Chapter 12

1210 Kata
“Sumirah, ini aku. Sumirah, tolong buka pintunya.” Setelah kuingat-ingat lagi, suaranya memang mirip suara Hamid. Akan tetapi, Hamid yang ada disini sekarang ini seperti sedang terburu-buru. Ia seperti sedang dikejar seseorang. Ia terus mengetuk pintu sambil memanggil namaku. Sepertinya aku sedang dalam bahaya. Aku kembali mengintip melalui lubang pintu. Tak terlihat apapun kecuali bagian depan baju laki-laki itu. Pun tak ada tongkat kaki yang biasa Hamid gunakan. Siapa laki-laki ini? Tak ada apapun yang kurasakan saat ini kecuali rasa takut dan penasaran. Hal pertama yang mengusikku adalah aku tak bisa melihat wajahnya. Namun aku bisa melihat baju atau jaket hitam serta celana kremnya. Tapi Kalau dipikir, tinggi pintu rumah tak setinggi itu hingga aku tidak bisa melihat wajahnya. Laki-laki ini tentu sangat tinggi. Yang kedua, Hamid yang kukenal selalu menggunakan tongkat kaki untuk berjalan. Ia kesulitan berjalan karena mengalami kecelakaan ketika kami kecil dulu dan sejak itu tak pernah sekalipun ia meninggalkan tongkatnya. Seingatku, Wasis tak pernah memberitahu kabar apapun tentang Hamid. Aku juga tak pernah diberi tahu apakah ia sudah sembuh dan bisa berjalan seperti sedia kala. Suara laki-laki ini memamg hampir sama, namun Hamid yang kukenal tidak pernah menggunakan amarah dalam setiap ucapannya. Sedangkan laki-laki ini berteriak dan tertawa dengan sangat kencang. Harusnya ini menjadi berita bagus. Setelah sekian lama akhirnya ada seseorang dari Indonesia yang merindukanku dan mengunjungiku di Hongkong. Harusnya aku senang, bukan? Tidak. Ini sama sekali tidak membuatku bahagia. Aku justru merinding membayangkan apa yang mungkin terjadi setelah ini. Tapi hal selanjutnya yang paling aneh kalau itu memang Hamid yang kukenal adalah alasan dia mencariku hingga ke Hongkong. Aku bahkan tak ingat apapun tentang pertemuan terakhir kami. Itu terjadi sudah lama sekali sebelum pertama kali aku pergi dari kota Tulungagung. Tak ada benang merah apapun diantara kami yang bisa membuatnya pergi sejauh ini. Entah untuk mencariku atau untuk alasan yang lainnya. Belum lagi peringatan Ci Lien-Hua tempo hari tak bisa hilang dari pikiranku. “Sumirah.. ini aku, teman lamamu. Ingatkah kau saat kita bermain di halaman sekolah?”ucapnya. Mendadak suaranya menjadi lembut. “Aku tahu kau ada di balik pintu ini.” lanjutnya berbisik. Bulu kudukku kembali merinding. Laki-laki ini mengerikan. Aku harus menelepon polisi. Tidak. Aku harus menelepon Ci Lien-Hua. Ketika aku beranjak pergi dari pintu, kudengar gebrakan keras pada pintu depan hingga hampir saja aku terjatuh karena kaget. Hentakan itu seperti seseorang baru saja menendang pintu dengan sangat keras. “Sumirah, bukakan pintunya. Tolong.” teriaknya. Tidak. Laki-laki ini bukan Hamid yang kukenal. “Kau buka pintu ini atau lebih baik kalau aku dobrak saja? Kau tak akan bisa menghindariku, Hey Sum!” Ia mengatakannya dengan keras diikuti dengan tawa yang tak kalah mengerikan. Hamid tak pernah memanggilku dengan panggilan itu. Ia biasa memanggilku ‘Mir’. Sedetik kemudian, aku berlari ke ruang tengah dan mengambil gagang telepon. Aku harus menelepon Papi Mami lebih dulu, baru kemudian Ci Lien. Aku mulai menekan satu persatu nomor Papi Mami. Walaupun aku tahu mereka berada jauh dariku saat ini, tapi aku yakin mereka tahu apa yang harus mereka lakukan. Berdering namun tak ada jawaban. Aku menekan nomor yang sama untuk kedua kalinya. “Halo?” suara di seberang. “Mami, ini aku..” “Apa ini Sumirah? Kenapa suaramu seperti menangis?” “Mami, tolong aku. Ada seseorang yang ingin mendobrak rumah.” “Hah? Apa maksudmu? Kenapa ada orang yang ingin mendobrak rumah kita?” “Iya, Mami. Kumohon lekaslah pulang.” “Kami baru saja tiba, Sum. Mustahil bagi kami untuk pulang secepat ini. Banyak orang berkumpul hari ini. ” “Mami.. laki-laki itu akan mendobrak pintu.” kataku gugup. “Tunggu, aku akan menelepon polisi. Aku akan memberitahukan keadaanmu sekarang pada mereka. Aku juga akan meminta teman-teman Mami disana untuk mengunjungimu.” “Baik, Mami.” “Ingat, Sum.. Jangan buka pintunya.” Aku tak lagi berani mengintip melalui lubang pintu. Suara pintu yang ditendang kini lebih sering terdengar. Aku bersyukur rumah ini dibangun dengan sangat kuat dan aman. Jendela dan pintu terpasang dengan baik dan memiliki kunci keamanan ganda yang baik pula. Pintu rumah ini tak bisa dibuka dari luar kecuali menggunakan kunci ganda. Papi dan Mami tidak memegang kunci. Sedangkan aku, Grandma dan Cece mempunyai satu kunci cadangan. Kunci utama selalu kami gantung di dekat lemari dapur. Beruntung aku ingat Grandma meletakkan kunci itu disana tadi pagi. Tidak ada suara apapun lagi diluar. Tak ada hentakan kaki, tak ada suara seseorang yang berteriak. Apa laki-laki itu sudah pergi? Ataukah ia sedang menungguku diluar sana? Rasanya ia tak akan berhenti sampai bisa bertemu denganku. Aku bergegas menekan nomor telepon Ci Lien Hua. Perasaan kecewa datang ketika seseorang mengatakan Ci Lien sedang tidak ada di kantor. Kupejamkan mataku sebentar. Aku tak ingin perasaan takut menguasaiku lagi seperti tadi. Aku berusaha untuk fokus berfikir apa yang selanjutnya kulakukan setelah ini. Andai saja aku menuruti ajakan Ci Lien Hua untuk bersembunyi saat itu juga. Andai saja. Jendela rumah adalah hal pertama yang kulihat setelah itu. Rumah ini terletak di lantai dua puluh enam dan tidak ada kemungkinan ia akan mengetuk jendela dari luar, kan? Bodoh kau, Sumirah! Tidak mungkin ia memanjat lantai dua puluh enam. Tidak mungkin kecuali jika ia adalah tetangga di lantai dua puluh lima. Entah bagaimana, tapi hampir semua bangunan rumah di Hongkong dibangun bersusun menjulang keatas. Setiap gedung bisa mempunyai tiga puluh hingga empat puluh lantai. Setipa gedung dibangun dengan pondasi yang kuat mengingat seringnya terjadi gempa bumi dan angin topan. Mempunyai sedikit tetangga di lantai berbeda tentu sangat menguntungkan. Tapi karena laki-laki di depan pintu sekarang ini aku harus mempertimbangkan untuk menandatangani kontrak. Aku tak boleh ada di rumah ini lebih lama. Aku melihat ke arah jendela dan mengambil langkah untuk melihat ke arah luar. Masih aman. Tak ada siapapun. Syukurlah. Kring..Kring.. Ah, kenapa ada telepon di saat-saat seperti ini. “Halo? Sumirah ya? Aku teman Mami. Apa kau tak apa?” “Halo... Iya, Madam. Kurasa aku masih aman.”jawabku. Aku sedikit merasa tenang mengetahui bahwa teman Mamilah yang berbicara. “Aku melihat seorang laki-laki berdiri di depan lift lantai rumahmu. Tapi ia bergegas pergi setelah melihatku berjalan menuju pintu.” “Apa ia sudah pergi, Madam?” tanyaku cepat. “Sepertinya iya.” “Kau bisa meneleponku kalau membutuhkan bantuan. Aku ada di lantai lima.” “Baik, Madam.” Ia menutup telepon sambil berpesan untuk tidak membukakan pintu pada siapapun keculai Papi dan Mami. Aku mengiyakan permintaannya. Lagipula aku juga tak punya banyak energi yang tersisa saat ini. Beberapa kali kuusap keringat dingin yang menetes di wajahku. Ci Lien Hua.. Aku harus menelepon Ci Lien lagi. Ia harus tahu ini. Aku harus keluar dari rumah ini segera setelah keluarga Papi Mami pulang. Belum juga kusentuh gagang telepon itu, ada hentakan lagi terdengar di arah pintu. Apa lagi ini? Apa laki-laki itu kembali? “Sumirah.. ini aku!” Itu suara Ci Lien. Aku mengintip keluar pintu melalui lubang pintu dan mendapati Ci Lien berdiri. Aku harus membuka pintu segera. “Kau harus keluar dari rumah ini sekarang. Laki-laki yang tadi berdiri di depan pintu ini tadi akan segera kembali.” ucapnya begitu kubuka pintu. “Ci.. Papi Mami sedang pergi. Aku tidak bisa meninggalkan rumah ini.” “Sum, percayalah. Kau harus pergi. Laki-laki tadi adalah orang suruhan Tian Di Hui.” Kakiku mendadak lemas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN