Mas mas itu lagi. Pelanggan tetap kayaknya. Tiap minggu datang, duduk di situ sama pacarnya. Iya sih, Kopi di sini enak terus murah pula.
Eh tunggu, itu Cincin? Gelooo mau ngelamar dong. Berani banget melamar di tempat umum.
—yah.. Ditolak. NT untuk mas nya. Mana mbak nya Savage banget lagi jawabannya.
Duh jadi gak tega, kalau mau nangis jangan ditahan mas. Ga enak tau.
Coba aja yang kamu lamar aku pasti ku terima tuh. Diumur segini emang lagi butuh-butuhnya dinafkahi.
Eh, iya juga. Kenapa ga lamar aku aja? Hmm.. Gacha ga nih. Ah coba aja.
Begitulah isi kepala Bella sebelum nekat menghampiri meja Adrian.
Dan sekarang, dua minggu kemudian, mereka berdiri di depan penghulu. Bukan di pelaminan dengan dekorasi megah, tapi di ruangan sederhana bercat hijau pucat di Kantor Urusan Agama. Tidak ada hiasan bunga, hanya kipas angin tua yang berdecit pelan di langit-langit.
Disaksikan oleh kedua orang tua Adrian. Sementara dari pihak Bella, hanya kakek kandungnya yang saat ini sedang menjabat tangan Adrian melafalkan ijab qobul.
Prosesnya cepat dan yang terpenting: sah.
Tidak ada tepuk tangan meriah, tidak ada tangis bahagia. Hanya ada hanya senyuman Bella cerah, serta Adrian yang termenung berusaha memproses semua yang sedang terjadi.
Di sinilah mereka berdua sekarang, di kontrakan sederhana Adrian. Rumah tipe 45, dengan dua kamar, ruang tamu, ruang makan rangkap dengan dapur, serta kamar mandi.
"Aku antar kamu ke kamar." Ucap Adrian datar.
Bella mengekor di belakang, menyeret koper kecilnya.
"Ini kamar kamu, lalu yang itu kamar aku–" Adrian menoleh, langsung celingukan mencari di mana Bella berada.
"Bel?"
"Di sini." Sautnya dari kamar Adrian.
Adrian buru-buru masuk ke kamar hanya untuk melihat Bella sedang membongkar lemarinya. Tangannya cekatan menyortir dan menyusun ulang baju-baju Adrian.
"Lemari kamu parah banget. Masa baju sama celana ditumpuk satu." Omelnya sambil terus menyusun isi lemari.
Bella mengeluarkan beberapa baju dari barisan paling dasar, yang terlihat lusuh dan menguning. "Ini kapan terakhir dipakai? Kekecilan semua."
"Itu.. Zaman SMA." Adrian menunduk, malu.
"Ooo.. Imutnya." Senyum Bella sambil membayangkan Adrian mengenakannya.
Adrian buru-buru mengingatkan. "Tapi Bel, kamu dengar kan? Ini kamar aku."
Bella mengangguk santai. "Iya, aku dengar kok."
"Kamar kamu di sebelah."
"Kamar kamu ya kamar aku." Bella menutup pintu lemari setelah selesai menyusun semua baju.
"T-tapi kan—" Adrian tercekat. Secara teknis ia tidak bisa membantah. Apa yang Bella katakan adalah benar.
Bella melangkah mendekat. Sekarang mereka berdiri berhadapan, jarak mereka tinggal sejengkal. Kedua mata mereka bertemu, di saat itu pula jantung Adrian berdegup kencang. Di matanya Bella cuma anak kecil yang selisih umurnya 6 tahun di bawahnya. Tapi sekarang dia keliatan.. Cantik. Cantik banget.
"Kamu memangnya ga kepengin? Masa hari pertama mau pisah ranjang. Gimana mau cepat punya anaknya." Bisik Bella menggoda.
Adrian tersentak, lari keluar kamar seperti baru melihat setan.
Di samping meja makan, Adrian mengelus dadanya yang terasa sesak. Jantungnya berdegup kencang seperti drum yang dipukul bertubi-tubi.
Bella muncul sambil cekikikan. "Hahaha. Lucu banget kamu."
"Jangan mendekat!" Adrian reflek mengangkat tangan.
"Kamu kenapa?" Tanya Bella geli.
Adrian berdiri tegak, menarik nafas panjang, berusaha meredam kerusuhan di dadanya. Fokus. Harus serius.
"Aku mau ngomong serius Bel."
Bella senyam senyum, mendengarkan. "Iya pak suami, lanjut."
"Aku enggak akan nyentuh kamu. Maksudku kita sah, iya. Tapi aku enggak punya perasaan sama kamu. Aku enggak mau kamu jadi pelampiasan, itu... ga bertanggung jawab."
Bella diam sejenak, mengangguk pelan. "Iya deh. Ngerti kok. Meski aku ngarep malam pertama yang romantis–"
"Kamu ngerti enggak sih maksud aku." Adrian Frustasi.
Bella tiba-tiba melangkah cepat, tidak memberi waktu Adrian bereaksi. Tau-tau kedua tangannya sudah memeluk leher Adrian.
"Kalau aku yang nyentuh kamu boleh kan?" Bisik Bella lembut. "Kamu tu ganteng, serius. perfeksionis, berwibawa. Sikap kamu yang kek gini bikin aku makin penasaran."
Adrian diam membeku. Tertawan oleh tatapan mata Bella. Rasanya seperti hanyut dalam kenyamanan.
Bella melepas pelukannya. "Udah dulu nempelnya. Aku mau mandi dulu. Bye pak suami~"
Bella melenggang pergi. Sementara itu, Adrian dengan tatapan kosong berjalan ke ruang tamu, menjatuhkan badannya ke sofa.
Sekujur tubuhnya seperti kesentrum. Sensasi yang sama saat ia lolos dari kejaran anjing liar dulu. Sensasi yang juga tidak pernah ia rasakan saat masih manis-manisnya bersama Dinda dulu.
Baru juga hari pertama tapi aku hampir serangan jantung. Enggak bisa nih.. Kalau gini terus bisa mati muda aku.
Malam hari pukul sepuluh..
Adrian termenung di dekat pintu kamar. Bella sudah berbaring di kasur menatap tajam, seperti macan yang siap menerkam.
"Kamu beneran tidur di situ? Tadi kan aku udah.. Lupakan." Adrian menjadi lesu.
Dia kemudian berbalik. Bella sigap lompat dari kasur, mendahului nya dan menutup pintu. "Mau kemana pak suami?"
"Aku mau tidur di sofa." Jawab Adrian datar, tanpa menoleh.
"Enggak boleh." Bella memutar kunci. Klik. Kunci dikantongin.
Adrian mengepalkan tangan, memejamkan mata. "Bel, aku serius belum siap tidur sekamar sama kamu."
"Yaudah tinggal disiapin. Aku tunggu." Jawab Bella santai.
"Tapi Bel–"
"Ribet banget sih kamu kek orang tua. Udah nurut aja sama yang muda." Bantah Bella tegas.
Ini kenapa malah aku yang disetir? Batin Adrian serasa ingin menangis.
Bella membuka selimut, menepuk ruang kosong di sampingnya. "Ayo sini."
Dengan langkah berat, duduk di pinggir kasur. Berbaring dengan canggung, tetap menjaga jarak seolah ada dinding tak terlihat.
Kalau dengan Bella dinding apapun itu seperti tak ada harga dirinya.
Bella menarik tangan Adrian, memeluk erat, menyandarkan kepalanya di d**a pria itu. Wangi rambut Bella kini mampu Adrian cium dengan jelas.
"Aku selalu penasaran tau, tidur kek gini tu enak. Iya kan pak suami?" Tanya Bella sambil cengegesan.
Adrian juga bisa merasakan itu..
"Jangan lupa elus rambut aku ya..." Gumamnya setengah tidur.
Adrian patuh, mengelus rambut Bella dengan lembut. Tetap terjaga bahkan setelah Bella sudah tenggelam dalam mimpinya.
Kamu kenapa sih Bel? Ga ada waspada nya sama sekali. Gini-gini aku tetap laki-laki. Bisa khilaf. Kamu masih muda, masih labil, masa depan masih panjang. aku takut kamu menyesal nanti.. Ketika hubungan kita semakin jauh tetapi aku enggak bisa jadi yang terbaik buat kamu.