(CHLOE)
Aku menepati janjiku untuk mengajak Nik keluar hari ini. Aku memberinya pakaian ayahku dulu untuk menutupi seluruh tubuhnya sekaligus agar orang-orang tidak curiga bahwa aku mengajak jalan-jalan sebuah Android. Sebenarnya sudah tidak asing lagi bagi seseorang untuk berjalan-jalan bersama Android. Hanya saja aku ingin Nik tetap berada di dekatku, termasuk saat kami menaiki bus.
Setelah beberapa hari berlalu, aku masih saja saja teringat penjelasan dosen waktu itu. Memang benar bahwa saat ini teknologi penghubung pikiran masih dalam proses pengembangan, dan kejelasan kapan teknologi itu akan selesai dikerjakan masih belum nampak. Namun aku tak bisa berhenti memikirkan bahwa ini ada hubungannya dengan Leo. Tindakannya saat itu yang jelas-jelas terlihat bahwa ia sudah melakukan sesuatu di luar program seolah memberitahuku bahwa Leo bukan hanya sekadar mesin yang bergerak. Ada kesadaran manusia di dalamnya. Meski kesimpulan ini berlebihan, tapi sangat cocok dengan penjelasan dosen saat itu.
“Kau baik-baik saja?” tanya Nik tiba-tiba yang duduk di sampingku.
Aku menoleh padanya. Aku melihat penampilannya saat ini yang mengenakan topi serta tudung jaketnya agar orang-orang tidak bisa melihat rupanya dengan jelas. “Aku baik-baik saja,” jawabku.
“Kau melamun dari tadi,” katanya.
“Yeah. Sesuatu sedikit mengganggu pikiranku,” kataku jujur dan kembali menatap ke luar kaca bus. “Tapi aku baik-baik saja,” tambahku.
Sebelum kami menaiki bus ini tadi, aku sudah membawa Nik ke tempat di mana aku menemukannya. Ia tidak mendapatkan ingatan apa pun. Bahkan saat aku membawanya lebih dekat ke tempat tumpukan rongsokan itu berada—yang kemungkinan besarnya ia melarikan diri dari sana, juga tidak mendapatkan hasil apa pun.
Aku kembali menoleh pada Nik. “Kau pernah mendengar soal proyek X6?” tanyaku padanya. Meski aku tahu ia tidak akan mungkin mengetahuinya.
“Apa itu? Apa itu yang mengganggu pikiranmu sejak tadi?”
“Sedikit,” jawabku.
“Tidak. Aku belum bisa mengingat apa pun,” balasnya.
“Aku tahu. Untuk berjaga-jaga jika kau memiliki ingatan tentang itu, segera beritahu aku.”
“Tentu,” jawabnya.
Aku kembali menatap ke luar kaca sambil menunggu bus yang membawa kami sampai ke tempat tujuan. Setelah membawa Nik ke tempat aku menemukannya tidak menghasilkan apa pun, aku tidak bisa memikirkan tempat lain di mana aku bisa membuatnya mendapatkan potongan ingatannya kembali. Karena aku tidak tahu apa pun tentang masa lalunya, satu-satunya petunjuk hanya tempat ia diciptakan. Ya. CyberTech.
Setelah bus yang kami naiki berhenti di halte tujuan, kami turun dan segera menuju CyberTech. Kami hanya bisa melihatnya dari depan gedung. Meski kemungkinannya kecil untuk bisa mendapatkan potongan ingatan dari posisi tersebut, setidaknya aku perlu mencoba.
“Kau ingat tempat ini?” tanyaku setelah kami sampai di seberang gedung CyberTech.
“Tidak,” jawab Nik. “Kau bilang ini tempat aku dibuat, kan?”
“Ya. Jauh di dalam sana ada ribuan dirimu yang diproduksi,” kataku. Aku menoleh padanya. “Jadi kau tidak mengingat apa pun?”
Ia menggeleng. “Maaf,” ucapnya.
Aku menghela napas. “Yah… tidak ada yang bisa kulakukan dengan itu,” ujarku. Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Aku tidak tahu lagi tempat mana yang harus kukunjungi untuk bisa memicu ingatan Nik. Karena masih banyak waktu luang, aku memutuskan untuk mengajak Nik berjalan-jalan saja.
“Kita berkeliling saja,” ajakku mengulurkan tangan padanya. “Ini kesempatanmu untuk menikmati dunia luar,” kataku.
Karena tidak ada tujuan pasti ke mana aku harus pergi, aku mengajaknya membeli makanan serta minuman di pinggir jalan dan membawanya berkeliling sambil melihat orang-orang yang bersantai di akhir pekan ini. Setelah bersantai di luar seperti ini aku sadar bahwa aku benar-benar lelah dengan semua yang terjadi. Aku sudah memaksakan diriku untuk mencoba menemukan setiap jawaban dari keanehan yang kutemui akhir-akhir ini sehingga aku lupa untuk mengistirahatkan pikiranku sendiri.
“Kau tahu, dulu aku sering keluar bersama Hugo dan bersantai seperti ini,” ungkapku.
Karena aku tidak mendengar balasan apa pun dari Nik, aku menoleh padanya dan melihatnya menunduk dengan tatapan ke bawah. “Nik?” panggilku. Kemudian aku teringat bahwa ia pernah mengungkapkan soal ketidaknyamanannya dengan Hugo. “Oh…,” ucapku.
“Sepertinya kau baru ingat ucapanku soal Hugo waktu itu,” ujarnya.
“Maaf,” ucapku. “Maksudku… rasanya aneh kau bisa tidak menyukai seseorang.” Dan anehnya cara ia membalas ucapanku tadi seolah-olah ia bukan robot.
“Aku tidak tahu tapi itulah yang kurasakan,” ungkapnya.
“Yah… sekarang aku jarang sekali keluar bersamanya. Hampir tidak pernah lagi setelah keadaan keluargaku berantakan.”
“Boleh aku bertanya sesuatu soal ayahmu?” tanyanya.
“Apa?”
“Di bagian mana ia bekerja di CyberTech?”
“Ia seorang kimiawan. Ia bekerja di bagian penelitian,” jelasku.
“Apa ayahmu pernah mengatakan sesuatu sebelum menghilang?”
“Tidak. Tidak ada yang aneh darinya. Ia terlihat seperti di hari-hari biasanya di mana ia berangkat kerja pagi dan pulang sore,” ceritaku. Aku diam sesaat untuk menggali kembali ingatan setahun lalu di hari-hari sebelum ayahku menghilang. “Kecuali… aku sempat melihatnya beberapa hari pulang begitu malam. Tidak ada yang aneh dari sikapnya dan hubungannya dengan ibuku juga baik-baik saja. Jadi kupikir saat itu ia sedang banyak pekerjaan di kantornya.”
“Yang terlihat baik-baik saja kadang tidak begitu kenyataannya,” kata Nik yang langsung membuatku menoleh padanya. “Kupikir tidak ada salahnya mulai melihat petunjuk yang mungkin kau anggap tidak begitu penting,” sarannya.
Aku diam sejenak. “Ya. Ya. Sepertinya aku harus melakukan itu,” ucapku mengangguk-anggukkan kepala. “Saran yang bagus Nik. Untuk sebuah robot,” kataku tersenyum miring dan mengedikkan satu bahu.
“Aku tidak mengerti apa bedanya Android dan manusia. Mereka terlihat sama di mataku,” katanya.
“Android adalah sebuah mesin yang bergerak. Manusia tidak. Manusia memiliki emosi sedangkan Android tidak memilikinya. Itulah perbedaan keduanya, Nik,” jelasku.
Kami tidak saling berbincang selama beberapa saat dan kupikir ia tidak lagi menanyakan pertanyaan sampai kemudian ia bertanya,
“Emosi itu seperti apa?”
Aku menatapnya sesaat sebelum menatap ke depan. Aku melihat orang-orang di sekelilingku yang jelas-jelas menunjukkan banyak sekali emosi. Aku menelaah, mencoba mencari contoh figuran yang bisa kujelaskan pada Nik. Lalu kemudian aku menemukan sepasang kekasih yang sedang berjalan sambil bergandengan tangan. Mereka berbincang dengan senyum dan tawa yang melekat di wajah mereka berdua. Aku menunjuk pasangan itu.
“Berbincang sambil tertawa seperti itu adalah apa yang disebut emosi,” jelasku pada Nik.
Ia menatap pasangan itu sejenak. “Aku bisa menirunya,” katanya.
“Tidak. Tidak. Ini bukan apa yang terlihat di luar, tapi apa yang dirasakan di dalam sini,” kataku dan menyentuh dadaku. “Mereka berbincang sambil tertawa menunjukkan bahwa mereka sedang senang dan… jatuh cinta,” jelasku. “Kau mungkin bisa meniru ekspresi mereka, tapi tidak dengan apa yang mereka rasakan. Itulah emosi, Nik. Sebuah rasa.”
Nik memperhatikan pasangan itu yang kini sedang berhenti di sebuah toko minuman untuk membeli minuman di sana. Cukup lama ia memperhatikan seolah sambil meresapi kata-kata yang baru saja kukatakan dalam pikirannya. Yah… ia tentu tahu teori apa itu emosi. Tapi ia tidak akan pernah bisa merasakannya.
“Ayo kita pulang,” kataku seraya beranjak dari tempat duduk. “Akan sulit mendapatkan bus dan sampai tepat waktu jika lebih sore.”
Nik beranjak dari duduknya tanpa mengatakan apa pun. Aku menarik turun topinya karena wajahnya terlihat cukup jelas. Saat berjalan, aku melihat sebuah truk yang mengangkut banyak sekali rongsokan dari produk-produk CyberTech. Mereka sedang dalam perjalanan menuju tempat kami untuk membuang semua benda itu.
“C-Chloe,” panggil Nik tiba-tiba.
Aku berhenti dan menoleh ke belakang. Aku baru menyadari bahwa Nik tidak lagi di sampingku. “Nik, ada apa?” tanyaku mendekatinya dengan rasa khawatir karena melihatnya yang menunduk sambil menyentuh matanya.
“Truk itu… aku mengingatnya. Truk itu yang membawaku,” katanya.