“Bang, kok ngelamun aje” tanya Adhim ketika melihat Adit terpekur dan maenerawang memikirkan semua yang kebetulan terjadi pada dirinya. Satu per satu keberuntungan yang ia dapatkan membuat Adit heran sekaligus takjub seolah tak eprcaya apakah semua ini benar karena sumpit yang ia beli pada seorang kakek misterius
“Ahh, kagak Dhim. Oh ia, ntar abang fotoin pake hape baru ini kalo ketemu Bnag Tora ntar” jawab Adit kepada sang adik.
“Ahsiappp bang, mesti cakep nih aye kalo di foto pake hape canggih macam ni bang.. Oh ia, temen abang baek bener ngasih abang hape mahal kayak gini” tanya Adhim lagi yang justru membuat Adit menggaruk kepalanya yang tak gatal karena pertanyaan Adhim barusan.
“Ia Dhim, temen abang orang kaya. Hape kek gini mah gampang dia beli, makanya abang dikasih satu. Hapenya aja lebih bagus dari yang abang punya ni” tutur Adit yang disertai anggukan kepala dari Adhim. Tak lama kemudian mereka mulai mengoperasikan hape mahal. Terlihat wajah-wajah antusias dari kedua anak lelaki yang tak pernah terbersit dalam pikiran seklaipun untuk bisa memiliki barang mewah seperti yang terpampang sekarang. Untuk membayangkannya saja sudah amat senang, apatah lagi hingga benar menjadi kenyataan.
Saking asyiknya mereka berdua memainkan hape baru dna menjelajahi penggunaan hape tersebut, hingga tak menyadari bahwa ada orang yang mendekat menuju kamar mereka berdua yang kebetulan sudah tertutup sempurna.
“Kreekkk” suara gagang pintu terbuka, pertanda ada yang hendak masuk ke dalam akmar Adit dan Adhim. Kedua anak yang sedang asyik beraktifitas itu pun terkaget karena sedari tadi masih berkutat dengan barang mahal yang baru saja mereka bisa lihat dan sentuh langsung. Cukup tahu diri, karena orang tak berpunya membuat Adit dan Adhim tak pernah berani meminjam barang mahal milik teman apalagi kerabat dekat mereka yang kebetulan memiliki kelebihan rezeki sehingga mudah saja membeli dan mendapatkan barng yang notabene harganya mahal.
“Eh nyak. Ada apaan nyak?” tanya Adit yang terlihat salah tingkah ketika nyak tiba-tiba masuk ke dalam kamar. Mungkin penasaran kenapa kedua anaknya memilih masuk kamar, padahl biasanya tak seperti itu.
“Nyak mau ngecek kalian bedua aja. Kirain dah pada tidur, habis cepet amat dah kalian berdua pada masuk kamar” ujar nyak sambil memperhatikan kedua anaknya yang tampak canggung.
“Hehehe, lagi baring-baring aja nyak sama Adhim. Ia kan Dhim?” tanya Adit smabil mengerlingkan mata pertanda agar Adhim tak membocorkan rahasia yang sengaja Adit rahasiakan dulu untuk sementara waktu. Adhim yang paham pun kemudian menganggukkan kepala kea rah Nyak untuk membenarkan apa yang abangnya katakan.
“Oh, yasudah. Nyak cuman mau ngecek aja. Eh tunggu-tunggu” mata nyak tettuju ke sebuah benda yang berada tak jauh dari tempat Adit duduk sekarang ini.
“Emm, kenape nyak?” ujar Adit was-was, takut-takut bila nyak sampai tahu rahasia yang sengaja ia dan Adhim sembunyikan.
“Lah ini kan tas belanja yang nyak cari-cari. Kok bisa nyangsang di sini ya” tutur nyak ketika melihat tas belanja yang terbuat dari rotan, ukurannya tak terlalu besar namun entah kenapa it utas belanja bisa ada di atas meja tanpa Adit sadari. Ya memang ia jarang menggunakan emja belajar, kerjaan Adhim nih kayaknya, batin Adit. Namun untunglah, bukan perihal hape yang sengaja Adhim sembunyikan di bawah bantal agar nyak tak melihat apa yang sedang mereka lakukan saat ini.
Adit bisa bernapas lega karena yang nyak lihat bukanlah hape yang sengaja ia sembunyikan. Untunglah yang ia takutkan tidak ketahuan. Adhim juga merasa deg-degan melihat abangnya amat was-was ketika melihat nyak sudah berada di dalam kamar. Untung saja mereka bertindak cepat sehingga masih sempat menyembunyikan hape yang mereka mainkan tadi.Tak lama kemudian nyak keluar dari kamar sambil membawa tas belanja yang telah menyelamatkan pandangan nyak sehingga tidak terpaku pada Adit yang tengah menyembunyikan sesuatu.
“Pa, yakin kita bakalan pindah lagi?” tanya istri Pak Suryo ketika mereka sedang berisitirahat di ranjang beruukuran king size itu.
“Lah iya to ma, kan demi kelancaran bsinis papa” ujar Pak Suryo sambil memainkan hape di atas tempat tidur.
“Emang papa nggak cape apa pindah-pindah mulu. Mama kasihan sama Hana pa, anak kita kan malas banget kalau kita mau pindah-pindah kayak gini. Nanti mama lagi yang repot ngurusin sekolah Hana, beberes lah” ujar mama Hana sambil memanyunkan bibir tipisnya yang dipoles lipstik berwarna oranye.
“Kan udah papa beliin mobil, pasti Hana mau ma. Urusan kepindahan sekolah Hana, kalau malas dan ribet ntar papa yang langsung telepon guru kalau perlu kepala sekolahnya langsung biar mama nggak usah capek-capek”.
“Beneran pa, makasih ya. Oh ia, transferan buat mama jangan lupa ya. Kan mama mau beli tas baru”.
Tak lama kemudian denting suara pemberitahuan pesan masuk di hape mama Hana. Ia tersenyum senang ketika pemberitahuan transfer pertanda transferan dari suami tercinta sudah masuk. Lumayan buat beli tas baru, batin mama Hana. Ia pun kemudian mengucapkan terima kasih kepada suami tercinta. Tak lama kemudian, mama Hana mulai memejamkan mata dan membiarkan sang suami berkutat dengan hape yang masih berada di tangan suaminya. Setelah emmastikan istrinya tidur, Pak Suryo berjalan keluar kamar untuk menelepon anak buah yang bekerja pada dirinya yang ditempatkan di bagian lapangan.
“Gimana? Sudah ada info di mana barang yang kit acari itu? Tutur Pak Suryo kepada Edo anak buahnya.
Di seberang telepon, terdengar jawaban Edo. Pak Suryo selaku bos manggut-manggut, sesekali menimpali dan memberikan perintah agar Edo bisa segera menyelesaikan pekerjaan dengan segera. Kali ini misi yang akan ia jalani amat sangat penting karena apa yang akan ia dapatkan nanti akan emmbuat dirinya kaya, teramat kaya. Berkali-kali lipat lebih kaya daripada sekarang. Setelah mendapatkan barang itu, ia akan emmutuskan untuk berhenti bekerja saja dan mulai membuka usaha untuk kehidupan di masa akan datang yang lebih baik daripada sekarang.
Pak Suryo mengakhiri panggilan telepon yang baru saja ia akhiri. Ia masih memikirkan bagaimana caranya agar barang antik yang sedang ia cari itu bisa segera ditemukan sehingga ia bisa membeli barang itu dan di gunakan untuk kepentingannya sendiri. Sebuah ramalan misterius ia dapatkan dari sebuah barang antic yang ia beli beberapa tahun lalu, di sana tertulis bahwa ada sebuah benda yang bila seseorang emilikinya maka apapun yang ia bayangkan bisa menjadi kenyataan. Tak perlu bersusah-susah bekerja. Tinggal bayangkan apa yang ingin engkau milik maka akan tercapailah semua yang diinginkan oleh si empunya barang. Oleh karena itulah, Pak Suryo gigih mencari keberadaan barang yang di maksud itu. Memang ada beberapa petuah yang memudahkan jalannya untuk melakukan pencarian, namun nyatanya sulit sekali untuk menemukan barang yang ia incar. Selama beberapa tahun pencarian, barulah ia mendapatkan sedikit titik terang, pencarian dari wilayah yang mungkin menjadi tempat si empunya barang hingga menanyakan kepada para tetua kampung yang kemungkinan tahu akan benar atau tidaknya keberadaan barang antik yang sedang diincar oleh Pak Suryo. Sekian tahun lamanya, sedikit demi sedikit perjuangannya membuahkan hasil. Sedikit titik terang akhirnya bisa ia dapatkan walau harus menunggu cukup lama untuk menyatukan informasi yang telah di dapat.