Plak. Tamparan itu mendarat persis di pipi kiri Mbak Sumini. Ia hampir tersungkur saking kerasnya. Tamparan keras itu berasal dari tangan Bapak. Pipi Mbak Sumini berubah merah padam. Wajah Bapak juga tak kalah merah. Bapak menatap Mbak Sumini dengan soriot mata tajam dan penuh amarah. Kesalahan yang kali ini Mbak Sumini buat memang tak masuk akal. “APA KAU KEHILANGAN NALARMU?” teriak Bapak pada Mbak Sumini. Ini adalah pertama kalinya aku mendengar teriakan bapak. Emak yang ikut menyaksikannya menutup mulutnya dengan kedua tangan. Aku bergerak menepi ke sudut kamar sedangkan Wasis tampak sedang memegang dengan daun pintu penuh ketakutan. Walaupun pintu kamar terbuka lebar, namunudara terasa sesak. “KAU AKAN MENGORBANKAN DIRIMU LAGI UNTUK LAKI-LAKI ITU, SUMINI!?” Teriakan Bapak kali le

