5. PEMBAHASAN MENYEBALKAN

2364 Kata
“Selamat pagi, Ma,” sapa Annisa dengan lembut pada sang ibu melalui sambungan telepon. Jika sedang banyak waktu luang seperti pagi ini, maka Annisa akan menyempatkan untuk menelepon keluarganya. Berbeda cerita dengan ketika dirinya kesiangan. “Selamat pagi, Mbak. Kamu lagi ngapain? Masih di rumah?” tanya bu Arini yang baru saja selesai membuat sarapan untuk suami dan kedua anak lelakinya. “Masih, Ma. Nisa lagi siap-siap berangkat ke rumah sakit. Mama sibuk?” jawab dan tanya Annisa berurutan. Satu tangannya memegang ponsel, sementara tangan yang lain sedang memasukkan barang-barang ke dalam tas. Apalagi Annisa juga membawa laptop ke rumah sakit hari ini. “Mama baru selesai masak untuk sarapan. Kamu berangkat ke rumah sakit jangan lupa sarapan,” peringat bu Arini yang membuat sang putri tersenyum geli. Sang ibu memang sangat ketat dalam urusan makan, meskipun mereka berjauhan. Dan tentu saja, Annisa sering tidak menurut karena tidak ketahuan. “Iya, Ma. Nanti Annisa sarapan di rumah skait. Lagi males banget masak,” jawab Annisa tidak ingin membuat sang ibu khawatir. “Ya sudah. Oh iya, kamu jadi pulang kan minggu depan?” “Jadi, Ma. Annisa pulang sama temen-temen, ya,” beritahu Annisa sekaligus menjawab pertanyaan sang ibu. “Temen-temen? Siapa?” tanya bu Arini penasaran. Pasalnya selama ini Annisa tidak pernah pulang Bersama yang Namanya teman, sekalipun bahkan. “Sama Clara, Diandra, sama temen-temen cowok juga, Ma,” jelas Annisa yang sekali lagi membuat dahi sang ibu mengernyit. “Tumben, Nduk?” “Mereka ma uke Bromo katanya,” jawab Annisa yang seketika membuat bu Arini tersenyum geli. “Rupa-rupanya para anak muda ini butuh liburan,” celetuk bu Arini menggoda. “Mama kaya nggak pernah muda aja,” sahut Annisa asal yang membuat sang ibu kembali tertawa. Annisa pun ikut ertawa mendengarnya, tetapi tidak bertahan lama saat ia mendengar suara yang sangat dikenali di seberang sana. “Nenek lagi di rumah, Ma?” tanya Annisa sejurus kemudian. “Iya, baru kemarin dateng. Kamu mau bicara sama Nenek?” Bu Arini memberikan penawaran. Tetapi dengan cepat Annisa menolak. “Enggak deh, Ma. Ntar Nisa ditanyain kapan punya calon mulu,” jawab Annisa dengan lemas dan malas. Sejatinya, Annisa sangat senang berbincang dengan sang nenek. Tapi itu tidak berlaku jika Wanita yang merupakan ibu dari ayahnya itu sudah menanyakan perihal pasangan. Pasalnya, hal itu sudah seringkali dipertanyakan sejak ia masih focus menempuh Pendidikan sarjana beberapa tahun yang lalu. Annisa yang selama ini hidup di kota besar tentu tidak terlalu memusingkan perkara jodoh dan pasangan meskipun hampir 95 persen teman sekolahnya sudah menikah semua. Tetapi berbeda halnya dengan keluarga sang ayah yang selama ini memang bertempat tinggal di lingkungan desa. Seorang gadis yang berusia lebih dari 25 tahun dan belum memiliki pasangan seakan menjadi aib yang sangat memalukan. “Kamu yang sabar, ya,” nasehat bu Arini yang tidak pernah berubah. Ia paham betul bagaimana putrinya. Jangankan kepada orang lain, kepada dirinya dan sang suami saja Annisa berani membantah jika prinsip hidupnya diganggu-gugat. “Untungnya Nisa masih bisa tahan untuk nggak bantah Nenek, Ma,” balas Annisa sekenanya. Satu hal yang membuat Annisa bersyukur adalah karena selama ini sang nenek tidak tinggal bersama orang tuanya. Annisa tahu, ibunya akan menjadi orang yang paling terbebani kedua setelah dirinya ketika mendapat pertanyaan itu. “Mama, Nisa berangkat dulu, ya. Takut kesiangan,” ucap Annisa segera. Ia takut sang nenek melihat sang ibu yang sedang bertelepon dengannya. Annisa hanya berusaha untuk menjaga perasaannya dan sang mama. “Ya sudah, kamu hati-hati, ya. Jangan sampai telat makan,” peringat bu Arini yang segera disanggupi oleh sang putri. *** Pagi-pagi sekali Abiyan sudah rapi dengan penampilannya. Dengan mengenakan suit warna biru dan navy, membuat kadar ketampanannya semakin meningkat berkali-kali lipat. Ia memiliki agenda untuk melakukan meeting dengan salah satu client dari Australia. Mereka bersepakat akan bertemu di hotel Fairmount sebelum jam 8 pagi, sekaligus untuk sarapan bersama. Akan tetapi sebelum itu, Abiyan ingin pergi ke rumah sang kakak karena ada yang harus ia bicarakan dengan sang kakak ipar. Mereka sudah membuat janji sejak kemarin, dan karena untuk beberapa hari ini Kim Yeong tidak memiliki jadwal di rumah sakit, maka Abiyan mau tidak mau harus pergi ke rumah kedua orang itu. "Guten Morgen, Ma, Pa," sapa Abiyan pada orang tuanya yang masih asyik berbincang di meja bar dapur mereka. Padahal, kedua orang itu sudah rapi mengenakan pakaian kerjanya. "Guten Morgen, Sayang. Sudah rapi sekali, ada janji?" Dokter Diana membalas sapaan dan pelukan putra bungsunya tersebut. Saat ini jarum jam masih menunjukkan pukul 6 lebih sedikit, dan tidak biasanya Abiyan sudah keluar dari kamar. Kecuali, memang memiliki janji. "Iya, Ma. Abi ada janji sama Mr. Robert Smith, klien dari Sydney. Janjiannya sih jam 8, tapi Abi mau mampir dulu ke rumahnya Kak Al," jawab laki-laki itu seraya beralih memeluk sang ayah. "Janjinya di mana?" Giliran dokter Zafran yang bertanya. Sementara dokter Diana beralih menuju meja dapur untuk mengambilkan s**u berprotein yang biasa diminum sang putra setiap pagi. "Di Fairmont Pa. Nanti Sekalian sarapan di sana. Abi agak telat ke rumah sakit, ya, Pa," balasnya seraya menerima gelas pemberian sang ibu yang berisi s**u cokelat. Abiyan segera duduk di kursi yang sebelunya ditempati oleh sang mama. Karena dokter Diana pasti akan menegurnya jika makan atau minum sambil berdiri. "Danke schon, Ma," ucapnya dan segera menandaskan minuman tersebut dalam hitungan detik. “Tumben pagi-pagi kamu mau ke rumah kakak kamu?” Dokter Diana kembali bertanya. Abiyan sangat jarang pergi ke rumah putri sulungnya itu, jika tidak ada yang yang sangat penting. Terlebih, di waktu pagi. Lagipula, mereka sudah pasti akan bertemu di rumah skait, bukan? “Sebenernya janjiannya sama Kak Yeong sih, Ma. Tapi beberapa hari ini kan jadwalnya kosong. Ya udah, Abi aja yang ke rumahnya,” jawab Abiyan setelah menandaskan minumannya. “Janjian sama kakak ipar kamu?” tanya dokter Diana memperjelas. “Ada apa memangnya?” sambungnya ketika sang putra mengangguk dengan pasti. “Mau bicarain progress mall kita yang di Makassar, Ma.” Saat ini, perusahaan yang dipimpin oleh Kim Yeong sedang memperluas jaringan berupa supermarket ritel dan untuk itu mereka melakukan kerjasama. Mengingat perusahaan keluarga Alena juga memiliki banyak sekali relasi. “Everything is good?” tanya dokter Zafran to the point. Urusan perusahaan memang sepenuhnya menjadi kewenangan Abiyan. Akan tetapi sebagai orang tua, sudah pasti pria itu akan berusaha untuk selalu ada kapanpun anak-anaknya membutuhkan. “Baik-baik aja, Pa. Cuma, kita punya rencana untuk nambah area permainan anak yang lebih menarik. Kapan hari Abi sempat nyeletuk, gimana kalau ditambahin semacam Snow World? Dan sepertinya, Kak Yeong punya pikiran yang sama,” jelas Abiyan mengenai rencananya bersama sang kakak ipar. Tangannya bergerak untuk mencomot sepotong roti bakar yang ada di piring sang ayah. “Snow World … masih cukup jadi magnet sih di Indonesia,” sahut dokter Diana yang secara tidak langsung menyetujui ide kedua putranya itu. Abiyan mengangguk singkat. “Makanya itu, Ma. Apalagi kalau inget ceritanya dua bocah itu waktu mereka habis diajak ke Korea.” Tentu saja yang dimaksud oleh Abiyan adalah kedua keponakannya yang sangat menggemaskan itu. Kim Yeong dan Alena pernah mengajak si kembar pergi ke Korea beberapa bulan yang lalu, yang kebetulan pada saat itu bertepatan dengan musim dingin. Saljupun turun beberapa kali selama mereka berada di sana. Dan sudah bisa dipastikan, cerita mengenai salju adalah hal yang sangat disenangi oleh Aleo dan Alea. “Oh iya, sekalian kamu bawakan ini untuk keponakan kamu, ya,” kata dokter Diana seraya menyerahkan paperbag berwarna putih. Abiyan menerimanya dengan dahi berkerut. “Apaan nih?” tanyanya ingin tahu. “Puding labu. Kemarin Alea minta sama mama kamu.” Bukan dokter Diana yang menjawab, melainkan dokter Zafran. Jawaban yang membuat Abiyan berdecak pelan. “Giliran cucunya yang minta … langsung dibikinin. Dahlah, Abiyan tertigakan ama dua bocah itu,” celetuk Abiyan dengan ekspresi ngenesnya yang mampu memancing tawa kedua orang tuanya. Memang benar, sejak kehadiran si kembar, segala perhatian dari pasangan kakek dan nenek itu terprioritaskan pada sang cucu. Abiyan tentu saja sama sekali tidak masalah, karena ia pun sangat menyayangi kedua balita tersebut. Dan lagi, ia hanya bergurau. “Ya sudah, anak Mama mau dibikinin apa?” tawar dokter Diana setelah tawanya mereda. “Abi pengen … kepiting saus padang, Ma. Buat nanti makan malem,” jawab Abiyan dengan pemikiran yang spontan muncul di dalam otaknya. “Tumben kamu?” timpal dokter Zafran dengan ekspresi tidak percaya. Sebab biasanya, Abiyan lebih memilih udang yang lebih mudah dikonsumsi menurutnya. “Spontan aja muncul di kepala, Pa,” sahut Abiyan dengan santai. Lantas bergerak untuk bangkit dari tempat duduknya. “Nanti Mama bikini buat kamu,” kata dokter Diana yang membuat Abiyan tersenyum mengembang. “Untung Mama nggak minta cucu sebagai syaratnya,” cetus Abiyan yang membuat sang ibu segera membolakan mata kepadanya. Lain halnya dengan sang ayah yang hanya tersenyum geli. “Cucu kamu bilang? Mantu dulu, Abiyan!” gertak dokter Diana yang kini membuat anak dan suaminya itu kompak tertawa lepas. Agar sang ibu tidak semakin murka, Abiyan segera mengacungkan jarinya dengan symbol damai. “Peace, Mama.” "Ya udah, ah. Kalau gitu Abi berangkat dulu, Ma, Pa. Bye," pamitnya segera lantas bergantian mencium tangan kedua orang tuanya. Dokter Zafran dan sang istri bergantian menjawab salam sang putra. "Hati-hati," ucap dokter Diana dengan cukup lantang sebab sang putra sudah menghilang di balik tembok pembatas. "Yes, Mam," balas Abiyan tak kalah lantang. Pasangan suami istri itu kembali melanjutkan obrolan sambil menikmati sarapan mereka. Abiyan bergegas memasuki mobilnya yang sudah disiapkan oleh sang sopir. "Saya berangkat sendiri, Pak. Ada janji dulu di luar," ucapnya pada salah satu sopir keluarganya yang terlihat heran karena ia memasuki bangku kemudi. Pak Doni yang biasanya memang bertugas menjadi sopir pribadi Abiyan tersebut lantas mengangguk patuh. "Hati-hati, Den," ucapnya yang dibalas anggukan yakin oleh sang tuan muda. Abiyan mengemudikan mobilnya dengan tenang untuk segera menuju ke rumah sang kakak. Jika melihat keadaan jalanan yang tak jauh di depan matanya, sepertinya belum terjadi kemacetan yang berarti. Ia yakin akan sampai di tempat tujuan dengan tepat waktu bahkan sedikit lebih cepat. 15 menit adalah waktu yang dibutuhkan Abiyan untuk sampai di kediaman Alena. Pihak keamanan yang sudah sangat hapal dengan dirinya segera mempersilakan mobil hitam itu untuk masuk setelah melewati pemeriksaan standar. “Om Abi ….” Baru saja Abiyan menginjakkan kakinya keluar dari mobil, suara dari keponakan perempuannya melengking dengan sempurna. Balita yang sebentar lagi genap berusia 3 tahun itupun segera berlari menghampiri sang paman, hingga mengabaikan sang pengasuh dan kakak kembarnya. “Halo, Alea.” Abiyan segera membuka tangannya agar Alea segera masuk ke dalam pelukannya. “Hm … harum banget kamu, Dek,” puji Abiyan sembari mengecupi wajah Alea hingga membuat balita itu tertawa lepas. “Om … geyi,” ucap Alea dengan nada cadelnya yang khas. Alea benar-benar manja kepada pamannya itu. Tidak ingin membuat Alea kembali berteriak kencang yang justru akan membahayakan indera pendengarannya, Abiyan lantas membuka lengannya agar bisa memeluk Aleo yang sudah berada di hadapannya. “Kakak sama Adek sedang apa?” tanya Abiyan setelah menyelesaikan aktivitasnya pada dua balita itu setiap bertemu, apalagi kalau bukan menciumi wajah mereka. “Maam,” jawab Alea dengan penuh semangat. “Maam.” Berbeda dengan adik kembarnya, Aleo menjawab dengan lebih tenang. “Om, maam.” Alea menunjuk Abiyan saat sang pengasuh ingin menyuapinya lagi. Sambil tersenyum Abiyan menggeleng. “Om makannya sama Daddy dan Mommy ya.” Abiyan lantas berdiri dengan Aleo dan Alea di dalam gendongannya. “Sambil jalan nggak pa-pa ya, Mbak?” tanya Abiyan kepada pengasuh dari kedua keponakannya itu. Pengasuh yang Bernama Rita itu mengangguk dan tersenyum ramah. “Nggak pa-pa, Pak. Biasanya malah mereka lari-lari,” jawab sang pengasuh dengan sedikit berkelakar. Berada dalam gendongan sang paman membuat kedua balita itu jauh lebih tenang dan nyaris tanpa drama yang berlebihan. “Mom,” panggil Aleo kepada sang ibu yang terlihat sedang mengaduk kopi untuk sang ayah di ruang makan. “Kenapa, Kakak?” tanggap Alena seraya mengalihkan pandangan. “Eh, kamu, Dek. Tumben pagi-pagi udah ke sini?” sambungnya yang merasa heran. Sudah cukup lama Abiyan tidak bertandang ke rumahnya ketika pagi. Tentu saja karena kesibukannya yang menggunung. “Kangen,” sahut Abiyan asal seraya menurunkan Aleo dan Alea dari gendongannya. Beruntungnya kedua balita itu menurut tanpa drama yang berlebihan. “Sekalian nganterin ini,” sambung Abiyan seraya menyerahkan paperbag yang dibawanya. “Ap aini?” Alena bertanya sembari membuka bungkusan tersebut. sebelum Abiyan menjawab, senyuman cerah tersungging di bibir wanita itu. “Kamu sarapan di sini, ya,” tawar Alena sambil tersenyum manis kepada sang adik. “Aku mau ketemu Kak Yeong, sih. Nggak bisa lama-lama soalnya habis ini ma uke Fairmount ketemu klien,” jelas Abiyan mengenai alasan kedatangannya. Pada saat yang bersamaan, Kim Yeong keluar dari kamar. Alena yang mengerti segera memberikan waktu kepada kedua pria itu untuk membicarakan urusan pekerjaan mereka di lantai atas. Sementara dirinya akan bersiap-siap dan merapikan keperluan kedua buah hatinya. Obrolan antara Abiyan dan Kim Yeong tidak berlangsung lama, karena memang tidak banyak waktu yang tersedia. Keduanya merencanakan akan membahas hal itu dengan lebih mendetil beberapa hari lagi. Terlebih pagi ini Kim Yeong akan berdinas di rumah sakit. Tentu saja ia tidak bisa semaunya sendiri. “Kak AL mana, ya?” Abiyan celingukan mencari keberadaan kakak kandungnya itu. “Mungkin lagi ganti baju. Aku panggilin?” Kim Yeong menjawab sekaligus memberikan penawaran. “Nggak usah deh, Kak. Aku mesti pergi, sebelum keburu macet nanti,” sahut Abiyan setelah melihat arloji di tangannya. “Salamin aja, nanti aku telat dikit ke rumah sakit,” sambungnya sedikit berkelakar. Kim Yeong terkekeh melihat perangai sang adik ipar. Tentu saja Abiyan sangat takut terkena omelan dari Alena. Akan tetapi ia juga mengerti kesibukan sang adik. “Nanti aku sampaikan. Kamu hati-hati.” Abiyan mengangguk menyiyakan ucapan Kim Yeong. Dengan segera ia melangkah keluar rumah, karena kebetulan Aleo dan Alea juga mengikuti Alena ke kamar. Jika tidak, pasti kedua bocah itu akan menjerit melihat dirinya pergi. Baru saja Abiyan akan menambahkan kecepatan mobilnya begitu keluar dari komplek perumahan sang kakak, matanya menangkap sosok tidak asing yang baru saja berhenti di sebuah halte bus. Abiyan menepikan mobil sambil menajamkan padangannya. Laki-laki itu tersenyum simpul lantas mendekati orang tersebut. Abiyan membuka kaca di pintu sebelah kiri. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN