(NIK)
Siapa aku?
Dari mana asalku?
Aku ini apa?
Pertanyaan-pertanyaan ini selalu ada di dalam kepalaku. Meski aku sudah mendapat jawaban tentang diriku sendiri bahwa aku adalah Android, aku masih tak mengerti apa itu Android, dan mengapa mereka diciptakan. Mengapa. Mengapa aku Android dan apa tujuanku ada di dunia ini?
Aku berdiri menatap ke luar jendela. Chloe sudah pergi pagi sekali karena ia bilang ini hari pertamanya magang. Ia sempat memberitahuku bahwa ia ingin mencari tahu lebih dalam soal CyberTech karena ia merasa ada yang aneh. Kurasa aku hanya bisa menunggu. Mungkin Chloe juga akan menemukan jawaban soal diriku.
Aku berbalik dan melangkah menuju pintu. Aku membukanya dan menengok ke lorong. Sepi. Kamar ibu Chloe ada di ujung tangga itu. Aku hanya perlu melewatinya dan menuruni tangga itu. Meski Chloe sudah memperingatiku untuk tidak keluar kamar, tapi aku ingin keluar. Saat Chloe mengajakku keluar waktu itu aku merasa ada sesuatu yang aneh yang kurasakan saat melihat dunia luar. Rasanya tidak begitu asing. Seolah aku pernah berada di luar sebelumnya.
Aku menutup pintu kamar Chloe dengan pelan dan mulai melangkah di lorong dengan langkah yang pelan. Aku menengok ke dalam kamar ibu Chloe saat aku hampir sampai di tangga. Pintu kamarnya yang setengah terbuka memperlihatkanku kamar yang tak berpenghuni. Aku melangkah turun ke tangga dan menengok ke bawah. Wanita itu ada di sana. Ia sedang berbaring di sofa.
Aku melangkah turun dengan pelan dan begitu hati-hati untuk menghindari menimbulkan bunyi berderit dari lantai kayu yang bisa membuat ibunya Chloe menyadari keberadaanku. Setelah akhirnya kakiku menginjak lantai bawah, aku berjalan mengendap-endap menuju pintu ruang cuci yang ada di samping dapur itu. Selama ibu Chloe tidak melihatku aku akan aman, dan pintu itu adalah jalan paling aman aku bisa keluar dari rumah ini.
Aku tidak tahu apakah wanita itu sedang tidur atau tidak. Tapi begitu aku berhasil mencapai pintu yang kutuju aku segera membukanya dan dengan cepat masuk ke dalam. Aku melangkah menuju pintu lain yang mengarahkanku keluar dari rumah ini. Setelah akhirnya aku berhasil keluar melalui pintu belakang rumah, aku bisa sedikit tenang. Aku menurunkan topiku dan menaikkan tudung jaketku, lalu melangkahkan kakiku keluar dari halaman belakang rumah Chloe.
Aku bisa melihat lebih dekat orang-orang yang tadi hanya bisa kulihat dari balik jendela kamar Chloe. Chloe bilang di sini tidak ada Android, dan kebanyakan orang-orang di sini membenci mereka. Karena itu aku harus berhati-hati untuk tidak berdekatan dengan mereka. Saat aku sampai di pertigaan dan berhenti di sana, aku melihat seseorang berdiri di kiri jalan. Aku tidak bisa melihat rupanya dengan jelas karena jarak kami cukup jauh, dan ia mengenakan pakaian yang hampir serupa denganku; jaket dengan tudung yang dikenakan.
Mungkin karena orang itu menyadari keberadaanku yang hanya berdiri diam, ia menoleh. Aku terkesiap saat pandanganku tiba-tiba terhalangi gambar lingkaran berwarna biru yang berpusat pada orang itu. Seolah ia sedang ditargetkan, tiba-tiba sebuah tulisan muncul yang mengatakan bahwa ada Android terdeteksi. Orang itu adalah Android.
Aku hampir akan menghampirinya, tapi orang itu sudah berjalan pergi lebih dulu dengan langkah yang cepat. Seolah ia menyadari bahwa aku sudah mengetahui identitasnya. Bukankah Chloe bilang tidak pernah ada Android di sini? Lalu siapa itu?
“Apa yang kau lakukan berdiri diam di situ?” tanya seseorang tiba-tiba.
Aku menoleh ke belakang dan melihat seorang pria dengan rambut merah. Ia menunjukkan ekspresi terkejut saat melihatku. Tanpa bisa kuhindari dengan tiba-tiba ia membuka tudung jaket yang kukenakan.
“Astaga!” ucapnya. “Kau… jangan bilang kau Android milik Chloe yang ia temukan waktu itu?”
“Kau mengenal Chloe?” tanyaku cukup terkejut.
“Jadi benar?” ucapnya. Ia lalu menatapku dari bawah hingga atas. “Apa yang kau lakukan di sini? Di mana Chloe?”
“Chloe sedang magang,” jawabku.
Pria itu menoleh sejenak ke kiri sebelum ia menaikkan kembali tudung jaketku. “Dengar, aku tidak tahu apa Chloe sudah memberitahumu atau belum. Tapi di sini bukan area yang aman untuk benda sepertimu,” katanya.
“Aku tahu. Chloe sudah memberitahuku,” kataku.
“Lalu apa yang kau lakukan di sini sendirian?” tanyanya dan melipat kedua lengannya di d**a. “Aku yakin Chloe tidak mengizinkanmu keluar begitu saja, bukan?”
“Aku hanya ingin keluar dan melihat-lihat. Berdiam di kamar Chloe sedikit membosankan,” ungkapku.
Kulihat ia menaikkan satu alisnya. Ia menurunkan kedua tangannya dan lalu mengusap mulutnya dengan gaya seolah ia sedang berpikir. “Bagaimana kalau begini. Ikut saja ke tempatku,” ajaknya.
“Apa?”
“Aku tahu aku belum meminta izin pada Chloe tapi…,” ia meringis dan lalu membuang napas lewat mulutnya. “Kita urus saja soal itu nanti. Yang penting kau tidak berdiri saja di sini karena distrik ini bukan tempat yang aman untukmu,” lanjutnya. “Bagaimana?”
Tidak ada salahnya mencoba tempat baru. “Baiklah. Di mana kau tinggal?”
“Aku tinggal di ujung jalan itu,” katanya menunjuk jalan yang ada di sisi kanan kami. “Ayo,” ajaknya kemudian.
Kami berjalan sambil ia memperkenalkan diri sebagai Dax. Ia mengenal Chloe tidak lama setelah Chloe pindah kemari. Ia juga yang memperingatkan Chloe sebelumnya untuk tidak membawaku kemari. Kami akhirnya tiba di ujung jalan di mana terdapat sebuah pagar kawat di sana. Dax mengajakku masuk melalui jalan masuk yang sudah tersedia. Di sana, aku melihat sebuah lapangan yang dipenuhi dengan mobil-mobil yang sudah sangat jelek dan bobrok. Sepertinya ini adalah tempat pembuangan mobil.
“Selamat datang di markasku, Nik,” sambut Dax dengan kedua tangan terbuka lebar.
“Markas?” tanyaku bingung.
“Sebenarnya ini bukan hanya tempat tinggalku seorang, tapi teman-temanku juga tinggal di sini,” jelasnya. “Ikut aku.”
Dax mengajakku berjalan melewati sampah-sampah mobil hingga akhirnya aku melihat dua kontainer yang ada di sana. Ia mengajakku ke salah satu kontainer itu dan masuk ke dalam sana.
“Teman-teman!” ucap Dax begitu kami masuk ke dalam. Di dalam sana ada beberapa orang yang menurutku adalah temannya yang disebutkan tadi. Ada yang sedang bermain kartu dan ada yang sedang duduk di sofa dengan sebotol minuman yang ada di genggamannya. “Perkenalkan, Nik. Android yang ditemukan Chloe yang sempat kuceritakan waktu itu,” lanjut Dax.
“Tidak mungkin!” sahut salah satu yang sedang bermain kartu di lantai dan ia bangkit berdiri dengan cepat. Ia berjalan menghampiriku dan membuka tudung jaketku dengan kasar. “Sial! Ini benar-benar Android!” ucapnya.
“Hei, Dax! Memangnya kau sudah mendapat izin Chloe?” tanya temannya yang sedang duduk di sofa.
“Sebenarnya belum. Aku melihatnya berdiri diam saja di tengah jalan,” kata Dax menunjukku dengan ibujarinya. “Aku langsung mengajaknya kemari.”
“Hei, siapa namamu?” tanya pria di hadapanku yang tadi membuka tudung jaketku.
“Namaku Nik,” jawabku.
“Oke, baiklah. Mari masuk dan jangan lakukan apa pun pada Nik, atau Chloe akan menghajarku,” ujar Dax sambil berjalan. Ia berhenti di sisi meja dan mengambil sebuah botol kaca berisi minuman yang terlihat sama dengan yang digenggam pria yang duduk di sofa. Ia membuka tutup botol itu. “Aku hampir akan menawarimu minuman ini dan aku sadar bahwa Android tidak minum,” katanya dan meneguk minuman itu. “Kemarilah dan duduk di sini, Nik,” katanya dan menunjuk sofa kosong di dekatnya.
Aku berjalan menuju sofa itu. Selama berjalan, orang-orang di sana—kecuali Dax—menatapku dengan tatapan aneh. Seperti tidak senang juga tidak benci. Aku duduk di sofa dan melihat mereka yang kembali melanjutkan bermain kartu.
“Tidakkah menurutmu dia aneh?” ucap pria di sofa yang baru kusadari ia masih menatapku sedari tadi.
“Aneh bagaimana?” sahut Dax.
“Aku sudah melihat berbagai macam Android. Dan meski aku tidak pernah memilikinya, ia terlihat sedikit aneh dari Android kebanyakan. Ia bertingkah hampir seperti manusia,” ujarnya tanpa melepas pandangannya dariku.