Bab 13

1042 Kata
Gevan memandangi mobil SUV milik suami Araya hingga mobil itu tak lagi terlihat dalam jangkauan matanya. Ada perasaan tak rela saat tubuh Araya di dekap erat oleh pria itu. Selama mengenal Araya, temannya itu tak pernah memiliki teman pria yang sangat akrab kecuali dengan dirinya. Mungkin ini semacam perasaan tidak rela yang dimiliki bahwa temannya sudah menempuh hidup baru. "Pak Gevan, jadi pesan bunga?" Suara Rena menyadarkan Gevan ke dunia nyata. Gevan tersenyum singkat, alasan dia hampir setiap hari ke Aray Florist sebenarnya ingin memastikan Araya dalam kondisi baik-baik saja. Sejak terakhir kali mereka bertemu hingga akhirnya Araya pindah secara mendadak, membuat Gevan diliputi rasa bersalah. Mungkin hingga sekarang, Gevan belum mampu menatap Araya dengan tatapan yang sama seperti dulu. "Satu buket bunga mawar seperti biasa," jawab Gevan. Rena dengan cekatan mengambil beberapa tangkai bunga mawar. Sesekali ia melirik ke arah Gevan, saat melihat kejadian tadi Rena merasa jika ia telah melihat ada cinta segitiga yang tengah terjadi. *** Tak butuh waktu lama, Rion telah sampai di rumah sakit. Sambil membopong tubuh Araya yang masih pingsan, kedua mata Rion menatap ke sana ke mari. Syukur saja ada perawat yang cepat tanggap langsung membawa brankar ke arah Rion. Araya langsung di bawa ke unit UGD dan Rion menyusul dari belakang. Langkah kaki Rion tampak melambat menuju ruang UGD, ia punya pengalaman tak menyenangkan di sana. "Kau harus bayar mahal Araya, karena udah membuat ku ke sini lagi," gumam Rion. Bukan tanpa alasan jika Rion sangat membenci rumah sakit karena pria itu pernah di rawat di sana hampir sebulan lamanya. Hal itu telah terjadi tiga tahun lalu, tapi bayang-bayang mengerikan rumah sakit masih saja tetap terasa. Rion hanya menunggu di balik pintu ruang UGD dan enggan melihat tindakan apa yang tengah dokter lakukan pada Araya di sana. "Kamu apakan menantu mama, Rion?" Rion tersentak saat suara mamanya terdengar. Bagaimana bisa mamanya berada di sini. Belum hilang rasa kesal Rion terhadap pria yang ada di Aray florist tadi, kini mama nya malah muncul. Wanita paruh baya itu menatap anak sulungnya itu dengan tatapan terluka. Entah apalagi yang tengah dilakukan Rion pada Araya. Rion tersenyum sinis, berbuat baik pun Rion akan tetap di cap buruk di mata mamanya. Walaupun hubungan ibu dan anak itu baru saja membaik, tetap saja Rion merasa jika ia tetap di anggap melakukan kesalahan pada Araya. "Mama nge-judge aku seolah aku melakukan kejahatan padanya," desis Rion kesal. Rion tahu jika mamanya sangat memuja Araya. "Memang iya kan?" Hardik mamanya sambil menatap tajam anaknya yang keras kepala itu. "Saat Ray pulih, enggak akan mama izinkan dia ketemu sama kamu sampai kamu menyadari kesalahan yang telah kamu lakukan padanya." "Bagus," sahut Rion senang. "Dengan begitu Rion bebas berkencan dengan wanita manapun tanpa perlu memikirkan wanita sialan itu." Sebuah tamparan keras melayang ke wajah Rion dan mamanya menatap dengan tatapan marah dan juga sedih secara bersamaan. Mungkin benar, mama Rion merasa telah keliru mendidik anaknya di masa lalu hingga tumbuh menjadi b******n seperti ini. "Mama menjodohkan kamu dengan Ray agar kamu sadar dosa apa yang telah kamu perbuat di masa lalu. Lewat Ray mama harap kamu berubah," ucap mamanya emosi. "Ma, sudah," cegah suaminya agar istrinya tak berbuat lebih lanjut. "Lepasin tangan mama, pa. Anak satu ini emang harus di beri pelajaran agar mata hati nya terbuka dengan lebar." "Gara-gara dia, hubungan ku dengan Evelyn hancur." Rion benar-benar marah sekarang dan kejadian tadi malam berputar lagi saat Evelyn b******u mesra dengan seorang pria. "Bagus, seharusnya dari dulu kamu nyadar jika wanita satu itu parasit," ketus mamanya. "Mama bersyukur kamu lepas dari wanita iblis kayak Evelyn." "Maaf pak, ibu. Di larang ribut di depan ruang UGD," tegur salah satu perawat yang baru saja keluar dari ruang tersebut. "Bagaimana keadaan menantu saya, suster?" Tanya mama Rion cemas. "Dokter yang akan menjelaskan lebih lanjut bu, saya permisi dulu." Pamit suster itu. "Seharusnya kamu berubah setelah kejadian tiga tahun lalu Rion. Kalau bukan karena donor ginjal itu, entah bagaimana nasib mu sekarang." Rion terdiam, kejadian tiga tahun lalu saat dia melakukan operasi pencakokan ginjal. Entah siapa yang mendonorkan ginjal padanya dan sampai detik ini, Rion tak tahu siapa orang mulia itu. Karena tidak ada satupun anggota keluarganya yang menjadi pendonor. "Mama mohon sama kamu. Selama kamu belum berubah, Ray akan berada dalam pengawasan mama dan mama enggak akan mengizinkan kamu untuk melihat atau berbicara padanya," ucap mamanya panjang lebar. Bukan tanpa alasan mama Rion melakukan hal sejauh itu pada Araya. Walau status araya adalah menantu, tapi bagi mama Rion sosok araya adalah sosok yang harus ia lindungi dengan kedua tangannya. Terlepas dari luka psikis yang dialami Araya sejak lama. Siapa lagi yang bisa diandalkan oleh Araya selain mertuanya. Kedua orang tua Araya jelas tak akan pernah mau tahu tentang anaknya. Dokter yang menangani araya keluar dengan wajah lelah. "Apakah ada keluarga pasien?" "Kami, pak," jawab mama Rion. "Bisa ibu ikut saya, ada beberapa hal yang harus saya bicarakan." Kedua orang tua Rion mengangguk dan mengikuti langkah kaki dokter itu. "Puas-puaskan pandang wajah istri mu. Mulai besok kamu gak boleh datang menjenguk Ray." Ultimatum mamanya. Setelah tiba di ruang dokter, mama Rion tak hentinya merasa cemas dan menggenggam tangan suaminya sejak tadi. Pikiran buruk mengenai Araya melintas dalam otaknya. Apa yang tengah terjadi pada menantunya itu? "Bagaimana kondisi menantu saya, dok?" Tanya mama Rion tak sabaran. "Sejauh ini kondisi pasien cukup stabil, hanya saja pasien mengalami kelelahan. Kurangi berpikir yang berpotensi menimbulkan stres ya, bu," jelas dokter, "satu lagi pak, ibu. Tolong beri tahu pada pasien untuk tidak melakukan pekerjaannya yang berat." "Jadi menantu saya baik-baik saja berarti kan dok?" "Iya bu," sahut dokter yang membuat mama Rion bisa bernapas lega. Setelah mendengarkan penjelasan dokter, kedua orang tua Rion pun keluar dari ruang dokter menuju ruang UGD. Disepanjang jalan, Mama Rion tak henti-henti mengucapkan rasa syukurnya pada Sang Pencipta. Ray, mama janji akan mengganti seluruh hari terburuk kamu dengan segala kenangan yang manis. Maafkan mama yang memaksa kamu menikahi Rion dan membuat kedua orang tua mu mendapatkan keuntungan dari pernikahan ini. Mama menyesal karena langkah yang mama ambil saat itu salah. Maafkan mama, Ray. "Ma, sampai kapan kita akan menyimpan rahasia ini?" "Sampai anak kita sadar jika Araya lah takdirnya dan sampai saat itu tiba, kita akan menjaga Araya dengan sebaik mungkin," ucap mama Rion sambil meremas tautan tangan suaminya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN