One of a Kind

1244 Kata
(CHLOE) “Apa yang kalian berdua lakukan di sini?” tanyaku setelah melihat Dax dan Nik yang mengejutkannya, duduk bersama di teras rumahku. “Sejak kapan kalian bersama dan… mengapa kau keluar, Nik?” tanyaku menatap Nik. “Baiklah, baiklah. Tenang dulu, Chloe. Aku akan menjelaskannya,” kata Dax seraya bangkit berdiri. “Tidak. Aku saja yang menjelaskan,” kata Nik menyela. Ia juga ikut bangkit berdiri. “Aku keluar karena aku bosan. Maaf,” katanya. Aku melipat kedua lengan di d**a. “Lalu bagaimana kalian bertemu?” tanyaku menatap mereka berdua. “Sebenarnya aku melihat Android-mu ini berdiri saja di tengah jalan, jadi aku mengajaknya ke tempatku,” jawab Dax. “Benar kau magang di CyberTech?” “Seperti yang kau lihat,” jawabku mengedikkan bahu. “Aku tidak percaya ini,” ucap Dax dan tertawa singkat. “Bukannya kau pernah bilang keadaan keluargamu berantakan karena ulah CyberTech?” Aku memang pernah memberitahu Dax masalah itu setelah tak lama mengenalnya. Tapi aku tak pernah memberitahunya lebih detail masalah seperti apa itu. “Tidak ada salahnya bisa diterima di tempat terbaik. Ini juga menguntungkanku,” kataku. “Yah… asalkan tidak terjadi hal buruk. Baiklah, aku akan pulang,” katanya pamit dan mengacak rambutku sambil melangkah pergi. Setelah Dax pergi, aku segera mengajak Nik masuk ke dalam rumah melalui pintu ruang cuci yang ada di belakang. Aku menyuruhnya berdiam sebentar di sana sementara aku masuk melalui pintu lain yaitu pintu belakang. “Aku pulang!” ucapku begitu masuk ke rumah. Ibuku berada di dapur. Entah apa yang sedang dilakukannya di meja dapur itu. Aku menghampirinya. “Apa yang Ibu lakukan?” tanyaku. “Aku ingin makan,” jawabnya. Karena aku belum membuat jatah makan malamnya, tentu saja ia kelaparan. Aku menyuruhnya untuk duduk di sofa sementara aku akan membuat makan malam untuk kami berdua. Karena Marianne tidak lagi mengizinkanku untuk bekerja paruh waktu di tempatnya selama magang, aku jadi punya waktu untuk beristirahat di rumah. Sambil menyiapkan bahan-bahan masakan aku melirik ke arah pintu ruang cuci di mana Nik masih bersembunyi di sana. aku menoleh ke belakang untuk melihat ibuku yang sedang sibuk menonton TV. Aku menuju pintu itu dan membukanya sedikit. “Nik!” panggilku dengan suara pelan. “Apa ibumu di sana?” tanyanya dan melangkah mendekatiku. “Sayangnya ya. Tapi ia sedang menonton TV. Tapi bagaimana kau bisa keluar tadi? Apa Ibu sedang tidur saat itu?” “Kurasa. Aku melihatnya terbaring di sofa dan aku berjalan mengendap-endap,” ungkapnya. Aku diam sejenak berpikir. Lalu aku menoleh ke arah ibuku. Aku tahu ia sedang fokus pada TV di depannya, tapi aku sedikit ragu bisa membawa Nik naik ke kamarku tanpa membuatnya menoleh. “Bisa kau melakukan seperti yang kau lakukan saat keluar tadi? Sejujurnya aku tidak begitu yakin,” kataku. “Jika kau tidak yakin, aku bisa di sini sebentar,” kata Nik. “Baiklah,” ucapku mengangguk-angguk. “Diam di sini sebentar, ya. Jangan menimbulkan suara apa pun,” kataku dan menutup pintunya. Aku kembali ke dapur dan melanjutkan untuk memasak. Aku kurang begitu tahu di jam berapa ibuku akan naik ke kamarnya saat malam karena selama ini aku berada di luar untuk bekerja. Tapi jika di hari libur, aku akan melihatnya naik ke kamar di antara jam sembilan sampai sebelas malam. Itu terlalu lama. Sekarang baru pukul enam. Kuharap Nik bisa bersabar. Setelah aku selesai membuat makan malam, aku membawanya menuju meja makan dan memanggil ibuku untuk makan terlebih dulu. Melihat keadaannya—fisiknya—sekarang, sepertinya ia cukup membaik berkat obat pemberian Marianne waktu itu. Syukurlah. Tapi aku tidak bisa terlalu berharap pada kondisi mentalnya. Setelah kami berdua selesai dengan makan malam kami, aku membawa piring-piring kotor itu ke tempat cuci piring dan membersihkannya. Kulihat ibuku kembali menonton TV di sofa. Aku menuju ruang cuci dan membuka pintunya. “Nik!” panggilku pelan. “Apa aku sudah bisa keluar?” tanya Nik seraya bangkit setelah sebelumnya kulihat ia duduk di lantai. “Tidak,” jawabku seraya masuk ke dalam dan menutup pintunya. “Kita tunggu sebentar lagi.” Aku duduk di lantai dan mengajak Nik untuk duduk di sampingku dengan menepuk nepuk lantai di sisiku. Ia menghampiriku dan duduk di sana. Aku menghela napas dengan panjang seraya menyandarkan kepalaku ke belakang. “Bagaimana magangmu?” tanya Nik. “Aku tidak bisa bilang sangat menyenangkan. Tapi memang cukup menyenangkan bisa berada di tempat menakjubkan itu dan bekerja bersama orang-orang yang luar biasa,” ungkapku. “Jadi kau sudah menemukan informasi soal ayahmu?” “Tidak secepat itu, Nik. Tidak mudah mendapatkan informasi yang bahkan polisi saja tidak tahu,” kataku. “Omong-omong, kau tidak mengatakan pada Dax soal ini, kan?” “Tidak,” jawabnya menggeleng. “Baguslah. Jangan beritahu soal ini pada siapa pun. Tidak ada yang tahu bahwa ayahku dulunya ilmuwan di CyberTech yang tiba-tiba menghilang.” Aku menghembuskan napas melalui hidung. “Apa saja yang kau lakukan bersama Dax tadi?” tanyaku menatapnya. “Dia membawaku ke tempatnya dan mengenalkanku pada teman-temannya. Tidak banyak yang bisa kulakukan di sana selain hanya melihat mereka bermain dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan mereka,” ceritanya. “Pertanyaan seperti apa?” tanyaku penasaran. “Hanya pertanyaan biasa seperti apa saja yang bisa kulakukan,” katanya. “Dan ada satu orang yang menganggapku bertingkah aneh,” ungkapnya. “Siapa?” “Dia tidak menyebutkan namanya. Tapi dia salah satu teman Dax.” Nik lalu menatap kedua mataku. “Apa yang membuatku aneh, Chloe? Ini bukan pertama kalinya seseorang menyebutku begitu.” Aku menatap kedua mata coklat Nik. Aku tidak tahu harus memberitahunya mulai dari mana. Semua yang dia lakukan terlihat biasa, tapi tidak terasa biasa. Mungkin teman Dax juga berpikiran sama saat melihat Nik yang berbicara, bertingkah, dan bagaimana reaksinya yang tidak pernah datar. “Kau… berbeda,” ucapku seraya mengusap leher belakangku. “Hanya itu?” tanya Nik. “Kau tidak seperti Android kebanyakan. Semua yang kau lakukan terasa seperti kau melakukannya di luar programmu,” jelasku. Nik hanya menatapku tanpa mengatakan apa pun. Kupikir ia tak mengerti apa yang kubicarakan sampai ia bertanya, “Bisa beritahu aku seperti apa?” “Umm…,” gumamku sambil berpikir. “Normalnya Android hanya melakukan apa yang diperintahkan, dan berbicara sesuai dengan pertanyaan yang dilontarkan. Tapi kau… menanyakan banyak hal, ingin tahu banyak hal. Kau bahkan mengalami sesuatu yang kupikir tidak pernah terjadi pada sebuah mesin. Aku tak tahu lagi harus menjelaskan seperti apa. Kau berbeda. Itulah kau, Nik,” kataku. Nik terdiam dan menunjukkan ekspresi seolah sedang berpikir. Aku menghela napas dan bangkit berdiri. “Tunggu di sini sebentar. Aku ingin melihat keadaan di luar,” kataku dan melangkah menuju pintu. Aku membuka pintu dan melihat TV di ruang tamu masih menyala. Tapi, di mana Ibu? Aku mendekati sofa dan melihatnya yang terbaring di sana. Matanya terpejam. Entah sudah berapa lama ia tertidur tapi itu hal yang bagus. Aku kembali ke ruang cuci dan menyuruh Nik untuk keluar. “Tetap pelan-pelan. Ia bisa bangun kapan saja,” kataku. Saat Nik baru akan melangkah menuju tangga, tiba-tiba ia berhenti dan menunduk sambil memegang kepalanya. “Hei, hei, hei! Ada apa?” tanyaku panik dengan suara pelan. “Pandanganku… terjadi lagi,” ucapnya. Ia lalu mengerang, seolah kesakitan. Aku terpaksa membawanya kembali masuk ke ruang cuci. “Apa yang kau ingat, Nik?” tanyaku padanya ketika ia sudah terlihat lebih tenang. “Tempat pembuangan itu lagi. Aku masih berlari. Ada yang mengejarku. Seseorang… mengejarku. Siapa yang mengejarku?” tanyanya dan menatapku dengan tatapan penuh kebingungan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN