Gadis itu nampak ceria menyaksikan acara kartun kesukaannya. Kartun dengan khas berwarna biru bulat menyerupai robot kucing itu pun nampak selalu tidak bosan untuk Lara lihat. Bahkan dia tidak pernah absen jika ada acara itu dimulai khususnya weekend di mana film akan muncul di salah satu stasiun televisi.
“Ini, Non, kuenya,” tutur bibi dengan gerakan meletakkan sepiring kue yang tadi sengaja dibelinya. Itu pun dia diperintahkan oleh Reza. Dengan mata yang fokus ke layar, gadis itu mencomot sepotong kue yang disajikan bibi barusan. Gadis itu menggigitnya, dan seketika rasa cokelat memenuhi mulutnya. Oh, ini adalah kue kesukaannya. Pasti bibi diminta oleh Reza membelikannya ini. Lara sudah tahu tabiat tunangannya itu.
“Bibi temani Lara nonton TV, yuk,” teriak gadis itu yang mana membuat wanita paruh baya itu kembali ke ruang keluarga.
“Iya, ada apa, Non?” tanyanya.
“Bibi temani Lara di sini nonton film,” jawabnya.
Wanita itu pun nampak gelisah. “Maaf, Non, tetapi kerjaan Bibi belum selesai. Masih ada jemuran yang harus diseterika,” ungkapnya membuat Lara mendesah pasrah. Dia pun mempersilakan wanita itu untuk kembali melanjutkan pekerjaannya. Dan Lara kembali fokus ke layar lebar itu.
Dering dari gawai yang dia letakkan di meja pun terdengar. Masih dengan mata yang fokus ke TV, gadis itu mencoba menggapai benda persegi panjang itu. Dilihatnya nama Reza tertera di sana. Sepertinya pemuda itu sedang break syuting. Dengan cepat Lara pun menggeser tombol hijau di ponselnya serta tidak lupa juga dia mengecilkan volume TV.
“Halo, Ra,” sapa Reza lebih dulu membuat gadis ini tersenyum. Dia merindukan Reza, di mana memang pemuda itu sedang sibuk-sibuknya dan tidak berada di rumah.
“Halo, Za. Kamu apa kabar?” tanyanya.
“Baik, Ra. Kamu bagaimana? Semua baik-baik saja, kan?” tanya pemuda itu yang selau khawatir ketika tidak mendengar kabar dari gadisnya. Lara pun mengangguk meskipun dia tahu kalau Reza tidak akan melihatnya.
“Baik, Za,” jawabnya, “kamu di sana semuanya lancar, kan?”
“Alhamdulillah lancar. Ini lagi break syuting sebentar karena lagi pada sarapan. Kamu sendiri sudah makan belum?” tanya pemuda itu balik. Lara pun menatap sepiring kue yang disajikan bibi tadi.
“Sudah, ini lagi makan,” tuturnya.
“Makan kue maksud kamu?” tebak Reza yang tepat sasaran. Lara pun dibuat tertawa olehnya. Ternyata pemuda itu tahu saja segala yang dia lakukan. Meskipun raganya tidak berada di sini, Reza akan tahu segala perilaku tunangannya itu.
“Ya, kamu pasti yang minta Bibi buat beli kue ini, kan?”
“Ya, itu kesukaan kamu. Setidaknya meskipun aku tidak berada di sana, aku akan tetap memperhatikan kamu, Lara,” jelas pemuda itu. Kemudian terdengar seseorang yang memanggil pemuda itu di seberang sana. Lara pun mengernyit ketika mendengar suara perempuan. Oh, mungkin salah satu kru yang ada di sana. “Ra, aku tutup teleponnya, ya. Sepertinya syuting sudah mau dimulai. Kamu jaga kesehatan dan tetap hubungi aku kapan pun kamu ingin,” ucap Reza yang diangguki oleh Lara. Panggilan keduanya pun terhenti ketika Reza memutuskannya lebih dulu. Lara menatap gawai miliknya di mana di bagian depan teradapat fotonya dengan Reza. Mereka mengambil selfie ini tepat setahun pertunangan keduanya. Tidak terasa waktu berjalan cepat. Gadis itu kembali fokus dengan TV miliknya.
Di sebuah rumah nampak terlihat ramai. Di sana syuting sedang dilakukan, tentunya Reza nampak profesional sekali ketika melakukan perannya. Kali ini lawan mainnya adalah seorang artis muda yang sama dengan dirinya. Ini adalah kali pertama dia melakukan pekerjaan yang sama dengan gadis itu. Tentunya Reza sudah mendengar banyak tentang gadis ini, akan tetapi karena ini adalah sebuah pekerjaan maka mereka harus sedikit lebih akrab.
Untungnya baik Reza maupun gadis itu mudah untuk berkomunikasi mengingat mereka adalah publik figur yang akan bertemu banyak orang. “Kamu sudah makan, Za?” tanya gadis itu.
Pemuda bernama Reza itu pun menoleh setelah meletakkan ponsel miliknya yang dia gunakan untuk menghubungi Lara tadi. “Sudah, Ra. Kamu sendiri?” tanya Reza balik.
Namanya Ara. Entah kebetulan atau tidak, nama gadis ini mengingatkan Reza dengan sosok gadis yang berada di rumahnya itu. Nama yang sedikit sama menurutnya.
Gadis bernama Ara itu pun tersenyum hangat. “Sudah. Sedikit buah-buahan dan s**u sepertinya bagus untuk sarapan pagi,” ungkap gadis itu.
“Nasi, Ra. Itu juga penting,” timpal pemuda itu. Bahkan antara Lara dan Ara memiliki kesamaan yakni sama-sama susah untuk makan nasi. Aneh.
“Ya, nanti siang aku akan makan nasi. Bagaimana kalau kita lunch bersama? Di dekat sini ada kedai makan juga yang kata beberapa kru, sih, enak,” jelas Ara. Reza pun nampak menimbang ide dari teman barunya itu. Sepertinya ini bukanlah ide yang buruk.
“Sama Tama dan manajer kamu juga, kan?”
Gadis itu nampak ragu. “Kalau itu aku belum tau. Biasanya manajerku malas untuk keluar. Dia sibuk sendiri. Setiap harinya juga aku makan sendirian. Makanya aku ajak kamu, biar nggak bosan saja,” ujar Ara. Reza pun memandang gadis itu kasihan.
“Baiklah, nanti kita makan siang bareng,” putusnya final yang kemudian membuat gadis itu nampak terlihat senang. Entahlah, apa istimewanya makan siang?
Karena terlalu bosan, Lara pun kembali melakukan aktivitas di luar rumah. Gadis itu bersama dengan Pak Joko, tampak berkeliling kota. Pak Joko tahu jika majikannya itu pasti sedang bosan di rumah. Ini adalah salah satu kebiasaan Lara ketika dilanda kebosanan yang akut. Di tengah perjalanan itu, Lara mengingat tempat yang mungkin bisa jadi tujuannya. Ah, dia sampai lupa dengan tempat itu.
“Pak, kita ke warung martabak biasanya, ya,” ucapnya. Pria paruh baya itu pun mengangguk mengerti, dan beliau segera melajukan mobil itu.
Sesekali Lara juga mengecek ponsel miliknya di mana bocah tempo hari yang dia temui di mall nampak banyak mengiriminya stiker. Bocah aneh menurut Lara sendiri, padahal dia tidak sedang meminta stiker kepadanya. Sekitar lima belas menit kemudian Lara pun telah sampai di warung kecil martabak yang biasa ia kunjungi. Dilihatnya di sana sedang sepi saat ini.
“Pak Joko pulang duluan saja. Nanti Lara akan telepon kalau mau pulang,” tutur gadis itu yang membuat pak Joko melajukan mobilnya kembali ke rumah. Lara pun berjalan menuju ke tempat martabak itu. Jeje lah yang pertama kali melihatnya, kemudian pemuda itu mengkode sang ayah sehingga pria paruh baya yang Lara kenal baik itu pun menoleh.
“Eh? Nak Lara. Mau beli martabak, ya?” tanya si bapak.
“Iy, Pak. Tapi Lara mau belajar buat martabak juga, ya? Dan hari ini aku nggak ada kegiatan apa pun,” pinta gadis itu yang mana membuat si bapak tersenyum hangat.
“Jeje, kamu bantu Nak Lara untuk buat martabak,” perintahnya kepada sang putra. Pemuda bernama Jeje itu pun bergegas menyiapkan bahan yang diperlukan. Lara pun nampak antusias, dan dia segera bergegas mengikuti pemuda itu.
“Nanti ini akan jadi martabak buatan pertama yang aku makan,” ujar Lara yang disetujui oleh pemuda itu.
“Hati-hati panas, Ra!” pekik Jeje yang membuat gadis itu langsung diam bak patung karena terlalu terkejut. Melihat keterkejutan gadis ini yang lucu membuat Jeje tertawa dibuatnya dan tidak ketinggalan si bapak juga. Lara pun mengatur detak jantungnya kembali normal.
“Ngagetin banget, Je,” sahutnya. “Ini aku ngapain? Jangan bilang aku hanya lihat kamu buat martabaknya?”
“Nggak kok, Ra. Itu kamu campur telur sama sayurannya,” titah Jeje yang langsung segera dikerjakan oleh Lara.
Hari pertama gadis itu belajar sepertinya tidak begitu buruk. Meskipun masih dibantu Jeje untuk menggoreng martabaknya, Lara cukup puas dengan hasilnya saat ini. Buktinya saja gadis itu melahap habis martabak buatannya sendiri yang malah mengundang tawa bagi Jeje dan ayahnya.
“Ini minumnya. Pelan-pelan, Ra, nanti nyangkut di tenggorokan kamu,” ujar Jeje yang dengan cekatan memberika sebotol air putih kepada gadis itu. Lara pun menyengir kuda, dia menenggak seperempat martabaknya itu, kemudian melanjutkan makannya lagi.
Di tengah obrolan mereka, tiba-tiba saja datang seorang gadis yang nampak tergesa-gesa. Ayah Jeje lebih dulu menghampiri gadis itu lebih dulu. Jeje dan Lara pun kembali mengobrol ringan. Lara sepertinya nampak nyaman ketika bicara banyak dengan pemuda itu. Pemuda yang setahun di atasnya ini nampak lihai sekali dalam berkomunikasi.
“Kenapa kamu nggak lamar pekerjaan di perusahaan aja, Je? Jadi sales menurutku nggak apa-apa. Aku lihat kamu ahli dalam bidang promosi produk, contohnya martabak ini,” usul gadis itu sambil menunjuk sepotong martabak yang ada di garpunya itu.
“Nggak, Ra. Aku itu nggak bisa pasarin produk. Kalau martabak ini aku memang sudah ahli karena dari kecil juga bantu Ayah. Dan lagi pula aku mau nerusin usaha martabak ini, seenggak bisa bantu-bantu ayah sedikit biar pekerjaannya nggak begitu berat.”
Lara pun nampak terlihat takjub dengan pilihan yang dibuat oleh pemuda itu. Tipe anak yang mengutamakan orang tua lebih dulu dibandingkan dirinya sendiri. Mengingat akan orang tua, membuat Lara kembali merindukan kedua sosok orang tuanya yang telah tiada itu. Dia pun segera mengenyahkan rasa sedihnya ketika mengingat hal itu. Jika dibilang rindu, tentu saja dia selalu rindu. Hanya saja, dia tidak ingin dipandang kasihan dan lemah oleh orang lain. Dan tekadnya hanya satu, tetaplah terlihat bahagia seburuk apa pun perasaanmu.
“Jeje!” Panggilan dari seorang gadis tadi yang baru datang tadi membuat kedua orang itu refleks menoleh. Gadis itu nampak tersenyum hangat. Lara sendiri tahu jika senyuman itu ditujukan kepada Jeje, dan dia juga tahu dari sorot matanya sudah terlihat jelas jika gadis itu tertarik dengan pemuda ini.
“Iya, Fan, ada apa?” tanya Jeje. Gadis itu kemudian mengambil tepat di samping pemuda ini dan mengabaikan keberadaan Lara yang berada di depannya. Lara sendiri tidak ambil pusing, dia memilih memfokuskan dirinya dengan martabak miliknya yang sebentar lagi akan habis.
“Besok, kita nonton, yuk?” ajak gadis itu dengan raut wajah semangatnya. Jeje pun nampak salah tingkah, sedangkan Lara nampak menahan tawa ketika melihat pemuda itu.
“Emm, aku harus jaga warung, Fan,” jawab Jeje yang mana membuat gadis itu merubah raut wajahnya kecewa.
“Sudah, Nak, kamu keluar saja sama Nak Fani,” sahut sang ayah yang mana membuat kedua orang itu menoleh kepada pria paruh baya yang merupakan orang tua dari Jeje ini. “Ayah bisa melakukan ini sendiri. Besok adalah hari sabtu. Hari di mana anak muda jalan-jalan bersama bukan?”
Lara pun nampak tersenyum miris ketika mendengar perkataan ayah dari Jeje itu. jalan-jalan bersama? Bahkan dia lupa kapan terakhir kali keluar bersama Reza. Ah, hidup seakan tidak adil baginya. Namun, siapa yang bisa mengatur kehidupan manusia jika bukan sang pencipta sendiri?
Sadgirl ?