PART 5

1654 Kata
“Ingat, kalau perlu apa-apa bilang ke bibi. Kalau mau keluar rumah hubungi Pak Joko. Aku sudah memberitahu mereka untuk selalu siap ketika kamu hubungi,” ujar Reza yang nampak berkemas dengan pakaiannya. Pemuda itu kali ini ada pekerjaan syuting film lagi, dan sayangnya dalam beberapa bulan dia akan sibuk mengingat hal syuting dilakukan di luar kota bahkan ada yang di luar negeri. “Iya, iya,” jawab Lara, “kamu sudah terlalu sering mengatakan itu, Za. Aku pun sampai hapal dibuatnya. Kamu tenang saja, aku bisa jaga diri sendiri, dan tentu akan hubungi Bibi dan Pak Joko jika butuh sesuatu,” ungkapnya langsung. Sekali lagi pemuda itu memandang sang tunangan dengan raut wajah bersalah dan khawatir. Meskipun ini bukanlah kali pertama dia meninggalkan Lara, namun dia akan selalu khawatir ketika berjauhan dengan gadis ini. Belum lagi dia masih mengingat amanah dari kedua orang tuanya untuk selalu menjaga dan membuat gadis ini bahagia. “Ponsel jangan pernah dimatiin. Aku akan selalu hubungi kamu ketika tidak sibuk,” ucap Reza lagi, gadis itu mengangguk mengerti. Dia pun mengantar pemuda ini keluar rumah di mana di sana sudah ada manajer dari Reza yakni Tama. Lara pun tersenyum singkat kepada pria itu yang dibalas juga olehnya. “Aku berangkat, ya. Kamu baik-baik di rumah,” ucap Reza, kemudian pemuda itu memeluk sebentar gadis itu, dan pada akhirnya dia pun berjalan menuju ke mobil milik manajernya. Barang-barang sudah dimasukkan oleh pak Joko ke dalam bagasi. Lara pun memandang mobil itu, bahkan hingga mobilnya sudah hilang dari penglihatannya. Gadis itu pun termenung, kemudian menghembuskan napasnya kasar. Senyumnya pun perlahan memudar seiring dengan kepergian Reza. Kemudian dia melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah. Tetapi, sebelum itu dia mengatakan kepada pak Joko untuk menyiapkan mobil guna mengantarnya ke mall. “Non Lara mau pergi?” tanya bibi yang kebetulan berada di area dapur. Gadis itu pun mengangguk membenarkan. “Ke mana, Non?” tanya wanita paruh baya itu lagi yang mana membuat langkah gadis ini pun terhenti. “Ke mall, Bi. Lara bosan di rumah,” jawabnya. Ya, dia memang berencana untuk jalan-jalan ke rumah. Sepertinya membeli beberapa baju dan bermain di timezone bukanlah ide yang buruk. “Bibi boleh titip sesuatu nggak, Non?” ucap wanita itu sedikit ragu. Lara pun tersenyum hangat. “Apa, Bi?” “Bibi titip martabak soalnya anak Bibi katanya mau makan itu,” jawab wanita itu membuat Lara mengangguk. Seketika dia mengingat martabak yang menjadi langganannya. Sudah lama juga dia tidak ke sana, sepertinya mampir sebentar adalah ide yang baik. Setelah bersiap sekitar sepuluh menit dan menempuh perjalanan selama lima belas menit lamanya, Lara pun akhirnya telah sampai di area pusat perbelanjaan. Gadis itu sudah meminta supirnya untuk pulang ke rumah karena nanti dia akan menghubungi Pak Joko jika akan pulang. “Mbak, dress yang ini tapi warna kuning ada tidak, ya?” tanya Lara kepada salah satu pegawai di toko baju yang ada di dalam mall tersebut. Gadis itu memang langsung menuju ke toko baju karena dia ingin menambah beberapa stok dress miliknya. Dan beberapa juga ada yang sudah tidak muat. Mungkin nanti dia akan memberikannya kepada anak Pak Joko. Pegawai tersebut pun langsung mengecek warna baju yang tersedia. Sesekali juga gadis itu melihat-lihat baju di sana. “Aku nggak mau, ya, kalau lihat kamu pakai baju-baju seperti ini!” Telinga gadis itu mendengar suara tinggi dari sebelahnya. Dilihatnya, tepat di seberang sana ada sepasang kekasih yang sepertinya sedang berdebat. Seorang pemuda nampak memarahi gadisnya yang seperti nampak acuh, bahkan gadis itu sangat santai sekali memilih baju-baju yang ada di toko ini. “Jingga, kamu dengar aku bicara tidak?!” ucap pemuda itu lagi yang kali ini dengan nada tinggi yang sedikit berani. Gadis itu menoleh dan menatap kekasihnya itu dengan pandangan penuh. Pasangan yang aneh, pikir Lara saat itu. “Aku dengar, kok. Aku dengar semua omelan kamu,” jawab gadis itu yang masih didengar oleh Lara. Dia nampak seperti penguntit saja jika bersikap seperti ini. Terdengar helaan napas lelah dari pemuda itu, dan Lara pun yakin bahwa pemuda itu lelah menghadapi kekasihnya. Perdebatan kecil pasangan seperti ini membuat Lara sedikit iri karena dia belum pernah merasakan itu bersama Reza. Bagaimana bisa merasakan jika pemuda itu saja jarang di rumah, bahkan keluar berdua pun mereka jarang. “Jangan diulangi lagi,” ujar pemuda itu yang sudah sangat Lara hapal alur kisah seperti ini. “Mbak, ini yang warna kuning.” Perhatian Lara teralihkan ketika pegawai tadi sudah kembali dan membawa baju yang dia inginkan. Lara pun mengangguk dan ijin untuk mencobanya lebih dulu. Gadis itu berjalan ke arah ruang ganti dan ajaibnya dia malah berpapasan dengan gadis yang tadi berdebat ringan dengan kekasihnya itu. Lara pun melemparkan senyuman kepada gadis itu yang hanya dijawab anggukan kepala. Setelah selesai membeli baju yang dia inginkan, Lara bergegas untuk ke area bermain. Sepertinya sedikit olahraga ringan bukanlah hal buruk. Gadis itu segera mencoba satu persatu permainan yang ada di sana. Kegiatan ini sungguh mengasyikkan bagi Lara sendiri. Dan di sini dia tidak sendirian karena akan ada anak-anak lain yang ikut bermain. Meskipun sebagian besar didominasi oleh anak-anak, tetapi Lara tidak merasa malu sama sekali. Menurutnya dekat dengan anak-anak adalah hal yang baik. “Hei, Boy, bagaimana kalau kita duel?” usul Lara kepada seorang bocah laki-laki yang tidak ia ketahui namanya. Bocah itu menatap gadis dewasa yang ada di depannya dengan terang-terangan. Lara yang ditatap seperti itu pun nampak tertawa. Maklum, beberapa anak terkadang sangat waspada dengan sekitarnya. Bahkan para orang tua pun juga mewanti sang anak untuk tidak berdekatan dengan orang asing. “Tenang, Kakak bukan penculik, kok,” celetuk Lara yang malah membuat bocah itu tertawa. “Duel, Kak? Ok. Hadiahnya apa?” tanya bocah itu yang mulai terlihat akrab dengan gadis ini. Lara pun nampak berpikir sejenak. Dia memang bukan pertama kalinya duel dengan anak-anak, tetapi ini adalah pertama kalinya ada yang mengajukan pertanyaan seperti ini. Ini malah terlihat seperti duel sesungguhnya. “Semua tiket yang kita dapat diberikan kepada si pemenang,” jawab Lara yang entah kenapa hanya itu yang ada di dalam pikirannya. Keduanya pun saling berjabat tangan sebagai kesepakatan mereka. Dan segera mereka menuju ke arena permainan. Kali ini adalah permainan kodok, di mana mereka harus menyusun peluru-peluru itu hingga terbentuk lingkaran sempurna. Lara sendiri sudah beberapa kali memainkan permainan ini meskipun tidak sebegitu jago. “Kakak duluan,” tutur bocah itu kepada gadis ini. Lara pun jadi minder, terlihat jika bocah itu percaya diri sekali, bahkan dia membiarkan dirinya untuk bermain duluan. Sial! Sepertinya dia akan dikalahkan seorang bocah lagi. Tidak apa-apa, karena ini hanyalah permainan. Lara mencoba memfokuskan kedua matanya. Dari awal permainan dia sudah membuat strategi untuk melemparkan secara berurutan, tetapi sayangnya peluru-peluru itu jatuh bukan di tempat yang tepat bahkan ada jarak di setiap pelurunya. Sial! Dia kalah. Sekarang