Bab 8 Skandal Kehamilan

1708 Kata
Ting-tung! Ting-tung! Bel apartemen Virgo berbunyi heboh seolah hampir putus. Tak lama kemudian, Eric masuk dengan wajah panik luar biasa. “Virgo! Apa kau masih tidur? Kau tidak membukakan pintunya, jadi aku langsung masuk.” Suara pria itu menggema di apartemen yang lengang. Karena seluruh lampu dimatikan, tempat itu kini agak suram. Apalagi Virgo juga memasang gorden tebal berwarna hijau gelap untuk menutupi seluruh dinding kacanya. Eric menyibak selebar-lebarnya agar setidaknya cahaya matahari masuk untuk menandakan ada kehidupan. “VIRGO—!” “BERISIIIKK!” Teriakan serak dan marah terdengar dari arah kasur. Eric mengambilkan segelas air lalu membawakannya padanya. Di atas kasur, Virgo masih berbalut selimut dan terpejam. “Bukankah katamu jadwal kita pagi ini kosong?” gusar Virgo dengan serak, masih setengah tidur. Kesal karena ia merasa baru tidur kurang dari tiga jam. Eric menempelkan bibir gelas ke mulut Virgo, gadis itu minum dengan mata tertutup “Jam berapa kau pulang semalam?” Alis Virgo bertaut heran. Suara Eric benar-benar serius dan panik. Ia terpaksa membuka mata walau sambil menyipit akibat silau. “Tentu saja setelah kau mengantarku pulang.” “Kau serius? Kau benar-benar langsung masuk setelah itu?” Tatapan Eric benar-benar menyelidik, membuat Virgo agak tidak nyaman dan mau tidak mau ikut gelisah. Ia memang tidak memberitahu Eric saat pergi menemui Libracia. “Memangnya kenapa?” “Sebaiknya kau lihat ponselmu.” Mendengar hal itu, jantung Virgo tidak keruan. Firasat buruknya semakin menjadi saat tahu bahwa dirinya menjadi trending topic hari ini. Ia membaca artikel teratas. Judul-judul berita di sana membuat kepalanya sakit dan mual hebat. Virgo Thanaya, selebriti masa kini sekaligus bintang iklan nomor satu, diduga sedang hamil. Virgo Thanaya dikabarkan terlihat sedang diam-diam membeli test pack di apotek C. Apakah itu anak Sutradara X? #A mengaku melihat Virgo diantar seorang pria non-selebriti yang diduga sebagai kekasihnya saat membeli test pack dini hari tadi. Berita besar! Virgo Thanaya, Si Rubah Gila, ternyata sedang hamil 3 bulan! Tubuh Virgo lemas seketika. Dadanya berdebar hebat. Bagaimana bisa? Ia yakin tidak ada yang melihatnya semalam. Apakah mungkin penjaga tokonya? Atau ada yang diam-diam mengikutinya? Judul berita itu semakin lama semakin aneh dan fantastis. Tiba-tiba saja ia dianggap hamil anak sutradara, menjadi selingkuhan petinggi perusahaan, atau bahkan korban penyerangan seksual kekasihnya yang bahkan tidak pernah ada. “Virgo, ada apa ini? Sebenarnya apa yang terjadi?” Nada Eric melembut—separuh marah dan separuh lelah. Bagaimanapun, masalah Virgo akhir-akhir ini terlalu banyak. Gadis itu akan habis dimakan media jika terus seperti ini. Virgo terdiam lama. Ia memang sempat menghabiskan waktu di apartemen Libracia dan baru pulang pukul tiga pagi. Karena kondisi sahabatnya itu sedang memprihatinkan. Masalahnya, ia tidak bisa memberitahu bahwa test pack itu untuk Libby. Libracia Esther adalah atlet ternama negeri ini, perwakilan nomor satu negara mereka yang akan maju ke olimpiade dalam cabang figure skating. Isu kehamilan, apalagi hamil di luar nikah, hanya akan membuat karirnya runtuh. Virgo bahkan tidak tahu apakah Libby akan bisa tetap menjadi atlet. Ah, kepalanya sakit lagi. “Eric, aku tidak hamil. Percayalah. Aku tidak bisa bilang itu bukan aku. Aku memang membelinya, tapi itu bukan untukku dan aku tidak hamil.” Wajah Eric tampak bingung. Virgo tidak membantah kalau itu bukan dia. Lalu sebenarnya apa …? Virgo menggulir layar ponselnya. Membaca komentar-komentar malah membuatnya tambah mual karena stres. Isinya hanya menyumpahinya dan menyuruhnya berhenti menjadi artis. Ia menutup ponsel lalu mengambil gelasnya lagi untuk minum beberapa teguk. Melihat itu, Eric mendesah pelan. Meski Virgo kadang adalah pembangkang, tapi dia bukan pembohong. Eric duduk di tepi kasur. “Rumormu bulan ini benar-benar tidak terkendali. Jangan terlalu memikirkannya. Dan tidak perlu sering-sering membuka media sosial.” Virgo diam, memutuskan berbaring lagi. Sakit kepalanya bertambah dan ia menjadi seratus kali lipat lebih lelah dari sebelumnya. Pria itu kemudian bangkit. “Oke. Biar aku yang berdiskusi dengan perusahaan tentang statement apa yang harus dikeluarkan. Aku sudah bawakan sarapan. Tidurlah lagi lalu memakannya nanti. Jadwalmu padat untuk seminggu ke depan. Kau mungkin tidak akan bisa tidur.” Eric mengusap kepala Virgo lalu pergi setelah menelepon seseorang. Virgo memejamkan matanya rapat. Kepalanya berisik. Apa lagi yang harus ia lakukan untuk membereskan skandal ini? *** “Haaa. Ini sudah yang ke berapa?” Virgo memperhatikan pesan di layar ponselnya. Sudah tiga hari berlalu sejak berita kehamilannya mencuat. Ponselnya berdering hampir setiap saat. Dan bukannya mereda, semuanya menjadi semakin panas. Berita tidak berhenti soal dia yang tertangkap membeli testpack, tapi juga mengungkit soal proyek musik videonya dengan grup laki-laki terkenal tahun lalu, promosi brand dengan salah satu aktor, kemunculannya di salah satu hotel, termasuk isu tidur dengan produser dan berkelahi dengan staf terakhir kali. Orang-orang sepertinya meriang jika sehari saja tidak bergosip. Virgo masih menggulir layar saat benda itu bergetar. Telepon dari Eric. “Halo?” “Virgo. Aku ingin mengabari bahwa kontrak kita dengan salah satu merk minuman dibatalkan. Aku sudah mengurus pembayaran penaltinya tadi. Jadi, tidak perlu kaget jika nanti mereka menghapus foto dan videomu di periklanan mereka.” Virgo menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi. Menghadap dinding kaca yang menampakkan pemandangan langit siang itu—hari ini ia tidak keberatan untuk membuka tirainya. “Oke,” jawab Virgo singkat. “Aku sudah mengurus sebagian besar jadwalmu, tapi sepertinya kita terpaksa untuk syuting satu proyek sore ini.” Virgo berkedip sekali. Ekspresinya melamun. “Oke.” Setelahnya telepon berakhir. Virgo memeriksa aliran dananya. Kemudian membuka lagi pesan terakhir yang sudah dipandanginya berjam-jam. Nama “Kepala Yayasan” muncul di bagian atas. Pembangunan akan dihentikan dulu. Karena berita baru-baru ini, saya khawatir kita juga tidak akan bisa mengurus izin operasionalnya untuk sementara. Virgo menutup ponselnya. Membenamkan kepalanya ke lengan. Karena skandal ini, semua rencananya berantakan. Reporter bodoh itu seharusnya dipecat saja karena tidak bisa menggali fakta dengan benar. Ia masih marah, tapi terpaksa menyeret kakinya untuk bersiap-siap. Meski dunia runtuh sekalipun, ia tetap harus pergi bekerja sekarang. Sebagian besar proyek dan schedule Virgo sudah dibatalkan karena skandal terakhir. Namun, beberapa proyek besar yang telah direncanakan sejak berminggu-minggu sebelumnya tidak bisa dibatalkan begitu saja. Termasuk talk-show hari ini. Ada beberapa narasumber; dokter, model, dan ibu rumah tangga. Virgo hadir sebagai publik figur sekaligus brand ambassador dari produk suplemen kesehatan. Pembicaraannya mengenai tips diet sehat dan Virgo tampil untuk mempertegas bahwa memperbaiki pola makan bukan hanya akan jadi sehat tapi juga cantik. Omong kosong. Siapa bilang hidupnya ini sehat? Ketegangan sudah mengisi begitu ia muncul ke set lokasi. Hampir semua orang mencuri lihat, dan Virgo bisa mendengar iring-iringan bisikan setiap kali ia melangkah. Jika diingat-ingat, ini adalah pertama kalinya ia muncul ke publik setelah skandal itu. “Coba lihat perutnya, apakah kelihatan?” “Mana terlihat, bodoh. Kalau usianya masih awal tidak mungkin kelihatan.” Virgo refleks menoleh, memandang tukang gosip itu dengan tajam. Orang-orang itu seketika diam. Virgo masuk ke ruang ganti miliknya. Mulai bersiap saat penata rias mulai mendandaninya. “Kau hanya perlu hadir dan sesekali menjawab saat obrolannya tepat. Seharusnya jadwal hari ini tidak akan lama. Kami juga sudah sepakat untuk tidak membahas apa pun soal beritamu akhir-akhir ini, tenang saja.” Eric mengingatkannya untuk kelima kali bahwa ini adalah siaran langsung. Menepuk punggungnya saat ia akan menaiki panggung. Pria itu tampak cemas. Virgo hanya mendesah. “Jangan terlalu cemas.” Eric merasa semakin pahit. Seharusnya ialah yang menghibur gadis ini, bukan malah sebaliknya. “Tidak apa-apa. Semuanya akan baik-baik saja,” ulang Virgo. Namun, tentu saja. Tidak ada yang baik-baik saja. Para pemburu berita itu tidak akan meninggalkannya sendirian. Tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Kebetulan lainnya adalah bahwa dokter tamu hari ini adalah wanita yang sedang hamil. MC terus-terusan menggiring pembicaraan secara halus tentang kaitan kehamilan dengan pembicaraan mereka dan memancingnya untuk menimpali. “Nah, Virgo. Apakah kau tahu bahwa ibu hamil sebenarnya boleh mengonsumsi kafein, hanya saja batasnya kurang dari 300 mg per hari.” Virgo yang tiba-tiba disebut oleh sang MC tidak bisa seketika mengatur wajah dan respons. “… eh, ya?” Sang dokter muda itu lalu mengambil alih. “Itu benar. Selain itu, ibu hamil juga tidak dianjurkan mengonsumsi makanan mentah ataupun setengah matang.” “Ah, ada satu lagi kan, Dok, yang tidak boleh dikonsumsi?” Tamu lain tiba-tiba ikut menimpali. “Alkohol! Berapa pun usia kandungannya, ibu hamil tidak boleh mengonsumsi alkohol.” Satu studio seolah tertawa-tawa. Membuat Virgo mengingat artikel lain pagi ini yang mengkritik kebiasaannya tentang alkohol—ia terkenal memiliki toleransi yang tinggi. Virgo menatap para pembicara itu dengan perasaan campur aduk. Mempertimbangkan apakah ia sebaiknya menyudutkan omongan mereka yang tidak pantas, atau meneriaki semua audiens untuk diam. “Namun, ada satu hal yang mungkin tidak diketahui oleh masyarakat. Respon ibu saat hamil itu sangat bergantung pada kualitas s****a dari suaminya. Jadi, kalau saat hamil dia terus-terusan sakit, mabuk, tidak bisa makan, dan beberapa keluhan kesehatan lain hingga kejadian keguguran sekalipun, itu bisa saja terjadi karena dipengaruhi oleh kualitas s****a itu sendiri.” “Oh, saya juga pernah dengar soal itu!” Sang MC kurang ajar itu menimpali antusias, memberikan Virgo lirikan sinis yang tersirat. “Itulah kenapa penting untuk para suami menjaga pola makan dan kesehatannya selama masa-masa sebelum pernikahan hingga pra-perencanaan kehamilan.” Dokter itu masih dengan polos menyimpulkan. “Oh, tapi itu repot juga ya, bagaimana kalau dia bahkan tidak tahu siapa ayah bayinya.” Celetukan sang MC semakin berani saat dia melancarkan tawa kapitalis palsu sambil mengangguk pada Virgo. Sekali lagi seluruh studio gemuruh dalam tawa. Virgo tidak menjawab. Ini benar-benar memuakkan. Jika saja ini bukan siaran langsung, maka ia pasti sudah membalik meja. Menunjuk wajah MC tidak tahu diri itu dan mengatainya sejuta sumpah-serapah. Tapi Virgo melihat ekspresi cemas Eric di antara para kru. Dan ia ingat ia harus membayar mahal jika benar-benar akan menghancurkan siaran ini. Merasa muak dengan situasi ini, Virgo akhirnya mendengkus dan tertawa. Benar-benar tertawa hingga para pembicara terdiam sejenak dan menatapnya ragu. “Aih, kau ini. Seharusnya bicara yang jelas dong kalau mau membicarakan soal itu.” Bibir Virgo tersenyum tapi matanya menatap MC itu dengan kilat penuh ejekan. Seluruh studio diam seketika. Tidak ada yang menyangka Virgo akan berani mengungkit soal skandalnya di hadapan jutaan pemirsa yang mungkin sedang menyaksikan. Virgo melirik audiens, mendapati wajah Eric yang tegang dengan sinar mata memohon, menggelen pelan padanya. Virgo tersenyum setengah, kembali pada si MC dengan menantang. “Kenapa? Kau ingin tahu pengalaman hamilku?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN