cabe dan tomat di halaman belakang biasanya nyak tidak akan pergi ke pasar dan hanya akan membeli sumber protein seperti tahu atau tempe di warung yang tak jauh dari rumah. Terkadang untuk menyiasati agar kebutuhan protein bisa terpenuhi, nyak sering membuat olahan berbahan dasar tahu dan tempe dengan berbagai jenis olahan, bisa di semur, bikin bacem, biar tidak bosan. Namun terkadang rasa bosan akan jenis makanan itu ya kadang timbul juga, mau makan ayam atau udang, ikan sesekali walaupun tak bisa sesering orang lain yang bisa makan beraneka ragam lauk setiap harinya. Setidaknya apa yang Adit miliki saat ini sudah sangat membanggakan bagi dirinya, memiliki keluarga yang penuh cinta kasih, bahagia dengan semua kesederhanaan yang dimiliki hingga kekurangan-kekurangan yang ada bisa di minimalisir sedemikian rupa.             Adhim lebih dulu mandi, barulah kemudian Adit. Mereka berdua kemudian sarapan bersama. Menu sarapan kali ini ada nasi goreng putihan dengan bumbu bawang merah dan bawang putih  tak lupa cabe rawit sebagai penambah selera makan. Ditemani suiran telur dadar yang Adit yakin pasti di tambah tepung dan air biar terlihat banyak, namun tetap sedap karena nyak memasak dengan penuh cinta. Ketika sarapan, Adhim terlihat lahap sekali. Adit menatap sang adik yang begitu lahap memakan menu sarapan yang sangat sderhana ini. Adit pun tak sengaja membayangkan bahwa Adhim sekarang sedang memakan ayam goreng krispi hari ini. Semoga saja ada rezeki lebih agar Adit bisa mengabulkan permintaan sederhana dari adiknya tersebut.             Usai sarapan dan membersihkan bekas sarapan. Adit dan Adhim menonton acara televisi. Kalau hari sekolah, susah untuk bisa bersantai di pagi hari seperti ini. Mereka berdua menonton acara kartun di salah satu stasiun televisi. Tak lama kemudian terdengar suara motor berhenti di depan rumah, di susul suara salam dari Nyak yang baru saja pulang dari pasar.             “Assalamualaikum” ujar nyak. Entah kenapa nyak terlihat sumringah sekali pagi ini. Ada apakah gerangan?             Balasan salam dari Adit dan Adhim pun terdengar. Kemudian nyak duduk mendekati kedua anaknya yang tengah menonton televisi. Ia kemudian berujar.             “Dhim, hari ini nyak bikinin ayam goreng krispi kesukaan Adhim” tutur nyak dengan wajah amat bahagia.                           
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN