Chapter 1
Sial. Di lantai berapa aku sekarang?
Banyak sekali orang lalu-lalang.
Tunggu. Biar ku pikir pelan.
“Kenapa kau berhenti disini. Teruslah berjalan!” bentak seseorang dibelakangku.
“Iya! Aku sedang berfikir! Jangan ganggu aku!” ucapku.
Toko ayam ada di lantai tiga dan aku menekan tombol empat. Lalu tadi lift itu bergerak turun dua lantai secara tiba-tiba. Setelah itu lift naik entah berapa lantai.
Tunggu, gedung ini terdiri dari 6 lantai, bukan?
Jadi mungkin ini lantai empat atau lantai lima? Atau lantai enam?
Sial. Kenapa aku tidak bisa mengingat semuanya dengan baik.
“Awas...”
“Sudah kubilang awas!”
“Teruslah berjalan gadis kurus!”
“Sial, minggir!”
Sesorang berteriak lalu tiba-tiba saja sebuah tempat sampah terlempar dan isinya terburai ke lantai.
“Hey, hati-hati dong.” Seseorang meneriakiku kencang.
“Aku sudah hati-hati. Coba kau lihat apakah jalanmu sudah benar?” jawabku.
“Apa kau tak lihat banyak orang berlarian. Jangan menghalangi jalan kami!”.
Ia mengomel sambil melotot padaku.
Huh! Ada apa dengan orang-orang ini!
Kenapa ada banyak sekali orang berlarian sih?
Aku harus bergerak cepat kalau ingin keluar dengan selamat dari gedung ini.
Pintu sebelah kiri sepertinya mengarah ke sisi kanan toko baju anak.
Sementara yang kanan terlihat sedikit berasap.
Oke.
Hey, darimana asal asap itu?
Hari ini sudah kesekian kali aku mengumpat dan sungguh asap itu mengundangku untuk mengumpat lagi dan lagi. Aku tak ingin menambah masalah dengan mendekati asal muasal asap itu.
Apa yang lebih menakutkan dari asap yang tiba-tiba datang di saat suasana genting seperti ini?
Beberapa orang berlarian kearahku. Aku tahu mereka ingin melarikan diri, sama seperti aku. Tapi ayolah. Pelan-pelan saja!
Hampir saja badanku terpental karena seseorang dengan sengaja menabrak bahu kananku. Dia lalu berlari tanpa menoleh. Untunglah badanku cukup kuat walaupun kurus kering.
Mungkin aku harus sedikit menggeser kursi yang ada di seberang tempatku berdiri agar tubuhku aman.
Akhirnya aku tahu pilihan pertamaku.
Cklek.
Terbuka.
Bagus!
Dengan perlahan kubuka pintu berwarna hijau lumut didepanku ini. Semoga saja ada sesuatu di toko ini yang bisa aku gunakan untuk keluar dari gedung ini.
Potongan kain, hanger, berbagai macam rak baju dan dua meja kecil. Sepertinya orang-orang yang tadi belanja disini terkejut dan dengan tegersa-gesa melarikan diri. Baju-baju berserakan di beberapa sudut di toko ini. Situasi tadi memang tidak mungkin bisa ditebak oleh siapapun. Betapa tidak, sekejab saja puluhan ribu orang melakukan demo besar-besaran di semua pusat perbelanjaan dan rumah sakit di negara ini. Dalam waktu singkat mereka menyerbu dan membuat kerusakan.
Ketika melewati meja kecil, aku melihat salah satu laci terbuka lebar dan kuputuskan mengambil gunting dan uang beberapa ribu yen. Gunting akan kugunakan jika dalam situasi terdesak, apapun itu. Sedangkan uang beberapa ribu yen itu akan kusimpan untuk perjalanan pulang. Kumasukkan gunting dan uang itu ke dalam tas belanjaan yang kuambil di laci yang sama.
Apakah ini perampasan?
Oh, tentu saja!
Tentu saja ini perampasan. Tapi yang kuambil ‘kan hanya gunting.
Kenapa tidak?
Jika saja Bapak tahu aku melakukan ini, habislah riwayatku di dunia persilatan.
Semakin aku berjalan ke dalam toko ini, semakin kusadari bahwa baju yang dijual ternyata tidak sebagus yang kukira. Malah cenderung biasa saja. Warnanya juga cenderung pucat. Mungkin karena warga Hongkong berkulit putih bersih sehingga baju dengan warna pucat pun bisa menarik perhatian ereka.
Andai saja baju-baju anak ini dijual di desa asalku, aku yakin tidak akan ada yang berani membelinya.
Bukan karena tak cukup uang untuk membeli, tapi lebih karena kesadaran diri yang tinggi terhadap warna kulit kami.
Aku bahkan bisa mengibaratkan warna kulitku selayaknya tempe goreng yang digoreng telat beberapa detik untuk diangkat. Tidak gelap, tidak sedap dipandang. Sawo matang, yah begitulah orang-orang menyebutnya. Kalau aku menyebutnya eksotis. Seperti orang amerika yang kapan hari tidak sengaja memberiku uang.
Tiap harinya aku biasanya lebih memilih untuk memakai pakaian dengan warna sedikit lebih gelap sehingga kulitku terlihat lebih bersih. Ini sebenarnya kamuflase untuk menutupi kulit hitamku.
aku tahu semua orang yang kulitnya mirip denganku akan melakukan hal yang serupa. Lucu, bukan? Ketika ada orang yang berkulit putih dan mulus menghina kami si kaum hitam manis, aku sering sekali beranggapan kalau mereka sebenarnya iri hati. Kulit kami ‘kan tergolong langka.
Cara penghiburan yang cukup tepat,‘kan?
Sembari aku mencari sesuatu lain yang mungkin bisa berguna, ada sesuatu yang mengecoh perhatianku. Aku mendengar suara langkah kaki mendekat. Wah gawat!
Beberapa orang sedang memasuki toko. Mereka tidak melihatku, tapi aku bisa melihat mereka dengan jelas. Aku bersembunyi dengan baik di balik baju-baju ini. Dua laki-laki dengan tas plastik di tangan dan dua perempuan dengan ransel.
Ah, aku harus cepat. Aku sudah mendapatkan gunting dan beberapa yen ditangan. Aku harus lari.
Mungkin mereka orang baik yang juga mencari bantuan atau jalan keluar. Namun melihat raut wajah mereka barusan, firasatku seketika menjadi tidak enak. Aku harus bersembunyi dan keluar secara-secara dengan segera.
Mereka mengacak-acak baju-baju yang sudah berserakan di lantai. Sepertinya mereka berniat mencuri baju-baju itu. Terserah mereka saja, tapi aku harus selamat.Aku tidak boleh terlihat mereka.
Pintu Keluar ada di sebelah kananku sekarang. Rasanya hanya sekitar beberapa meter saja tapi terasa jauh sekali. Aku berjalan tiga lagkah sambil jongkok. Aku bergerak pelan sekali hingga mungkin hanya semut yang bisa merasakan nafas dan hidung kembang-kempisku.
Kalau sampai mereka mengetahui keberadaaanku, aku mencemaskan keselamatanku sendiri. Aku tidak boleh ketahuan. Mereka tak boleh melihatku. Beberapa langkah lagi. Ayo. Tinggal beberapa langkah lagi aku akan selamat. Nanti begitu sampai pintu keluar, aku harus kangsung berlari dan bergabung pada kerumunan orang diluar. Aku tidak menoleh lagi.
“Berhenti!”
Deg.
Badanku mematung dalam sekejab. Aku mengambil ancang-ancang untuk berlari. Namun...
“Kubilang berhenti dan balik badanmu!” ucapnya dengan suara keras.
Itu suara seorang laki-laki.
Tiba-tiba ketakutan menjalar di seluruh tubuhku. Aku bisa saja tidak bisa pergi dari sini kalau begini.
Apa-apaan ini? Kenapa rencanaku tidak berhasil di situasi genting seperti ini.
Apakah aku harus menoleh ke belakang? Atau aku cuek dan langsung berlari saja?
“Berdiri!” kata seorang perempuan.
Ada suara laki-laki dan suara perempuan. Dua orang di depanku. Dua orang lainnya sedang memilah-milah baju.
Tampaknya kesempatan kabur menurun drastis. Aku harus memaksa diriku sendiri memutar kepalaku ke belakang.
Aku menoleh ke belakang dan mendapati seorang laki-laki dan seorang perempuan sedang berdiri menatapku lekat. Mereka memegang tongkat dan mengarahkannya kepadaku.
Keputusanku benar.
Bukannya takut, aku hanya tak ingin majikanku merindukanku. Itu saja kok.
Tiba-tiba saja terlintas bayangan wajah merah majikanku. Ia pasti sangat marah. Belum lagi perkara belanjaan yang hilang entah kemana. Dua tas hijau belanja kesayangannya juga hilang. Ah, sudahlah. Nanti saja kuurus tentang majikanku.
Yang terpenting adalah bagaimana aku bisa lolos dari dua manusia dari antah barantah yang sedang berdiri di depanku ini. Penampilan mereka sebenarnya biasa saja, tapi sungguh raut wajah mereka yang membuat ulu hati ini gugup.
“Hey, ada apa ini?” kataku pelan.
“Aku hanya ingin selamat saja. Tolong.” tambahku. Berusaha berpikir tenang di situasi menegangkan seperti ini terasa sangat sulit dan mustahil.
“Siapa kamu?” kata si perempuan. Suaranya datar.
“Bukankah aku harus bertanya hal yang sama pada kalian?” tanyaku. Aku berusaha tenang. Namun tanganku gemetar. Tongkat yang mereka pegang juga masih mengarah kepadaku. Mereka saling pandang namun tidak sepatah kata pun keluar dari mulut mereka.
“Aku tahu kalian sedang mencuri baju-baju dari toko ini. Aku tak ingin menggangu kalian. Sungguh... Silahkan saja.. Lakukan apa yang kalian ingin.” kataku.
“Tapi biarkan aku pergi. Aku hanya ingin pulang dan membawa belanjaan ini pada majikanku.” imbuhku. Laki-laki dan perempuan itu tetap tidak bergerak. Mereka hanya memandang lurus padaku dan tas belanjaan yang ku pegang.
“Aku tidak yakin kamu bicara jujur.” ujar si perempuan.
“Tampaknya ia hanya seorang pembantu.” ucap laki-laki itu.
“Apa kamu tidak melihat gunting yang ada di tangannya? Ia pasti akan menyerang kita!” ucap perempuan itu lagi.
“Aku tak ingin menyakiti siapapun. Aku hanya harus pulang kerumah. Tolonglah.” kataku sedikit memohon. Perempuan itu mengeluarkan sesuatu dari dalam saku bajunya. Lalu ia mengarahkannya padaku. Itu sebuah pisau.
“Kau tidak boleh pergi dari sini dengan selamat.” ucap laki-laki itu. Ia menyeringai.
“Sumirah, tenang Mir”. Kataku dalam hati. Semakin aku banyak bicara, semakin gawat situasiku. Ini sama sekali tidak menyenangkan. Sama sekali tidak menguntungkan.
Setelah melihat keramaian di luar yang tak kunjunbg berhenti, peempuan dan laki-laki itu saling membisikkan sesuatu. Mereka bergantian memandangku dan tempatku berdiri. Raut wajah mereka juga sedikit berubah.
“Maaf kalau kalian terganggu, tapi aku sungguh ingin keluar dari sini. Aku tidak akan menganggu apa yang kalian lakukan.” pintaku.
“Apa jaminan kamu tidak akan memberitahu polisi tentang kami?” tanya laki-laki itu.
Ini pasti pertanyaan jebakan.
Kalimatku selanjutnya akan menentukan nasibku. Aku bisa lolos tapi juga bisa tamat di tangan perempuan berpisau itu. Aku harus mengiba atau menantang mereka?
Atau aku langsung lari saja?
Oh tentu saja itu ide bodoh. Bisa saja perempuan itu terlatih melempar pisau. Bisa saja nanti kepala belakangku yang bocor. Berlari bukan skenario yang baik.
Tidak. Tidak. Tidak. Tidak akan.
Berpikirlah cepat, Sumirah!
“Katakan!” bentak perempuan itu.
“Begini, aku tidak tahu siapa kalian. Bagaimana bisa aku melaporkan kalian ke polisi kalau aku bahkan tidak tahu siapa nama kalian. Kalian berempat dan aku hanya seorang diri. Senjataku hanya gunting, sementara kalian dengan tongkat dan pisau.” kataku.
“Ayolah, aku ingin pulang. Masa bodoh apa yang ingin kalian lakukan.Aku tak peduli.” imbuhku.
Mereka diam saja. Sial, sepertinya kalimatku salah.
“Akan kutemukan kamu dan membuatmu menyesal seumur hidup jika apa yang kamu katakan bohong!” ucap perempuan itu seraya membalikkan badan. Ia pergi begitu saja tanpa pamit. Diikuti oleh laki-laki disampingnya. Mereka bergabung dengan dua temannya di pojok kiri toko itu.
Ya Tuhan.. aku gugup bukan main. Tangan dan kakiku gemetaran.
Lari. Aku harus lari.
Aku berlari kencang sekali. Kurasa aku sudah menabrak beberapa orang tadi.
Titik tujuan terakhir lariku adalah pintu paling belakang mall ini. Pintu ini akan mengarahkanku ke stasiun sentral. Aku akan naik kreta cepat untuk bisa pulang.
Aku sungguh tidak beruntung hari ini. Pintu ini terkunci dari luar. Di sisi luar pintu berbaris meja-meja panjang menghalangi pintu. Pasti ini ulah pendemo-pendemo itu. mereka tidak ingin seorang pun selamat.
Bagaimana cara agar aku bisa membuka pintu ini?
Ku dorong pelan, namun pintu tidak bergerak sedikit pun.
Ku tarik kencang. Tidak juga bergerak.
Aku bergerak dari sisi kanan ke sisi kiri pintu ini berharap menemukan sesuatu untuk memecah kaca pintu. Sebenarnya bisa saja langsung kutancapkan gunting yang sedang kubawa, tapi kemungkinan besar gunting itu terpental. Berpikir tentang ide itu saja rasanya sia-sia.
Tidak ada apapun disini selain meja security yang kotor dan berantakan.
Aku membuka dua laci di meja itu dan mendapati kumpulan kunci di dalamnya. Kalau aku harus mencoba satu per satu kunci itu, rasanya akan selesai ketika imlek tahun depan.
Tidak, itu terlalu lama.
Aku kembali pada pintu kaca itu dan memandanginya cukup lama.
Aku kembali memeriksanya.Dari atas ke bawah, dari kanan ke kiri.
Lalu sekali lagi, dari atas ke bawah dan dari kanan ke kiri.
Tidak terlihat dengan jelas namun masih bisa terbaca.
“Sliding doors”.
Kalau tidak salah, sliding artinya geser. Sret.... Benar saja!
Pintu terbuka dengan mulus.
Pantas saja sulit didorong ataupun ditarik.
Aku harus cepat sampai rumah. Aku harus berlari kencang.