"Apa?! Putriku?" Zein terkejut mendengar penuturan sang papa, tentu saja telinganya masih berfungsi dengan baik. Dia cukup tahu dengan apa yang sang papa katakan barusan. "Apakah--" "Tidak! Dia bukan putrimu!" potong sang papa yang membuat Zein semakin curiga dan meyakini sesuatu mengenai gadis itu. "Apakah Papa berharap aku percaya setelah semua yang Papa katakan barusan?" kata pria ini yang memandang sang papa remeh, dan dia berharap kali akan menang dalam perdebatan mereka. "Kau harus percaya. Selamanya kau harus percaya," jawab pria tua itu. "Terakhir kali aku percaya dengan Papa ... aku kehilangan orang yang aku cintai. Dan apakah sekarang aku harus mempercayai Papa lagi?" ujar Zein. Dia masih mengingat betul dengan masa lalunya yang mana terlalu mempercayai sang papa hingga di

