Different Than the Others

1062 Kata
(CHLOE) Aku membuka mata dan mendapati bahwa hari sudah pagi. Terlebih, aku sudah berada di kamarku. Aku ingat semalam aku sedang menonton TV bersama Nik. Entah apa yang terjadi setelahnya. Sepertinya aku tertidur. Aku melihat Nik yang sedang duduk di pinggiran di jendela. Seperti biasanya. “Nik, apa kau yang membawaku kemari?” tanyaku. Ia menoleh. “Oh, kau sudah bangun. Ya. Aku yang membawamu kemari,” jawabnya. Aku cukup terkejut mesin bisa melakukan hal seperti itu. Maksudku ia bisa membangunkanku saja tanpa perlu membawaku sampai ke kamar. Memang bagaimanapun aku melihatnya sejauh ini, Nik adalah Android yang aneh. “Kau akan kuliah?” tanyanya saat aku berjalan menghampirinya. Aku membuka jendela dengan mendorongnya ke atas. “Tidak. Aku perlu istirahat setelah kejadian semalam. Mungkin hanya hari ini saja,” kataku. “Yah… setelah kupikir-pikir aku tidak bisa benar-benar beristirahat. Aku akan turun sebentar untuk membuat sarapan untuk ibuku.” Aku merapikan tempat tidur sebentar sebelum keluar dari kamar dan menengok ke kamar ibuku untuk melihatnya. Ia sudah tidak ada di sana. Tentu saja, aku bangun sedikit kesiangan hari ini—melihat dari cahaya mataharinya. Tapi anehnya samar-samar aku mendengar suara di lantai bawah. Jika itu suara TV, aku tidak terkejut. Ini seperti suara lain. Apa yang Ibu lakukan di bawah? Aku segera turun dan mendapati ibuku sedang… entah apa yang dia lakukan di dapur. “Ibu!” panggilku sambil berjalan menghampirinya. “Apa yang sedang Ibu lakukan?” tanyaku dan melihat Ibu menggenggam sebuah panci berisi air. Airnya tidak panas. Apa ia bermaksud memasak air itu? “Kenapa kau kemari? Naiklah dan istirahat,” katanya tidak menghiraukan pertanyaanku. “Apa?” tanyaku terkejut. “Aku bisa memasak sendiri. Jangan pedulikan aku.” Apa sih yang dia katakan? “M-memangnya Ibu mau memasak apa dengan air itu?” tanyaku. Aku bahkan tidak melihat sayuran atau bahan-bahan lainnya di sana untuk ia masukkan ke dalam air itu. Aku menyentuh dahiku dan mengusap rambutku ke belakang untuk menahan amarah. Apa ia bahkan sadar bahwa ia tidak bisa memasak apa pun dengan kondisinya sekarang? Aku segera merebut panci itu darinya sebelum ia meletakkannya di atas kompor. “Duduklah. Aku saja yang memasak. Ibu tidak akan bisa makan jika Ibu hanya memasak air,” kataku. “Berikan padaku,” balasnya berusaha merebut panci itu, tapi dengan cepat aku menjauhkannya. Aku heran mengapa kami jadi saling berebut panci. “Kumohon, Bu. Aku juga ingin bisa segera selesai membuat sarapan karena aku lapar. Duduklah,” perintahku. “Jangan paksakan dirimu,” ujarnya seraya melangkah pergi. Aku heran dengannya hari ini. Sebenarnya apa yang sudah terjadi kemarin? Aku mencoba tidak terlalu memedulikannya dan mulai membuat sarapan. Aku hanya perlu membuat roti panggang dan setelah itu selesai. Saat aku membawakan roti itu menuju ibuku di meja makan dan aku duduk di seberangnya, ia bertanya, “Kau baik-baik saja?” “Apa maksud Ibu?” “Kau hampir celaka di tempat kerja. Hugo memberitahuku semalam,” katanya. Sial! Hugo, kau benar-benar mengabaikan permintaanku! “Aku baik-baik saja,” jawabku dan memakan roti tersebut. “Maaf jika aku tidak banyak membantumu,” katanya yang membuatku cukup terpukau. Sungguh. Setelah kondisi mentalnya memburuk, ini pertama kalinya ia menunjukkan kekhawatirannya padaku. Aku tidak yakin apakah aku harus senang. “Tidak apa-apa. Aku akan baik-baik saja,” jawabku. *** Aku mengambil ponsel dan mengirim pesan pada Hugo. Aku cukup kesal padanya karena ia memberitahu ibuku soal kejadian semalam. Tapi dari perkataannya, sepertinya Hugo tidak memberitahu kalau yang membuatku hampir celaka adalah Android. Itu sedikit lebih baik. Setelah menuliskan kata-kata kekesalanku padanya dan mengirimkan pesan tersebut, aku meletakkan ponselku di nakas dan merebahkan tubuhku di tempat tidur. Aku menghembuskan napas. Karena tidak ada yang harus kulakukan dan aku sendiri tidak tahu harus melakukan apa untuk mengusir rasa bosan ini. Kurasa keadaanku sudah sedikit membaik sekarang. Tapi aku tidak bisa bilang bahwa aku akan baik-baik saja saat ada orang membawa pistol. Karena aku sungguh tidak tahu lagi harus melakukan apa, aku kembali menghembuskan napas. “Kau baik-baik saja?” tanya Nik yang sudah berdiri di dekatku. “Yeah,” jawabku. “Kau yakin? Kau menghela napas dari tadi.” “Aku baik-baik saja,” kataku dan meletakkan lenganku di atas mataku. “Aku hanya bosan.” “Mungkin kita bisa keluar?” usulnya. Aku tahu seberapa besar keinginannya untuk menjelajah dunia luar. “Entahlah. Ibuku ada di bawah. Akan sulit membawamu keluar. Aku juga menjadi takut saat ada orang yang berkeliaran membawa pistol di luar sana,” kataku. Aku merasakan tempat tidurku di bawahku bergerak. Aku mengangkat lenganku dan melihat Nik sudah duduk di sampingku. “Lakukan saja yang ingin kau lakukan. Kau juga bisa bercerita padaku. Aku akan senang mendengarnya,” katanya. Cerita apa? Aku tidak punya cerita menarik untuk diceritakan. Aku mendengar ponselku berbunyi. Aku mengambilnya dan melihat pesan masuk dari Hugo. ‘Maaf. Kupikir ibumu perlu tahu kondisimu. Aku akan mengunjungimu nanti.’ Aku kembali merebahkan diri. “Omong-omong, apa kau sudah mendapatkan ingatanmu lagi?” tanyaku. “Belum,” jawabnya menggeleng. “Aku ingin mendapatkan gambaran yang lain. Aku ingin tahu siapa aku dulunya.” “Apa maksudmu? Tentu saja dulunya kau Android. Kita hanya perlu mencari tahu apa yang terjadi padamu sebelumnya dan siapa pemilikmu,” kataku. Ia menatapku sejenak sebelum kembali menatap ke bawah. “Entahlah. Aku merasa aku lebih dari itu. Rasanya aku memiliki ingatan yang panjang seolah aku hidup cukup lama,” ungkapnya. Aku bangkit dari posisi tidur. “Sebelumnya apa yang membuatmu mendapatkan ingatanmu kembali?” tanyaku. “Tidak ada. Tiba-tiba pandanganku terhalangi begitu saja tanpa sebab.” Mungkin jika aku membawa Nik kembali ke tempat di mana aku menemukannya, ia akan menemukan potongan ingatannya. Aku benar-benar seperti sedang membantu seseorang yang amnesia. Untuk sebuah mesin yang menginginkan semua data dalam memorinya kembali, bukan begini cara yang seharusnya dilakukan. Aku melihat ponselku dan memutuskan untuk berselancar di internet untuk membunuh rasa bosan yang semakin menyiksaku. Nik ikut berbaring di sampingku dan melihat apa yang kulihat di ponseku. Saat aku menekan tombol menu utama dan bermaksud membuka aplikasi lain, terpampang fotoku beserta ayahku yang kujadikan sebagai wallpaper di sana. Dan di saat itu juga Nik tiba-tiba bangun dari posisinya dan ia menyentuh sisi kepalanya. “Nik? Ada apa?” tanyaku. “Pandanganku…,” ucapnya. “Apa yang kau lihat?” tanyaku cepat sambil memutar tubuhnya. “Ponselmu… pria itu. Siapa dia?” tanyanya. “Aku melihatnya dalam ingatanku.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN