Sejak kecil Romeo hampir tidak pernah keluar rumah sendirian. Ia selalu dijaga oleh seseorang yang ditugaskan untuk melindunginya. Itu sudah berlaku sejak dirinya masih duduk di bangku sekolah dasar. Setiap berangkat sekolah, akan selalu ada yang mengantarnya sampai gerbang. Sementara dirinya belajar di sekolah, seseorang selalu ditugaskan untuk mengawasinya dari jauh. Agar dirinya nyaman dan tidak terlalu terganggu jika diawasi dari dekat.
Beranjak SMA, pernah sekali Romeo meminta kepada ibunya agar dirinya tidak perlu lagi diawasi, tapi ibunya menolak dan beralasan bahwa itu demi keselamatannya. Wanita itu selalu saja mencemaskan hal-hal kecil. Meski bisa dibilang Romeo sudah beranjak dewasa, pengawasan tetap dilakukan. Dan Romeo hanya bisa menuruti. Sadar betul bahwa dirinya adalah anak tunggal, yang artinya menjadi satu-satunya anak kebanggaan orang tuanya.
Namun, baru sekarang Romeo benar-benar merasa jauh dari rumah. Ia merasa asing pada setiap jalan yang sejak tadi dilaluinya saat berjalan kaki. Bukan karena dirinya tidak pernah melihat jalan tersebut, tapi karena menjadi pengalaman pertama dirinya berjalan kaki tanpa ditemani siapa pun yang mengawasinya.
Romeo tidak tahu apa yang sebenarnya sedang direncanakan Martin, tapi yang pasti ia harus menemukan tempat tinggal. Setidaknya untuk melindunginya dari panas dan hujan, serta anak buah ayahnya yang sekarang mungkin sedang berkeliaran untuk mencarinya. Masalahnya hanya satu, sekarang ia sama sekali tidak memegang uang sepeser pun. Botol minuman yang kini ada di tangannya bahkan sudah habis. Menyisakan botol kosong yang belum dibuangnya beserta bungkus roti yang sudah terkepal di tangannya yang lain.
Kalau saja setidaknya ia membawa dompet, Romeo yakin dirinya bahkan bisa melakukan pelarian ke luar negeri. Tapi jangankan dompet, ia bahkan tidak memiliki baju ganti untuk melepaskan pakaian rumah sakit yang sejak tadi dikenakannya. Keadaannya sekarang benar-benar sulit, dan karena Martin belum menghubunginya, ia tidak tahu harus ke mana. Bisa saja ia menghubungi Martin lebih dulu, memarahi pria itu yang seenak jidatnya memintanya pergi dari rumah sakit tanpa membekali apa pun, tapi bukan tidak mungkin itu malah akan membuat Martin kesulitan.
Ponsel? Ya, Romeo bisa saja menjual ponsel yang diberikan Martin. Mengingat ponsel tersebut terlihat seperti ponsel baru dengan harga yang lumayan. Tapi tentu Romeo tidak sebodoh itu. Menjual ponsel yang sekarang ia miliki hanya akan membuat hidupnya sengsara ke depannya. Martin tidak akan bisa menghubunginya, dan ia akan kehilangan kesempatan untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Terhitung sudah dua jam lebih lamanya Romeo hanya duduk di lantai depan minimarket. Memperhatikan lalu lalang kendaraan yang lewat, dan hanya bisa membuang muka saat pengunjung minimarket melihatnya layaknya anak hilang. Di tengah usahanya memikirkan akan pergi ke mana, pintu minimarket terbuka. Sekali lagi, Romeo memalingkan wajahnya karena tidak ingin diteliti oleh orang yang baru keluar tersebut. Tapi semakin Romeo menutupi wajahnya dengan topi, suara derap langkah semakin terdengar menuju ke arahnya.
Romeo tidak ingin mengangkat wajahnya, tidak ingin menjawab jika orang yang kini berada tepat di depannya bertanya, juga tidak ingin menjelaskan apa-apa.
"Bukankah kamu orang yang tadi masuk ke minimarket?"
Suaranya terdengar familier di telinga Romeo. Romeo tidak tahu seberapa cepat ia memilih untuk mengangkat wajahnya dan menemukan iris coklat gelap yang tadi sempat bersinggungan dengan matanya.
Perempuan itu adalah pegawai minimarket yang tadi memberikannya minum dan sebungkus roti. Tubuhnya sedikit dibungkukkan untuk melihat Romeo dengan lebih jelas lagi. Menumpu berat tubuhnya sendiri dengan kedua tangan yang berpegangan pada lutut.
"Kenapa masih berada di sini? Apa kamu tidak mau pulang?" Perempuan itu bertanya lagi.
Romeo masih diam. Tidak ingin menjawab apa pun. Sampai tiba-tiba kening perempuan itu berkerut. Tubuhnya semakin membungkuk. Dan tak lama, topi yang berada di kepala Romeo diangkat oleh perempuan itu. Romeo hanya bisa melongo menyaksikan tindakan lancang tersebut.
Untuk sesaat, perempuan tersebut merasa terhipnotis oleh sosok Romeo. Bola mata kelabu, bulu mata lentik, bibir tipis, hidung mancung, alis yang terukir indah. Semuanya tercetak begitu sempurna di wajah Romeo. Kulit yang putih bersih menambah kesan mengagumkan yang dilihatnya. Tampan sekali, setidaknya itulah kesan pertama yang didapatkan oleh perempuan itu.
Pikirnya, Romeo terlalu sempurna untuk ukuran seorang laki-laki.
"Bisa-bisanya kamu—"
Semakin dilihat, semakin sadar saja si perempuan bahwa Romeo memang sangat tampan meski dengan wajah pucatnya.
"Wajah kamu terlihat sangat pucat, kenapa kamu tidak kembali ke rumah sakit saja? Tunggu sampai keadaan kamu benar-benar sudah pulih, baru setelahnya kamu boleh pulang." Perempuan itu menyela.
Romeo mendengkus halus lantas menyingkirkan tangan perempuan tersebut. Ia menarik paksa topinya yang masih berada di tangan perempuan tersebut. Memasangnya kembali di kepala.
"Tidak usah mengurusi kehidupan orang lain, lebih baik kamu pergi saja," usir Romeo sehalus mungkin.
"Ahh, ya. Saya lupa." Perempuan di depan Romeo memilih untuk berjongkok di depan Romeo. Memandang Romeo dengan lebih jelas lagi. "Kamu 'kan kabur dari rumah sakit, jadi sudah pasti tidak mau kembali lagi ke sana."
Ya, itu benar. Romeo menanggapi dalam hati.
"Tapi kenapa malah memilih duduk di depan minimarket? Kenapa kamu tidak pulang saja ke rumah kamu? Duduk di sini hanya akan membuat kamu jadi pusat perhatian orang lain yang keluar masuk minimarket."
Lagi, perkataan perempuan itu dibenarkan oleh Romeo. Sejak tadi dirinya memang hanya menjadi pusat perhatian orang yang keluar masuk minimarket. Mereka seolah bertanya-tanya siapa dirinya sebenarnya? tapi di waktu yang sama tidak berani menanyakan hal itu secara langsung. Hanya perempuan yang kini berhadapan dengannya yang mau buka suara dan dengan lancangnya banyak bicara.
"Saya baik-baik saja, dan kamu sebaiknya tidak terlalu banyak bicara. Pergi saja sana!" usir Romeo karena tidak tahu lagi harus bagaimana menghadapi perempuan di depannya.
"Baiklah, saya akan pergi." Perempuan itu berdiri. Satu tangannya menarik tas selempang yang tersampir di bahu kirinya. Mengeluarkan sebuah dompet dari sana. Selembar uang seratus ribuan ditarik dari dompet tersebut.
"Ambillah. Saya tahu kamu tidak punya ongkos untuk pulang." Perempuan itu mengeluarkan uang tersebut pada Romeo. Yang hanya dilihat oleh Romeo tanpa diambil.
Uang seratus ribuan sangat kecil untuk Romeo, tapi Romeo sadar bahwa untuk saat ini uang tersebut akan sangat berarti untuknya. Ia bisa bertahan satu sampai dua hari dengan uang itu. Tapi Romeo tidak menerimanya. Ia justru memilih berdiri dan hendak beranjak dari sana, tapi tubuhnya limbung saat ia berusaha untuk berjalan. Untunglah perempuan tersebut dengan sigap menahan lengannya.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya perempuan itu. Terdapat selipan kekhawatiran.
Romeo menjauhkan diri. "Saya baik-baik saja," sahutnya.
"Tapi tidak seperti itu kelihatannya."
Si perempuan lagi-lagi meneliti penampilan Romeo. Wajah Romeo yang tadi kelihatan pucat, kini bertambah pucat. Bahkan keringat dingin mulai membasahi dahinya. Rasa iba muncul begitu saja. Perempuan itu mengambil bungkus roti dan botol air mineral kosong yang masih tergenggam di tangan Romeo.
"Tunggu di sini." Langsung saja perempuan itu melesat cepat menuju tong sampah, membuang sampah tersebut, dan kembali ke depan Romeo dengan cepat.
"Saya akan mengantar kamu pulang."
Perempuan itu menarik tangan Romeo, tapi lagi-lagi Romeo menolak dengan menyentakkan tangan perempuan itu. Rasa sakit kembali terasa di kepalanya. Begitu menusuk dan membuat pandangannya mulai mengabur. Alih-alih menerima ajakan perempuan itu, Romeo justru berjalan menjauh. Tidak ingin merepotkan siapa-siapa, apalagi berusaha mempercayai siapa pun.
Dua langkah pertama Romeo baik-baik saja. Di langkah ketiga, ia menggelengkan kepalanya untuk mengusir rasa pening. Si perempuan tidak tahan melihat hal itu. Ia lagi-lagi menghampiri Romeo dan menggandeng tangannya.
"Saya itu bukan orang jahat, kamu tidak perlu khawatir karena saya tidak akan melukai kamu. Saya hanya ingin membantu. Itu saja. Jadi biarkan saya mengantar kamu pulang agar tidak terjadi apa-apa dengan kamu di jalan."
Di pinggir jalan. Perempuan itu menghentikan sebuah taksi. Tanpa bertanya lagi langsung membuka pintu penumpang dan mendorong Romeo agar mau masuk ke dalam, sementara dirinya berputar untuk masuk melalui sisi lain pintu.
Romeo bukannya takut pada perempuan yang menolongnya, ia hanya tidak ingin berhutang apa pun pada perempuan itu. Jauh di lubuk hatinya ia begitu berterima kasih karena perempuan itu memberikannya sebotol air mineral dan sebungkus roti, tapi lebih dari itu Romeo takut tidak bisa membalasnya.
"Cepat beritahu saya di mana alamat rumah kamu?"
Romeo diam. Ia hafal dengan baik di mana alamat rumahnya. Tapi untuk sekarang ia tidak boleh membocorkan hal itu kepada siapa pun, dan karena sedang dalam pelarian, tentu saja rumahnya bukanlah tempat yang akan dituju olehnya.
Karena itulah Romeo memilih menggeleng. Menolak bicara.
"Kalau kamu tidak mau bicara, ke mana saya harus mengantarkan kamu?" Lalu, seolah teringat sesuatu, si perempuan menjentikkan jarinya, "ponsel. Kamu pasti punya ponsel. Kabari saja orang rumahmu, bagaimana?" sarannya kemudian.
"Berhentilah bicara dan sebaiknya kamu menurunkan saya di sini. Saya tidak punya rumah dan tidak punya siapa-siapa, jadi saya tidak punya tempat tujuan."
Si perempuan tertegun. Pasalnya ia baru saja bertemu seorang laki-laki bak keturunan kerajaan yang begitu rupawan, tapi laki-laki tersebut baru saja mengakui bahwa dirinya tidak punya siapa-siapa dan tidak punya tempat tinggal? Bagaimana bisa? Memangnya orang bodoh mana yang mau mengabaikan laki-laki setampan dia? Atau memangnya orang tua mana yang tega membuang anak yang terlahir begitu sempurna?
"Seharusnya kamu yang berhenti bicara dan sebaiknya kamu memberitahu saya di mana tempat tinggal kamu. Saya yakin kamu memiliki seseorang yang dekat dengan kamu. Saudara atau siapa saja." Perempuan itu kembali berbicara karena tidak sepenuhnya percaya dengan perkataan Romeo yang mengatakan bahwa dirinya tidak memiliki siapa-siapa.
"Saya bilang saya tidak punya siapa-siapa!" kekeuh Romeo terdengar lelah. Kepalanya pening, tapi mendengar betapa keras kepalanya perempuan yang duduk di sampingnya menambah rasa pening itu.
Tidak ingin percakapan bertambah panjang, Romeo mencondongkan sedikit tubuhnya ke depan lalu berbicara, "Pak, tolong berhenti di sini." Pada sopir taksi.
Sang sopir mengangguk. Tidak lama, taksi berhenti. Belum sempat Romeo turun, perempuan yang duduk di sampingnya sudah meminta agar sang sopir kembali menjalankan taksi.
"Sebenarnya apa maumu?!" kesal Romeo menatap manik cokelat gelap itu.
"Tidak perlu meminta turun di sini. Sekarang sudah cukup sore. Anggaplah saya percaya kalau kamu memang tidak punya rumah, dan karena saya memiliki hati, saya tidak akan tega membiarkan kamu berkeliaran di jalanan. Tinggallah di rumah saya untuk beberapa waktu. Bagaimana?"
"Kenapa saya harus tinggal di rumah kamu?"
"Karena kamu tidak punya tempat tujuan. Kamu juga tidak punya uang sama sekali. Apa begitu saja harus saya jelaskan?"
"Tapi kamu bukan siapa-siapa saya."
Perempuan itu tersenyum. Senyum tipis nan hangat miliknya yang membuat Romeo sempat tertegun di minimarket tadi.
"Saya juga tidak akan meminta untuk diakui oleh kamu. Kamu bisa menganggap ini sebagai belas kasihan. Saya hanya bersimpati, dan kebetulan tempat tinggal saya cukup luas."
Romeo tahu bahwa dirinya tidak memiliki pilihan lain selain menerima tawaran perempuan tersebut. Selain karena dirinya tidak mengenal siapa pun yang sekiranya bisa membantu, perempuan yang sekarang sedang bersamanya juga tidak terlihat seperti orang jahat. Ia tidak bisa mempercayai perempuan itu sepenuhnya, tapi kebaikan hatinya tentu tidak bisa diabaikan. Ketulusan tergambar jelas di matanya, dan Romeo bisa melihat hal itu.
"Emma, namaku Emma. Kita bisa memulai perkenalan sebelum tinggal di atap yang sama."
Nama yang cantik. Itulah yang Romeo pikirkan. Terdengar lembut dan hangat. Persis seperti perangainya.
"Romeo," sahut Romeo membalas perkenalan.
"Waw, namamu bagus juga. Aku suka."
Begitulah awal perkenalan mereka. Singkat, tapi terdapat kisah sebelum saling menyebutkan nama.
Hari itu Romeo mempelajari beberapa hal. Pertama, di dunia ini masih banyak orang baik yang tersisa, terutama Emma yang baru saja dikenalnya. Perempuan yang memberinya minuman dan makanan saat ia sedang kelaparan. Kedua, ternyata tidak buruk juga hidup tanpa pengawasan. Ketiga, untuk pertama kalinya Romeo memberanikan diri melepaskan statusnya sebagai Tuan Muda dan menjadi orang biasa yang tidak memiliki siapa-siapa.
Meski awalnya berjalan dengan cukup buruk, Romeo senang karena di akhir ia menemukan tempat untuk singgah.