(NIK)
Setiap hari aku selalu memikirkan pertanyaan siapa aku di dalam kepalaku. Setiap hari aku selalu mempertanyakan jati diriku yang sama sekali tidak kuketahui. Aku telah membuka kotak ingatan yang masih belum membantuku untuk mengetahui siapa diriku sebenarnya. Saat aku melihat foto ayah Chloe waktu itu, kenangan yang muncul membuatku seakan aku mengenal dekat dia. Aku punya keyakinan aku mengenal ayah Chloe sebelumnya. Dan aku cukup dekat dengannya.
Chloe pernah menunjukkan foto penciptaku, namanya Nicolas Eugene. Ia bilang ia sudah cukup lama menghilang tidak lama setelah Android ciptaannya diproduksi secara besar-besaran, dan tidak ada yang tahu pasti di mana dia sekarang. Sayang sekali. Kalau saja ia tidak menghilang, aku ingin bertemu dengannya dan bertanya soal diriku.
“Kau mengerjakan tugas?” tanyaku melihat Chloe yang membawa sebuah laptop ke mejanya.
“Yeah. Aku perlu membuat laporan magang dan mempresentasikannya di akhir nanti bersama timku,” katanya.
Sepertinya ia akan selalu sibuk meski sudah tidak bekerja lagi. Aku memutar kepalaku dan memilih memandang ke luar jendela. Di luar sedang hujan. Chloe sering menggerutu karena cuacanya yang semakin dingin akhir-akhir ini. Bagaimana rasanya dingin? Dan bagaimana rasanya hangat?
Aku menatap tanganku sendiri. Aku tidak memiliki kulit seperti Chloe. Mungkin jika aku memilikinya aku akan bisa merasakan rasa dingin dan hangat. Mungkin jika aku manusia, aku akan bisa merasakan semua yang pernah dirasakan Chloe.
Mataku lalu terpaku pada tumpukan buku yang ada di nakasnya. Buku-buku itu sudah ada di sana semenjak aku pertama kali ada di sini. Tapi aku belum pernah menyentuhnya.
“Boleh aku melihat buku itu?” tanyaku padanya sambil menunjuk tumpukan buku itu.
Ia menoleh padaku dan mengikuti arah yang kutunjuk. “Tentu,” jawabnya singkat dan kembali menatap layar laptop di depannya.
Aku mencondongkan tubuh dan mengambil buku yang ada di tumpukan paling atas. Aku membaca judulnya. Jane si Gadis Bermata Gelap. Sepertinya ini adalah sebuah novel. Aku membuka dan membacanya. Semakin lama aku semakin tenggelam dalam cerita tentang Jane yang menjadi tokoh utama dalam cerita tersebut. Awalnya kupikir itu hanya cerita biasa yang mengisahkan kehidupan Jane dan permasalahan yang sedang dihadapinya. Semakin aku membalik banyak lembaran, semakin aku melihat banyak sekali tulisan tentang adegan bercinta di sana.
“Aku tak mengira kau akan mengambil buku itu,” kata Chloe tiba-tiba yang membuatku sangat terkejut. Kulihat ia menautkan kedua alisnya. “Aku tidak berpikir kau bisa terkejut seperti itu?” tanyanya bingung.
Mungkin ia merasa aneh melihatku yang terperanjat karena ia tiba-tiba berbicara saat aku sedang fokus membaca. “A-aku juga tak mengira kalau ini novel dewasa,” kataku yang entah kenapa tak berani menatap matanya.
“Yah… temanku merekomendasikan novel itu padaku. Katanya ceritanya menarik,” katanya tanpa menatapku.
“Jadi menurumu bagaimana ceritanya?” tanyaku penasaran karena aku hampir sampai di pertengahan cerita.
“Tidak buruk. Tapi terlalu banyak adegan dewasa yang kupikir hanya untuk mengisi bagian cerita yang kosong. Bagian yang menurutku paling menarik adalah saat Jane menjadi sukarelawan di medan perang hanya untuk mencari kekasih simpanannya yang ikut berperang. Dan ia sedang mengandung anak kekasih simpanannya itu,” ceritanya. Kulihat Chloe menghela napas dengan keras seraya menyandarkan punggungnya ke belakang. Ia lalu menoleh padaku. “Yah… itu yang kuingat. Mungkin kau tidak akan memahaminya,” katanya.
“Aku… paham,” ucapku pelan. Aku tidak bisa menjelaskan padanya seberapa paham aku pada cerita yang diceritakannya.
Chloe kembali mengalihkan pandangannya ke layar laptop dan aku kembali membaca novel di genggamanku. Setelah cukup lama membaca hingga sampai di pertengahan cerita, aku berhenti, menutup novel itu dan meletakkannya di tempatnya semula. Chloe masih berkutik dengan laptopnya dan aku memutuskan untuk merebahkan diri di kasurnya. Sambil memperhatikan hujan yang turun melalui jendela dan mendengarkan suaranya yang diiringi gemuruh petir, kelopak mataku mulai terpejam.
***
“Aku punya seorang putri. Dia sedikit berbeda dari kebanyakan anak seumurannya saat ia kecil. Dia tidak terlalu suka diberi boneka dan lebih senang menyelinap ke ruanganku dan menggangguku bekerja,” jelas seorang pria dan tertawa
“Yah… kurasa setiap anak punya keunikannya masing-masing,” kataku. “Berapa umurnya sekarang?”
“Delapan belas tahun, dan ia akan segera mulai kuliah di universitas impiannya,” ungkapnya bahagia. “Yah… sebagai seorang ayah aku turut senang dengan pencapaiannya selama ini.”
“Nik!” panggil seseorang yang membuatku menoleh. “Direktur memanggilmu,” lanjutnya.
Aku bangkit dari dudukku dan berjalan keluar dari tempat itu. Aku menuju lift dan masuk ke sana, lalu menekan tombol angka 10. Setelah lift membawaku naik ke lantai yang kutuju, aku keluar dari sana dan berjalan menuju ruangan Direktur.
“Profesor, ini aku,” ucapku sambil mengetuk pintu itu.
“Masuklah,” perintah seseorang di dalam.
Aku membuka pintunya dan masuk ke dalam. Terlihat seorang pria yang sedang berkutik dengan banyak sekali kertas di meja kerjanya. Sesekali matanya juga melihat tablet yang ada di genggamannya.
“Kau memanggilku?” tanyaku dan berdiri di depan mejanya.
“Yah… Nik, kurasa aku hampir berhasil,” ucapnya sambil memijit keningnya. Suaranya terdengar lelah, namun ekspresinya terlihat puas.
“Apa maksudmu, Profesor?” tanyaku bingung.
Ia menatapku sejenak sebelum bangkit dari duduknya dan melangkah mendekatiku. Ia menepuk kedua bahuku ketika ia sudah berdiri di depanku. “Sebentar lagi aku bisa mewujudkan apa yang kuimpikan selama ini,” ucapnya.
“Yang kau impikan?” tanyaku bingung.
“Bukankah aku sudah memberitahumu sebelumnya? Proyek yang kau anggap mustahil itu.”
“Tunggu!” selaku dan menurunkan kedua tangannya dari bahuku. “Kukira kau bercanda soal itu?”
“Tentu aku serius, Nik. Kau pikir kenapa aku berusaha begitu keras selama ini?” ucapnya. Kemudian kulihat ia tersenyum padaku. “Dan tentu saja, aku tidak akan sampai sejauh ini tanpa bantuanmu.”
“Siapa saja yang tahu soal proyek ini?” tanyaku.
“Hanya orang-orang yang bersedia membantuku. Tapi, ada satu orang yang tahu soal proyek ini dan ingin menggagalkannya. Kau tahu kan aku tidak akan membiarkan itu di saat aku sudah hampir mencapai keberhasilan.”
“Siapa itu?” tanyaku penasaran.
“Untuk saat ini aku tidak bisa memberitahumu,” katanya seraya berjalan kembali menuju mejanya. “Aku juga akan jarang di sini dan lebih sering berada di tempat proyek ke depannya. Jadi… aku memanggilmu karena aku ingin kau menggantikan posisiku untuk sementara selama aku tidak di sini,” jelasnya. “Kau bisa melakukannya, kan? Dan kuharap kau tidak bertindak di luar keinginanku, Nik. Kau tahu seberapa besar aku mempedulikanmu selama ini.”
“… ik!” panggil seseorang lagi. Namun kali ini suara perempuan.
“Nik!” ulangnya. Aku menoleh ke sana kemari, namun tak melihat sosoknya.
“Nik!”
Aku membuka mata dan melihat wajah Chloe sudah terpampang di hadapanku.
“Ch… loe?” ucapku bingung.
“Ada apa denganmu? Kau tertidur dan aku melihat cahaya di tengah dadamu itu berkedip-kedip dengan warna kuning!” ungkapnya dengan suara panik.
Aku menunduk dan melihat tombol di tengah dadaku yang tertutupi oleh pakaian, yang saat ini sudah kembali menunjukkan warna biru. Perlahan aku bangkit dari posisiku. “Aku… tidur?” tanyaku masih dalam posisi kebingungan.
“Memangnya apa lagi? Apa yang terjadi? Tidak terjadi hal seperti ini sebelumnya.”
Aku tidur, dan aku bermimpi. Dibandingkan mimpi, apa yang baru saja kulihat seperti bagian dari ingatanku. Dan… tangan. Aku melihat tanganku sendiri. Aku memiliki tangan manusia di sana.