Project X6

1260 Kata
(CHLOE) Sebuah robot yang bisa merasakan emosi dan kecemburuan terdengar seperti sebuah cerita fiksi dalam novel dan film fantasi. Tapi jika hal itu terjadi tepat di depan mataku, aku akan menganggap itu sebagai sebuah mimpi. Tidak. Ini bukan mimpi. Aku masih tersadar dan ini bukanlah mimpi. Nik benar-benar sebuah mesin yang memiliki emosi. Seharusnya aku kabur. Seharusnya aku membuangnya jauh-jauh dan menonaktifkannya selamanya. Tapi itu semua tidak kulakukan. Kelangkaan Nik semakin membuatku ingin tahu apa sebenarnya yang disembunyikan CyberTech. Dan fakta bahwa mungkin ia bukanlah satu-satunya Android yang memiliki emosi semakin membuatku yakin bahwa ini ada kaitannya dengan ayahku yang menghilang. Aku berjalan menuruni tangga dan melihat ibuku yang sedang menonton TV. Aku menuju dapur dan membuat sarapan untuk kami berdua. “Kau akan pergi?” tanya ibuku tiba-tiba. “Ya. Aku harus kuliah,” jawabku tanpa menoleh. “Aku sudah baik-baik saja,” tambahku. Aku memasak dua telur mata sapi untuk kami berdua. Setelah selesai aku membawanya ke meja makan di mana ibuku sudah berpindah duduk di sana. Sambil memberikan sepiring sarapannya, aku melirik ke arah TV untuk melihat acara apa yang ditontonnya. Ternyata itu adalah sebuah berita. “Bu, aku ingin tanya sesuatu,” kataku seraya duduk. Aku menelan ludah. Aku belum pernah menanyakan ini padanya karena aku selalu menghindarinya. “Mengapa Ibu membenci Android?” tanyaku. Tangannya yang sedang berkutik dengan sarapannya tiba-tiba berhenti. Perlahan ia menegakkan pandangannya dan menatapku di balik matanya yang semakin tidak memancarkan semangat hidup. Aku menelan ludah sekali lagi. Aku selalu menghindari bertanya alasan mengapa ia membenci Android karena aku takut ia hilang kendali. Tapi semenjak aku menemukan Nik dan kejadian di apotek itu, aku semakin ingin tahu lebih jauh tentang Android. Ibu pun bukan orang yang kehilangan pekerjaan karena Android yang membuatnya membenci mereka. Ia pasti mengetahui sesuatu yang tidak kuketahui. “Aku ingin tahu alasan Ibu. Keadaan kita jadi seperti ini juga bukan sepenuhnya karena Android. Apa yang membuat Ibu membenci mereka? Apa ini ada kaitannya dengan Ayah?” Aku khawatir ia sudah tidak mengingatnya lagi sehingga ia lupa alasan mengapa ia membenci Android. Saat Android pertama kali dipasarkan ibuku tidak menunjukkan reaksi ketertarikan atau tidak suka. Kami pun tak membeli Android untuk melakukan pekerjaan rumah. Lalu setelah ayahku dinyatakan menghilang tiba-tiba ia jadi membenci Android. Apa yang tidak kuketahui setahun lalu? “X6,” katanya kemudian. “Apa?” “Proyek X6,” ulangnya. “Proyek X6? Apa itu?” tanyaku bingung. Ia tidak menjawab dan hanya menggeleng samar. Sepertinya ia sudah lupa apa itu proyek X6. Tapi ia masih mengingat namanya. “Apa itu ada hubungannya dengan Android?” tanyaku. “Pria itu… proyek X6. Dia yang melakukannya. Ayahmu di sana…” *** Saat aku mencarinya di internet, aku sama sekali tidak menemukan apa itu proyek X6. Aku mencoba mengingat kembali apa yang terjadi setahun lalu saat aku pertama kali tahu bahwa ayahku menghilang. Saat itu aku baru saja pulang dan yang kulihat hanya ibuku yang menangis setelah mendengar kabar tersebut. Namun aku juga melihat kemarahan yang terpancar dalam matanya. Pasti ada sesuatu yang terjadi saat aku pergi. Bus berhenti di halte tujuanku dan aku turun dari sana. Aku berjalan menuju kampus. Di tengah perjalanan aku melihat Hugo yang sedang berdiri dan menatap ke bawah. Ia seperti sedang menunggu seseorang. “Hugo, apa yang kau lakukan di sini?” tanyaku mendekatinya. “Oh! Kau akhirnya datang,” jawabnya. “Kau menungguku?” “Karena semalam kau bilang hari ini akan kuliah. Aku… juga sedikit kepikiran soal sikapku kemarin sore,” ujarnya sambil mengusap leher belakangnya. “Aku ingin minta maaf sekali lagi.” “Yah… soal itu… sebenarnya kau ada benarnya. Aku tidak bisa asal bicara dan aku perlu bukti. Tidak apa-apa,” kataku. “Jadi, bagaimana Android itu?” tanyanya seraya kami berjalan bersama menuju kampus. “Ada kabar terbaru?” “Tidak. Tapi aku perlu tanya sesuatu padamu. Kau pernah dengar soal proyek X6?” “Apa? Proyek X6? Apa itu?” “Yah… kau tahu, sebelum berangkat aku memberanikan diri bertanya pada ibuku apa yang membuatnya membenci Android. Aku sudah menduga bahwa ia tidak akan bisa terlalu mengingatnya. Tapi ia bilang soal proyek itu dan menyebut pria itu yang entah siapa, lalu ayahku yang ada di sana,” jelasku. “Kau ingat kan Hugo sebelum aku mendapatkan kabar itu kita sedang keluar untuk menghadiri acara ulang tahun teman kita. Saat sampai di rumah aku melihat ibuku menangis dan mengatakan bahwa seseorang baru saja mampir dan memberitahu ayahku menghilang di tempat kerja. Setelah itu keadaan keluargaku menjadi berantakan. Saat aku di luar, ada sesuatu yang terjadi di rumah,” ceritaku. Hugo terdiam sambil pandangannya menatap ke bawah. Ia terlihat berpikir keras. “Aku tidak pernah mendengar soal proyek itu,” katanya. “Tapi aku pernah mendengar ayahku membicarakan soal penelitian,” ungkapnya. “Penelitian?” “Aku tidak terlalu memedulikannya saat itu. Lagipula pembicaraan soal penelitian ini ia dapatkan dari kliennya dulu. Ia bilang adik dari klien itu sedang mengerjakan sebuah penelitian yang sedikit mencurigakan di tempatnya bekerja.” “Kau tahu nama klien itu?” “Sudah kubilang aku tidak terlalu memedulikannya saat itu jadi aku tidak tahu,” katanya. “Proyek yang kau maksud dan penelitian yang kubicarakan belum tentu sama, jadi jangan langsung menyimpulkan.” “Aku tahu itu. Aku hanya ingin tahu proyek apa itu dan siapa yang mendatangi ibuku saat itu,” ujarku. Aku menghela napas dan menyentuh keningku. Hugo menghentikan langkahnya dan menyentuh bahuku dan memutar tubuhku. “Jangan terlalu paksakan dirimu untuk berpikir,” katanya. “Aku akan membantumu sebisaku.” “Aku hanya… aku merasa kehilangan petunjuk penting yang mengarahkanku pada keberadaan ayahku,” ujarku dan menghela napas. “Coba cari dokumen-dokumen milik ayahmu dulu. Siapa tahu kau menemukan petunjuk penting di sana,” usulnya. “Aku sudah melakukan itu. Membaca semua dokumen yang ada tapi tidak menemukan petunjuk apa pun,” jawabku. Aku mengalihkan pandangan sebentar dan melihat bahwa kami sudah hampir sampai di gedung kampus. “Baiklah, kita bicarakan ini lagi nanti. Dah!” pamitku dan melangkah pergi meninggalkannya. Sesampainya di kelas aku segera duduk di bangku dengan helaan napas panjang. Semakin ke sini semakin banyak pertanyaan dan aku belum menemukan satu jawaban pun. Siapa Nik, apa yang terjadi pada Claire dan Leo yang membuat mereka bersikap berbeda, lalu apa itu proyek X6. Semua pertanyaan ini seolah dipaksa masuk ke dalam kepalaku, tapi tak ada satu pun yang memberikan sedikit jawaban. Aku benar-benar bisa gila jika memikirkan semua ini. Dosen masuk tidak lama kemudian dan aku mengeluarkan laptopku. Di perkuliahan itu dosen menjelaskan tentang teknologi yang bisa menghubungkan pikiran manusia ke dalam komputer. Aku sudah tidak terkejut dengan ini karena CyberTech sudah mengembangkan teknologi ini meski masih belum diketahui kapan akan selesai. Tapi yang membuatku seketika mematung adalah karena mendengar penjelasannya, “Penelitian baru-baru ini mengatakan bahwa penghubung pikiran ini seperti saat kalian bermain gim virtual dan menjadi sebuah karakter di sana. Tentu kalian bisa bergerak sesuai kemauan kalian dengan karakter palsu itu. Tapi pergerakan kalian juga dibatasi oleh peraturan di dalam gim sehingga ada beberapa tempat yang tidak bisa kalian kunjungi,” jelasnya. Dosen itu lalu berbalik dan mengambil sebuah manekin kayu tanpa rupa yang diletakkan di sudut ruangan kelas. Ia membawanya ke depan dan dihadapkan pada seluruh kelas. “Tapi bagaimana jika kita membawa karakter palsu itu ke dunia nyata? Bayangkan jika manekin ini adalah karakter kedua kalian. Lalu dengan penghubung pikiran, kesadaran kalian akan dipindahkan sementara ke dalam manekin ini. Kalian akan merasa seperti berada di dalam sebuah gim, tapi bedanya kalian bisa bergerak bebas di dunia ini dengan tubuh baru itu.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN