Baru saja gadis itu merasa lega karena mengantar kedua orang tuanya, kini dia kembali dihadapkan dengan berita yang mungkin buruk. Nyatanya Tuhan sepertinya adil dalam memberikan kehidupan kepada setiap orang. Selain ada kebahagiaan, kesedihan pun turut ada di dalamnya. Lara sendiri tidak menyangka jika senyumannya dengan cepat tergantikan dengan tangisan. Apakah ini pertanda bahwa dirinya tidak pantas untuk bahagia? Jika iya, maka untuk apa dia hidup saat ini? Untuk merasakan arti kesedihan itu sendiri?
“Aku sudah menduga jika mereka ada apa-apa.”
Lara masih mendengar segala persinggungan yang dikatakan oleh sepasang remaja yang kebetulan ikut mengantri di belakangnya. Mereka terlihat memperhatikan berita mengenai pemuda dan gadis yang diberitakan televisi. Dan entah kenapa Lara sering melihat berita buruk mengenai kedekatan Reza dengan gadis lain di tempat umum seperti ini. Seketika dia tidak merasa seperti kekasih atau tunangan dari pemuda itu.
“Tapi, gue nggak percaya mereka pacaran. Percaya dan nggak percaya, sih,” balas gadis remaja satunya. Sepertinya Lara sendiri harus segera bergegas pulang karena dia tidak ingin mendengar hal yang lebih menyakitkan dari ini.
“Apa yang bikin lo nggak percaya? Ini bukan kali pertama mereka tertangkap berduaan, gue juga dengar kalau kru film sering lihat mereka bersama di lokasi syuting.”
“Bisa jadi mereka membicarakan adegan yang akan mereka mainkan, bukan?” timpal gadis itu yang masih dengan pemikirikan positifnya. Lara sendiri berharap kasir minimarket ini segera selesai membungkus belanjaannya.
“Lo belum percaya? Bahkan kabar mereka dekat dan jadi pasangan pun dikonfirmasi sama pihak Reza sendiri. Mungkin dia lelah menjawab pertanyaan dari wartawan, jadi dia pun segera mempublikasikan hubungan mereka,” ungkap gadis pertama.
Lara segera menyambar kantong belanjaan yang sudah ditotal oleh sang kasir, bahkan kasir itu pun nampak terkejut dengan gerakan tiba-tiba dari gadis ini. Kedua gadis yang berada di belakangnya pun terlihat terkejut melihat respons dari Lara. Gadis ini sendiri tidak tahu kenapa dia melakukan tindakan itu. Dia pun bergegas pergi meninggalkan minimarket itu.
Sesampainya di luar, sudah ada Pak Joko yang menunggunya, dia pun bergegas masuk dan meminta Pak Joko untuk mengantarnya kembali ke rumah karena dia tidak jadi pergi hari ini. Pada awalnya dia berniat untuk bertemu Gevin, namun karena mood-nya tiba-tiba buruk ketika melihat berita mengenai Reza, maka dia pun memilih pulang. Tentu saja dia mengabari Gevin tentang batalnya pertemuan mereka.
***
“Bang!” panggil Reza dengan nada tinggi ketika sampai di tempat sang manager berada. Tama yang sedang sibuk menjawab panggilan telepon segera menutup ponselnya dan memusatkan perhatiannya kepada artisnya itu karena dilihatnya raut wajah Reza terlihat marah saat ini. Dan dia yakin pemuda itu pasti akan menanyakan perihal berita itu.
“Gue tau lo akan tanya berita itu. tapi—”
“Kalau lo tau, segera beri gue penjelasan yang sejelas-jelasnya tentang hal ini,” potong Reza lebih dulu.
“Gue lakuin itu untuk karier lo dan promosi film yang lo bintangin ini,” ungkap Tama yang mana membuat Reza geram dibuatnya, bahkan sampai sekarang dia tidak berpikir untuk ke sana, sungguh permainan yang busuk.
“Perlu lo tau, Bang, bahkan gue nggak butuh karier yang lo bilang ini. Gue nggak akan pernah korbanin perasaan orang lain untuk kepentingan gue sendiri, gue nggak seburuk yang lo pikir, Bang,” jelas Reza sekali lagi dengan nada tidak bersahabatnya bahkan dia pun sudah menyingkirkan etikanya sebagai orang yang lebih muda dibanding managernya ini.
“Iya gue tau, Za. Gue juga terpaksa lakuin ini karena wartawan itu terus ganggu gue, dan mereka akan berhenti kalau gue mengatakan hal itu,” jelas Tama yang tentunya tidak akan dipercayai oleh Reza. Dia sangat tahu bagaimana tabiat managernya ini untuk melakukan segala cara agar uang terus mengalir di rekeningnya, sungguh memalukan.
Pemuda itu pun tertawa pelan, apakah Tama mengira dirinya sebodoh itu hingga percaya dengan segala bualannya? “Bukannya setelah lo mengatakan itu semua mereka akan semakin mengerjar lo, Bang? Bahkan gue berani bertaruh kalau ini akan sangat menguntungkan lo,” tutur Reza dengan dingin yang tidak direspon oleh sang managernya. Sepertinya pria itu tidak mampu mengatakan apa pun karena dalam hal ini dialah yang salah.
“Gue minta cepat urusan kebisingan ini, bahkan lo juga nambah daftar pekerja gue,” ungkap Reza yang dia maksud adalah harus kembali membujuk gadis itu—Lara. “Dan satu lagi, gue juga butuh kebersihan nama gue dan Ara. Tentunya lo juga harus minta maaf ke dia karena masalah ini,” imbuhnya yang mengingat bukan hanya dirinyalah yang dirugikan. Setelah mengatakan itu semua, Reza pun bergegas pergi meninggalkan Tama yang terdiam sejak tadi. Dan sekali lagi pekerjaannya pun bertambah. Apa yang diperbuat memang harus dipertanggungjawabkan bukan?
***
Berkali-kali Lara mengabaikan panggilan dari tunangannya itu, bahkan juga tidak membaca apalagi membalas pesan dari Reza. Saat ini dia ingin sendiri dan tidak ingin mempercayai siapa pun.
Reza terlihat frustasi karena tidak kunjung mendapat balasan dari gadis itu. Dia sendiri sangat menyayangkan foto-foto saat dirinya pergi keluar bersama Ara juga tersebar, dan itu artinya selama ini dia dan gadis itu dibuntuti. Bahkan saat kedunya berada di danau pun juga ada, Reza pun semakin berspekulasi bahwa dalangnya adalah orang yang berada di sekitarnya. Dan dia mencurigai Tama, managernya. Bila kali ini hubungannya dengan Lara berakhir, maka dia akan segera menghajar pria itu dan dia akan meninggalkan keartisannya ini. Bahkan sekalipun dia dituntut dan mendapat hukuman, maka dia akan menerimanya. Dia tidak ingin menyakiti Lara lebih jauh dari ini.
Dering ponsel pemuda itu tiba-tiba berbunyi, Reza mengira Lara kembali menghubunginya, namun ternyata itu panggilan dari Ara, dia sepertinya melupakan gadis ini yang turut mendapat masalah karena kebodohan managernya itu. “Hallo, Ra,” sapa Reza lebih dulu.
“Za, kamu udah lihat beritanya?” tanya Ara yang berada di seberang sana. Reza mengangguk membenarkan.
“Ya. Aku minta maaf sama kamu, Ra, karena ini adalah ulah managerku,” ungkap pemuda ini yang merasa bersalah kepada gadis itu. Terdengar helaan napas dari seberang sana, sepertinya gadis itu sama kesalnya dengan dirinya.
“Its ok. Managerku sebisa mungkin menghapus berita itu,” balas Ara yang terdengar pasrah akan kariernya. Namun, dilihat dari segi mana pun sebenarnya berita ini akan menguntungkan kedua belah pihak di mana keduanya akan semakin dikenal. Tentu saja baik Reza dan Ara tidak akan menyetujui pemikiran gila ini. Membodohi publik dengan hubungan keduanya yang tidak benar-benar ada?
“Oke, sekali lagi aku minta maaf, Ra, untuk semuanya. Dan sampaikan permohonan maafku kepada managermu karena menambah daftar pekerjannya.”
“Iya, Za, nanti aku sampaikan. Kalau begitu aku tutup panggilannya karena ada panggilan telepon masuk.”
Sambungan pun terputus, Reza menatap kembali ponsel miliknya karena dia berharap ada satu pesan atau panggilan tidak terjawab dari Lara, sayangnya gadis itu tidak mengirimnya balasan sama sekali. “Bibi,” gumam pemuda itu yang mengingat satu sosok yang mungkin bisa membantunya.
Reza segera menghubungi telepon rumahnya, dan sepertinya Bibi masih ada di rumahnya saat ini. Dan benar saja, beberapa saat kemudian panggilannya pun diterima. “Hallo, Bi. Ini Reza,” sapa pemuda itu lebih dulu yang tidak ingin membuang-buang waktunya lebih lama lagi.
“Iya, Den?”
“Bi, apa Lara ada di rumah?” tanyanya langsung.
“Ada, Den. Tadi Bibi lihat Non Lara mau keluar, tetapi dia kembali ke rumah dan masuk ke kamar,” jelasnya. Reza pun berpikir jika gadis itu pasti sudah melihat beritanya. Reza pun mengembuskan napasnya kasar. Percuma saja dia menghubungi Lara yang sedang mode tidak ingin diganggu.
“Apa dia sudah makan, Bi?” tanyanya mengalihkan topik pembicaraan keduanya.
“Sarapan tadi pagi sudah, Den. Untuk makan siang, Non Lara belum turun sejak tadi. Apa perlu Bibi panggilkan?” tawar wanita itu, sepertinya bibi belum tahu mengenai berita Reza dan Ara.
“Tidak usah, Bi. Reza akan hubungi Lara nanti, sepertinya dia sedang tidur. Bi ... Reza minta tolong jangan lupa perhatikan pola makan Lara, ya, Bi. Reza usahakan dalam waktu dekat untuk pulang,” kata pemuda itu terdengar putus asa. Bibi pun mengangguk mengiyakan pemuda yang sudah dia anggap seperti anaknya sendiri.
Sedikit pelik hubungan seperti ini. Di jaman sekarang, komunikasi antar pasangan adalah hal yang utama. Anehnya Reza sendiri yang sejak awal sepakat untuk tetap memprioritaskan Lara pun malah terkadang lupa untuk menghubungi gafis itu. Dia akan ingat ketika keduanya dalam keadaan yang buruk, misal insiden seperti ini.
Menurutmu seberapa penting komunikasi antar pasangan?