POV Gusti. Aku bolak-balik berjalan di kamar. Sebentar lagi, sehabis salat Isya, akan dilangsungkan pernikahan siriku dengan Rani. Sebenarnya aku juga tidak ingin seperti ini, karena hatiku masih berat dengan Hanin, tapi kecelakaan demi kecelakaan m***m, terus saja kulewati bersama Rani, hingga akhirnya hari ini, mau tidak mau, aku harus menikahinya. Kuraba cincin yang kusimpan di saku celana bahan. Cincin ini lebih kecil dari milik Hanin yang biasa aku belikan. Mungkin ukurannya sama dengan jari manis Zia. Ah, wanita itu entah berada di mana sekarang? Biarlah, urusan ini ku bereskan satu-satu, baru aku mengurus Zia. Kring! Aku menoleh saat ponsel berdering di atas ranjang. Aku menggigit bibir saat tahu kontak siapa yang muncul di sana. Pasti mama akan memarahiku habis-habisan pe

