Reza terlihat gelisah karena pesannya sejak beberapa hari lalu tidak dibalas oleh gadis itu, bahkan panggilan teleponnya pun tidak dijawab olehnya. Reza sendiri sudah mencoba menghubungi orang rumah, sayangnya bibi mengatakan jika Lara tidak berada di rumah, dan dia yakin gadis itu sengaja meminta wanita yang sudah bekerja dengannya itu untuk berbohong. Dia juga sudah meminta bantuan sang mama, sayangnya wanita itu lebih memihak kepada Lara, di mana dia akan membantu jika Reza pulang. Dia saat ini masih belum bisa pulang mengingat syuting masih berjalan untuk beberapa minggu ke depan.
Reza pun meminta sang mama mengatakan kepada Lara bahwa dia akan menjelaskan semuanya setelah pulang nanti. Sang mama pun tetap berpihak kepada Lara di mana wanita itu mengancam akan membawa Lara jika pemuda itu tidak kunjung pulang. Selalu saja mamanya mengancam hal seperti ini, padahal mereka bukanlah anak kecil lagi yang mana selalu mengikuti induknya. Mereka telah dewasa, di mana segala keputusan harus mereka ambil sendiri. Sayangnya, bagi sang mama dia lebih memperhatikan Lara dibandingkan dirinya. Reza sendiri tidak terlalu mempermasalahkan itu, lagi pula Lara juga bagian dari keluarganya.
"Za."
Suara lembut khas seorang gadis itu mengalihkan perhatian pemuda ini. Reza pun buru-buru menyimpan ponsel miliknya di mana tadinya dia menatap potret diri Lara layar ponsel miliknya, itulah foto terbaik yang dia punya saat ini sekaligus sebagai pengobat rindunya ketika tidak mampu bertatap muka.
Reza pun menatap Ara yang entah datang tiba-tiba kepadanya. Saat ini semua sedang makan siang, dan karena tidak kunjung mendapat kabar dari Lara, maka pemuda ini tidak selera untuk makan. Gadis bernama Ara itu pun duduk tepat di bangku kosong yang ada di sebelah Reza, pemuda ini pun memberi ruang banyak kepada Ara.
"Nih, aku bawain kamu nasi kotak. Kata Bang Tama kamu belum makan siang, kan?" tutur gadis itu yang mana membawa dua nasi kotak yang dia ambil tadi. Reza pun menerima salah satu nasi kotak itu.
"Kamu nggak perlu repot-repot, Ra. Karena aku pun malas untuk makan saat ini," jawab Reza yang mana sedikit menghargai kebaikan gadis ini yang membawakan makanan untuknya. Gadis itu pun tersenyum geli ketika mendengar perkataan Reza yang menurutnya lucu.
"Nggak repot, kok. Ini hanya nasi kotak yang mana kita dapat gratis," jelas Ara yang disetujui juga oleh Reza.
Dan pada akhirnya Reza pun membuka nasi kotak itu, kemudian mulai melahapnya perlahan meskipun di dalam pikirannya masih teringat dengan Lara--orang yang sangat dia tunggu kabarnya saat ini.
"Akhir pekan nanti kamu mau ngapain?" tanya Ara yang mana membuat atensi Reza yang semula kepada nasi kotaknya itu pun beralih kepada Ara yang duduk di sebelahnya.
Pemuda itu mengernyit, dia mengingat jika semua orang diberi libur saat akhir pekan nanti, itu pun karena ada beberapa hal yang harus disiapkan mengingat ada kendala yang tidak bisa diprediksi saat syuting berlangsung. Karena Ara mengingatkan tentang hal itu, maka Reza pun berpikir tidak ada salahnya jika dia mencoba menghubungi Lara lagi dan meminta bantuan dari orang tuanya.
"Bagaimana kalau kita ke danau?" ajak Ara tiba-tiba yang mana membuat pikiran Reza pun buyar. "Kata managerku, dekat sini ada danau. Kamu tenang saja, di sana katanya sepi pengunjung," jelas Ara lagi. Reza sendiri bingung apakah dia harus menerima ajakan gadis ini atau tidak.
***
"Bagaimana dengan Lara? Apa dia sudah bangun?" tanya pria paruh baya yang merupakan papa dari Reza. Pria itu menanyakan perihal keberadaan putrinya yang tidak dilihatnya di pagi ini.
"Sepertinya belum, biar aku cek dulu," balas sang istri yang mana mencuci tangannya terlebih dahulu. "Bibi tolong lanjutin masaknya, ya. Saya mau ke kamar Lara dulu," ujarnya kepada Bibi yang dengan cekatan menggantikan majikannya itu, sedangkan papa Reza terlihat sibuk dengan ipad miliknya, mungkin tentang pekerjaan.
Wanita itu pun menaiki anak tangga yang menuju ke kamar putrinya. Di sepanjang tangga dia melihat beberapa foto Reza dan Lara sejak kecil hingga mereka dewasa, tidak terasa mereka sudah tumbuh besar sekarang, bisa dibilang keduanya sudah pantas untuk menikah. Dan seperti biasa, wanita ini harus mengubur keinginannya menggendong cucu mengingat putranya masih disibukkan dengan dunia keartisannya.
Setelah sampai di depan pintu berwarna putih itu, wanita ini pun mengetuknya lebih dulu. Namun, beberapa saat dia menunggu tidak ada jawaban dari dalam, sepertinya gadis itu masih lelap dalam dunia mimpi. Wanita itu pun mencoba membuka pintu, dan ternyata pintu tidak dikunci, kebiasaan kecil Lara dari dulu tidak pernah berubah. Mama Reza pun tersenyum kecil melihat putrinya masih meringkuk di balik selimut tebal miliknya.
Dia pun berjalan menuju ke jendela, membuka tirai dan menautkannya di pinggirian, kemudian beliau pun membuka jendela. Seketika hawa sejuk pagi hari menyeruak ke indra penciumannya, begitu juga dengan terangnya sinar mentari pagi ini, karena sebelumnya dia sudah mematikan lampu di dalam kamar Lara.
Gadis yang tadinya lelap dalam mimpi indahnya itu pun merasa terusik, perlahan dia menyesuaika indra penglihatannya. Sang mama pun tersenyum menatapnya yang mana berdiri di dekat jendela sana. "Pagi, Ma," sapanya terhadap wanita itu. Mama dari Reza ini pun berjalan menuju ranjang putrinya, kemudian duduk di pinggiran.
"Sudah pagi, Sayang. Papa sudah nunggu kamu di bawah. Kita sarapan, yuk," ajaknya yang mana kemudian diangguki oleh gadis ini. Lara pun beranjak dari tidurnya sedangkan sang mama membantu membereskan kasur putrinya itu. Dilihatnya ada laptop terkapar di atas kasur, sepertinya gadis itu semalam menonton film hingga lupa waktu. Dan inilah salah satu kebiasaan gadis itu lagi. Wanita ini pun menyimpan laptop tersebut di atas meja, kemudian dia pun turun ke bawah guna menyusul sang suami.
Di sana, Bibi sedang menyiapkan makanan di atas meja, dengan sigap wanita ini pun membantunya. "Bagaimana? Dia sudah bangun?" tanya sang suami.
"Sudah, Pa. Barusan aku bangunkan dia," jawab wanita itu.
"Ma, ada kabar yang mungkin sedikit buruk," ungkap sang suami terdengar serius. Wanita itu pun memusatkan atensinya kepada pria yang sudah menjadi belahan hidupnya ini sejak lama. "Besok, kita harus kembali," lanjutnya lagi. Wanita itu pun tampak muram, padahal dia ingin berada di sini menemani Lara lebih lama lagi. "Maaf karena mendadak seperti ini," ucap si suami yang tahu terlihat kecewa karena waktu mereka untuk tinggal sedikit lama di sini harus sirna.
"Tidak apa-apa, Pa," balas wanita ini yang mencoba memahami pekerjaan sang suami. Dia bisa saja tinggal di sini dan membiarkan suaminya bekerja di sana, namun dia tidak bisa melakukan hal itu karena ini sudah menjadi tanggung jawabnya sebagai seorang istri. "Karena besok kita harus pergi, maka hari ini adalah terakhir kita di sini. Dan tentunya Mama ingin hari ini menjadi akhir yang baik buat Lara," tutur wanita itu.
"Baiklah, kita akan jalan-jalan bertiga," putus sang suami yang mana membuat senyum di wajah sang istri terlihat.
***
"Jadi, Mama dan Papa besok akan pulang?" tanya gadis itu terlihat sedih seakan kebahagiaan yang baru dia rasakan seketika sirna. Hari ini dia sangat senang karena bisa jalan-jalan bersama kedua orang ini. Mereka pergi ke danau dan taman serta pusat perbelanjaan juga, tentunya Lara mendapat hadiah dress yang bagus dari wanita yang sudah dia anggap sebagai mamanya sendiri itu. Namun, dia kembali sedih ketika mendengar jika kedua orang ini akan pulang ke tempat di mana sang papa ditugaskan.
"Maafin kita yang nggak bisa tinggal lama di sini. Tiba-tiba saja Papa tadi pagi dapat email kalau dia harus kembali karena urusan penting," ungkap wanita itu yang juga turut sama sedihnya.
"Nggak apa-apa, Ma. Namanya juga pekerjaan, jadi itu sudah jadi tanggung jawab. Lagi pula Lara senang bisa menghabiskan waktu empat hari ini bersama kalian. Itu sudah lebih dari cukup buatku," sahut Lara yang kemudian mengubah raut wajahnya agar terlihat ceria. Wanita itu pun tau jika gadis ini memaksakan senyumnya. Dia pun tahu jika gadis ini pasti kesepian tinggal sendirian di dalam rumah besar ini.
"Jika kamu mau, kamu bisa ikut kita. Setidaknya kamu tidak merasa sendirian di dalam rumah," sambung sang papa yang mana membuat gadis itu berpikir tentang ajakan yang diutarakannya. Ajakan itu terdengar menggiurkan di telinga Lara, namun dia kembali mengingat sosok Reza yang mana adalah pemilik rumah ini. Dan dia pun sudah berjanji akan di sisi pemuda itu sampai kapan pun.
"Nggak usah, Pa. Lara di sini saja," tolaknya kemudian yang berharap ini adalah keputusan yang benar. Wanita yang merupakan mama dari Reza itu pun nampak tersenyum, bersyukur ketika sang putra mendapat pendamping seperti Lara. Gadis baik dan setia berada di sisinya. Seharusnya pemuda itu lebih bersyukur ketika mendapatkan gadis ini. Sepertinya sekali lagi dia harus memberi putranya itu wejangan yang mungkin sedikit lebih panjang.
Sekali lagi aku kurang begitu suka dengan Reza. Lara pun sama, dia terlalu sabar, bahkan jika mau, dia bisa mendapat laki-laki yang lebih baik dari Reza.