Kenapa Hamid membawaku ke lapangan sore-sore begini. Seingatku kami tak berjanji akan berkumpul sore ini. Aku ‘kan juga harus segera memukul Wasis karena suka membuat pikiranku hancur. Kali ini kalau bukan karena Hamid, ia pasti sudah merasakan pukulan maha dasyat yang kupunya. “Hamid, ada apa?” tanyaku. Tak ada jawaban. Ia menutup mulutnya rapat. Ia terus menggandeng tanganku dan menggiringku ke lapangan tempat kami bermain bola. Anehnya, ia sama sekali tak bersuara. Ia tak mengucapkan satu patah kata pun. Apa ia marah padaku? Apa ada hal penting yang ingin ia katakan? Apa seseorang telah menghinanya? Kalau memang ada yang menghinanya, akan kujadikan kripik tempe siapapun itu. “Mid, ada apa? Kau ada masalah apa?” “Ada yang ingin kuceritakan..” adalah kalimat pertamanya setelah a

