3; Si Mata Elang

1695 Kata
Dua jam setelah pelarian Romeo. Seorang pria duduk di sebuah kursi. Di sampingnya, ada seorang laki-laki yang hanya menunduk. Pria yang duduk di kursi memperhatikan puluhan pria lain yang berdiri berjajar di depan matanya. Sorot tajam itu penuh kemarahan. Emosi berkumpul di sana. Sanggup membuat puluhan pria berseragam hitam hanya mampu meneguk air liur. Di bagian depan barisan pria berseragam hitam, Martin berdiri tegak dengan wajah menghadap ke arah pria yang tengah duduk. Pria itu adalah ayah Romeo. Tubuhnya tegap, rahangnya tegas dibalut dengan sorot mata tajam yang menambah kesan mengerikan dari pria tersebut. "Apa kalian gagal menemukan anakku?" Suara itu terdengar tenang, tidak terdapat penekanan sama sekali di dalamnya, tapi berhasil membuat barisan pria berseragam hitam merinding dibuatnya. Ryan merupakan pria yang tegas. Yang sekali berbicara mampu membuat seluruh bawahannya langsung satu tanpa harus mengulang perkataannya dua kali. Jika ketegasan dalam bicaranya sudah berubah menjadi tenang, itu artinya tingkat kemarahan Ryan berada pada tingkat yang sesungguhnya. Di mana bukan lagi emosi yang ditunjukkan, melainkan kosa kata tenang, tapi mampu menyilet setiap telinga yang mendengarnya. "Kupikir selama ini aku mempekerjakan orang yang terlatih dan cerdas. Anakku bahkan belum sembuh betul. Kondisinya masih tidak stabil, kakinya tidak bisa berjalan dengan normal, tapi hebatnya bisa membuat puluhan orang kewalahan saat mencarinya." Ryan berdiri. Menatap barisan bawahannya di hadapannya, "apa kaki kalian itu terlalu lemah sampai tidak bisa mengejar anakku? Atau perlu kutunjukan bagaimana kondisi anakku sekarang? Maju kalian satu per satu, akan aku patahkan kaki kalian semua sampai kalian sadar bahwa anakku bahkan tidak bisa berlari dengan kondisinya yang sekarang." Mereka serempak saling pandang satu sama lain. Ketakutan. Ryan jelas tidak pernah main-main saat berbicara. Jika mematahkan semua bawahannya bisa membuatnya melampiaskan amarahnya, maka akan dia lakukan dengan senang hati. "Kamu. Maju!" Ryan menunjuk satu orang yang berdiri di bagian paling kanan. Pria itu maju. Ryan menunjuk pria lain di bagian tengah. Memintanya untuk maju juga. "Bukankah sudah kubilang kepada kalian berdua kalau kalian berdua harus mengawasi anakku dengan sangat hati-hati. Bagaimana kalian bisa kehilangan dia? Bagaimana saya bisa mendapat laporan bahwa anak saya melarikan diri dari kalian berdua? Apa saat itu kalian tertidur sampai tidak sadar Romeo pergi?" Barulah keseriusannya dimulai. Ryan menatap dua orang yang berdiri paling depan dengan sorot elangnya. "Bukan begitu, Pak. Kami hanya lengah." Satu di antara mereka menyahut dengan kepala menunduk. "Lengah katamu?!" Ryan menggebrak meja. Tidak hanya mengejutkan dua orang yang berdiri paling dekat dengan mejanya. "Ceritakan padaku bagaimana kalian bisa kehilangan Romeo?!" tuntutan bernada tinggi. Dua orang itu adalah orang yang ditugaskan untuk mengawasi Romeo selama berada di rumah sakit. Mereka yang terakhir kali bersama Romeo. Mengantar Romeo pergi ke kamar mandi kemudian sadar setelah begitu lama bahwa Romeo kabur dari mereka. Pria dengan potongan rambut cepak menyahut. "Waktu itu kami pergi bersama Tuan Muda. Bahkan Pak Martin pun ada di sana. Kami berdua yang hendak mengantar Tuan Muda pergi fisioterapi karena Pak Martin pergi ke toilet. Tapi tak lama setelah itu Tuan Muda berkata bahwa dirinya ingin pergi ke toilet juga. Saya yang mengantar ke toilet. Karena toilet terdekat adalah toilet yang dipakai oleh Pak Martin jadi kami memilih ke sana. Setelah Pak Martin keluar, beliau meminta salah satu dari kami untuk menemui dokter sementara saya yang menemani Tuan Muda di toilet. Saat itulah saya kehilangan Tuan Muda, Pak." Ia menundukkan kepala setelah menjelaskan. Takut bahwa dirinya akan dicekik hidup-hidup. "Lalu bagaimana tiba-tiba anak saya bisa hilang begitu saja saat kamu sendiri sadar bahwa dia sedang berada di dalam toilet?" Pria itu kembali mengangkat kepala. Menghembuskan napas lega karena atasannya itu tidak mengambil tindakan kekerasan. "Tidak lama setelah Tuan Muda masuk ke toilet, ada orang yang keluar dari sana. Menggunakan jaket dan topi. Saya pikir itu adalah keluarga dari pasien, karena itu saya tidak curiga. Tapi setelah beberapa saat, saya sadar bahwa orang itu adalah tuan muda. Saya mengecek ke dalam toilet, tapi hanya ada satu perempuan di sana yang rupanya salah masuk toilet dan diam di sana sampai keadaan sepi agar bisa keluar." "Dasar bodoh!" Ryan kembali menggebrak meja. Kali ini lebih keras. Seolah semua kekesalannya ditumpahkan dalam satu kali gebrakan. "Seharusnya kamu sadar bahwa orang yang memakai topi itu adalah anakku. Itu adalah penyamaran klise. Apa kamu terlalu bodoh sampai tidak menyadari hal itu? Bagaimana kamu bisa membiarkan orang yang baru saja keluar dari toilet yang sama yang dimasuki putraku tanpa memeriksa mereka terlebih dahulu?" Pria di hadapan Ryan hanya bisa menunduk. "Maaf, Pak," katanya menyesal. Lalu, tatapan Ryan tertuju pada Martin yang berdiri satu langkah dari dua orang yang ada di hadapannya. Ia menunjuk Martin dan meminta Martin ikut maju lewat gerakan tangannya. Kini, Ryan siap memakan tiga orang yang ada di hadapannya hidup-hidup. "Bagaimana kamu bisa berada di toilet yang sama dengan Romeo di waktu yang begitu sempit?" tanya Ryan dingin. Ditujukan langsung untuk Martin. "Seperti yang tadi Bapak dengar, toilet itu adalah toilet terdekat yang ada di sana." "Aku tidak menanyakan hal itu. Aku hanya ingin tahu kenapa bisa sangat kebetulan?" Rian menggerakan jemarinya. Mengisyaratkan agar orang yang berada satu langkah di belakangnya maju. Saat ia mengulurkan telapak tangannya, orang itu merogoh saku celana dan mengeluarkan selembar kertas sobekan dari sana. Ryan meletakkan kertas itu di atas meja. Menunjuknya beberapa kali dengan telunjuk tangan kanan. Gerakan menunjuk itu bahkan menimbulkan bunyi yang mampu didengar oleh semua orang yang ada di sana. "Kertas ini ditemukan di toilet bersama paper bag kosong. Rasanya mustahil kalau kamu tidak melihat adanya paper baga saat pergi ke toilet." Ryan menatap Martin tajam. Dan Martin menggeleng dengan tenangnya. "Saya benar-benar tidak melihat apa pun, Pak. Waktu itu saya memang sedang terburu-buru tapi saya yakin saya tidak menemukan apa pun di sana." Padahal nyatanya, alasan kenapa Martin menuliskan sebuah pesan untuk Romeo, itu karena ia melihat seorang perempuan di sana. Perempuan itu pastilah mengira bahwa toilet di rumah sakit tersebut tidak memisahkan jenis kelamin, padahal toilet perempuan dan laki-laki berada di tempat yang berbeda. Atau kalaupun perempuan itu tahu, mungkin dia tidak bisa menahan keinginan untuk buang air sehingga tidak mempedulikan tempat. Tapi justru itulah yang menguntungkan untuk Martin. Saat ditanya, perempuan itu terang-terangan mengatakan bahwa dirinya salah masuk toilet dan berencana untuk keluar saat keadaan sudah sepi. Bibirnya mengulas senyum tipis saat melihat Ryan mengerang frustrasi. Senyum itu terlalu tipis sampai Martin pun yakin tidak akan ada yang bisa melihatnya jika tidak ditegaskan, termasuk Ryan sekalipun yang berdiri di depan matanya. "Lalu bagaimana dengan perempuan yang kamu lihat di toilet itu? Apa kamu sudah menyelidikinya? Apa dia yang mungkin memberikan barang-barang kepada Romeo?" Ryan bertanya lagi pada pria berambut cepak. Pria itu menggeleng. Membuat Ryan lagi-lagi harus menggebrak meja karena terlalu emosi. Kali ini karena tidak habis pikir dengan kebodohan anak buahnya, Ryan bahkan sampai mengusap wajahnya frustrasi. "Padahal mungkin saja perempuan itu kunci dari kaburnya Romeo. Kenapa kalian semua bodoh sekali?! Dan kenapa pula aku mempekerjakan bawahan bodoh seperti kalian?!" Ryan memutar tubuh dan menentang kursinya sampai menabrak dinding. Tidak ada yang berani berbicara. Mereka hanya membiarkan bos mereka melampiaskan kemarahannya. Selain karena takut, mereka juga tidak ingin jadi sasaran empuk. Kecerobohan yang dilakukan oleh satu orang sudah cukup membuat mereka semua kerepotan, rasanya tidak perlu ditambah lagi dengan sebuah pukulan. “Aku tidak mau tahu, kalian harus mencari Romeo sampai dapat. Dia baru hilang tidak sampai dua jam. Dengan kondisi yang sekarang Aku yakin dia tidak akan pergi jauh. Dia pasti masih berada di daerah sini. Temukan dia atau kalian semua tahu akibatnya!” Ryan kembali membalikkan tubuh. Menatap semua anak buahnya bengis. “Apa kalian mengerti?!” tanyanya berteriak. “Mengerti, Pak!” Mereka semua menyahut bersamaan. Kemudian berlalu setelah diperintahkan untuk pergi dan kembali memulai pencarian. Saat Martin sudah berada di muka pintu, Ryan memanggil namanya. Meminta Martin untuk kembali menghadapnya. Hanya tersisa tiga orang di sana. Martin, Ryan, dan asisten pribadi Ryan. “Aku ingin tahu apa saja yang kamu ketahui tentang Romeo. Kalau memang yang mengirimkan barang-barang itu adalah kekasihnya, dan kamu sama sekali tidak terlibat atas kaburnya Romeo, aku hanya berharap kamu bisa bekerja sama.” “Dengan senang hati, Pak. Saya akan berusaha semampu saya untuk mencari Tuan Muda sampai ketemu.” Ryan mengangguk dua kali. “Selain itu aku juga ingin kamu menceritakan semuanya tentang Romeo. Bagaimanapun kamu jauh lebih dekat dengan Romeo daripada aku. Kamu adalah orang kepercayaan ibunya, sekaligus orang yang sudah mengurus Romeo sejak lama.” Ya, bahkan karena terlalu dekat dengan Romeo, Martin tahu bahwa Romeo tidak pernah dekat dengan perempuan mana pun. Bukan karena Romeo tidak menarik, justru Romeo terlalu mempesona untuk diabaikan begitu saja. Masalahnya adalah Romeo belum pernah terlihat tertarik dengan lawan jenisnya selama ini. Ada banyak alasan. Mungkin karena Romeo merasa bahwa dirinya belum bebas. Ke mana pun dia pergi akan selalu ada orang yang mengawasinya. Rasanya tentu aneh jika saat berkencan malah ada yang mengawasi. Tapi bisa juga ada alasan lainnya. Mungkin Romeo memang belum menemukan orang yang cocok saja. Namun, tentu saja Martin tidak akan memberi tahu hal itu. “Maaf, Pak. Saya memang dekat dengan Tuan Muda, tapi tugas saya selama ini hanya menjaga Tuan Muda. Tidak lebih. Untuk urusan pribadi Tuan Muda, saya benar-benar tidak tahu menahu mengenai hal itu. Karena selama ini pun Nyonya selalu mempekerjakan orang lain untuk mengawasi Tuan Muda dari jauh.” Ryan mendengkus kecewa. Tidak terima dengan jawaban tidak memuaskan dari Martin, tapi di sisi lain ia juga tidak bisa memaksakan jawaban yang diinginkannya. “Kalau begitu silakan pergi. Hubungi aku jika kamu menemukan titik terang tentang Romeo. Karena istriku begitu mempercayaimu, bukankah kamu harus melakukan hal yang sama agar aku bisa mempercayaimu?” Martin tahu bahwa itu adalah gertakan agar dirinya mengabdikan hidupnya untuk ayah Romeo tersebut. Pria itu meminta dirinya agar bekerja sama kerasnya seperti saat istrinya masih hidup dulu. “Baik, Pak. Kalau begitu saya permisi dulu.” Martin membungkukkan sedikit tubuhnya sebagai bentuk tanda hormat sebelum pergi. Untuk sekarang ia memang hanya bisa menerima perintah dan melaksanakannya, tapi bersamaan dengan itu ia akan berusaha sekuat tenaga untuk melakukan penyelidikan atas apa yang terjadi pada Romeo dan ibunya. Ia sangat yakin bahwa Ryan ikut andil dalam kecelakaan tersebut. Tugasnya hanya menyelidiki dan membuktikan bahwa itulah kebenarannya. Agar nanti Romeo hanya perlu menentukan apa yang pantas didapatkan oleh ayah kandungnya itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN