Keberuntungan demi Keberuntungan yang Adit Alami

1614 Kata
            Pak Suryo kembali ke kamar dan merebahkan badannya ke atas kasur empuk berukuran besar itu. Pikirannya melayang, hingga sampai terbawa ke alam mimpi. Di dalam mimpinya ia melihat seorang kakek tua melambaikan tangan ke arahnya sambil menunjukkan sebuah benda yang sedang ia cari. Ada sepasang sumpit yang dipegang oleh kakek dengan rambut yang cukup panjang dan berwarna putih itu. Ia memegang sebuah benda yang cukup lama ia cari, Pak Suryo berusaha mengajar snag kakek, namun kakek tersebut seolah-olah terus menjauh. Lama Pak Suryo berusaha mengejar sang kakek misterius di balik tebalnya kabut yang menutupi jarak pandangan.             “Kek, tunggu kek. Tunggu!” panggil Pak Suryo hingga membangunkan istrinya yang telah terlelap. Jam di dinding menunjukkan pukul dua. Mama Hana kemudian berusaha membangunkan Pak Suryo yang ia lihat berkeringat dingin seukuran biji jagung yang membasahi permukaan wajah hingga sampai ke baju tidur juga ikut basah karenanya.             “Pa, bangun pa. Papa kenapa?” mama Hana tentu sangat cemas melihats emuanya yang tengah tertidur namun berteriak-teriak dengan keadaan yang cukup mengkhawatirkn macam orang yang sedang kesurupan. Sambil menepuk-nepuk pipi sang suami agar bisa segera sadar, mama Hana terus berusaha untuk membangunkan suaminya itu. Terlihat gurat kecemasan dari wajah cantiknya yang mulus terawatt karena ditunjang oleh perawatan mahal yang sering ia lakukan.             “Hahhh, hahh. Maaa” ujar Pak Suryo ketika baru bangun dari mimpi buruknya.             “Pa, papa nggak papa kan?” ujar istrinya dengan nada penuh kekhawatiran.             Usai menyandarkan tubuh ke sandaran kasur, Mama Hana mengambilkan segelas air untuk suami tersyang. Deru napas yang awalnya memburu sekarang sudah tak bersahut-sahutan seperti tadi lagi.             “Diminum dulu pa. Papa tadi kenapa? Mimpi buruk?” tanya istri Pak Suryo kepada suaminya yang terlihat berangsur-angsur membaik.             Pak Suryo pun menceritakan mimpi buruknya itu kepada snag istri. Menjelaskan bahawa barang yang ia cari berada di tangan seorang kakek yang sulit, amat sangat sulit untuk ditemui. Sang istri mendengarkan dengan saksama apa yang disampaikan oleh suaminya. Ia manggut-manggut saja pertanda mengerti padahal hanya sekadar ingin tahu karena hal ini berhubungan dengan bisnis yang tengah di jalani oleh suaminya tersebut. Ia harus selalu mendukung kiprah suaminya dalam berbisnis, karena akan mengganggu kestabilan keuangan keluarga. Apalagi dirinya terkenal royal dalam berbelanja sehingga bila sedikit saja ada kemuduran dalam hal bisnis yang tengah dijalani oelh suaminya maka otomatis uang belanja dan lain sebagainya akan dipangkas oleh sang suami. Ia tak ingin itu terjadi, apa kata teman-teman arisan, tetangga dan rekan yang kenal dengan dirinya bila mengetahui keluarga ini sudah tak seroyal sebelumnya. Siapa yang tak menginal keluarga Suryo Atmojo, pebisnis khusus barang antik yang tak hanya mengimpor namun jg mengeskspor barang-barang unik yang bernilai sejarah tinggi dengan harga yang fantastis. Tak jarang memang harus mengorbankan banyak waktu untuk mencari barang yang di cari hanya berdasarkan petunjuk dari mulut ke mulut.             Setelah di rasa tenang, orang tua Hana kembali memejamkan mata dan berusa untuk terlelap kembali karena masih ada cukup banyak waktu untuk bisa tidur kembali. Tak lama mereka berdua pun tertidur. Di kamar lain, ada Hana yang juga tengah bermimpi indah hingga tak sadar ia menyunggingkan senyum. Kebetulan besok hari Sabtu sehingga ia bisa sedikit bangun lebih siang. Di dalam mimpinya, ia dipuja-puja oleh banyak anak ellaki karena kecantikannya, apalagi setelah memakai mobil bar uke sekolah, banyak saingannya yang smeakin tertinggal jauh karena tak bisa melawan seorang Hana Putri Atmojo. Sudahlah cantik, kaya, ya walaupun dirinya tidak begitu pintar namun cukup lah untuk membuat para saingan yang iri dengan kepopuleran diri Hana di skeolah semakin menciut. Urusan lelaki jangan salah, ada banyak laki-laki tampan hingga lelaki yang biasa saja berusaha untuk mendapatkan cinta Hnaa. Namun hingga saat ini, Hana tak ingin fokus pada satu pria. Ia hanya ingin memanfaatkan masa mudanya dengan tak begitu memedulikan urusan hati. Lagi pula, papa juga tak begitu setuju melihat anak gadis kesayangannya dekat dengan seorang pria, papa bilang belum saatnya. Nanti saja, toh pacarana anak-anak zaman sekarang sudah semakin tak sehat sehingga mama dan papa begitu protektif menjaga Hana, Namanya juga anak tunggal. Semua yang diinginkan akan berusaha di wujudkan, dan semua yang berkaitan dengan keamanan dan kenyamanan putrinya pun menjadi hal yang nomor satu bagi papa dan maam Hana.             Adit pun sedang bermimpi, entah mimpi buruk ataukah bagius menurunya. Di mimpi iti, ia bertemu kembali dnegan sang kakek misterius yang telah memberikan jalan pada dirinya sehingga bsia memiliki sumpit unik yang setelah ia pahami mungkin saja itu adalah sumpit ajaib yang bisa mengabulkan keinginan si pemilik sumpit. Luar biasa bukan? Tentu menjadi hal yang amat sangat luar biasa, namun di tengah perjalanan mimpi yang Adit alami ini, aka nada banyak penghalang yang berusaha merebut sumpit dari tangan Adit dnegan berbagai daya dan upaya. Sang kakek sampai berpesan bahwa Adit harus menjaga sumpit ajaib itu dengan sepenuh hati agar tak jatuh ke tangan orang jahat yang kelak akan membawa keburukan bila dipergunakan oleh yang tidak tepat. Barang apapun itu bila sudah jatuh ke tangan orang yang salah maka akan dipergunakan untuk sesuatu yang salah pula, ucap sang kakek yang lagi dan lagi hadir di dalam mimpi Adit. Adit terbangun pas ketika adzan subuh berkumandang. Ia mengelap wajahnya yang sedikit berkeringat, entah efek gerah ataukah efek mimpi yang membuat dirinya sedikit berkeringat. Tampak Adhim yang masih asyik memeluk guling, di atas meja tergeletak hape mahal yang ia sampirkan dengan beberapa buku pelajaran sehingga tak begitu jelas bila di lihat secara sepintas.             Adit kemudian bangun, pergi ke kamar mandi untuk berwudhu dan menunaikan hajat harian setiap pagi.             “Lahh tumben Dit, kagak nyak bangunin udeh bangun” ujar nyak smabil mengaron nasi di dandang untuk sraapan kami berempat.             “Hehehe, ia nyak. Adit kebangun pas lagi mimpi makanya rada cepet bangun” ujar Adit smabil melangkah menuju kamar mandi.             Nyak kemudian terus melanjutkan aktifitas di dapur, Adit pun telah selesai menunaikan shalat subuh. Ia kemudian membangunkan Adhim yang sepertinya sudah bangun hanya saja masih enggan bangkit dari kasur.             “Bnag, jam berapa sekarang? Tumben abang cepet amat bangunnya?” tanya Adhim sambil mengerjap-ngerjapkan matanya.             “Baru setengah enam, bangun gih sono baru shalat subuh. Ntar kita jogging gimane, smabil ngetes kamera hape baru” ujar Adit.             “Wahhh, asyik. Ayoo bang, Adhim wudhu dulu ya” Adhim bersemangat seklai ketika Adit mengajaknya untuk jogging dan mengetes kamera hape mahal yang abangnya baru miliki itu.             Sambil menunggu Adhim shalat subuh, Adit bersiap menggunakan kaos oblong dan celana olahraga yang ia miliki. Tak baru memang namun masih layak pakai, apalah untuk membeli baju baru. Untuk bisa makan dan sekolah saja, Adit sudah amat sangat bersyukur.             “Bang, Adhim udeh siap nih” ujar Adhim yang juga telah siap dengan stelan olahraga. Kemudian mereka berdua pamit kepada nyak dan bapak. Kebetulan bapak agak siang ngojeknya, karena kalau sabtu minggu biasanya bapak membantu nyak beberes rumah. Lumayan sekalian cari keringat, begitu kata bapak. Setelah mendapatkan izin, Adit dan Adhim pergi jogging di area sekitar kampung. Lama juga juga rasanya tidak berolahraga pagi, paling-paling olahraga di sekolah seminggu dua kali, itupun Adit malas-malasan karena terkadang hanya senam, main bola dan itu-itu saja sehingga terkesan monoton dan membuat Adit gampang bosan karenanya.             Lumayan lama Adit dan Adhim berjalan, cukup banyak foto selfie mereka berdua dan Adhim yang berpose dengan berbagai gaya arahan oleh Adit. Hasil jepretan kamera hape mahal jangan di tanya, sudah pasti bagus dan teruji kejernihan kualitas gambar. Adit dan Adhim saja sangat takjub ketika melihat hasil foto yang sempat mereka abadikan. Mereka berdua terbiasa berfoto menggunakan hape Adit yang lama, itupun satu-satunya hape yang menggunakan kamera, selebihnya hape nyak dan bapak hanya bisa di gunakan untuk telepon dan mengirim SMS. Sehingga hape yang sekarang dimiliki teramat istimewa. Belum saatnya untuk nyak dan bapak tahu, cukup mereka berdua saja yang tahu, sebab Adit tak ingin ada hal-hal yang tak diinginkan setelahnya.             “Bang, Adhim haus nih. Abang ada bawa duit nggak buat beli minum?” tanya Adhim kepada abangnya yang sedang duduk di pinggir jalan. Tampak banyak warga yang berolahraga pagi, ada yang bersepeda, ada pula yang senam di lapangan kampung yang berukuran cukup luas itu. Adit kemudian mencari uang di saku celananya, siapa tahu kebetulan ada uang yang tertinggal di sana. Lama ia mencari, namun memang tak dapat ia temukan apa yang di cari. Adhim sudah terlihat kehausan. Teringat sumpit yang selalu ia bawa ke mana-mana, ia letakkan di dalam tas kecil yang ia sampirkan di pundak. Sepertinya ia hendak mencoba, apakah benar sumpit tersebut bisa mewujudkan apa yang ia bayangkan dan ia inginkan sekarang.  Adit mulai menjauh dari Adhim dan berkata ingin mencari air mineral untuk Adhim yang tengah kehausan. Tak ia hiraukan, Adhim yang bertanya bagaimana Adit bisa membeli minuman padahal ia melihat sendiri abangnya tersebut sedang tak membawa uang.             Adit sengaja menjauh agar bisa membuktikan apakah benar sumpit tersebut bisa mewujudkan apa yang ia inginkan sekarang. Ia kemudian duduk di sebuah pojokan gang. Ia kemudian emmejamkan mata dan membayangkan bahwa ia ingin minum air mineral yang dingin. Tak lama kemudian ia menutup mata dan melihat sekeliling, masih sepi dan tak ada tanda-tanda bahwa ia akan mendapatkan air mineral dingin yangs edang ia bayangkan. Ahh, mungkin saja kebetulan-kebetulan yang terjadi kemarin hanya faktor keberuntungan belaka, batin Adit.             Setelah itu, Adit kembali menuju ke tempat Adhim berada. Ia melewati sebuah lapak sederhana yang menjual beberapa jenis minuman, tiba-tiba si penjual memanggil Adit yang kebetulan lewat tepat di depan lapaknya itu.             “Dek, nih ambil air mineral” ujar abang penjual air mineral di lapak yang berada tak tajuh dari arah Adit berdiri sekarang.             Adit menoleh ke arah lapak tadi, ia merasa heran mengapa bisa ia yang dipanggil dari sekian banyak orang yang lalu lalang di sekitar situ. Adit menunjuk dirinya, kemudian abang snag penjual menganggukkan kepala pertanda bahwa memang benar Adit lah yang dipanggil. Kok bisa ya? batin Adit dalam hati.                                                             
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN