Bab 9 Negosiasi dengan Presdir

1936 Kata
“Kenapa? Kau ingin tahu pengalaman hamilku?” Satu studio senyap seketika. Virgo nyaris terbahak menghadapi kediaman canggung ini. Seolah orang-orang ini lupa bahwa mereka sudah menggosipinya sejak ia tiba. “Oh, maaf. Karena pernyataan tadi lucu sekali. Maksudku, tentu saja wanita akan tahu siapa ayah bayinya kan? Tidak mungkin dia tidak tahu.” Virgo tersenyum lebar dengan kilat mata yang tampak jahat. “Dokter pasti tahu kan ayah dari bayi Anda?” Dokter itu agak gelagapan, “Ah, ya. Tentu aku tahu.” Virgo lalu berpaling ke arah MC dan menatapnya dengan polos. “Oh, Nona Reyna, atau mungkin Anda tahu rasanya hamil tanpa tahu ayahnya siapa?” Semua studio masih hening. Wanita MC tidak menyangka akan mendapat serangan balik, jadi ia terpaku, memaksakan tawa sumbang dan memandang sekeliling. “Ha-ha … apa … apa maksudnya? Tentu saja tidak.” Virgo mengangguk hikmat. “Benar kan? Maaf ya. Pembicaraan ini agak sulit kuikuti berhubung aku belum menikah dan sedang tidak hamil juga. Jadi, mungkin Nona Reyna bisa lebih mewakili. Kau sudah menikah kan? Ini saat yang tepat untuk mengatur pola sehat suamimu. Apalagi jika dia suka minum-minum dan merokok juga. Siapa tahu kau sedang merencanakan kehamilan.” Virgo berbalik ke arah penonton. “Kalau kalian sudah menikah dan berencana punya anak, jangan lupa ikuti saran dokter yang tadi, oke? Oh, Crosie juga punya suplemen khusus untuk ibu hamil atau yang sedang program.” Gadis itu dengan luwes membelokkan topik untuk bisa menjual produk yang dia wakili. Virgo bisa mendengar seorang penonton menyembur menahan tawa. Peduli setan, ia tidak akan diam saja saat manusia-manusia piranha ini menggerogotinya. Untuk mengakhiri kecanggunan, kru mengarahkan agar penonton bisa memaksakan tawa. Studio akhirnya gemuruh lagi. Dan dengan kecanggungan itu, mereka melanjutkan syuting hingga selesai. Virgo pergi menghadap sutradara. “Maaf jika aku mengatasinya dengan buruk. Untuk rekaman yang di-upload, Anda boleh mengedit bagianku. Buang saja yang menurut Anda tidak layak. Terakhir, aku akan membayar penaltinya jika Anda ingin menuntut ganti rugi. Terima kasih atas kerja samanya.” Virgo membungkuk, sementara sutradara itu menggoyang tangannya, tampak agak panik. “Tidak. Itu bukan masalah. Mereka yang keterlaluan.” Pria paruh baya itu menatapnya dengan agak simpati. “Aku tidak akan memotong klipnya untuk menggiringmu ke arah negatif. Terima kasih atas kerjamu hari ini.” Setelah itu mereka berpamitan. Hari ini jadwalnya hanya satu, tapi Virgo merasa puluhan kali lebih lelah seolah baru saja selesai berperang. Ia memeriksa ponselnya. Puluhan telepon dari ibunya. Dan beberapa tagihan pembayaran. “Hari ini ada dua brand yang menyatakan pemutusan kontrak.” Eric bicara saat mereka sudah di mobil. Virgo memegangi perutnya. Mulai merasa mual. Baru menyadari bahwa ia belum memakan apa pun sejak semalam—termasuk makanan dari Eric tadi. Semua masalah ini membuat nafsu makannya hilang. “Kontrakmu untuk membintangi video musik akhir bulan ini juga akan ditinjau ulang. Perusahaan bilang mereka mungkin akan mengajukan penggantian model utama wanitanya.” Virgo memejamkan mata, bergumam pelan. Ia melirik jam tangan. Sudah pukul sembilan malam. Virgo turun dari mobil. Harus berjuang melewati dua-tiga wartawan yang tampaknya sedang berkemah di depan apartemennya. Ia heran, dari mana mereka tahu alamat tempat tinggalnya? Stalker zaman sekarang benar-benar mengerikan. Gadis itu berharap untuk segera tidur begitu memasuki apartemen. Ia mual dan ingin muntah, berkeringat dingin dan hampir tersandung. Dispepsianya berulah lagi. “Akhirnya kau pulang juga. Dasar anak kurang ajar!” Di tengah ruangan, berdirilah orang yang paling tidak ingin ia temui. Victoria melangkah mendekatinya dengan wajah murka dan pandangan tajam. Virgo belum sempat bertanya ‘ada apa’, tapi wanita itu sudah menamparnya sekuat tenaga. Karena kepalanya memang sedang pusing, Virgo sampai terdorong dan nyaris tersungkur. Kepalanya sakit dan pipinya panas seolah terbakar. “Apa lagi yang kau lakukan sekarang, sialan? Bisa-bisanya kau terlibat skandal kehamilan seperti ini?! KATAKAN PADAKU! DENGAN SIAPA KAU BERZINA SAMPAI BISA-BISANYA MENGHANCURKAN SEMUANYA SEPERTI INI! Jika ingin menjadi p*****r, setidaknya jangan sampai hamil atau malah ketahuan wartawan! Sudah setua ini pun, kau masih tetap t***l?!” Telinganya pengang karena tamparan keras itu. Dan mendengar teriakannya membuatnya bertambah sakit. “Sekarang apa yang akan kau lakukan, hah?” Wanita itu mendorong kepalanya, mengatainya t***l melalui tindakan. Virgo memejamkan mata, menahan frustrasi. Tangan Virgo gemetar saat menepis ibunya sementara tangan yang lain meraih pipinya yang nyeri. Ia tidak ingin menangis. Ia benar-benar tidak ingin menangis di hadapan ibunya, tapi semua kelelahan dan rasa frustasinya tiga hari ini membuat hatinya melemah. “Aku tidak hamil.” Ia menjawab dengan suara pelan yang tertahan. Wajah Victoria bertambah mengerikan. “Apa kau bilang?” “KUBILANG AKU TIDAK HAMIL!” Virgo membentak. Membalas tatapan ibunya dengan air mata nyaris tumpah. Bahkan jika wanita itu tidak bersungguh-sungguh, tidak bisakah ia setidaknya tidak menyakitinya dan berpura-pura peduli? Bagaimanapun, ia adalah ibunya kan? Tapi kenapa …. Virgo membuang pandangan, tertawa ironis pada seluruh kegilaan ini. “Dari semua orang, kau adalah yang paling tidak berhak mengatakan hal seperti itu padaku.” Virgo menatap ibunya dengan tajam. Berhasil menahan air matanya meskipun seluruh tubuhnya bergetar. Tidak ingin diam di sana lebih lama lagi, Virgo berbalik dan keluar dari tempat itu. Napasnya satu-satu karena tenggorokannya tercekat. Ia beberapa kali tersandung dan hampir menabrak karena pandangannya buram. Begitu keluar gedung, ia menarik napas dengan tersendat. Terisak sebentar sambil menggigit bibir agar berhenti menangis. Bahkan setelah begini pun, yang ia rasakan bukanlah benci melainkan harapan, berharap agar ibunya tidak terlalu keras padanya. Ini benar-benar menyedihkan. Virgo menghela napas. Saat itu barulah ia menyadari bahwa bukan hanya wajahnya yang basah. Tapi juga rambut, tangan, dan tubuhnya. Hujan deras itu mengguyurnya tanpa ampun. Meredam tangisannya yang hilang-timbul. Meskipun basah kuyup, ia akhirnya bisa bernapas lagi. Virgo sudah takut akan tertangkap oleh wartawan dalam keadaan memalukan, tapi kemudian menyadari bahwa tak ada siapa pun di luar gedung apartemennya. Apakah mereka akhirnya memutuskan untuk pulang karena tak bisa memperoleh apa pun? Dengan pikiran berkecamuk, Virgo mulai berjalan. Terus menyusuri trotoar dan berteduh di halte terdekat—yang sama sekali tidak ada orang. Virgo diam di sana untuk beberapa saat. Melewatkan lebih dari sepuluh menit hanya dengan termangu memandangi ujung atap halte dan langit malam. Masih bisa merasakan nyeri dan perih di pipinya. Ia mengeluarkan ponselnya. Memandang lama pada satu nama di laman kontak. Ekspresinya masih kosong saat ia akhirnya menekan tombol panggil. Orang di seberang telepon mengangkatnya pada dering ketiga. “Halo. Nona Virgo Thanaya?” Virgo bernapas lambat. Masih tidak yakin apakah ini keputusan yang tepat. Mungkin ia sudah terlalu lama diam karena orang di seberang sana memanggilnya lagi. “Halo?” Dengan sisa keberaniannya akhirnya Virgo mengalahkan ketakutannya dan bertanya dengan tegas. “Ya. Ini aku. Di mana Tuan Issander sekarang?” *** Leo membolak-balik kertas yang entah tumpukan keberapa di ruang kerjanya. Jasnya sudah dilepas, meninggalkan kemeja putih bersama dengan vest abu-abu gelap yang membalut tubuh tegapnya dengan pas. Kemejanya sudah menggulung hingga siku. Ia memeriksa biodata itu lagi. Daftar partisipan yang telah disaring sesuai instruksi Leo. Semua orang mungkin menganggap ia tidak serius dengan rencana surogasi ini. Padahal Leo tidak pernah main-main sejak memutuskan menggelarnya. Pembaruan kesepakatan dengan kakeknya tidak mengubah keputusannya. Pasalnya, ia juga tidak memiliki kandidat lain dari wanita-wanita kenalannya yang dirasa cukup potensial dan cocok untuk dijadikan istri. Apalagi untuk jadi ibu anak-anaknya. Karena itulah, bagi Leo, opsi terbaiknya saat ini adalah mencari ibu yang cocok, kemudian mengurus pernikahannya kemudian. “Tidak adakah yang lebih berkarakter lagi? Kenapa semua wanita terlihat sama?” Leo mendesah setelah membubuhkan tanda silang di kertas. Beralih ke berkas selanjutnya. Ia butuh wanita yang bukan hanya sehat, tapi juga tangguh. Dan ia tidak ingin wanita dengan hati selembut kapas terlibat dalam urusan rumit ini. Ia tidak ingin berakhir seperti sahabatnya Taurus Anderson yang menggila hanya gara-gara masalah cinta dengan istri kontraknya. Pria itu memijit tulang hidungnya. Menyeleksi orang-orang ini membuatnya kesal karena lagi-lagi teringat pada Virgo. Mau dipikir berapa kali pun, Leo selalu kembali ke titik awal—ia menginginkan gadis itu. Virgo terasa begitu tepat bukan hanya dari penampilan, tapi juga ekspresi, karakter, sifat, dan segala sesuatu yang ia punya. Ia mengecek berita terbaru. Situasi gadis itu benar-benar tidak bagus. Hati busuknya berhasil membuatnya mendiamkan semua situasi ini. Tidak membantu bahkan sebagai presdir agensinya sekalipun. Namun, tiga hari berlalu tanpa ada yang terjadi. Gadis itu tetap tidak muncul. Aku yakin dia pasti sudah menghabiskan beberapa milyar untuk mengganti rugi semua kontrak yang dibatalkan, tapi dia tetap tidak tergerak? Dengan sisa nuraninya yang nyaris nihil, akhirnya Leo menghentikan pengabaiannya dan mulai memikirkan solusi untuk rumor itu. Agak separuh menyesal, mungkin seharusnya kemarin ia meluncurkan beberapa gosip panas lain untuk mengompori. Kali saja gadis itu akan berubah pikiran. Ia sedang memikirkan rencana lain saat tiba-tiba pintu diketuk. “Ya, masuk.” Seluruh pikirannya ambruk begitu melihat siapa yang muncul di muka pintu. Saat itu juga ponselnya bergetar. Pesan dari Jeremy. [Tuan, Nona Virgo menanyakan keberadaan Anda. Dia bilang ingin bertemu.] Leo mendongak menatap Virgo. Menahan sudut bibirnya yang hampir tersenyum puas dan jantungnya yang gemuruh. Mungkin ia tidak perlu repot-repot karena gadis itu datang dengan kakinya sendiri. Pria itu bangkit, berjalan memutar lalu bersandar ke mejanya dengan tangan terlipat di d**a. Virgo menatapnya lurus dan tajam. Leo lalu menyadari seberapa kacau keadaannya. Tubuhnya basah kuyup. Dan ia hampir menggigil. “Kenapa berdiri di sana? Katanya ingin bertemu.” Virgo menahan listrik yang merayap di tulang belakangnya mendengar suara berat itu. Ia melangkah maju. Berhenti saat berdiri setidaknya empat meter di hadapannya. Untuk saat yang lama, hanya ada keheningan di antara dua orang yang menatap lekat. “Aku benar-benar tidak menyukaimu.” Virgo berkata dengan tekanan. Leo tidak menyangka kalimat pertamanya adalah untuk mengatainya, jadi ia terpaku. “Aku benci orang-orang sepertimu.” Hinaan yang lain. Ekspresi Leo mengeras. Ia maju beberapa langkah. Kemarahannya perlahan naik. Mengatainya adalah satu hal, tapi menyamakannya dengan orang lain—yang bahkan tidak ia kenal—adalah perkara lain. Leo berdiri menjulang di hadapan Virgo. Menatap lekat gadis itu dan menantangnya melakukan lebih. “Teruskan.” Virgo menelan ludah gugup. Figur tinggi dan suara berat itu membuat dirinya merasa terancam. “Kenapa harus aku? Bukankah kau punya banyak perempuan lain yang bisa kau tawari untuk posisi itu?” Leo membungkuk sedikit untuk menyejajarkan wajah mereka. Matanya bersinar mengejek, “Bukankah kau sudah menolak tawaran itu?” Leo bisa melihat wajah pucatnya. Baru itulah ia menyadari bahwa sebelah pipi gadis itu merona merah dengan cara yang tidak wajar. Leo mengamati wajahnya lebih lekat. Tidak hanya pipi, tapi juga matanya. “Aku bisa menerima tawaran untuk kekasih bayarannya, tapi aku tidak yakin tentang ibu pengganti.” Leo lagi-lagi tidak bisa menahan dengkusan jengkel. Lihatlah rubah liar ini. Dia bahkan tidak menyatakan kekalahan sedikit pun tapi bertindak seolah aku masih menawarinya untuk menerima proposal itu? “Tawarannya berlaku untuk dua hal. Jadi, tidak bisa hanya memilih salah satu.” Virgo tidak menjawab. Ia masih menatap Leo tajam seolah takut Leo akan menyerangnya jika ia mengalihkan pandangan. Kemudian menunduk setelah tak tahu harus mengatakan apa. Tidak bisa. Bagaimanapun, ia tidak bisa membuat mulutnya mengatakan ‘tolong’. Leo mendesah, menunduk memandangi si rubah basah kuyup itu. “Apakah kau hamil?” Virgo mendongak. “Tentu saja tidak. Itu salah paham.” “Lalu kenapa kau tidak mau menjadi ibu pengganti?” “Apakah itu benar-benar harus dilakukan?” “Aku membuat gempar seluruh negeri bukan hanya untuk main-main. Aku memang membutuhkan seorang anak.” Setelahnya hanya ada keheningan lama, tapi kali ini Leo semakin tidak sabar dan agak berdebar. “… Tidak bisa.” “Tidak bisa?” tanya Leo tidak yakin. Virgo mendesah dan menatap Leo datar. “Rahimku rusak. Kemungkinan aku tidak akan bisa hamil. Jadi, aku tidak bisa menepati persyaratanmu tentang ibu pengganti meskipun aku menginginkannya.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN