6. THIS MORNING IS US

1927 Kata
Annisa melangkah dengan tenang saat keluar dari minimart yang berada tak jauh dari lingkungan rumahnya. Tentu saja karena kadar kemalasannya yang pagi ini sangat tinggi, Annisa memilih untuk membeli makanan yang bisa ia makan selama berada di dalam bus trans nanti. Sambil menenteng tas belanja kecil yang berisi onigiri dan 2 botol kopi instan, Annisa menyusuri jalur pedestrian untuk menuju ke halte bus. Minimart yang ia datangi memang berbeda dari minimart local Indonesia. Di mana di situ juga dijual berbagai makanan cepat saji untuk sarapan antara lain onigiri dan juga kimbab, selain juga tentu saja ada bubur serta mi instan. Suasana halte terlihat cukup ramai saat Annisa sampai. Gadis itu memilih tempat duduk yang paling tepi. Annisa mudah merasa segan jika harus melewati bayak orang. Sambil menunggu busnya datang, pikiran Annisa kembali tertuju pada keluarganya. Katakanlah selama ini Annisa memang selalu bersikap acuh mengenai hal yang berkaitan dengan pasangan. Akan tetapi semakin kesini, mau tidak mau pemikiran mengenai hal itu mulai menghantuinya. Hal yang paling membuat Annisa merasa malas ialah ketika ada acara berkumpul bersama keluarga besar. Gadis itu akan selalu menghindar demi menjaga suasana hatinya atas pertanyaan yang menurutnya sangat melelahkan itu. Namun ada hal yang semakin membuat Annisa tidak tega ialah karena semua itu akan seketika beralih kepada sang mama. Annisa bahkan pernah bertengkar dengan bu Arini beberapa waktu yang lalu, yang berujung pada keengganan Annisa untuk pulang ke rumahnya karena sang ibu ikut-ikutan memburunya mengenai pasangan. “Mau bertahun-tahun hidup di kota, tapi kalau keluarga di desa mikirnya gitu terus … tetep aja kepikiran,” gumam Annisa pada dirinya sendiri setelah menarik napas Panjang. "Annisa," panggilnya yang membuat orang tersebut sedikit terlonjak. Tidak hanya Annisa melainkan juga beberapa orang yang ada di tempat itu karena suara Abiyan terdengar cukup keras. "Abiyan," seru Annisa begitu dapat menormalkan kekagetannya. Sejatinya Annisa terkejut bukan hanya karena panggilan lantang Abiyan, melainkan juga karena lamunannya yang terlalu dalam mengenai keluarganya. "Mau ke rumah sakit?" Annisa mengangguk sekali atas pertanyaan Abiyan. "Sekalian bareng, ayo," ajak Abiyan yang justru membuat Annisa tampak berpikir sejenak. Mau menolak tidak enak, mau menerima sangat tidak baik bagi kondisi kesehatan jantungnya. "Nggak usah deh, Biy. Makasih. Lagian, tempat kerja kita kan jauh," tolak Annisa halus. Tentu saja sebab dari kawasan tersebut, jarak rumah sakit tempat Annisa bekerja memang lebih jauh dari rumah sakit Abiyan. "Masuk aja dulu." Abiyan mengedip sekali dengan isyarat tangannya agar Annisa segera memasuki mobilnya. Mau tidak mau gadis itu akhirnya menurut. "Kenapa lo rewel banget sih tiap gue yang ngajak bareng, Sa," celetuk Abiyan ketika Annisa sudah duduk di kursi di sampingnya. Gerutuan Abiyan membuat Annisa kikuk sendiri. Tidak mungkin kan ia mengutarakan alasan yang sebenarnya? Tidak, Annisa tidak seberani itu. "Bukannya omongan gue bener?" Annisa menjawab tanpa menatap wajah Abiyan. Sebab gadis itu sedang berusaha menarik tali sabuk pengaman yang terasa sangat sulit untuknya. "Kenapa? Susah, ya?" Abiyan memperhatikan Annisa dan gadis itu mengangguk. "Kayaknya nyangkut ini, Biy," sahut Annisa. Abiyan menangguhkan niatnya untuk menjalankan mobil. Ia tidak mungkin mengemudi tanpa Annisa mengenakan sabuk pengamannya. Perlu ditekankan bahwa Abiyan adalah orang yang sangat disiplin berkendara. Selain karena sang sepupu yang seorang perwira akan menjadi sangat bawel kepadanya. Tanpa permisi, Abiyan mencondongkan wajahnya untuk membantu menarik sabuk pengaman tersebut. Ucapan Annisa memang benar adanya sebab Abiyan sendiri merasa cukup kesulitan untuk menariknya. Posisi yang sangat dekat itu membuat Annisa spontan menahan napasnya. Gadis itu mengerjap beberapa kali saat tak sengaja menghirup aroma milik Abiyan yang menguar harum, hal yang mampu membuat otaknya seketika berhenti berpikir. Terlebih, setelan berwarna maroon dan hitam itu memang membuat kadar ketampanan Abiyan semakin bertambah berkali- kali lipat. Cklek! Bunyi saat sabuk pengaman itu terpasang mengebalikan kesadaran Annisa sepenuhnya. Ia menghela napas panjang lalu mengembuskannya perlahan. Menyadari jika wajahnya kini merona, Annisa memilih memalingkan wajahnya ke arah luar jendela sejenak sembari menunggu Abiyan memasangkan sabuk pengamannya sendiri dan melajukan mobil. Gadis itu tidak ingin Abiyan menyadari rasa gugup yang menderanya. "Lo selalu naik kendaraan umum tiap ke rumah sakit?" Pertanyaan Abiyan sontak membuat Annisa menoleh padanya. Gadis itu mengangguk. "Kenapa nggak bawa mobil sendiri?" tanya Abiyan lagi tepat saat mobilnya memasuki jalur tol. "Berat, Biy. Gue nggak kuat," jawab Annisa dengan polosnya. Dahi Abiyan mengernyit untuk mencerna maksud ucapan gadis itu, beberapa detik kemudian bibirnya mencebik saat mengerti maksud kalimat Annisa. "Yang nyuruh lo ngangkat juga siapa, Sa?" desis Abiyan tajam yang dibalas kekehan oleh Annisa. "Lah kan gue betul," ucapnya membela diri, masih dengan raut serta intonasi polosnya yang membuat Abiyan gemas sendiri rasanya. Laki-laki manggut-manggut dengan raut wajah malas. "Nggak Nyokap gue, nggak Noona gue, nggak elo, untuk hal itu emang sama aja wanita semua wanita, ya." Kekehan Annisa masih berderai mendnegar dumalan Abiyan. "Gue males kena macet, Biy. Lagian naik transportasi umum lebih cepet dan murah juga. Plus, gue nggak seberapa pandai nyetir mobil," jawab Annisa serius setelah berhasil menghentikan tawanya. "Kapan-kapan ajakin gue dong, Sa," pinta Abiyan dengan santainya, tetapi justru membuat Annisa mengernyit. “Ajakin apaan?” Gadis itu kembali menoleh dan mengerjapkan matanya. “Naik MRT, dong,” sahut Abiyan yang juga membalas tatapan Annisa. "Emang, lo belum pernah?" Abiyan menggeleng, "Sama sekali belum pernah. Cuma Noona gue yang sering banget naik transportasi umum. Itu pun sejak dia nikah sama Kakak ipar gue," jawabnya jujur. "Biy, kenapa lo panggil Kakak lo pakai sebutan Noona ?" "Ketularan Kakak ipar gue. Dia tiap manggil kakak-kakaknya selalu pakai panggilan itu." "Oh iya Kakak ipar lo orang Korea, ya," timpal Annisa yang dijawabi anggukan oleh Abiyan. "Orang Indonesia keturunan Korea, lebih tepatnya." Abiyan mengoreksi, membuat Annisa tersenyum geli. "Ngomong- ngomong, lo emang mau ada acara di area rumah sakit tempat gue kerja?" Annisa kembali bertanya karena sejak tadi belum mendapatkan jawaban dari Abiyan. Abiyan mengangguk sekali sambil menatap spion kanannya. Ia melihat keadaan sebelum mendahului mobil di depannya yang melaju lambat. "Lebih tepatnya mau ke Hotel Fairmont, gue harus ketemu klien dari Sydney." "Biy, lo masih jadi dokter, 'kan?" Kedua alis Abiyan bertaut, "Menurut lo?" "Ya kayaknya lo lebih sering berkutat sama pekerjaan kantor, deh," ucap Annisa yang secara tidak langsung menunjukkan ia memperhatikan Abiyan selama ini. "Lo perhatian banget sama gue, Sa," sahut Abiyan bangga. Annisa dibuat terbengong karenanya hingga melayangkan tatapan memicing. "Gue tahu tingkat percaya diri lo emang tinggi, Biy. Tapi nggak pernah nyangka se-iuh ini," tanggapnya malas. Abiyan tertawa renyah, "Jadi dokter itu cita-cita dan jati diri gue, Sa. Jadi mau sampai kapan pun, gue akan tetep jadi seorang tenaga kesehatan. Tapi ngurus perusahaan beda lagi, itu tanggung jawab dan kewajiban gue mulai saat ini." "Bukannya biasanya untuk jadi CEO itu, anak pertama, ya?" Annisa memberikan pendapatnya. Abiyan mengangguk, sama sekali tidak membantah sebab di mana- mana memang selalu demikian. "Apa itu juga berlaku di dalam usaha keluarga lo?" Abiyan bertanya balik sebelum menjawab pertanyaan Annisa. Gadis itu mengangguk. "Harusnya emang gitu. Tapi karena gue udah memilih untuk jadi dokter, sepertinya Papa bakal ngasih usahanya ke adik-adik gue. Kelihatannya juga mereka lebih berbakat di bidang itu daripada gue." "Hal itu juga berlaku di keluarga gue, Sa. Seharusnya emang Kakak gue yang jadi penerusnya. Tapi, mungkin karena awalnya emang Om gue terlalu telat nyerahin kepercayaan itu ke dia, akhirnya sekarang bener-bener terlambat. Dia udah megang rumah sakit dan udah nikah, sangat nggak mungkin untuk megang perusahaan juga apalagi letaknya yang jauh," jelas Abiyan panjang lebar kali tinggi. "Jadi, lo sendirian? Emang nggak ada saudara lo yang lain?" Abiyan tersenyum segaris, hatinya terasa menghangat mendengar kalimat Annisa yang sarat akan perhatian tersebut. "Perusahaan itu milik Kakek gue yang dari Mama. Kebetulan, Mama anak pertama. Kebetulan juga, kedua adiknya yang mana adalah om gue juga terlambat menikah. Dari pihak Mama, gue sama Kakak gue baru punya 1 adik sepupu yang sekarang umurnya 1 tahun. Sekarang, yang ngendaliin perusahaan ada gue sama kedua Om gue itu." Annisa hanya ber-oh ria seraya manggut-manggut mendengarkan penjelasan Abiyan. "Dan lo di rumah sakit juga pegang jabatan penting, Biy. Belum lagi S2 lo. Nggak capek gitu?" Seulas senyum kembali terukir di bibir Abiyan. "Capek, sih. Tapi gue menikmati, Sa. Lagipula, kemungkinan besar ini hanya sementara. Begitu Master gue kelar nanti, gue akan sepenuhnya memegang perusahaan." "Jadi, lo bakal tinggal di Singapura?" tanya Annisa memperjelas. Abiyan mengangguk pelan dengan lirikan mata yang tertuju pada Annisa. Entah bagaimana, tetapi raut wajah Annisa yang berubah sendu membuatnya sedikit terhibur. "Lo sedih kalau jauh dari gue?" tanyanya menggoda. Jangankan Annisa, Abiyan sendiri juga mendadak mendung menyadari kemungkinan kehidupan masa depannya. "Ih, GR banget lo," elak Annisa dengan tatapan mencibir. Abiyan terkekeh, ia tahu Annisa sedang tidak jujur. "Karena itu, gue sebenernya udah butuh pasangan hidup, Sa. Lo bantuin gue nyari, kek. Kenalin sama temen-temen lo apa gimana gitu," kata Abiyan memancing. Ia ingin mengetahui lebih jauh mengenai kemungkinan Annisa yang memiliki rasa padanya. Sama seperti dirinya yang memiliki perasaan melebihi kadar seorang teman pada gadis itu. Ucapan Abiyan membuat Annisa menahan napas selama beberapa detik. Namun tidak lama karena gadis itu kembali bisa menata suasana hatinya, "Gue sendirinya masih jomlo. Disuruh nyariin pasangan buat orang lain," sahutnya pasrah. Suasana di dalam mobil itu kembali hening selama beberapa saat usai tawa mereka yang terakhir terdengar. Annisa kemudian berinisiatif untuk membuka bungkusan yang dibelinya dari minimarket. "Abi mau?" tawar Annisa seraya mengulurkan makanan yang dibalut rumput laut tersebut. Kini giliran Abiyan yang dibuat tertegun selama sepersekian detik. "Boleh. Tapi kan gue lagi nyetir, Sa. Gimana kalau lo suapin gue?" tanyanya dengan nada jahil yang membuat Annisa merotasikan bola matanya jengah. "Padahal sebenernya bisa-bisa aja. Emang maunya elo itu, mah." Annisa bersungut-sungut namun tak urung tetap menuruti kemauan Abiyan yang kini tersenyum mengembang. (Wait, Annisa nyuapin Abiyan di dalam mobil? Hmm.) Jelas saja Annisa merona menyadari apa yang ia lakukan terhadap Abiyan saat ini. Ia sama sekali tidak menyangka jika pagi harinya akan diawali dengan sesuatu yang membuatnya ingin berteriak kegirangan. Namun, Annisa menahannya. Ia harus tetap terlihat anggun dan sopan di depan laki-laki yang disukainya tersebut. "Enak. Beli di mana, Sa? Atau lo bikin sendiri?" puji Abiyan begitu makanan untuknya sudah habis. Annisa memang sengaja menyuapi Abiyan terlebih dulu. "Kalau yang ini beli, Biy. Di minimarket di seberang gerbang depan perumahan tadi." "Kalau yang ini beli? Berarti biasanya bikin sendiri?" tanya Abiyan memperjelas. Annisa mengangguk. "Kadang-kadang. Cuma tadi pagi lagi males masak aja." "Kapan-kapan gue mau dong kalau dimasakin sama lo, Sa," celetuk Abiyan, membuat Annisa menatapnya datar. "Lo banyak maunya ternyata Biy," celetuk Annisa yang membuat Abiyan terkekeh. "C'mon lah, Annisa," pinta Abiyan dengan tatapannya yang mampu membuat orang merasa tidak tega. Tatapan itu biasanya hanya ia berikan kepada ibu dan sang kakak. "Boleh. Untuk teman, harga spesial ya, Biy. Lebih mahal," sahut Annisa pada akhirnya yang kembali meloloskan tawa Abiyan. 'Kalau lo mau, uang bulanan juga gue kasih, Sa,' batin Abiyan yang tentu saja tidak akan ia ucapkan dengan lantang. Beberapa saat kemudian, kendaraan roda 4 itu akhirnya sampai di tempat Annisa mengabdikan ilmunya. Annisa mengira Abiyan akan menurunkannya di depan gerbang utama, tetapi nyatanya mobil Abiyan memasuki halaman depan rumah sakit tersebut. Abiyan baru berhenti di depan lobby utama. "Thanks ya, Biy. Maaf kalau ngerepotin," ucap Annisa sembari melepas sabuk pengamannya. "Ngerepotin apanya? Santai aja lagi, Sa. Gue juga makasih udah dikasih sarapan tadi," balasnya yang membuat Annisa tertawa. "Dikasih sarapan katanya. Ya udah, gue masuk duluan, ya. Bye, Biy," pamit Annisa seraya membuka pintu di sisi kirinya. Abiyan mengangguk sekilas. "Bye, Sa," balasnya lantang. "Yang," sambungnya ketika Annisa sudah keluar dan pintu telah tertutup. Abiyan mengulum senyum sambil memperhatikan punggung gadis itu. Laki-laki itu kembali menjalankan mobilnya, namun sebelum menginjak tuas gas ternyata Annisa menoleh dan melambaikan tangan padanya. Abiyan membalasnya dengan bunyi klakson 2 kali. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN