(CHLOE)
Hugo masuk ke dalam kamarku ketika aku dan Nik saling berhadapan setelah berbincang. Hugo menatap kami secara bergantian dengan tatapan kebingungan dan penasaran. Aku bisa mengerti mengapa ia menunjukkan ekspresi seperti itu. Aku dalam posisi berdiri dengan kedua lengan yang terlipat di d**a, sedangkan Nik duduk di tempat tidur dan tertunduk. Posisiku seperti aku sedang memarahi Nik di sini.
“Ehh… kalian sedang apa?” tanya Hugo sambil menutup dengan pelan pintu di belakangnya. Matanya lalu tertuju pada Nik. Ini memang pertama kalinya Hugo melihat Nik yang sudah diaktifkan. Ia berjalan mendekat dan berdiri di sampingku.
“Dia mengenal ayahku,” kataku.
“Apa?”
“Ada ayahku dalam ingatannya Nik.”
“T-tunggu, apa maksudmu?” tanya Hugo bingung.
“Nik baru saja mendapatkan potongan ingatannya kembali saat ia melihat fotoku bersama ayahku. Dia bilang ada ayahku dalam ingatannya itu,” jelasku.
Hugo lalu menatap Nik. Nik menegakkan kepalanya dan mendongak menatap balik Hugo. “Siapa kau?” tanya Nik.
“Ah! Aku lupa memperkenalkan kalian. Nik, dia Hugo. Hugo, ini Nik” kataku pada mereka berdua.
“Apa yang terjadi padanya?” tanya Hugo padaku.
“Sudah kubilang ia baru saja mendapatkan potongan ingatannya.”
“Aku tahu, tapi bukan itu yang kumaksud. Bagaimanapun aku melihatnya, dia seperti baru saja terserang syok setelah mendapatkan ingatannya,” katanya. “Kau tidak curiga sama sekali dengan keanehannya ini?”
“Dan aku sudah pernah memberitahumu kalau dia berbeda. Kau lihat sendiri, kan?” kataku dan menunjuk Nik dengan anggukan kepalaku.
“Yang lebih aneh lagi, belum pernah aku mendengar kasus Android yang kehilangan memori dan mendapatkannya kembali secara tiba-tiba,” kata Hugo.
“Aku tidak punya banyak hal untuk dikatakan,” kataku dan mengangkat kedua tangan tanda menyerah, lalu aku duduk di samping Nik. “Jadi sekarang apa pendapatmu setelah melihatnya sendiri?”
“Ceritakan padaku dari awal,” katanya sambil melepas ranselnya. “Ah! Ini untukmu,” katanya dan menyerahkan sebuah kantong plastik yang sedari tadi ia bawa padaku.
“Apa ini?” tanyaku dan melihat ke dalam kantong tersebut.
“Makanlah bersama ibumu nanti. Dan tolong ceritakan padaku dari awal ia mulai mendapatkan ingatannya,” katanya dan melipat kedua lengannya di d**a.
“Yah… pertama ia mengingat namanya, lalu yang kedua ia seperti sedang berlari, dan yang baru saja adalah ada ayahku di sana,” jelasku mengangkat kedua bahu. “Ada petunjuk? Aku sama sekali belum bisa memikirkannya. Tapi aku sudah punya sedikit gambaran dari potongan-potongan itu.”
“Ya, tentu saja. Ia berada di lab dan ayahmu pasti ada di sana juga karena itu tempatnya bekerja. Jadi pasti ia melihat ayahmu,” jelas Hugo.
“Tapi rasanya aku sedang berbicara dengannya,” balas Nik.
“Mungkin ia sedang menguji coba dirimu sebelum kau dipasarkan. Tidak ada yang aneh dengan itu,” balas Hugo.
Aku tahu ayahku bekerja di lab CyberTech dan berurusan langsung dengan pembuatan Android. Tapi bagaimanapun aku memikirkan kaitannya dengan Nik yang berada di tempat pembuangan itu, sama sekali tidak ada petunjuk. Perlu banyak petunjuk. Masih banyak potongan yang hilang.
“Hei, omong-omong, kurasa pengumuman soal peserta magang yang diterima CyberTech akan dikeluarkan oleh kampus dalam beberapa hari ke depan,” kata Hugo.
“Benarkah?” tanyaku. Aku sudah menantikan hal ini.
“Yeah. Lagipula jadwal magang kita akan segera dimulai. Kuharap kau diterima,” ujarnya.
“Kuharap,” ucapku pelan. Bukan berarti aku juga hanya berharap pada CyberTech saja. Aku sudah menyiapkan tempat lain jika saja aku tidak diterima di sana.
Meski memang tujuan utamaku adalah untuk mencari tahu tentang hilangnya ayahku, aku tetap tidak melupakan fakta bahwa CyberTech adalah tempat pilihan magang dan bekerja terbaik di kota ini. Jika pada akhirnya aku tidak bisa diterima sebagai peserta magang, aku harus menunggu sampai lulus dan diterima bekerja di sana. Meski kesempatan untuk bisa diterima juga tidak terlalu besar dan belum tentu aku akan menemukan jawaban yang kucari, setidaknya aku sudah mencoba ketika para polisi bahkan belum bisa menemukan petunjuk hingga detik ini.
“Oke, kembali ke topik utama. Apa yang membuatnya mendapatkan ingatannya kembali?” tanya Hugo.
“Melihat sesuatu atau seseorang yang pernah dilihatnya dapat memicunya. Tapi sebelumnya ingatannya muncul dengan tiba-tiba,” kataku. “Aku berencana untuk mengajaknya ke tempat pembuangan itu.”
“Benarkah, Chloe?” tanya Nik.
“Itu pilihan bagus. Tapi sebaiknya kau jangan membawanya seperti itu. Kau tahu kan dia terlihat seperti… yah… beri dia pakaian apa pun,” katanya menilai penampilan Nik.
“Tentu saja aku tahu,” balasku dan menghela napas seraya menyentuh keningku.
“Bagaimana keadaanmu?” tanya Hugo mendekat padaku dengan ekspresi khawatir.
“Aku sudah lebih baik. Marianne memberiku waktu istirahat seminggu. Itu lebih dari cukup.” Aku diam sejenak memikirkan soal Android bernama Leo yang hampir mencelakaiku itu. “Kau sudah mendengar beritanya secara keseluruhan?” tanyaku.
“Yeah. Android yang hampir membuatmu kehilangan nyawa. Aku begitu marah saat mengetahuinya, tapi juga merasa aneh karena mesin bisa berbuat seperti itu,” ujarnya. “Semenjak kejadian semalam banyak pembicaraan soal Android itu di manapun aku berada.”
“Ada yang aneh,” ujarku.
“Apa?” ucap Hugo.
“Aku bertemu Android bernama Claire, lalu Nik, lalu Leo yang semalam. Ketiga Android ini memiliki kemiripan. Mereka menunjukkan keanehan,” ujarku. “Tidakkah kau berpikir ini aneh?”
“Aneh seperti apa yang kau maksud?”
“Menunjukkan sikap seolah mereka memiliki nyawa,” kataku menatap Hugo, lalu berpaling menatap Nik yang ada di sampingku.
“Chloe, itu berlebihan,” kata Hugo.
“Tidak. Karena aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Aku melihat betapa berbedanya mereka dari yang lain.”
“Pembicaraan ini semakin tidak masuk akal,” kata Hugo menghela napas. “Kau ingin bilang ini ada kaitannya dengan CyberTech?”
“Itu bisa saja, kan?”
“Dengar, aku bukan ingin mengabaikan keanehan pada Android-mu atau yang semalam menyerangmu itu, tapi itu hanya asumsi dan kita tidak punya bukti. Mereka bisa saja mengalami kerusakan kecil dan berbuat di luar program. Dan itu cukup masuk akal,” katanya.
“Sebuah robot yang berusaha menembakku tanpa alasan, apa itu termasuk kerusakan kecil?” tanyaku. Bicara seperti apa pun rasanya Hugo tidak akan percaya apa yang telah kulihat selama ini. “Lupakan saja. Sepertinya aku terlalu banyak pikiran sehingga banyak melihat sesuatu yang aneh. Tapi tidak denganmu, Nik.”
“Hei, aku bukan tidak ingin memercayaimu. Tapi kita perlu bukti kalau CyberTech memang benar melakukan sesuatu,” kata Hugo.
“Yeah, kau benar. Bukti. Aku perlu mendapatkannya,” kataku. Aku menghela napas dengan kasar dan tertunduk sambil menutup wajahku dengan tangan.
“Chloe, kau baik-baik saja?” tanya Nik menyentuh bahuku.
“Aku akan pulang. Aku juga punya urusan hari ini. Beristirahatlah,” kata Hugo.
Aku menegakkan kepalaku dan melihatnya memakai ranselnya. “Terima kasih makanannya. Maaf,” ucapku.
Ia memberikan senyuman singkat. “Aku yang seharusnya minta maaf. Hubungi aku kapan pun,” katanya dan keluar dari kamar.
Setelah aku tidak lagi mendengar langkah kaki Hugo di luar kamar, aku menghela napas sekali lagi dengan kasar sambil menyibakkan rambutku ke belakang. Lalu aku bangkit berdiri.
“Dia temanmu, kan?” tanya Nik tiba-tiba.
“Ya. Kenapa?”
Ia diam dan pandangannya ke bawah. Ada apa sih dengannya?
“Kalian terlihat cukup dekat,” katanya yang akhirnya menatapku.
“Itu karena aku dan dia sudah berteman sejak kecil,” jawabku mengedikkan bahu. “Ada apa, Nik?”
“Tatapan matanya,” katanya. “Aku kurang nyaman dengan tatapan matanya yang menatapmu.”