BAB 12
Rion mencoba mengalihkan pikirannya dengan berkutat setumpuk dokumen yang harus ia periksa. Tapi tetap saja pikirannya tertuju pada wanita yang telah menjadi istrinya itu. Rion sedikit berbangga hati jika dirinya lah satu-satunya pria yang pernah seintim itu dengan Araya. Bukan seperti Evelyn. Evelyn jauh lebih cantik dan lebih modis dan Rion tahu itu. Sedangkan Araya adalah tipe wanita yang kaku dengan busana yang selalu monoton dan membuat Rion tak pernah memandang Araya dengan tatapan liar nya. Kejadian tadi malam mampu mengubah sudut pandang Rion karena Araya jauh lebih sempurna daripada Evelyn. Apalagi kejadian tadi pagi juga salah satu bentuk pengalihan pandangan agar Rion tak terus menerus memandang tubuh Araya.
"Oi, ngelamun aja."
Rion seketika menjatuhkan pena yang tengah ia genggam karena sebuah suara yang mengagetkan dirinya.
"Pengantin baru yang akhirnya merasakan malam pertama," ledek Arga pada Rion yang tak mampu menutupi rasa terkejutnya itu.
Rion memandang sebal kenapa Arga bisa tahu hal serahasia itu? Apakah di wajahnya terlihat jelas jika ia sudah melakukannya dengan Araya?!
"Gimana? Jauh beda sama Evelyn, kan?" Arga lagi-lagi meledek Rion karena tak kunjung mendapatkan jawaban.
"Sialan," umpat Rion kesal.
Arga hanya bisa tertawa keras. Kapan lagi bisa menjahili Rion dengan waktu dan suasana yang tepat seperti sekarang. Kesempatan langka jangan disia-siakan karena tak akan pernah datang untuk kedua kalinya.
"Jadi setelah melewati malam pertama, masih tetap ingin bercerai juga?" Arga ingin membuat iman Rion goyah karena perjanjian konyol itu.
Bagaimana Arga bisa tahu perjanjian konyol itu? Karena Rion lah yang mengatakan pada Arga, ia tak akan betah berlama-lama tinggal dengan wanita kaku seperti Araya. Dan seperti pandangan Arga kali ini tak meleset, jika Rion mulai jatuh ke dalam pesona araya yang tersembunyi. Rion tampak berpikir dan hal itu membuat senyum Arga mengembang. Arga menebak jika Rion akan segera insyaf dari segala perilaku buruknya itu. Apalagi Araya adalah wanita pilihan yang sangat tepat untuk mendampingi Rion, bukan seperti Evelyn yang hanya akan jadi parasit. Bukan sekali dua kali Arga melihat Evelyn kencan dengan beberapa pengusaha di belakang Rion, Rion nya saja yang terlalu bucin pada Evelyn sehingga segala tindakan dan tingkah Evelyn tak menjadi masalah bagi Rion. Rion seolah buta dengan pesona emas imitasi daripada berlian yang sudah berada dalam genggamannya.
"Masih mau menggenggam emas imitasi daripada berlian?" Sindir Arga telak. "Wajar Evelyn cantik karena dempul di wajahnya tebal, beda dengan Araya yang memiliki kecantikan alami. Tak perlu di poles pun orang-orang tahu jika Araya itu sudah cantik dari sananya."
Rion lagi-lagi membandingkan Evelyn dengan Araya. Jika diingat lagi, perawatan kecantikan untuk Evelyn sebulan saja mampu menghabiskan uangnya sekitar tiga puluh juta dan itu diluar jajan Evelyn terhadap skincare yang menurutnya mampu membuat wajahnya awet muda. Hal itu belum termasuk beberapa barang mewah yang kerap kali Rion berikan pada Evelyn. Setelah beberapa hari tinggal bersama Araya, Rion tak pernah melihat begitu banyak skincare di atas meja rias Araya. Tak sebanyak yang Evelyn punya tentunya. Bahkan Araya tak pernah mengeluarkan uang untuk hal yang tak perlu. Walaupun ia telah memberikan kartu kredit dengan limit sepuluh juta saja. Terakhir kali Rion cek, isinya bahkan belum berkurang sama sekali alias masih utuh. Jika dibandingkan dengan Evelyn, jika ia memberikan kartu kredit dengan limit sepuluh juta, pasti Evelyn langsung ngambek dan mendiamkan dirinya beberapa hari.
"Berpikir keras sekali bapak calon CEO satu ini." Arga tergelak melihat wajah Rion yang tampak berkerut.
Arga merasa senang jika Rion dapat kembali ke jalan yang lurus dan benar. Selama ini Evelyn itu hanya benalu yang menumpang pada Rion. Honor Evelyn sebagai model saja bisa di hitung nominalnya berapa. Asumsi Arga, job sampingan lah yang membuat Evelyn bisa menjadi top model seperti sekarang.
"Hei, hei, mau ke mana?" Arga melihat Rion yang malah tampak tergesa-gesa berdiri dari kursinya.
"Kepo," sahut Rion singkat.
"Lah, ini dokumen gimana pak?" Tanya Arga sambil menatap dokumen yang tengah ia pegang. Pasalnya Arga adalah manager keuangan di perusahaan kakek Rion dan Rion masih menduduki wakil CEO.
"Lepas makan siang balik lagi ke sini." Perintah Rion.
"Cieeee, yang mau jumpa istri." Ledek Arga lagi tapi tak di gubris oleh Rion sama sekali.
***
Rion kini tengah mengendarai mobil SUV nya membelah jalanan ibukota yang selalu tak bersahabat. Entahlah sejak Arga meledeknya tadi, wajah Araya yang tampak tenang itu selalu melintas di otaknya. Ke mana akal sehatnya pergi setelah melewati malam panjang itu? Seharusnya Rion bisa bersikap lembut pada Araya. Tapi kenapa sikapnya tadi pagi malah semakin memperumit keadaan? Bukannya Rion tak tahu jika terkadang Araya akan menangis dalam diam. Dulu dia tak akan mau tahu dan tak akan peduli, tapi sekarang kenapa berubah?
"Araya," gumam Rion sambil melirik lampu lalu lintas yang masih berwarna merah. "Apakah ini karma yang harus aku terima karena menikahi mu?"
Setalah lampu lalu lintas berwarna hijau, Rion pun segera tancap gas menuju toko bunga Araya. Hanya Aray florist lah tempat satu-satunya yang akan Araya datangi. Tak butuh waktu lama, mobil Rion berhasil terparkir dengan sempurna di depan toko bunga itu. Dari dalam mobil, Rion dapat melihat dua pegawai Araya tampak sedikit panik. Tanpa pikir panjang, Rion langsung membuka pintu mobil dan berlari ke dalam toko.
Rion dapat melihat jika Anna dan Rena tampak kaget dengan kedatangan dirinya yang mendadak. Rion tak begitu peduli bahkan Rion juga menabrak pria yang tengah berjalan menuju ruangan Araya. Rion lah yang lebih dulu membuka pintu ruangan itu dan begitu kagetnya ia ketika mendapati Araya yang tengah tak sadarkan diri.
"Ray." Rion lebih dulu bergegas masuk dan mendekap tubuh Araya dengan erat seolah tak rela jika ada pria lain yang akan menyentuh tubuh Araya. "Aku lebih berhak atas dia," ucap Rion dengan penuh penekanan kepada pria yang tengah menatap Araya dengan tatapan lurus dan juga sedih.
Entah apa yang ada dalam pikiran Rion, yang jelas dia harus mengklaim jika Araya adalah miliknya, miliknya yang sah. Rion tak memperdulikan lagi pria itu, yang ada dalam pikirannya hanyalah membawa Araya ke rumah sakit. Sebelum Rion menghidupkan mesin mobilnya, Rion melihat pria itu masih menatap ke arah mobilnya.
"Rion mengerutkan keningnya. Selama ini yang dua tahu istrinya itu tak pernah terlihat dengan seorang pria manapun.
'Siapa pria itu?" Rion sedikit bertanya-tanya.