giliran bocah itu. tingginya hanya setengah dari tubuh Lara, tetapi dia nampak percaya diri sekali. Dan gadis itu menganga meliaht kemahiran bocah itu. Dan akhri dari duel ini sudah bisa kita tebak bahwa Lara berada di posisi kedua. “Yeay! Aku menang!” seru bocah itu membuat gadis itu juga ikut senang meskipun dia kalah. Karena perjanjian di awal sudah mereka sepakati, maka Lara pun memberikan semua tiket yang dia peroleh hari ini untuk bocah itu. Dan sebagai bentuk terima kasih juga, Lara pun mengajak bocah itu untuk makan es krim. “Nama kamu siapa?” tanya Lara yang sedang asyik menjilati es krim stroberi miliknya sedangkan bocah itu memilih cokelat. “Gevin,” jawab bocah itu yang sama asyiknya menjilati es krim mereka. “Halo Gevin. Kenalin namaku Lara, kamu bisa panggil Kak Lara saja,” ujar Lara memperkenalkan dirinya. Bocah bernama Gevin itu pun mengangguk mengerti. “Kamu ke sini sendirian?” tanya Lara membuka topik pembicaraan mereka. Keduanya sedang duduk di kursi yang ada di kedai es krim. Tempatnya pun dekat dengan area permainan tadi. Lara memang lupa menanyakan di mana orang tua bocah ini. “Nggak, Kak. Gevin ke sini rame-rame,” jawabnya membuat Lara mengernyit. Jika rame-rame kenapa dia tadi terlihat sendirian. “Oh, sama mama dan papamu, ya?” tebak Lara yang mana mengira jika Gevin memang sengaja ditinggal di area permainan sedangkan orang tuanya sibuk berbelanja. Akan tetapi, bukan anggukan kepala yang gadis ini dapat, tetapi sebuah gelengan kepala. “Mama dan Papa sibuk kerja, Kak,” jawab Gevin yang masih menjilati beberapa es krim yang mengalir di jari-jarinya. Lara pun berinisiatif membersihkan tangan bocah itu dengan tisu yang kebetulan ada di dalam tasnya. “Gevin ke sini sama mereka,” lanjutnya sambil menunjuk dua orang yang tidak jauh dari mereka lengkap dengan baju dan jas yang nampak rapi, serta jangan lupakan tampang datar dan fokus mereka kepada Gevin dan Lara. Gadis itu pun meringis ketika ternyata dari tadi dia ditatap intens oleh dua orang itu. “Mereka ... kakak atau om kamu?” tanya Lara sedikit ragu. Gevin pun sekali lagi menggeleng. “Bukan, Kak. Mereka itu karyawan Papaku. Mereka bertugas jagain aku kalau di luar,” jelas Gevin dengan lancar. Lara pun bisa menyimpulkan jika dua orang itu adalah bodyguard. Ha? Bodyguard? Berarti Gevin bukanlah bocah sembarangan. “Mereka bodyguard kamu, Gevin?” tanya Lara sedikit ragu. “Kata Papa begitu. Tapi, mereka nggak bisa diajak main, Kak. Gevin nggak suka,” keluh Gevin dengan nada kesalnya. Lara pun tertawa melihat ekspresi yang ditampilkan bocah ini. “Oh iya, Kak, sepertinya aku harus segera pulang karena sudah siang. Terima kasih untuk tiket dan es krimnya,” tutur Gevin yang mengelap tangannya dengan tisu. Bocah itu cepat sekali menghabiskan es krim miliknya. “Sama-sama, Gevin. Terima kasih karena sudah temani Kak Lara main hari ini.” “Sama-sama juga, Kak. Kapan-kapan kita main lagi,” kata Gevin senang, “aku boleh minta nomor Kak Lara, nggak? Kalau aku main lagi, nanti bisa hubungi Kak Lara,” pinta bocah itu yang disetujui oleh Lara. Hingga pada akhirnya dua orang berbeda gender dan generasi ini saling bertukar nomor ponsel mereka. Setelahnya Gevin pun undur diri lebih dulu. Lara pun menatap bocah itu dari jauh, terlihat jika dua orang berpakaian rapi itu benar-benar menjaganya. Lara pun semakin penasaran siapakah Gevin? Lamunannya teralihkan dengan masuknya sebuah pesan singkat digawainya yang Lara yakini benar adanya bahwa itu bocah tadi. 081xxxxxxxxx: hai, Kak Lara. ini Gevin. Jangan lupa simpan nomorku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN