Chapter 9

2764 Kata
Tuluagung, 1986. Setiap malam, Ayah dan Emak selalu sibuk bekerja. Ya, Bapak dan Emak adalah rekan satu profesi. Mereka adalah penjual tempe favorit di desa kami. Untuk membuat tempe, mereka akan memulai persiapan pada malam harinya. Rutinitas pertama adalah dengan meletakkan tiga tong besar diatas tungku yang diletakkan di pekarangan rumah kami. Setelah itu, Emak atau Bapak akan mengisinya dengan air sampai penuh kemudian menutup tong itu. Terkadang, secara bergantian aku danMbak Sumini atau aku dan Wasis yang melakukannya pada sore harinya. Air akan diambil dari kran di kamar mandi.Tiga tong tersebut sebenarnya tidak terlalu besar, namun membutuhkan dua orang untuk membawanya ke pekarangan. Bapak menata pekarangan kami sedemikian rupa. Semua perkakas dan alat ditata rapi di sana sini. Dimulai dari peralatan membuat tempe, lalu kolam ikan kecil punya Wasis dan pojokan kecil untuk hewan pelihaaannya bisa memenuhi pekarangan kecil kami tanpa membuatnya terkesan sempit. Beliau juga menutupi pekarangan kami dengan genteng agar terhindar dari hujan dan panas saat proses membuat tempe. Genteng-genteng itu adalah sisa bangunan milik tetangga yang sengaja Bapak kami minta beberapa tahun yang lalu. Supaya terlihat seperti baru, genteng-genteng itu diberi cat serta ditata rapi diatas pekarangan. Dinding juga dicat dengan warna biru muda. Bapak mempunyai banyak trik supaya rumah kami nyaman adanya. Kalau bicara tentang pekarangan rumah, maka rumah kami pun tak boleh luput untuk dijelaskan. Rumah yang kami tinggali ini adalah peninggalan dari mbah yut kami. Mbah yut adalah ibu dari mbah kandung kami. Mbah yut adalah pejuang pada saat negara ini bertarung melawan penjajah. Mbah Yut berperang dengan gagah dan tak mengenal rasa takut dalam dirinya. Kata orang, Mbah Yut kami ini orangnya sakti, tidak bisa dilukai dengan pisau dan pistol. Hebat sekali, kami sampai tidak bisa mengedipkan mata ketika Emak dan Bapak bercerita ketika kami kecil dulu. Beberapa pakaian Mbah Yut sebenarnya masih tersimpan di rumah punden dan dirawat dengan baik oleh kakak pertama Emak. Beliau meninggalkan beberapa warisan berupa tanah kepada para cucu dan cicitnya. Dari uang tabungan yang disimpan hampir selama 8 tahun itulah akhirnya Bapak dan Emak nekat membangun rumah ini dengan sederhana. Pembangunan rumah ini terlaksana jauh sebelum Bapak memutuskan untuk mengabdi sebagai penjual tempe. Kemudian dengan bantuan hutang dari beberapa saudara, akhirnya berdirilah istana kami ini. Awalnya hanya berupa bangunan kecil, namun lambat laun diperbaiki di beberapa tempat. Rumah kami sangat sederhana. Bahkan lebih kecil jika dibandingkan dengan rumah tetangga di kanan kiri kami, namun itu tak pernah jadi masalah bagi kami. Rumah ini dibangun dengan bentuk memanjang kebelakang. Bagian belakang kemudian disulap menjadi pekarangan. Karena tidak ada taman di depan rumah seperti tetangga yang lainnya, kami jadi tidak perlu menghentikan kegiatan kami pada sore hari. Untung saja. Teman-teman kami di sekolah sering berkeluh kesah diperintah Emak mereka menyirami taman, yah walaupun itu hanya beberapa tanaman bunga. Tiba-tiba harus berhenti bermain kan rasanya tidak enak. Di depan rumah kami hanya tersedia dua kursi kayu yang diletakkan di depan jendela ruang tamu. Kursi kayu yang terkesan rapuh walaupun sudah dicat berulang-ulang. Dua kursi itu adalah pemberian Pak Saeful, teman baik Bapak beberapa tahun yang lalu. Sebelah kanan jendela ada pintu masuk ke rumah. Rumah kami memiliki lima ruangan. Kelima ruangan itu juga tidaklah besar. Dalam ruang tamu diletakkan tiga kursi ruang tamu dengan warna kayu coklat mengkilap. Lalu di pojok kanan, Bapak dengan sengaja meletakkan pot warna merah muda pucat milik Emak, supaya indah katanya. Pot itu berisi tanaman besar yang kami bahkan tidak tahu jenis dan namanya. Aneh, bukan? Tidak, itu tidalah aneh menurut Emak. Ketika bertanya pada Emak, ia hanya akan menjawab sekenanya seperti yang sudah-sudah. Kalau Emak sudah menjawab pertanyaan kami sekenanya seperti itu, kami lebih baik diam, sedikit mundur dan menghilang dari pandangan. Walaupun itu bungan kesukaannya, Emak bisa dikatakan sangat jarang menengok tanaman di pojok ini. Paling hanya menyiram air seminggu dua kali. Selanjutnya tidak ada tuh kegiatan memotong daun-daun yang tua atau kemudan memberi pupuk atau kegiatan bercocok tanam sewajarnya. Aku dan Wasis sering berfikir mungkin saja tanaman itu tidak terlihat sebagai benda pada pandangannya. Ketika kerja bakti hari minggu itulah waktu kami membersihkan pot dan tanaman itu. Emak hanya akan mengawasi dari kejauhan. Hal lain yang paling menyebalkan adalah dengan kesepakatan sepihak, ruang tamu diberi cat murah warna kuning muda oleh Bapak. Kuning muda, saudara setanah air! Bisa dibayangkan bagaimana warna ruang tamu kami mirip dengan warna pisang baru masak. Terang sekali. Aku tak suka warnanya. “Kuning itu warna yang membawa kebahagiaan.” kata Bapak bangga. Aku dan Wasis bisa terheran-heran. Sedang Emak hanya mengangguk pelan dan mengernyitkan dahi. Apa sih maksud Bapak!. Setelah ruang tamu, di sisi sebelah kiri ada kamarku dan Mbak Sumini. Karena dengan sengaja tidak ingin menyetujui saran Bapak, kami memilih cat biru. Bapak terkadang memberi saran yang aneh. Pada awal kami ingin memilih cat, Bapak memilih warna ungu tua. Ketika kami memepertimbangkan warna putih, Bapak menyarankan kami untuk memberi cat warna Hijau muda. Yang benar saja. Setelah terjadi perdebatan batin antara kami bertiga, Aku dan Mbak Mbak Sumini akhirny amemilih warna biru sebagai warna yang paling aman dan netral. Pun Bapak tak menolak. Banyak orang yang bilang warna biru akan membantu kami merasa nyaman dan bersemangat dalam belajar. Mereka juga bilang biru melambangkan kecerdasan. Mereka bicara banyak hal baik tentang manfaat warna biru. Kami mengikuti saja arahan mereka tanpa banyak bicara. Pikir kami, warna biru jauh lebih baik daripada kuning muda atau hijau muda, kan? Aku dan Mbak Sumini yang mengecat kamar kami sendiri. Wasis membantu mendorong tangga agar kami bisa leluasa mengecat bagian atas. Ah, tapi sepertinya kami terlalu percaya pada ucapan orang lain. Memang tidak baik terlalu percaya pada ucapan orang lain. Yang terjadi setelahnya adalah kami menjadi terlalu nyaman di kamar dan tidak semakin rajin belajar. Dasar ! Harusnya sejak awal kami sudah curiga, bagaimana mungkin perasaan nyaman bersanding dengan bersemangat belajar? Itu seperti dua hal yang bertentangan. Baru ketika aku dewasa aku tahu bahwa tidak baik menggunakan warna biru pada kamar belajar. Baiknya kamar blajar atau kamar tidur diberi cat warna putih. Ada ada saja. Semakin nyaman tempat tidur kami, semakin malas kami belajar, semakin besar amarah Emak melihat nilai-nilai merah kami di sekolah, dan tentu saja, semakin keras tawa si Wasis nakal itu ketika kami di cubit Emak. Walaupun kecil dan terkesan penuh, kami suka sekali berada di kamar kami. Wasis pun suka ikut ndusel ke tempat tidur kami. Ketika siang hari, rasanya tidak terlalu panas ketika berada di dalam kamar. Sebaliknya ketika hujan datang, kami pun nyaman diatas kasur sambil bersenda gurau. Tentu saja setelah mengibaskan tebah berulang-ulang. Tempat tidur kami diletakkan di pojok kanan sedangkan pojok sebelah kiri ada lemari kecil tiga laci untuk menyimpan baju bersih kami. Ada gantungan baju di tempel di belakang pintu. Gantungan baju itu sengaja dipaku agak rendah agar kami mudah mengambil dan menggantung baju. Berpindah ke bagian tengah dari rumah kami adalah ruangan berbentuk persegi ukuran tiga kali tiga yang sering kami gunakan untuk sembahyang. Sejujurnya, ruangan itu sering sekali beralih fungsi. Di hari pertama menjadi tempat baju bersih, suatu hari menjadi tempat Wasis dan Mbak Sumini belajar, hari lainnya tempat kami berlima bercengkerama setelah sholat maghrib. Setelah ruangan sembahyang, ada kamar Bapak yang berhadap-hadapan dengan kamar Wasis. Kamar Bapak dan Emak selalu diberi cat warna putih. Kalaupun ingin di cat lagi, Bapak akan memilih warna putih lagi dan lagi. Ketika diprotes, Bapak hanya tersenyum. Tanpa penjelasan. Meninggalkan kami yang mematung. Terdapat tempat tidur, lemari kecil dan meja untuk rias di kamar itu. Sedangkan di kamar Wasis, berantakan sekali. Bapak memperbolehkan Wasis untuk menggambar apa saja yang diinginkannya di tembok berwarna biru itu. Iya, warna tembok kamar Wasis juga biru karena meniru kami. Ada gambar singa mengantuk, kucing sedang makan dan hewan-hewan lainnya. Gambarnya memang tidak bagus namun bisa dengan mudah diterjemahkan. Mengapa gambar hewan? Itu karena dulu Emak sering menceritakan kisah-kisah hewan sebelum Wasis tidur. Jadilah Wasis kecil suka sekali dengan segala macam hewan. Dari hewan kecil hingga hewan besar. Dari yang buas sampai yang jinak. Entah itu dinosaurus hingga semut merah. Ada suatu kejadian menggemaskan saat ia berusia 4,5 tahun. Malam sebelumnya, Emak bercerita tentang semut merah yang menang ketika melawan gajah. Paginya, ketika melihat semut merah berjejer di teras rumah, ia berlari ke dapur mengambil toples kecil. Rencananya, semut-semut merah itu ingin ia masukkan ke dalam toples kecil itu dan akan diberi dedaunan untuk makanannya. Sayangnya, semut yang ia pegang adalah yang ukurannya kecil. Semua orang tahu bahwa semut merah kecil sangat sakit gigitannya. Si Wasis kecil melempar toples itu dan menangis kesakitan. Ia lari menuju tempat Emak memasak sarapan untuk kami. Tangannya merah. Rupanya ia tak hanya digigit oleh seekor semut merah saja. Pantas saja. Karena belum lancar berbicara, kami jadi sulit memahami perkataanya. Ia berusaha menjelaskan apa yang telah terjadi namun kami hanya mendengar celotehan tidak jelas dan tangisannya saja waktu itu. “Mut.. Rah.. Wasis..angis...” hanya itu saja kata-kata yang bisa kami tangkap tanpa bisa memahami maknanya. Kata-kata itu ia ulang terus menerus. Baru setelah berusia 7 tahun, ia menjelaskan kenapa ia tak suka dan menghindari semut merah. Yang kuingat adalah ekspresi bocah nakal itu ketika menangis. Bagian dapur rumah kami juga tidak terlalu besar. Dapur rumah berhadap-hadapan dengan kamar mandi kami. Lalu disamping kamar mandi ada sumur kecil tempat kami menimba air untuk mandi dan keperluan masak. Sebenarnya, Emak hanya akan menggunakan dapur ketika pagi hari untuk membuat makanan dengan porsi besar. Emak tidak akan mamasak pada siang hari dan malam hari karena kelelahan. Wasis dan Bapak juga selalu mengambil dua hingga tiga kali jatah masakan. Ini lah sebab mengapa masakan yang dibuat di dapur ini selalu dalam porsi besar. Sisanya adalah jatah makan kami bertiga. Begitu hingga besok dan seterusnya. Bagian terakhir dan paling belakang dari rumah kami adalah pekarangan, tempat kerja Emak dan Bapak membuat tempe. Pekarangan juga menjadi tempat favoritku yang kedua setelah kamar tidur. Biasanya orang akan menggunakan plavon untuk atap mereka, namun rumah kami sampai sekarang masih beratapkan genteng. Alasan mengapa Bapak membiarkannya adalah karena krisis keuangan yang kami alami saat itu. Kami sepakat untuk tidak membuatnya menjadi masalah yang besar. Yah, walaupun tetap saja karena terlalu sering menggunakan tebah, tangan kami menjadi sedikit kasar dan kapalan. Keuntungan tidak menggunakan plavon adalah angin tak terhalang untuk masuk rumah kami. Rumah kami akan sejuk ketika musim kemarau tiba. Sialnya, ketika hujan, angin juga membawa debu masuk ke dalam rumah melalui genteng-genteng itu. Kami harus sering mengibaskan tempat tidur kami dengan tebah terlebih dahulu supaya bisa tidur dengan nyaman. Tetapi Bapakku tetap tenang, beliau memasang plastik selebar kamar untuk menghindarkan kami dari debu yang dibawa hujan. Setidaknya jatah memakai tebah di kamar berkurang. Hebat kan Bapakku? Tentu saja! Beliau bahkan membuat rumah ini senyaman mungkin meski tidak selalu bisa membelikan apa keinginan kami. Bapak selalu menjadi idola kami semua. Kembali pada proses membuat tempe yang cukup memakan waktu. Iya, memang cukup memakan waktu. Itulah mengapa Bapak dan Emak memulainya pada malam hari sehingga pada pagi harinya, mereka siap berangkat ke pasar. Ketika Emak merebus kedelai, Bapak akan dengan semangat membara membersihkan lalu membentangkan alas tipis tempat nanti kedelai-kedelai itu akan dikuliti. Proses perebusan kedelai ini memakan waktu sekitar tiga hingga empat jam. Kata Bapak, kedelai-kedelai yang sudah direbus itu nantinya akan diletakkan di alas tipis yang sudah disiapkan lalu dinjak beberapa kali agar kulitnya terkelupas. Membayangkan mengupas kulit kedelai satu-satu tentu saja melelahkan, kan? Setelah itu kedelai-kedelai akan direndam semalaman atau sekitar lebih dari empat jam. Sambil menunggu proses perendaman selesai, Bapak dan Emak akan membersihkan sisa kulit kedelai ite kemudian mempersiapkan tiga tong besar dan meletakkan mereka kembali di atas tungku. Proses perebusan kedua akan dilakukan lagi setelah itu. Kedelai-kedelai kesayangan kami itu akan ditiriskan hingga dingin. Kami, anak-anak Bapak dan Emak akan turut serta di proses selanjutnya. Yaitu pemberian ragi pada kedelai. Fungsi ragi ini penting. Ragi inilah yang akan membuat kedelai-kedelai itu terikat dan juga membuat tempe menjadi enak rasanya. Dan proses penaburan ragi itu sangat menyenangkan. Hanya ini satu-satunya hal yang kami sukai. Ingin tahu bagaimana cara kami menikmatinya? Kami akan hompimpa terlebih dahulu. Yang kalah akan menggendong yang menang. Nah, si pemenang inilah yang akan menaburkan ragi di seluruh kedelai yang sebelumnya sudah diratakan di alas di meja panjang di dapur. Si pemenang akan berjoget dengan alunan lagu yang ia pilih. Biasanya Wasis adalah orang yang sering kalah. Mbak Sumini dan aku akan tertawa sangat keras melihat ekspresi Wasis kesal menghadapi kekalahannya. Ia akan menggendong kedua mbaknya ini. Bisa dibayangkan hebohnya kami? Bisa dibayangkan berat badan kami waktu itu? Untunglah badan Wasis lumayan besar sehingga kami tak perlu khawatir lehernya akna mengalami patah tulang atau yang lainnya. Lagu yang diputar akan berganti tergantung siapa pemenangnya. Wasis akan memutar lagu mbak Vina-nya, sedangkan aku akan memilih lagu dangdut yang sedang diputar di radio. Kalau Mbak Sumini yang menang, maka kami akan mendengarkan lagu islami qosidah. Lagu qosidah itu sengaja ia rekam menggunakan kaset kosong pemberian Pak Adin, guru mengaji idolanya waktu TPQ. Ia merekamnya dari radio dan menyimpan kaset itu dengan sangat hati-hati seakan kaset itu adalah nyawanya. Ia akan menyimpannya di lemari paling atas dibawah pakaian. Ia juga akan marah jika menemukan kaset itu tidak ada di tempat yang seharusnya. Tiap malam, rutinitas berjoget adalah hal sangat kami nantikan. Kami benar-benar menikmatinya. Sementara itu, Bapak dan Emak hanya tertawa melihat tingkah kami bertiga sambil membersihkan pekarangan. Terkadang, saking tidak dapat dipercaya, Mbak Sumini akan memanggul radio itu ketika Wasis sedang menggendongnya. Aneh 'kan? Memang tingkah Mbak Sumini ajaib! Waktu itu, TV adalah barang yang mahal. Tidak semua rumah di desa kami mempunyai televisi. Pak Karim adalah salah satu tetangga kami yang baik hati yang sering membawa TV miliknya untuk dibawa ke balai desa ketika berlangsung pertandingan tinju. Tentu saja Bapak-bapak desa kami tak ingin melewatkannya. Sambil bersenda gurau serta menikmati kopi hitam serta kacang rebus yang dibawa dari rumah. Walaupun tidak bisa menikmati TV setiap hari, tapi semua orang juga tidak mempermasalahkan walau hanya mempunyai radio. Hiburan kami selalu berkutat dengan radio lagi radio lagi radio terus. Lagu lalu berita, begitu seterusnya. Dulu Bapak dan Emak hanya menjualkan tempe yang sudah dibuat oleh salah satu kawan dekat keluarga kami. Keuntungan kami tidaklah banyak untuk membeli sebuah TV. Nah, oleh karena itu, kami sering sekali ikut Bapak ketika akan mengambil persediaan tempe di majikannya. Kami, anak-anaknya, akan ikut membantu Bapak membawa berpotong-potong tempe yang akan dijual keesokan harinya. Tentu saja, ini bukannya tanpa tujuan tambahan. Kami ingin melihat saluran TV yang diputar oleh anak majikan tempe Bapak. Kami akan berpura-pura ke kamar mandi atau bahkan dengan sengaja mengintip ke dalam rumah agar bisa menonton TV. Bapak hanya akan tersenyum saja melihat tingkah kami. Pada perjalanan pulang kami akan bercerita tentang apa saja yang kami tonton sebelumnya. Menonton TV ternyata sangat menyenangkan. Walaupun demikian, tak pernah terlintas di benak kami untuk merengek meminta dibelikan TV. Waktu itu, kondisi keuangan Bapak dan Emak hanya cukup ntuk kulakan dan makan sehari-hari. Pernah suatu hari, Bapak pulang dengan wajah kecut.. “TV nya tidak dibawa ke balai desa, kami tidak jadi menonton Holyfield.” ujarnya sedih dan kecewa. Holyfield adalah lawan terkuat Mike Tyson jaman itu. Pertandingannya sangat dinantikan pecinta tinju dimanapun berada. Percayalah, pertandingan tinju bisa menyatukan semua umat di dunia. Mereka bahkan rela menunggu berjam-jam di depan televisi untuk itu. Emak yang saat itu membukakan pintu hanya bisa menghela nafas dan menepuk pundak suaminya agar segera tenang. “Kami sudah menunggu hampir setengah jam di depan balai desa. Kami kira Ia akan datang bersama anak laki-lakinya seperti biasa sambil membawa TV nya yang besar itu” jelas Bapak “Lalu?” tanya Emak. “Tapi setelah satu jam, tidak muncul batang hidungnya. Dari mulai bersemangat, kami lalu pulang satu persatu dengan wajah lesu. Aku yang terakhir pulang.” imbuh Bapak dengan nada yang makin sedih. “Pak, itu hanya TV. Itu hanya pertandingan tinju. Jangan terlalu bersedih.” Emak berusaha menenangkan. “Kapan ya Mak, kita bisa membeli TV sebesar Pak Karim?” tanya Bapak “Kita harus beli beras dan kedelai dulu, Pak. Anak-anak kan butuh makan.” jawab Emak pelan. Jawaban Emak membuat raut wajah Bapak semakin sedih. Aku yang tidak sengaja mendengar percakapan mereka dari pintu kamar ikut merasa sedih. Bapak hanya ingin sebuah TV untuk melihat pertandingan tinju kesukaanya. Namun karena pahitnya hidup, ia memendam keinginannya itu. Sepengetahuanku, tak pernah sekalipun ia meminta sesuatu yang memberatkan orng banyak. Rasanya Bapak tak pernah mempunyai permintaan yang aneh selain dikerokin dengan menggunakan koin 50an. Aku jadi ikut merasakan apa yang Bapak rasakan. Ada airmata yang tidak sampai jatuh di pipiku. Ada retak yang tak bisa dijelaskan. Aku tahu Bapak akan segera melupakan kesedihannya. Ia akan fokus pada pekerjaannya kembali setelah itu. Namun, kesedihan ini akan menjadi peningat bagiku suatu hari nanti.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN