bc

My Life Partner

book_age16+
973
IKUTI
5.5K
BACA
others
drama
tragedy
comedy
sweet
humorous
lighthearted
spiritual
like
intro-logo
Uraian

Nadine:

Orang bilang, cinta akan hadir seiring waktu berjalan. Tapi nyatanya setelah bertahun-tahun pernikahan kami, tidak ada kata cinta yang hadir. Kata orang lagi, anak dapat mempererat pernikahan. Tapi bagaimana jika rahimku tak tercipta untuk mengandung? Masih adakah alasan untuk mempertahankan sebuah ikatan pernikahan?

“Aku tidak mencintaimu.”

“Aku tidak mau punya anak tanpa cinta.”

“Aku tidak akan meninggalkanmu.”

Raka:

Menikah itu adalah pilihan. Menjalaninya juga pilihan. Mengakhirinya juga pilihan. Tapi, setelah kesempatan menentukan pilihan di awal, maka aku sudah siap dengan segala konsekuensi. Aku tidak butuh cinta untuk mempertahankan pernikahanku. Aku hanya butuh seseorang yang tepat untuk menjadi teman hidupku hingga akhir.

Cover: Pixlr

Picture: Garlerisket-Blogger dan Toxoriodelivery

chap-preview
Pratinjau gratis
NADINE AURELIA
Perkenalkan, namaku Nadine Aurelia, bukan Nadine Candrawinata. Aku seorang perempuan pastinya, dan tenang saja, aku tidak akan mengalahkan kecantikan seorang aktris Nadine. Tapi ya, kalian bisa membayangkan diriku secantik beliau. Usiaku baru saja melewati angka 23, sama seperti gelarku yang juga baru saja berubah menjadi…… PENGACARA alias pengangguran banyak acara. Baru beberapa hari yang lewat aku menyandang gelar sarjanaku. Akhhh... dan seperti yang mungkin kalian sudah duga, wisudaku berlangsung secara online. Virus yang sedang melanda dunia ini benar-benar menghancurkan angan-anganku akan euforia wisuda. Aku sudah merancang jika hari setelah rektor memindahkan tali toga warna orange dari sebelah kiri ke kanan, aku dan keluargaku akan melangsungkan poto bersama dengan papan bunga beragam bentuk, lalu ke studio photo agar lebih berkelas. Setelah itu akan ada tenda di depan rumah dan aku akan dengan senang hati memamerkan senyum untuk menyambut tetangga serta tamu-tamu pada syukuran selesainya kerja kerasku selama lebih dari 5 tahun. Aku sudah sangat mengharapkan semua itu terjadi, semua sudah kurancang sedemikian rupa satu tahun lalu. Namun mimpiku runtuh bahkan jauh sebelum aku menyelesaikan kata-kata terima kasih pada orang-orang terkasih di bagian kata pengantar skripsiku. Sialnya, meski aku sudah mengulur-ulur waktu dari sejak sidang meja hijau, tetap saja virus kurang dididik itu tak kunjung minggat. Alhasil mau tidak mau aku harus ikhlas lahir dan batin diwisuda hanya melalui live streaming youtube. Uhh.. sama sekali tidak elegan dan sangat tidak berkesan. Tak ada make up oleh MUA, tak ada tatanan rambut sosisku,  tak ada kebaya baru, dan sepatu dambaanku gagal kukenakan. Padahal aku sudah mempersiapkan diri untuk tampil wow di hari itu.  Dan apa yang terjadi justru 180 derajat berbeda. Kalian tahu, aku hanya mengenakan kaos oblong, celana pendek sepaha yang tertutup jubah hitam. Toga yang kulepas saat aku beranjak dari depan zoom meeting. Setelah namaku dipanggil di tayangan youtube, maka berakhirlah tampilan wajahku di layar laptop. Aku sungguh-sungguh mengakhiri semuanya, tak peduli apapun lagi. Semua benar-benar hanya formalitas tak berfaedah. Di sinilah aku sekarang, berbaring malas di atas kasur empuk berseprai biru laut kesukaanku. Aku sebenarnya sudah muak dengan kebosanan yang haqiqi tanpa kejelasan akan masa depan ini. Bukan karena masa depanku tidak ada, tapi karena memang aku yang tak berniat melangkah dari zona nyaman yang sialnya sangat mengikat. Sudah 2 bulan aku berkutat dengan kesibukan yang sangat tidak menghasilkan apapun, yaitu handphone. Kadang aku juga terpikir untuk mencoba melamar beberapa lowongan. Naasnya aku tak menemukan yang sesuai dengan jurusanku, yaitu bahasa. Giliran ada, yang diminta harus memenuhi spesifikasi berpengalaman. Kan tidak bekerjasama sama sekali, bagaimana mungkin orang bisa memiliki pengalaman kalau belum dipekerjakan. Ada ada saja memang perusahaan sekarang ini. Jadi untuk mengisi kekosongan waktu yang memang hampir setiap hari kosong, aku berselancar ria di akun i********: dan youtube, sesekali memeriksa pesan masuk di w******p atau melihat pengumuman penolakan yang dikirim via email. Pokoknya, waktuku sangat lowong. Hanya ada beberapa ajakan teman untuk nongkrong, atau menemani orangtuaku menghadiri acara rekan bisnisnya. Itupun aku juga hanya datang, salam, lalu mencari sudut paling sepi untuk menikmati hidangan sembari fokus pada gawaiku. Toh pembahasan mereka tidak masuk akalku sama sekali. Kalian mungkin berpikir aku sangat malas. Dan ya, kalian benar sekali. Aku memang sangat sangat sangat malas, sangatnya sampai 3 kali tuh. Aku baru memperoleh gelar sarjana setelah 5 ½ tahun kuliah. Saat teman-temanku sudah ada yang lulus PNS, buka usaha sendiri, kerja di kantoran, aku malah masih sibuk mengejar dosen ke sana ke mari. Tapi bersyukurnya aku bisa menuntaskan mimpi orangtuaku untuk menyelesakan studi secepatnya. Pasalnya aku sebenarnya masih ingin berlama-lama menyandang gelar mahasiswa, hingga titik darah penghabisan, alias hingga titik surat DO keluar. Tapi yahh mau bagaimana lagi, masih dibiayai, mingkem saja deh. Beruntung mereka tidak memaksaku untuk mencari pekerjaan sesegera mungkin. Namun mereka juga tidak serta merta menawarkan salah satu lowongan di perusahaan. Huhh… aku kadang heran sama kedua orangtuaku, mereka itu sebenarnya maunya apa. Kalau dari novel-novel yang k****a setiap hari, orangtua dengan status pengusaha pasti akan menuntut anaknya untuk sekolah bisnis, agar kelak meneruskan usaha. Tidak dengan ayah dan ibuku yang membebaskanku memilih apapun yang kumau. Kemarin aku sempat ingin sekolah pariwisata ambil bagian dapur, tapi ingat aku takut menggoreng ikan, jadi urung kulakukan. Berencana juga ambil hukum, tapi hatiku yang sungguh bersih dan tidak tegaan ini bukannya menyelesaikan masalah nanti, yang ada justru menambah persoalan. Kan berabe jika sampai pelaku yang harusnya dihukum malah kujatuhi hukuman bebas hanya karena alasan 'dia harus menyekolahkan anak-anaknya'. Big no, thanks. Ayah akan langsung melemparku ke jalanan. Pada akhirnya aku mengambil jursan bahasa, karena aku suka membaca dan itu tidak butuh kemampuan berhitung yang memang sangat aku benci. Jika yang di dalam novel, orangtua akan menyediakan pekerjaan untuk anaknya, nah orangtuaku beda lagi. Padahal jelas-jelas mereka mampu. Barangkali mereka ingin membuatku mandiri? Tapi harusnya mereka menuntutku untuk langsung kerja, bukannya membiarkanku goleran sepanjang hari serta memberi saat aku menadahkan tangan hanya untuk beli kuota. Intinya, orangtuaku itu tidak bisa kupahami. Di satu sisi mereka memberiku kebebasan dalam hidup dan menyediakan apapun yang kuinginkan, tapi di sisi lain mereka juga tidak memanjakanku. Contohnya dengan urusan rumah, aku bisa walaupun harus mengumpulkan niat hingga berjam jam. Masak aku juga bisa, setidaknya layak makanlah. Ohh iya, aku lupa mengatakan, jika aku anak tunggal. Setidaknya setelah 4 tahun lalu. Aku punya seorang abang beda usia 3 tahun. Namun sebuah kecelakaan merenggut nyawanya. Terhitung sejak saat itu aku cenderung lebih dijaga oleh ayah dan ibu. Selalu diusahakan untuk menyediakan antar jemput untukku, walaupun aku memang tidak bisa membawa kendaraan sebenarnya. Ada momen traumatis yang terselubung, dan aku sadar akan hal itu meski tidak terlalu kupedulikan. Ibuku histeris dan mogok makan hingga 3 hari. Ia baru mau makan setelah opname di rumah sakit. Ayahku diam-diam menangis di ruang kerjanya, padahal baru 1 menit sebelumnya tersenyum menguatkanku yang meraung di kamar memandangi poto abang. Bagiku, abang adalah ayah kedua. Sosok pria yang menjadi panutanku, bodyguard gratis, supir pribadi, plus pembantu dadakan tat kala aku lagi malas. Di rumah kami hanya punya bibi yang membantu mencuci baju. Dapur dipegang oleh ibu, bagian bersih-bersih tanggung jawab aku, abang, dan ayah. Kami terbiasa untuk berkerja bersama. Namun sejak abang tiada, ibu jadi lebih sering ikut ayah untuk kerja, meninggalkanku dengan asisten rumah tangga. Aku tidak mengatakan kehilangan kasih sayang mereka, tapi jelas ada yang sudah berubah, sekalipun tidak terlalu kentara. Waktu itu aku masih akan masuk semester 2. Ketika orangtuaku sibuk dengan urusan mereka, aku juga sibuk mencari lingkungan sosialku. Mengisi hari-hariku dengan mengikuti organisasi, jalan-jalan ke berbagai tempat, dan mengelilingi mall yang ada di kotaku. Jika kalian ingin membayangkan pribadiku, maka aku adalah tipe perempuan yang menjunjung tinggi kebebasan. Layaknya seorang putri di film animasi Brave, berani namun tetap patuh pada orangtua. Aku terbiasa bar-bar saat bersama abangku. Karena sifatnya yang dominan, maka aku cenderung menirunya. Hingga terciptalah aku yang tomboy. Akhh… mengingatnya aku jadi merindukan pria yang satu itu. Aku bertekad ingin menemukan pria dengan kepribadian seperti abang. Sosok yang humble, easygoing, tidak pelit, terbuka, dan pastinya memanjakanku, seolah aku adalah separuh dunianya. Air mataku menetes mengenang semua masa-masa kebersamaan kami. Aku bahkan tidak menangis saat melihat bujur kaku tubuhnya, namun begitu jenazahnya lewat dari pandanganku, semua luruh bersama untaian kata yang tak bisa kupaparkan di depan jasad abang. Lucu memang, saat orang lain menangis di samping tubuh abang, ibu meraung memanggil nama anaknya, aku malah diam mematung menatap intens pada wajah pucat di peti mati itu. Tak ada air mata, tak ada raut sedih. Bahkan dari poto yang diabadikan, tampak jelas aku hanya terlihat seperti orang marah, bukan sedang bersedih. Aku diajarkan untuk menjadi pribadi yang kuat dan tegas. Tanpa sadar ada ego dalam diriku yang jauh lebih tinggi ketimbang emosi. Sehingga tidak heran jika aku cukup lihai memainkan mimik. Saat orang lain terlihat rapuh, aku mungkin akan tampak biasa saja menerima kenyataan pahit kehilangan orang terkasih untuk selamanya. Di balik itu, tiada satupun yang tahu jika aku hancur berkeping-keping. Air mataku jatuh hanya saat aku sendiri dan sepi mengulas setiap momen yang tidak akan pernah bisa terulang kembali. Sudah cukup. Mari akhiri pembahasan melankolis itu. Kita beralih pada kehidupanku yang sekarang saja. Sejak tadi aku hanya menatap wajah imut Petrus Mahendra di layar gawaiku. Jam masih mununjukkan pukul 11 pagi, belum saatnya makan siang. Aku suntuk di kamar tanpa tahu mengerjakan apapun. Di sudut ruangan, mejaku sudah penuh dengan kain dan benang rajut. Aku sedang tidak selera untuk melanjutkan rajutanku yang bahkan tidak jelas bentuknya. Kutatap laptop yang teronggok di meja sebelah kasur. Apalagi itu, pagi-pagi disuruh mencari imajinasi, yang ada mereka masih molor. Huffftt…. Aku butuh kerjaan, yang fleksibel, dimana aku bisa bebas ingin kerja atau tidak. Tapi dimana aku bisa menemukannya? Sepertinya aku harus merendahkan ego memohon agar bisa bekerja di perusahaan ayah. Karena sebulan lagi saja aku menganggur, kurasa kepalaku akan segera meleleh layaknya es di Antartika. Aku heran mengapa kaum-kaum rebahan sanggup bertahan rebahan seharian tanpa melakukan apapun selain berkutat dengan telepon pintar? Please, jika ada caranya untuk menikmati masa rebahan tanpa harus suntuk, aku ingin belajar. Karena sesungguhnya aku juga malas bekerja, tapi lebih tidak sanggup sepanjang hari hanya makan tidur di rumah. Paling banter, olahraga mengelilingi rumah. Bagi siapapun, kasih tahu aku bagaimana menikmati rebahan tanpa bosan. *** Tips bacanya, bayangkan si Nadine adalah perempuan cerewet. Terima kasih sudah membaca. 

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.9K
bc

Kali kedua

read
221.2K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K
bc

TERNODA

read
201.2K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.1K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
22.1K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
84.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook