PART 7

1257 Kata
Kecemburuan dalam suatu hubungan adalah hal yang biasa. Perasaan ini bisa jadi pertanda jika kita sangat takut untuk kehilangan orang yang kita sayang. Namun, kecemburuan yang berlebihan juga bukanlah hal yang bagus. Kita anggap saja kecemburuan itu bak pasir dipanti. Semakin kamu genggam dengan kuat, maka perlahan pasir-pasir itu akan hilang dari genggamanmu. Sama halnya dengan orang yang sedang cemburu, jika berlebihan bukan tidak mungkin orang yang kita sayang perlahan menghilang. Lara sedang berada di fase kegelisahan tentang perasaannya sendiri. Melihat dan mendengar berbagai argumen masyarakat tentang Reza membuatnya menjadi berpikiran buruk. Berita mengenai pemuda itu yang terlibat perasaan dengan lawan mainnya membuat Lara seakan percaya dan tidak percaya. Dia sangat percaya jika Reza bisa menjaga perasaannya, sejauh ini pemuda itu tidak pernah membuatnya khawatir tentang cinta pemuda itu. Namun, bagaimana dengan gadis itu? Lara bisa mengatakan bahwa hampir 99% perempuan akan menaruh perasaan ke lawan jenis jika bisa membuatnya nyaman. “Huft.” Gadis itu nampak mengembuskan napasnya lelah, kemudian dia menutup kembali novel yang dibelinya itu. Hari-harinya terasa biasa saja. Waktunya banyak ia habiskan di dalam rumah, contohnya membaca fiksi percintaan yang disukainya. Apa karena terlalu banyak membaca cerita-cerita itu maka membuatnya khawatir dengan berita mengenai Reza itu? Mungkin saja, sepertinya dia harus mengurangi kegiatan membacanya ini. “Artis muda Reza Okta dikabarkan dekat dengan seorang gadis. Diduga keduanya terlibat cinta lokasi karena sedang mengerjakan proyek film bersama. Dan dari beberapa sumber yang tidak bisa kami sebutkan, mereka melihat keduanya sangat dekat sekali ketika berada di lokasi syuting. Apakah ini pertanda jika gadis-gadis lain harus merelakan sang pemuda tampan ini?” Lara pun tersenyum kecut ketika mendengar berita mengenai Reza yang tidak sengaja didengarnya ketika bibi sedang menonton infotainment. Melihat keberadaan gadis itu membuat si bibi buru-buru mematikan benda persegi itu. Lara pun langsung mengubah raut wajahnya, dia tidak ingin dibutakan oleh kecemburuan. “Bibi, bagaimana kalau kita buat kue? Rasanya Lara pengen belajar bikin kue lagi,” tutur gadis itu. Setidaknya dia harus menyibukkan diri agar tidak selalu mengingat berita ini. Bibi pun segera beranjak dari duduknya menuju ke dapur. Di sebuah ruangan, tepatnya ruang milik Reza sendiri, dia nampak kesal ketika melihat berita yang ada di TV siang ini. Sang manajer—Tama nampak berada di ruangan itu, kemudian dia mematikan TV. “Bagaimana berita itu bisa ada, Bang? Dan itu kenapa bisa ada video aku dan Ara di luar?” desak pemuda itu kepada sang manajer. “Gue mana tau. Video itu sepertinya baru diambil. Coba lo ingat kapan terakhir keluar sama Ara. Gue udah bilang berkali-kali jangan keluar sembarangan. Lo nggak tau aja kamera gosip itu ada di mana-mana,” sahut Tama yang dengan gerakan pelan pemuda itu meminum sedikit jus jeruk miliknya yang tadi sempat dia pesan. Mendengar jawaban dari Tama malah membuat pemuda itu semakin kesal. Salahnya juga mengiyakan permintaan Ara untuk makan bersama tanpa memikirkan risikonya. Berawal dari kasihan, dan sekarang dia harus bisa menjelaskan kepada Lara mengenai hal ini. “Jelasin aja ke dia. Dia pasti ngerti. Ini bukanlah kali pertama lo diberitain kayak begini, Za. Harusnya dia paham,” cetus Tama yang sepertinya menganggap ini adalah gosip biasa dan tunangan Reza—Lara pasti paham dengan hal seperti ini. Reza pun memandang manajernya itu dengan sengit. Dengan gerak cepat pemuda itu men-dial nomor gadis itu, dan sayang sekali nomor Lara tidak bisa dihubungi. Dan bertambahlah kekesalan pemuda ini. Tama pun terkekeh melihat artisnya itu. “Gue akan kirim bunga dan cokelat,” ujar Tama. “Lo pikir dia akan mempan diberi seperti itu? Nggak, Bang. Biar gue aja yang urus tentang dia. Bang Tama cukup urus media dan bilang jangan munculin berita seperti ini lagi,” ungkap Reza yang disetujui saja oleh Tama. Dia akan melakukan segala cara agar artisnya terlihat nyaman, meskipun dia sendiri tidak begitu yakin apa cara yang dia lakukan benar atau tidak. *** “Bagaimana dengan gadis itu?” tanya seorang pria lengkap dengan jas miliknya. Pria itu terlihat sudah berusia lanjut, namun ketampanannya tidak pernah berkurang sedikit pun. Setidaknya dia masih enak untuk dilihat. Sang bawahan pun nampak memberi hormat kepada atasannya itu, kemudian dia menyerahkan sebuah map cokelat yang entah apa isinya. Pria itu pun segera membuka map itu. “Sepertinya dia sempat bertemu tuan muda, Tuan. Lebih tepatnya tanpa sengaja,” jelas pria itu, di mana sang atasan nampak memperhatikan betul foto-foto yang ada di dalam map itu. “Apa saja pekerjaan kalian selama ini?” tanya pria itu dengan nada dingin dan menusuknya membuat sang bawahan ciut dibuatnya. “Jangan sampai kejadian ini terulang kembali, atau dia akan tahu jati dirinya,” sambung pria itu. Setelah selesai memberi laporan, pria yang merupakan bawahan itu pun pamit undur diri meninggalkan sang atasan yang nampak tersenyum aneh ketika melihat potret diri Lara dan Gevin beberapa hari waktu lalu. *** “Non, HP-nya bunyi terus,” ucap bibi memperingati gadis itu mengenai ponsel miliknya yang terus saja berbunyi. Lara pun tersenyum hangat. Dia sangat tahu jika itu panggilan dari Reza, namun dia sengaja tidak mengangkatnya. Bukan karena kekanak-kanakan, akan tetapi dia ingin pemuda itu menjelaskannya secara langsung kepadanya, bukan melalui panggilan telepon seperti ini. “Biarin saja, Bi,” jawab gadis itu yang kembali fokus mengaduk adonan kue miliknya. Bibi pun tahu jika itu adalah tuan muda, namun dia juga tidak bisa memaksa Lara untuk mengangkatnya. Mungkin keduanya sedang perang dingin, mungkin juga ini karena berita tadi. Baru saja Lara mengabaikan panggilan dari Reza, ponselnya kembali berbunyi, gadis itu mengembuskan napas lelahnya. Dia pun segera meletakkan mangkuk berisi kue yang dia buat tadi. Bibi pun segera melanjutkan pekerjaan Lara. Gadis itu mengernyit ketika tidak mendapati nama Reza yang menelepon melainkan Gevin—bocah laki-laki yang pernah bermain dengannya di timezone. Tanpa berlama-lama gadis ini pun segera menggeser tombol hijau yang ada di ponselnya itu. “Halo, Kak.” Suara khas bocah laki-laki pun terdengar. Lara memberi isyarat ke bibi untuk melanjutkan kue yang belum jadi itu karena dia sedang mengangkat telepon. Lara memilih area halaman belakang rumah, dia duduk tepat di kursi yang ada di sana. “Halo, Vin,” sapanya balik. “Kak Lara lagi ngapain?” tanya Gevin lebih dulu. Lara pun tertawa ringan ketika mendengar pertanyaan bocah itu yang terasa aneh ketika diucapkan oleh anak seusianya. “Tadinya sedang bikin kue, tetapi sekarang lagi duduk di halaman belakang. Ada apa, Vin?” tanya gadis itu balik. Terdengar helaan napas berat dari seberang sana. Lara pun mengernyit ketika tidak langsung mendengar jawaban bocah itu. “Gevin?” panggilnya sekali lagi membuat keheningan yang ada di seberang sana pun tergantikan dengan suara gaduh. Lara pun mengecek ponsel miliknya yang mana mungkin saja sudah dimatikan oleh Gevin, tetapi panggilan masih terhubung di sana. Lara pun kembali mendekatkan benda pipih itu di indera pendengarannya. “GEVIN!” Terdengar teriakan yang melengking di sana. Lara bisa mengirakan jika itu suara seorang wanita. Apa mungkin orang tua bocah itu? “Sudah Tante bilang berapa kali untuk jangan lupa bersihkan mainan kamu. Lihat! Tante jatuh karena mainan sialan kamu ini,” sambung suara itu lagi yang kemudian terdengar suara hentakan barang. Sepertinya Gevin sedang dimarahi oleh wanita yang menyebut dirinya tante itu. Bagaimana bisa wanita itu mengatakan hal kasar seperti ini? Lara jadi mencurigai jika ini bukanlah kali pertama Gevin menerima perlakuan seperti itu. Karena tidak kunjung mendapat balasan dari bocah itu membuat Lara mematikan teleponnya. Pantas saja bocah itu terlihat senang sekali bermain di timezone, ternyata ketika di rumah pun dia tidak memiliki tempat yang baik untuk bermain. Bocah yang malang. Lara teringat dengan kue miliknya, dia pun kembali ke dapur menyusul bibi yang sepertinya sedang sibuk mencuci barang yang tadi mereka pakai. Lara pun bisa memastikan jika adonan kue tadi berakhir di oven saat ini. Dia sudah tidak sabar melihat hasilnya. Entah aku nulis apa ?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN