Bab 1 ~ Cinta ditolak.
Adrian duduk di dekat jendela sebuah coffee shop langganannya, menatap langit sore yang mulai kehilangan warnanya. Kopi di depannya sudah dingin, tapi belum juga disentuh. Matanya sesekali melirik ke arah pintu, lalu kembali ke layar ponsel yang menunjukkan pukul 17:12.
Jari-jarinya mengetuk pelan meja kayu di depannya, makin cepat seiring waktu berlalu. Satu tangan lainnya menggenggam erat kotak kecil di saku jaket—iya, kotak cincin. Hari ini rencananya dia mau melamar pacarnya. Harusnya jadi momen manis... kalau saja calon mempelainya datang tepat waktu.
Selang beberapa menit yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Dinda namanya, tetap terlihat cantik meski mengenakan dress merah sederhana, serta make up tipis.
Ia meletakkan tas di meja, langsung duduk bersebrangan dengan Adrian.
"Maaf ya aku telat, macet tadi soalnya."
"Iya gapapa. Kamu mau pesan minum apa biar aku pesanin." Adrian menawarkan dengan semangat.
"Ga usah, aku juga buru-buru Yan." Dinda menjawab datar. "Jadi kamu manggil aku ke sini ada perlu apa?"
Adrian menarik napas dalam, lalu mengeluarkan kotak cincin dari sakunya. Dibukanya perlahan, memperlihatkan cincin emas sederhana.
"Ayo kita nikah Din. Aku tau aku belum mapan. Tapi kita bisa jalanin ini bareng-bareng. Aku akan selalu berusaha buat kamu bahagia." Adrian mengatakannya dengan suara yang lembut.
Beberapa pasang mata mulai melirik ke arah mereka.
Dinda hanya diam. Menatap kotak cincin itu dengan ekspresi yang sulit dijelaskan, ia tersenyum tapi jelas bukan senyum bahagia.
"Nikah?" Ulangnya, lalu membuang muka. "Aku ga mau."
Adrian tertegun mendengar jawaban itu. "Kenapa Din? Aku tulus sama kamu."
"Kamu tanya kenapa? Kamu ngontrak, tabungan kamu dikit. Gaji kamu UMR. Bukan ngajak aku hidup bahagia, itu ngajak hidup susah namanya Yan." Dinda berbicara cepat.
"Tapi kan kamu juga kerja, jadi—"
"Kerja?" Potong Dinda. "Setelah menikah aku ga mau kerja. Aku cuma mau fokus jadi ibu rumah tangga. Ngurusin kamu dan calon anak-anak kita nanti. Aku ga mau sampe harus capek kerja lagi. Itu tanggung jawab kamu."
"Tapi kita bisa jalanin ini dulu bareng-bareng Din." Ucap Adrian pelan.
Dinda menghela nafas panjang. "3 tahun kita pacaran. Aku selalu nahan selera. Split Bill. Ga minta yang macam-macam. Selalu support kamu hingga saat ini. Enggak ada perubahan. Aku ga mau jalanin hubungan yang kayak gini terus Yan."
Adrian diam mematung, tangannya menggenggam kotak cincin semakin erat. Matanya tidak berani bertatapan langsung dengan Dinda. Apalagi ditambah dengan ekspektasi para pelanggan lain.
Dinda mengedip cepat, matanya berkaca-kaca, berbicara dengan suara lirih. "Pacaran aja banyak pahitnya gini Yan. Aku bertahan juga karena sayang sama kamu. Kalau kamu memang sayang sama aku, buktikan kalau kamu bisa ikutin standar aku."
Tanpa berkata apa-apa lagi, Dinda mengambil tas nya, berdiri dan pergi begitu saja. Suara langkah kakinya terdengar lebih keras dari biasanya.
Adrian masih diam di tempat. Tidak menyangka kalau itu semua akan ia dengar dari pujaan hatinya.
Aku kira selama ini kamu orangnya sederhana, penuh perhatian.. Ternyata cuma aku yang berharap lebih. 3 tahun kita bersama seperti tidak ada apa-apa nya ya.
Adrian menegakkan kepalanya, menatap kotak cincin di tangan kirinya yang masih terbuka. Membayangkan memasangkan benda itu ke Dinda disertai sorak gembira seisi Coffe Shop.
"Kalau kamu gak jadi nikah sama dia. Nikah sama aku aja."
Adrian menaikkan pandangan, melihat seorang gadis duduk di depannya santai, menyeruput es kopi s**u.
Adrian menatap gadis itu kosong. Memerhatikan wajahnya yang masih segar dan kencang dengan riasan tipis. Rambut pendeknya dikuncir dua. Jika boleh menebak, usianya mungkin dibawah 20.
"Apa?" Gumam Adrian.
"Nikah sama aku. Kamu bisa dapat istri tanpa harus drama cinta-cintaan lagi kek tadi. Di satu sisi aku juga butuh dinafkahi. Aku juga pintar masak, sama beres-beres rumah." Jawabnya santai tapi terkesan serius.
Adrian bingung. "Kamu siapa?"
Gadis itu terkekeh lalu menepuk keningnya. "Duh bodohnya. Kenalin.. Salsabila Ayu Ramadhani. Biasa dipanggil Bella. Umur dua puluh tapi November besok udah dua satu. Mahasiswi tingkat 3, jurusan DKV. Anak kos. Hidup sendiri. Udah capek mikirin makan, listrik, kuota, sewa. Jadi ya.. mending nafkahin aku aja yang jelas-jelas butuh."
Adrian melongo, apa-apaan ini katanya. Sejak kapan dunia jadi random gini.
"Aku baru ditolak, lagi galau. Kamu jangan bercanda."
"Siapa juga yang bercanda pak." Balas Bella tegas.
Adrian terdiam, otaknya sudah kesulitan memproses informasi. Malas menanggapi. Aneh, tapi Adrian meyakini semua yang dikatakan gadis itu tulus.
"Kamu serius?" Tanyanya untuk memastikan.
"Serius. Bahkan nih kalau kamu mau besok udah bisa langsung urus dokumen. Aku punya surat lengkap." Bella berbicara dengan senyuman yang memancarkan keyakinan.
Adrian menunduk, terjadi gejolak di dalam dirinya. Tidak seharusnya ia mempertimbangkan tawaran gadis itu. Sudah gila ya? Tanpa sadar ia mengenalkan tangan. Kenapa harus bingung Adrian untuk hal yang jawabannya udah jelas tidak–
"Oke."
Mata Bella melotot. "Oke?"
"Iya, ayo kita nikah."
"Seriusan pak? Kita nikah.. Ga main-main loh ini." Kini malah Bella yang memastikan.
"Kenapa? Ragu? Kalau gitu–"
"Jangan!" Potong Bella. "Ayo kita nikah."
Adrian menyodorkan kotak cincin nya. " Ini buat kamu."
Dengan gerakan secepat kilat Bella mengambil cincin itu dan memasang di jari manisnya. Lalu cemberut.
"Cincinnya longgar." Bella menyodorkan jarinya.
Adrian menarik cincin itu dari jari manis Bella tanpa effort sama sekali, lalu tersenyum tipis.
"Nanti aku belikan yang baru."
Ya begitulah, satu lamaran ditolak, lamaran lain diterima. Dua orang asing berakhir jadi pasangan sah dari jalan yang tidak disangka-sangka.
Coba tebak? Dua minggu kemudian mereka beneran nikah. Serius.