RAKA SATYA PRAJA

1681 Kata
Kenalin, namaku Raka Satya Praja. Seperti namaku yang tegas, aku merupakan pribadi yang disiplin dan tidak suka dengan hal-hal yang bertele tele. Usiaku menjalani 28 tahun, pekerjaan wirausaha atau lebih tepatnya pengusaha produk tekstil di salah satu kota metropolitan di Indonesia. Status, masih single atau belum pernah menikah, apalagi kawin. Aku anak sulung dari 3 bersaudara yang dilahirkan seorang perempuan bernama Afri Praja, dan papaku bernama Handoro Praja. Mungkin kalian berpikir jika usaha yang sedang kujalankan saat ini adalah warisan dari orangtuaku. Tapi kalian salah besar, karena perusahaan yang sedang kukelola murni hasil jerih payahku selama 3 tahun terakhir. Memang awalnya aku bergantung pada usaha papaku yang bergerak di bidang fashion, namun aku tidak suka berada di bawah tekanan siapapun, sehingga aku memilih mendirikan kerajaanku sendiri. Perusahaan papaku kini diambil alih oleh adik bungsuku, setelah tahun lalu ia menyelesaikan sarjana ekonominya dari salah satu kampus di Australia. Selama dua tahun, adik keduaku yang turut andil mengendalikan perusahaan. Papaku benar-benar lepas tangan, ia bilang akan fokus menikmati masa tuanya.  Beruntung kami tiga bersaudara memiliki jiwa-jiwa pebisnis, sehingga tidak sulit untuk menangani perusahaan papa yang memang sudah terbilang jaya. Tahun lalu adik keduaku yang adalah seorang perempuan memilih untuk menikah dan mengikut suaminya ke pulau Kalimantan. Mau tak mau, Arnold si bungsu kuarahkan untuk mengambil tampuk kepemimpinan. Karena aku tidak sanggup membagi waktuku antara mengurus perusahaan warisan papa dengan perusahaanku yang sedang naik daun. Awalnya ia menolak karena belum memiliki pengalaman di posisi jabatan yang tinggi, tapi aku selalu bisa memaksanya melakukan apapun yang kuperintahkan. Tentunya dengan tetap mengawasi perkembangannya, hingga aku bisa melepaskan tanpa perlu khawatir bahwa anak manja itu akan membuat perusahaan tersebut bangkrut. Mungkin kalian bertanya-tanya bagaimana cerita asmaraku. Bagaimana bisa anak kedua terlebih dahulu menikah, melangkahiku yang notabene anak laki-laki tertua. Akhh.. aku hanya ingin mengatakan, jika aku masih belum tertarik untuk mengikat hubungan atas nama pernikahan. Bagiku itu hanya akan menambah beban yang sudah berat. Aku tidak memiliki waktu untuk memanjakan perempuan, saat perusahaanku dan ribuan karyawan sangat membutuhkanku. Jadi aku memilih untuk sendiri hingga saat ini. Jangan kira hidupku tenang dengan pilihan ini. Tentu saja nyonya rumah selalu bawel tentang kapan aku akan memberikannya cucu. Ia selalu membanggakan putri tunggalnya yang sudah memberinya 2 anak-anak yang lucu. Sedangkan aku masih sibuk bergelut dengan pekerjaan. Kuakui aku memang gila kerja. Tidak ada kata istirahat hingga target harianku tercapai. Telingaku bahkan sudah sangat kebal mendengar rengekannya yang memintaku untuk segera meminang anak perempuan orang. Dikiranya semudah membeli baju di toko apa. Bahkan sekalipun tampilanku melebihi kelas 'standard' ketampanan orang Indonesia, tetap saja tidak semudah membalikkan telapak tangan untuk menemukan calon istri. Bisa-bisa aku bukannya dapat istri, tapi malah benalu. Adik bungsuku bukan sekali dua kali meledekku sebaga perjaka tua. Astaga, bocah ingusan 23 tahun itu bahkan sudah memiliki kekasih. Aku juga tidak tahu mengapa aku sulit untuk fokus pada pencarian jodoh. Sudah beberapa kali mama mengenalkanku pada anak perempuan teman-teman arisannya, tapi tak ada satupun yang betah lebih dari 1 bulan sebagai PDKT-an ku. Bahkan ada yang terang-terangan berkata, “aku harus menikah tahun ini, jika kamu tidak bisa mewujudkannya lebih baik kita tidak perlu meneruskan perjodohan ini.” Hebat 'kan? Seorang perempuan pernah berkata demikian padaku, dan aku hanya menerima keputusannya. Lalu bulan depannya aku mendapat surat undangan pernikahannya. Saat-saat menghadiri acara yang isinya rekan bisnis, tak jarang aku mendengar bisik-bisik setan. Entah setan sungguhan atau karena aku memang tidak tahu siapa yang berbicara. Tapi yang pasti mereka sedang menimbang apakah aku golongan pecinta sesama jenis. Hufftt…. Saat itu rasanya aku ingin menatap langsung orang yang bicara dan mengucapkan kata-kata makian. Tapi sialnya aku hanya tersenyum sinis menanggapi semua cibiran orang-orang. Bukannya aku tidak marah atas semua itu, namun selama mereka tidak mengucapkannya tepat di depan wajahku, maka aku tidak ingin susah-susah memperpanjang masalah. Biarkan saja mereka dengan pikiran mereka, dan aku dengan realita kehidupanku. Toh mereka sama sekali tidak memiliki pengaruh apapun pada hidupku. Satu hal yang pasti, mereka tidak mengenalku. Aku menghabiskan hari-hariku dengan berangkat dari rumah pukul 8 pagi dan berada di kantor hingga pukul 9 malam. Aku juga kadang heran kenapa pekerjaanku tidak pernah selesai-selesai, ada ada saja yang perlu kukerjakan. Sepulang kantor aku akan sampai menjelang pukul 10 malam di rumah. Kegiatanku selanjutnya hanya mandi dan langsung tidur. Aku sudah terbiasa makan di luar selama 3 tahun belakangan ini. Meski di akhir pekan aku akan bergabung di meja makan bersama papa, mama, dan si Arnold. Seperti saat ini, aku sedang berada di ruang kerjaku. Hari ini hari Sabtu, harusnya weekend begini orang-orang asyik liburan atau seminimalnya kumpul dengan keluarga mereka. Sedangkan aku? Aku sedang sibuk mengurus data-data perusahaan, dan program-program yang ingin kugarap ke depan agar perusahaanku semakin dikenal hingga mancanegara. Sudah berulangkali papa mengingatkanku untuk menikmati hidup tanpa perlu berambisi terlalu tinggi, tapi aku tidak mengindahkannya. Seolah kepalaku sudah diprogram untuk terus lapar akan kesuksesan duniawi. Aku tidak mudah puas, sekalipun pencapaianku saat ini sudah kategori sukses dalam standard orang-orang seusiaku. Tok tok tok… Sebuah suara ketukan membuyarkan atensiku dari layar monitor berisi deretan angka keuangan. “Iya masuk.” Setelah kupersilakan, kulihat kepala Arnold muncul dari balik pintu. Hanya kepalanya yang menyembul, sedangkan tubuhnya tetap tertutup pintu yang ditahannya. Bahkan meski sudah merencanakan pernikahan, ia masih bertingkah seperti anak kecil. “Apa?” Tanyaku skeptis langsung pada intinya. Aku sama sekali tidak suka dengan basa basi. Itu terlalu basi dan buang-buang waktu. “Kakak dipanggil ke ruang tamu. Mama sama papa mau bicara.” “Sebentar lagi.” “Oke.” Sesingkat itu, lalu ia berlalu menutup kembali pintu coklat yang terbuat dari kayu jati tersebut. Aku memperhatikan pekerjaanku sebentar untuk mengingat sudah sampai di mana aku memeriksanya. Akan sangat merepotkan jika aku harus memeriksa ulang semua lagi. Seusai memastikan batas pengerjaanku, aku mematikan daya laptop, dan menyusul Arnold. Ruanganku berada di lantai 2, jadi aku harus menuruni anak tangga untuk mencapai ruang tamu. Di sana sudah terlihat papa dan mama yang asyik menonton siaran televisi berbayar, sembari mencomot kacang Bogor dari dalam toples. Arnold juga sedang sibuk mengutak atik telepon pintarnya, wajahnya terlihat serius menekan-nekan layar gawai. Tanpa mengucapkan apa-apa aku duduk di sofa single di sebelah mama papa, berhadapan langsung dengan Arnold yang masih saja sibuk dengan gawainya. Mama dan papa langsung mengalihkan atensinya dari televisi kepadaku. “Jadi ada apa ma, pa?” Tanyaku to the point. Pasangan yang sudah berumur itu menatapku dengan tajam. Dari sini aku sudah tahu ini bukan pertanda baik. Harusnya aku memang tidak menerima permintaan mama untuk tinggal bersama. Sedangkan aku memiliki rumah sendiri yang sekarang pasti sudah penuh debu. “Jadi, kenapa aku dipanggil? Aku masih ada kerjaan ma.” Ucapku mendesak agar mereka segera mengutarakan maksud dan tujuannya mengganggu momen kerjaku. “Kamu ini, bahkan di weekend pun masih saja kerja. Apa tidak bosan tiap hari ngurus berkas terus? Kamu bahkan sampai lupa pada keluargamu sendiri.” Suara mama mulai beraksen manja, artinya dia sedang menginginkan sesuatu. Tapi entah apa. Mamaku memang suka sekali membuka pembicaraan penting dengan bumbu yang kurang penting sebagai intro. “Ma..” Aku tak kalah memelas, memohon agar tak perlu lagi aku menjelaskan jika aku sedang memiliki proyek masa depan. “Baiklah.” Papa membuka suara yang dilanjutkan tarikan nafas berat. Yuhuuu… sepertinya ini akan terkait dengan pasangan hidup saudara-saudara. “Kamu harus menikah tahun ini Raka.” Dan jreng jreng… tebakanku benar. Sungguh anakmu ini muak pa. “Kamu tahu adikmu ingin segera menikah tahun depan. Tidak baik rasanya jika kamu lagi-lagi dilewati oleh adikmu nak. Jadi papa harap 2 bulan ke depan kamu harus mencari calon istri dan menikahinya sesegera mungkin.” “Pa, Raka tidak masalah jika Arnold ingin menikah lebih dahulu, …” “Tapi papa keberatan Raka.” Belum juga aku selesai menjelaskan, sudah dipotong. Suara papa juga lebih tinggi dari biasanya, ini pertanda buruk. Sepertinya kali ini permintaan mereka tidak lagi main-main. “Tapi Raka belum siap pa. Usaha Raka sedang butuh perhatian lebih, papa tahu sendirikan. Raka tidak sempat mengenal perempuan. Apalagi papa minta 2 bulan ke depan, itu mustahil pa. Perempuan mana coba mau dinikahi dengan proses pengenalan yang singkat begitu?” Aku menjelaskan dengan emosi. Aku tidak tahu lagi bagaimana harus menolak. Masalahku masih berputar di situ-situ saja. Aku tidak pernah memerlukan alasan yang tepat untuk memupus tuntutan pernikahan, karena memang aku sendiri tidak tahu kenapa aku masih enggan untuk mendekati perempuan. Sekilas aku menatap Arnold yang sudah duduk dengan tegak. Tatapan kami saling bertemu, sorot matanya seolah meminta agar aku menyelesaikan persoalan itu sesegera mungkin. “Kalau kamu tidak bisa menemukan sendiri, kami yang akan mencarikan untukmu. Mama bisa menanyakan putri dari teman-teman mama.” Mama juga sepertinya tidak bosan menawarkan anak dari teman-teman sosialitanya itu. Padahal jelas-jelas selama ini mama tahu jika tak ada dari gadis-gadis itu yang cocok bersanding denganku. Mereka bahkan terlalu manja untuk bisa menerima sikap cuekku. “Mama mau nawarin siapa lagi? Anak manja yang hobby belanja? Anak rumahan yang leletnya minta ampun? Atau cewek ganjen yang suka nempel?” Aku berusaha mengintimidasi mama agar berhenti mengenalkanku pada gadis-gadis tidak jelas. “Tenang saja, kali ini mama akan mengenalkanmu pada gadis yang sepertinya akan cocok dengan temperamenmu itu.” Mama menekankan setiap kata, seolah ingin menunjukkan jika sosok kali ini akan bisa menyaingiku. “Dan kalau kami tidak cocok?” Ancang-ancang terakhir, berharap aku bisa menemukan celah untuk lepas dari gadis itu nanti. Biarpun aku belum mengenalnya, tapi membayangkan gadis yang sebelumnya diperkenalkan sudah membuatku malas. “Kali ini, cocok atau tidak, kamu akan tetap menikahinya.” Giliran papa yang menegaskan. Apa-apaan itu yang barusan diucapkan papa. “Iya, mama sudah mengenalnya cukup lama. Dia gadis yang menyenangkan. Mama dengan senang hati menjadikannya menantu.” “Tapi ma…” Kali ini siapapun bantu aku memohon pada pasutri pemaksa ini. “Tenang saja, jika kamu pikir dia manja, dan lelet seperti yang sebelumnya, kamu salah.” Mama itu memang suka sekali memotong ucapan orang lain. Sudah dua kali lho. Andai kalian lihat senyum jahilnya itu, kalian mungkin akan bergidik. Jenis manusia seperti apakah yang akan diperkenalkan nanti? Aku jadi penasaran. Ehh… kita lihat saja nanti.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN