PART 8

1349 Kata
Ada yang tidak bisa diubah oleh Lara mengenai hidupnya. Dia tidak mampu menentukan kepada siapa perasaannya berlabuh, atau kapan perasaan khawatir yang ada dalam dirinya hilang. Yang bisa dia lakukan saat ini hanya menunggu, menunggu kapan Reza pulang dan menjelaskan segala pelik yang ada di dalam hati beberapa waktu ini. Tidak banyak aktivitas yang dilakukannya di rumah, seperti biasa dia hanya menonton film, membaca buku, berkebun, menyiram bunga, membantuk bibi memasak, ke warung martabak Jeje, atau ke mall. Sepertinya gadis ini mulai merasa dilanda kebosanan atas hal yang dia lakukan selama ini. Atau, dia hanya merasa kesepian? "Kesepian? Bahkan setiap hari selalu begini," lirih Lara kepada dirinya sendiri. Gadis ini menatap pantulan dirinya yang ada di cermin di mana cermin itu menempel pada lemari besar miliknya. Dari atas tempat tidur, dia bisa langsung melihat dirinya di sana, setiap kali bangun tidur dia selalu menatap pada cermin itu. Bukan tanpa alasan dia meminta Reza meletakkan lemari dengan cermin itu di sana. Dia sengaja berada di sana karena Lara ingin melihat bagaimana tampilannya setiap bangun di pagi hari, dan dia ingin tahu apakah dirinya masih berada di bumi yang sama atau malah telah berbeda. Pemikiran yang aneh memang. Lara mulai menginjakkan kakinya di lantai berwarna putih tulang di dalam kamarnya itu. Hawa dingin langsung menyeruak di jari-jarinya kemudian tersalurkan ke seluruh tubuhnya. Menyebalkan ketika pagi-pagi seperti ini hawa dingin telah menyambutnya dengan erat. Lara berjalan menuju ke arah pintu, seperti biasa bibi pasti sudah datang sejak tadi untuk menyiapkan sarapan untuknya. Gadis ini berjalan pelan keluar dari kamarnya karena samar-samar dia mendengar suara orang-orang bercengkerama. Ketika dia semakin mendekat, sumber suara itu semakin nyaring terdengar di telinganya. Lara pun tampak mengernyit ketika indera pendengarannya terasa familiar dengan suara ini. Jangan-jangan? Lara pun segera berlari secepat kilat menuju ke arah sumber suara itu. "MAMA? PAPA?" pekik Lara kemudian ketika mendapati orang tua Reza berada di dalam rumah ini. Di sana ternyata ada kedua orang itu kemudian bibi juga di sana. Sepertinya mereka sedang mengobrol bertiga. Wanita paruh baya yang dipanggil sebutan mama oleh Lara pun segera memeluk gadis itu. Rasanya sudah lama sekali dia tidak memeluk putri kecilnya ini. Bibi yang melihatnya pun terasa terharu karena sudah lama sekali Lara tidak sebahagia ini. "Mama dan Papa kenapa nggak hubungi Lara kalau ke sini? Dan kenapa nggak bangunin aku juga?" cecar Lara lebih dulu setelah ia melonggarkan pelukannya. Wanita paruh baya yang merupakan orang tua Reza itu pun tertawa pelan. "Kejutan, Sayang. Kita sengaja tidak bilang ke kamu. Tadi Mama sudah ke kamar dan lihat kamu tidur nyenyak, maka Mama pun memilih menunggu di sini ditemani oleh Bibi juga," jelas wanita itu. Kemudian gadis ini berhambur memeluk pria paruh baya yang sejak tadi menyaksikan perjumpaan ibu dan anak ini. Sudah lama sekali Lara tidak memeluk kedua orang ini dan hanya berkomunikasi lewat ponsel. "Papa apa kabar?" tanyanya setelah melepaskan pelukan mereka. Pria yang merupakan papa dari Reza itu pun mengelus surai gadis ini--putri kecilnya. "Baik, Sayang. Papa semakin baik ketika melihat senyum kamu," balas pria itu yanga mana membuat orang di sekitarnya tertawa kecil, termasuk Lara tentunya. "Papa bisa saja. Karena Papa dan Mama ada di sini, Lara akan masak makanan spesial, tentunya dibantu oleh Bibi. Iya, kan, Bi?" tutur Lara yang kemudian mengkode wanita yang setiap hari bersamanya itu. Bibi pun mengancungkan kedua jempolnya, kemudian keduanya meninggalkan orang tau Reza menuju dapur. Sepertinya Lara tidak peduli jika dia belum mandi pagi ini. Wanita yang merupakan orang tua dari Reza itu pun terus menatap punggung Lara yang semakin lama tidak terlihat karena gadis itu dan bibi menuju ke dapur. Sang suami pun mendekati istrinya itu dan merangkulnya pelan. Dia tahu bagaimana perasaan sang istri saat ini. Tidak sehari pun mereka untuk tidak memikirkan gadis ini. "Aku yakin putra kita bisa membahagiakan dia, Ma," lirih sang suami yang mana menatap potret gadis itu bersama putranya ketika kecil yang mana Reza letakkan tepat di dinding. Kisah mereka sudah ada sejak lama, begitu juga dengan kisah orang tua keduanya yang sangat dekat sejak lama juga. Bahkan Lara pun tidak akan pernah tahu bagaimana gadis itu masuk ke dalam keluarganya. *** Ketiga orang itu menikmati sarapan pagi yang khusus dibuat oleh Lara. Tentunya orang tua Reza nampak takjub dengan hasil masakan putri mereka ini. Lara pun mengungkapkan jika dia belajar dan dibantu oleh bibi. Bibi pun sedikit malu ketika gadis ini memujinya. Bibi membeberkan jika Lara seringkali mengajaknya membuat resep baru yang dilihat gadis itu di internet. "Lara, apa kamu tidak ingin kuliah?" tanya sang papa yang kembali menawari gadis itu untuk meneruskan pendidikannya. Lara pun tersenyum ketika sudah banyak dia dengar penawaran dari papa Reza itu. Menurutnya maksud dari orang tua Reza memanglah baik. Hanya saja dia sudah tidak ingin kuliah, dan lagi pula umurnya sudah di atas dua puluh-an. "Tidak, Pa. Lara senang seperti ini saja," ungkapnya disertai senyum lebarnya itu. Sekali lagi gadis itu menggigit kemudian mengunyah makanannya. "Kalau kamu kuliah, akan banyak teman yang bisa kamu temui dan ajak mengobrol," imbuh sang mama. Sekali lagi Lara pun menampilkan sederet giginya yang rapi dan bersih itu. "Aku tau, Ma. Tapi, aku sudah nyaman seperti ini dan lagi pula akan terasa aneh ketika Lara baru duduk di semester satu saat umur sudah semakin tua." "Tua? Kamu tidak terlalu tua, Sayang. Bahkan dilihat dari segi mana pun orang akan tetap mengira umurmu di bawah dua puluhan," sanggah sang mama. "Benar, kan, Bi?" imbuh wanita itu yang meminta pendapat dari bibi. Bibi pun mengangguk penuh. Lara pun terkekeh mendengar betapa inginnya mereka melihat dirinya kuliah. "Keputusan Lara tetap sama, Ma. Bagi Lara hidup seperti ini lebih menyenangkan dan Lara merasa bebas saja," balasnya yang mana membuat kedua orang tua Reza tampak menyerah membujuknya untuk kuliah. "Ya sudah kalau memang itu keputusan akhir kamu, kita nggak bisa paksa. Yang jelas, jika kamu ingin segera hubungi kami," ucap sang papa yang mana membuat gadis itu mengangguk. Dan di hari itu Lara tidak merasa kesepian lagi karena kedatangan dua orang ini. Tentunya dengan keberadaan mereka sedikit membuat kesepian yang dia alami sedikit hilang, meskipun keduanya tidak akan lama berada di sini mengingat bagaimana pekerjaan sang papa. Melihat sang putri selalu sendiri membuat wanita paruh baya itu gemas kepada putranya itu. Anaknya itu terlalu mementingkan kariernya dibandingkan tunangannya sendiri. Padahal jika diteliti lagi, Reza terpaksa melakukan ini karena sudah ada kontrak yang mengikatnya dan waktunya tinggal dua tahun lagi untuk menyudahi kontrak itu. "Kapan kamu pulang?" Bukan sapaan yang pemuda itu dengar pertama kali. Karena kesal tidak mendapati anaknya di rumah, maka sang mama pun menghubungi Reza diam-diam ketika malam hari. Dia tahu sang anak pasti sedang istirahat saat ini. Reza pun tampak senang ketika mendapati panggilan terlepon dari sang mama. Namun, kesenangannya tiba-tiba hilang ketika menyadari jika orang tuanya sedang berada di Indonesia saat ini. Dan seperti biasa, dirinya akan terkena siraman kalbu dari wanita itu. "Setelah pekerjaanku selesai, aku akan pulang, Ma," jawab Reza. Pemuda itu menerawang ke atas menatap dinding plafon yang ada di kamar hotel tempat dia beristirahat. "Berapa lama? Setahun lagi?" tanya sang mama masih dengan nada ketusnya. Reza pun mengembuskan napasnya pelan, tidak mungkin jika dia membantah perkataan orang tua itu. "Ya tidak, Ma. Pekerjaan Reza memang sedikit banyak karena syuting dilakukan di beberapa tempat yang berbeda. Lagi pula--" "Jangan terlalu lama," potong wanita itu yang mungkin sudah enggan mendengar dongeng sang anak mengenai pekerjaannya. "Kalau kamu lama, maka bukan tidak mungkin dia akan pergi," lanjut wanita itu syarat dengan keseriusannya. Reza pun mengangguk meskipun dia tahu sang mama tidak akan melihatnya. "Iya, Ma," jawab pemuda itu yang diiringi dengan terputusnya panggilan itu. Reza kembali menatap dinding plafon kamar hotel ini, dan dia memikirkan bagaimana perasaan gadis itu ketika tiga tahun hidup seperti ini. Reza merasa menjadi orang paling beruntung di dunia karena memiliki Lara yang mampu dan mau bertaham di sisinya. Seketika pemuda itu tersenyum miris mengingat betapa kejamnya dia dalam hubungan mereka. Its good time for smile ? Btw, pendapatku sendiri jika memiliki hubungan seperti ini pastinya gak akan kuat. Namanya juga fiksi, jadi kita bebas untuk berimajinasi bahkan hal yang tidak mungkin bisa menjadi mungkin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN