"Tega sekali kamu, Gusti. Kuburan Hanin belum juga kering, tapi kamu malah mau menikah lagi. Apa yang ada di kepala kamu sebenarnya? Apakah ini aslinya menantu kesayangan kami? Suami yang selalu dibanggakan Hanin. Sampai-sampai ia menikahkan kamu dengan karyawannya sendiri. Bisa kamu bayangkan berapa besarnya cinta almarhumah untuk kamu, Gusti, tapi kamu malah begitu cepat berpaling. Sungguh tega kamu, tega!" Pekik Bu Isti; ibu dari almarhumah istriku. Jari telunjuknya ia tunjuk ke d**a ini hingga sedikit terasa sakit. Aku salah, sakit ini memang tidaklah seberapa dibanding kekecewaan keluarga Hanin. "Tahan dulu, Bu, Pak, ayo, kita selesaikan ini di dalam rumah Gusti. Lihat warga semua sudah keluar dan menonton kita. Ayo, kita selesaikan di dalam. Lagian, Gusti belum jadi menikah karen

