7. THE OFFER

1801 Kata
Suasana aneh tampak menyelimuti ruangan luas yang berfungsi sebagai poli kesehatan jantung tersebut. Semua perawat dan beberapa dokter yang bertugas saling melemparkan tatapan aneh pada sosok dokter residen yang sedang duduk di bangku pojok sambil tersenyum sendiri itu. Padahal, tangannya tengah menari dengan lincah untuk menulis lembar laporan. Dan mereka yakin, tidak ada satu pun yang lucu dari laporan yang sedang ditulisnya tersebut. Beruntung, kali ini sedang tidak ada pasien yang menggunakan jasa pengobatan mereka. "Dokter Annisa, baik-baik aja, 'kan?" Merasa namanya disebut, sang dokter segera menghentikan aktivitas tangannya dan menoleh ke sumber suara. "Eh? Ah, nggak pa-pa." Dengan sedikit tercengang, Annisa berseru. Gadis itu tersenyum malu teringat sikapnya yang memang aneh dan pasti akan memicu salah paham dari orang yang melihatnya. "Ya ... dari tadi Dokter senyum-senyum terus. Padahal lagi nulis laporan," balas sang suster yang bernama Rindi tersebut. "Saya lagi bahagia aja," jawab Annisa diplomatis. Ia sama sekali tidak berbohong karena pada kenyataannya, apa yang ia alami pagi hari tadi membuatnya sangat bahagia. "Bahagia karena tadi dianterin cowoknya ya, Dok?" seloroh perawat bernama Wina yang pagi tadi memang melihat kedatangan Annisa. Namun, ia segera menutup mulutnya dengan telapak tangan begitu menyadari ucapannya. Selama ini, Annisa memang bukan tipikal orang yang akan menceritakan urusan pribadinya di tempat kerja. Menurutnya, itu merupakan ranah privasinya sendiri. Annisa memang dikenal sebagai dokter yang ramah namun tertutup. Bahkan, dengan salah satu teman dekatnya sesama dokter pun, Annisa masih menjaga rapat ranah privasinya. Gadis itu hanya akan terbuka pada teman-teman satu gengnya yang terdiri dari 6 orang tersebut, terutama Clara dan Diandra. Minus untuk masalah perasaannya pada sosok Abiyan, hanya Clara yang mengetahui hal itu. Itu juga bukan karena Annisa yang bercerita tetapi Clara yang sangat peka. "Itu bukan cowok saya, kok. Tapi teman dari jaman kuliah," jawab Annisa sambil tersenyum. Ia sama sekali tidak berbohong, 'kan? "Tapi sepertinya ganteng, Dok. Eh." Wina kembali menutup mulutnya menyadari ucapannya yang spontan tersebut. Annisa hanya tersenyum, demikian juga rekan-rekannya yang lain. "Namanya juga cowok. Udah pasti ganteng lah," sahutnya diplomatis. Setelahnya, nyaris tidak ada lagi obrolan yang terdengar di dalam ruangan tersebut. Semuanya berfokus pada pekerjaan masing-masing. Sebab, saat tidak ada pasien yang menggunakan jasa mereka seperti saat ini merupakan waktu yang tepat untuk mengerjakan laporan mingguan yang biasanya akan memakan waktu hingga malam hari untuk menyelesaikannya. Beberapa menit berlalu, hingga suara ketukan pintu membuat fokus mereka teralihkan. Segera saja mereka bersiap-siap menyambut kedatangan seseorang yang disangkanya pasien tersebut. "Dokter Annisa." Suara bariton itu membuat Annisa menoleh. Gadis itu tampak terdiam selama sepersekian detik guna mencerna suasana yang terjadi saat ini. "Iya, Dokter Adam," jawab Annisa seraya beranjak bangkit dari tempat duduknya. "Bisa ke ruangan saya sekarang? Ada yang ingin saya bicarakan," pinta Adam yang langsung diangguki oleh Annisa. Tentu saja Annisa harus mengiyakan, memangnya ia bisa menolak keinginan putra pimpinannya tersebut? Adam beranjak setelah mengangguk pada para anak buahnya yang masih memperhatikannya. Annisa menyusul langkahnya kemudian. "Dokter, semangat ya," celetuk Rindi lirih pada Annisa yang melewatinya. Gadis itu terkekeh lantas mencubit pelan pundak sang perawat. "Saya berasa mau ujian kompetensi lagi." "Bentar lagi, Nis," sahut Anastasya yang juga merupakan seorang dokter residen jantung, satu angkatan dengan Annisa namun berbeda universitas. "Ya nggak usah diingetin, Sya," balas Annisa jengah, membuat para rekannya yang lain tertawa geli. Annisa melangkah cepat menuju lift. Adam terkenal sebagai atasan yang sangat tegas dan tidak mau menunggu lama jika sudah memiliki kehendak, terutama mengenai urusan pekerjaan. Ruangan para pimpinan terletak di lantai 9, sedangkan poli jantung terletak di lantai 3. Itulah sebabnya ia harus menggunakan lift. Annisa mengira Adam sudah menuju ke ruangannya terlebih dulu, namun ternyata laki-laki itu masih berdiri di depan pintu lift. Karena sejatinya, Adam memang menunggu Annisa. "Ada hal penting apa, Dokter Adam?" tanya Annisa begitu kedunya sudah berada di ruangan Adam. Ia duduk di kursi yang berhadapan dengan kursi kerja kebesaran Adam. "Saya ingin menanyakan progres Master dari Dokter Annisa. Kemarin, saya memeriksa berkas administrasi para dokter residen yang bertugas di sini. Dan sepertinya, Dokter Annisa akan segera lulus. Benar?" Adam membuka percakapan. Annisa mengangguk sekali sebagai jawaban, "3 bulan lagi saya akan mengikuti ujian kompetensi dari universitas, Dok. Kalau lulus, maka saya akan berangkat ke Nuenberg untuk menyelesaikan semua syarat Spesialis dan Master saya," jawabnya lugas. "Di Nuenberg untuk berapa lama?" "Kalau untuk pendidikannya sekitar 1 sampai 1,5 tahun, Dokter. Tetapi syarat dari universitas di sana, saya juga harus mengabdi dulu di rumah sakit milik universitas selama 1 sampai 2 tahun. Itu sebagai syarat atas beasiswa yang sudah diberikan pada saya." "Setelah itu, Dokter Annisa akan kembali bertugas di sini?" tanya Adam yang terdengar penuh harap. "Kalau boleh, saya ingin seperti itu, Dokter. Tapi bukankah saat saya lulus dan ingin kembali bekerja di sini, maka saya harus mengajukan CV yang baru?" tanya Annisa mengingatkan mengenai ketentuan kontrak. "Itu memang benar, Dokter Annisa. Tetapi Dokter Annisa tidak perlu khawatir. Saya bisa mengurusnya dengan mudah," jawab Adam yang terdengar menenangkan, untuk orang lain. Namun, tidak demikian dengan Annisa. "Jangan begitu lah, Dokter. Saya tidak enak sama yang lain.” Jawaban santai yang diberikan oleh Annisa secara tidak langsung menolak penawaran dari Adam tersebut. Hal seperti itu memang terdengar menggiurkan, akan tetapi Annisa sama sekali tidak tertarik. “Semua itu bisa menjadi rahasia kita, bukan?” Adam menimpali dengan tak kalah santai. Annisa tersenyum sekilas, “Iya memang, tapi … saya tidak bisa menjawab sekarang, Dokter,” ungkapnya jujur. Adam membalas senyuman Annisa, “Baiklah, kita lupakan itu. Tapi ap aitu berarti Dokter Annisa akan memilih berkarir di Jerman?” Adam tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya. “Mungkin … peluangnya half and half,” jawab Annisa setelah sejenak berpikir, karena ia sendiri memang belum memutuskan akan berkarir di mana nantinya. Bisa di Jerman, bisa di Jakarta, atau bahkan pulang ke Surabaya. "Ah, baiklah kalau begitu. Terima kasih atas waktunya. Dokter Annisa boleh kembali ke ruangan.” Adam menyilakan. Sebenarnya, bukan hal baru untuknya tetapi penolakan Annisa kali ini terasa lebih dingin dan terbuka. "Kalau begitu saya permisi, Dokter Adam. Mari." Annisa berpamitan dengan sopan. Gadis itu lantas berdiri dan menganggukan kepalanya. Setelah mendapat balasan dari Adam, ia segera melangkah keluar dari ruangan penting tersebut. "Kenapa kamu begitu sulit untuk didekati, Nis?" gumam Adam sepeninggal Annisa dari ruangannya. Sementara Annisa segera memaski lift. Tujuan utamanya kali ini ialah ruang poli jantung. Jika keadaan di sana tidak mendesak maka ia agan menuju ke kantin. Perutnya sudah sangat lapar dan saat ini sudah memasuki jam istirahat siang. Tentu saja Annisa merasa kelaparan sebab pagi tadi ia hanya makan sepotong onigiri. Yang sepotong lagi kan sudah diberikan pada Abiyan. Usai memastikan keadaan di ruang poli jantung aman terkendali, Annisa kini melangkah menuju kantin rumah sakit. Untuk menu makan siang ini, Annisa memilih membeli nasi padang. Ia ingin makan dengan kenyang karena siang ini ia memiliki banyak sekali tugas. Baik yang berhubungan dengan pekerjaannya maupun kuliahnya. "Annisa." "Ya Tuhan," seru Annisa yang terkejut karena tiba-tiba saja seseorang memeluknya dari belakang. Untung saja piring dan minumannya sudah ia letakkan di atas meja. "Helena! Lo kebiasaan, deh. Suka banget bikin orang kaget. Kalau gue jantungan gimana?" Anisa bersungut-sungut sementara sang pelaku hanya tersenyum tanpa dosa mendengar omelan dari sahabatnya sejak mulai bekerja tersebut. "Kan lo calon dokter jantung, Nis," jawabnya dengan santai yang membuat Annisa melotot. "Mulut lo tuh, ya," desisnya yang justru membuat Helena semakin tertawa. "Bercanda, Nisa. Maaf, deh," ucapnya dengan raut majah bersalah. Helena sangat suka mengusili Annisa tetapi tetap saja ia akan meminta maaf pada akhirnya. "Tumben lo bisa istirahat tepat waktu? Poli saraf lagi sepi?" tanya Annisa sebelum menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. "Sepi sih enggak. Ada beberapa pasien tapi masih wajar, nggak sampai membuat kita-kita harus memundurkan jam istirahat," jawab Helena seraya mencomot begitu saja kerupuk udang dari piring Annisa. Sama seperti Annisa, Helena juga berstatus sebagai dokter residen di rumah sakit tersebut. Sama-sama mahasiswi beasiswa juga. Bedanya, Helena bukan mahasiswa double degree seperti Annisa. Gadis itu memilih untuk berkuliah di kampus Nusantara saja sebab ia sangat malas mempelajari bahasa baru. "Gue pesen makan dulu," ucap Helena yang segera bangkit dari tempat duduknya. Annisa hanya manggut-manggut tanpa ingin menanggapi dengan suara. "Nis, lo minggu depan sibuk nggak?" tanya Helena yang tiba-tiba saja sudah kembali duduk di samping Annisa dengan membawa sepiring rujak uleg khas Surabaya. "Gue yang orang Surabaya aja jarang makan itu. Ini kenapa orang Sumedang doyan banget makan rujak," seloroh Annisa dengan melirik piring sang sahabat yang penuh dengan makanan yang disiram saus kacang tersebut. "Enak tahu, Nis. Mengenyangkan dan juga sehat," balas Helena dengan tersenyum lebar. Kemudian menyuapkan sesendok makanan ke dalam mulutnya. “Yakin sehat? Coba hitung kalorinya,” sanggah Annisa dengan tatapan meledek. “Ihh, Nisa … jangan gitu dong,” sahut Helena dengan rajukannya yang khas hingga membuat Annisa terkekeh. "Jadi gimana, lo minggu depan sibuk? Gue pengen ngajakin lo jalan ni, udah lama kita nggak jalan. Otak gue bebal banget rasanya.” Helena mengulang pertanyaannya. "Emang kapan otak lo pernah normal," sahut Annisa sarkastik. Bukannya tersinggung, Helena justru kembali terkekeh. "Minggu depan gue pulang ke Surabaya. Kalau lo mau ngajak jalan, minggu depannya lagi, deh," sambung Annisa kemudian. "Yah." Helena berseru lesu. "Janji ya minggu depannya lagi kita jalan. Ntar jangan-jangan lo malah ada janji sama sohib-sohib koas lo lagi," sambungnya dengan ekspresi polos yang membuat Annisa merasa gemas. "Uluhh, ata yang tembulu nih. Uchh," goda Annisa seraya mencubit gemas pipi Helena. Helena berpura-pura merajuk dan menampik tangan Annisa. "Habisnya, lo sering banget jalan sama mereka. Giliran sama gue susah bener." "Ya habis gimana, orang jadwal kita jarang bareng kosongnya. Salah kita?" Annisa menaikkan sebelah alisnya yang membuat Helena mencebik. "Iya juga, sih. Ah, atau jangan-jangan di antara sohib-sohib lo itu ada yang lo suka? Eh, iya. 3 di antara kalian kan cowok. Pasti bener. Hayo, ngaku lo sama gue?" cecear Helena dengan menodongkan sendoknya ke depan wajah Annisa. Kini, Annisa yang memberikan tatapan mengejek. "Udah?" tanyanya masih dengan ekspresi yang sama, membuat Helena semakin terkikik. "Penting banget urusan percintaan ," sambungnya dengan gelengan kepala pelan. "Nisa, Nisa. Disukai anak pimpinan rumah sakit aja, lo tolak. Emang selera cowok lo kayak gimana sih, Nis?" Pertanyaan Helena membuat Annisa tersenyum, "Yang pasti ... dia laki-laki," jawabnya dengan bibir terulum. "Terserah lo aja deh, Nis," sahut Helena malas. Giliran Annisa yang tertawa. "Atau lo mau sekalian ikut gue pulang ke Surabaya? Sekalian gue kenalin lo sama mereka." Annisa memberi saran. Sudah hampir 3 tahun ia dan Helena bersahabat namun belum pernah sekali pun Helena berkenalan dengan sahabat-sahabatnya sejak koas tersebut. Hanya sesekali waktu bertemu sekilas saja. "Gue sih mau-mau aja tapi mesti tanya Emak gue dulu, Nis." Annisa mengangguk mengerti. "Kalau emang bisa ikut, bilang aja. Rencananya gue pulang Jumat malem naik mobil." Helena manggut-manggut mengerti. Keduanya kembali melanjutkan acara makan siang mereka sambil membincangkan hal lain. Baik itu yang berkaitan dengan urusan kuliah maupun pekerjaan. Bahkan sampai hal yang paling absurd sekalipun. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN