1. Nasib berubah

1125 Kata
"Perkenalkan dia Haidar Rahardian. Mulai saat ini dia yang akan mengganti posisi Nenek di kantor," tutur Nadia seorang tertua di keluarga Rahardian. "Dia siapa? Kenapa dia mendapatkan nama Rahardian?" Seorang wanita paruh baya dengan rambut sebahu mendelik. "Bahkan pemulung lebih baik daripada dirinya! Apakah Bibi nggak salah bicara!" Rania bangkit dari sofa berwarna navy yang terletak di tengah ruang tamu kediaman Rahardian. "Itu sama saja kita bunuh diri!" "Iya Nenek, yang dikatakan Ibu benar! lagi pula dari mana Nenek mendapatkan pemulung seperti ini?" Seorang lelaki muda dengan perawakan tinggi berteriak dari lantai 2 kemudian berjalan mendekati Rania dan juga Nadia. Di tangan kirinya terdapat segelas minuman berwarna merah. Keduanya menatap sumber suara, "Aryan sudah berulang kali Nenek katakan, jangan kebanyakan minum! itu tidak baik untuk kesehatanmu!" Nadia mendelik menatap cucunya itu diiringi tarikan lembut pada telinga Aryan. "Ayolah Nenek, jangan alergi terhadap minuman. Lagipula ini tidak mengandung alkohol, ini hanya limun biasa, Nek." "Sungguh?" Nadia merebut gelas yang masih dipegang Aryan kemudian menciumnya. "Oh ya kamu benar!" Nadia menarik nafas lega. "Aku tidak mencium aroma alkohol di sini, tapi ingat jangan sekali-kali kamu meminum minuman alkohol apalagi di hadapan Nenek kamu mengerti!" gertak Nadia tegas seraya menyerahkan kembali gelas kepada Aryan. "Nenek belum menjawab dari mana Nenek mendapatkan pemulung seperti ini?" tanya Aryan setelah menenggak limun yang ia pegang. "Dia bukan pemulung, dia adalah penerus kerajaan bisnis Rahardian. Dia juga keluarga kita. Jangan terkejut, meskipun Nenek baru membawanya ke rumah ini tapi kau harus menghormati saudaramu, Aryan!" tekan Nadia berapi-api, salah satu tangannya menggandeng seorang pemuda yang masih tertunduk dengan perban di kepalanya. "Halah Bibi! dia tidak akan bisa mengikuti aturan keluarga kita." Rania berbisik dengan suara tercekat. Tidak percaya Nadia akan menempatkan orang asing sebagai CEO perusahaan. "Yang dikatakan Ibu benar, Nek!" timpal Aryan menahan gemuruh yang ada di dalam dadanya sedangkan tangannya mencengkram erat gelas yang sedang di genggam. "Lagi pula kenapa orang asing menjadi keluarga kita. Aku tahu Bibi sudah seharusnya beristirahat untuk mengurusi masalah perusahaan tapi kenapa harus orang asing yang menjadi penerus kerajaan bisnis Rahardian! Di sini masih ada Aryan. Kenapa tidak putraku saja yang menjadi penerus perusahaan." Rania berusaha menyakinkan Nadia seraya melipat tangan di atas perutnya. Ini adalah kesekian kalinya dia mengusulkan Aryan sebagai penerus kerajaan bisnis Rahardian. Namun keinginannya itu tidak pernah disetujui Nadia sehingga membuat Rania sangat kesal. Haidar yang sedari tadi membisu, berusaha setenang mungkin melihat semua orang sedang membicarakannya, meskipun tidak bisa dipungkiri dirinya juga sangat terkejut. Haidar menarik nafas dalam dan menghembuskan secara perlahan, "Nek, yang mereka bilang itu benar, aku-" "Stop! Kami tidak butuh pembelaanmu." Aryan berteriak sebelum Haidar menyelesaikan ucapannya. "Kau hanyalah seorang pemulung! Dan akan tetap seperti itu!" teriaknya memperingatkan dengan bola mata hampir loncat keluar menatap Haidar. "Aku tidak bermaksud seperti itu," balas Haidar singkat. "Aku pun tidak tahu apa maksud Nenek sebenarnya. Mungkin beliau hanya bercanda." Lanjutnya. Berusaha menjelaskan, melihat respon tidak baik dari dua orang yang ada di hadapannya saat ini. "Kamu tidak perlu mencari alasan! Kami sudah tahu orang seperti apa dirimu dan apa yang kamu inginkan tidak akan pernah terjadi, ingat itu!" kecam Rania ketus kemudian mendaratkan tubuhnya di atas sofa dengan nafas yang masih tersengal. "Kamu ingat baik-baik, kamu adalah orang asing dan akan tetap seperti itu!" Aryan mengacungkan telunjuk tangan memberi peringatan. "Sudah cukup, hentikan!" teriak Nadia lantang. "Aku adalah kepala keluarga disini dan pemilik bisnis kerajaan Rahardian. Aku ingatkan sekali lagi ini adalah keputusanku. Aku menetapkan Haidar sebagai CEO di perusahaan Rahardian Group. keputusanku tidak bisa diganggu gugat. Jadi siapapun yang tidak suka dengan keputusanku silakan tinggalkan rumah ini. Untuk pengumuman resmi, besok dikonversi pers." "Apa maksud Nenek? Apakah besok kita akan mengadakan konferensi pers di rumah ini begitu? Bagaimana bisa? Nenek tidak tahu siapa lelaki asing itu sebenarnya, mungkin saja dia akan membuat keluarga kita bangkrut. Tolong jangan mengambil keputusan dengan tergesa-gesa." Aryan berdiri mendekati Nadia. "Aryan!" pekik Nadia geram. "Kau harus tahu bahwa dia adalah yang terbaik, dia akan menjadi saudaramu di rumah ini. Lagi pula dia pantas menjadi seorang CEO. Nenek sudah memikirkannya baik-baik jadi tidak akan menyesal dengan keputusan nenek ini." Nadia tersenyum simpul sehingga membuat garisan halus pada sudut mata dan juga pada dahi. Meskipun usianya hampir satu abad tapi dirinya masih sangat bugar. "Maafkan saya, Nek," ucap Haidar ragu-ragu nyaris tak terdengar. " saya tidak pantas untuk menerima jabatan itu lagi pula saya tidak memiliki pengalaman tentang perusahaan." Sorot matanya yang teduh lekas ditundukkan, tidak mampu berlama-lama menatap Nadia yang sangat berwibawa itu. "Kamu tidak perlu khawatir, Haidar. Nenek akan mendampingimu hingga kamu bisa, kamu jangan khawatir, Nenek bersamamu." Senyum Nadia mengembang terlihat jelas kebahagiaan di kedua netranya. "Maafkan aku, Nek. Bukannya aku menolak, siapapun pasti ingin memiliki hidup yang lebih baik. Aku sangat berterima kasih, Nenek sudah menolongku atas kejadian itu, tapi sungguh aku minta maaf, aku tidak bisa menerima posisi itu. Tolong maafkan aku. Nenek tolong jangan tersinggung, sungguh aku tidak bisa menerima posisi itu." Haidar Beranjak pergi setelah memberi hormat dengan sedikit membungkuk kepada mereka semuanya. Langkah kakinya membawa pada sebuah pintu utama yang sangat besar yang memiliki ukiran unik. "Kamu mau kemana, Nak. Jangan pergi!" teriak Nadia lantang. "Aku tidak mau menyebabkan masalah untuk siapapun dan dimanapun," ucap Haidar berbisik.p "Nenek lihat sendiri kan, lelaki itu tidak punya sopan santun. Nenek masih mau menjadikan dia sebagai CEO? Mau jadi apa perusahaan kita. Sebelum terlambat tolong pikirkan lagi keputusan ini," usul Aryan dengan memegang kedua telapak tangan Nadia. "Tunggu Haidar! Jangan pergi!" teriak Nadia menghentikan langkah Haidar. "Deby! Antarkan pemuda itu ke kamar atas!" ucapnya lagi pada seorang pelayan. "Yang diucapkan Aryan itu benar, Bibi. Kita tidak bisa mempercayai sembarang orang." Rania berujar ragu. "Baiklah, akan aku pikirkan lagi. Mungkin saja kali ini aku salah mengambil keputusan," tutur Nadia sedikit lembut. kemudian beranjak pergi setelah menatap keponakan dan cucunya itu "Selamat Ibu. Ibu memang sangat pandai. Kali ini Ibu berhasil mengecoh Nenek. Ibu memang panutan yang terbaik," puji Aryan setelah duduk di sebelah Rania. "Apakah kita perlu merayakannya?" Aryan menatap Rania dengan sudut bibir yang tertarik ke atas. "Aryan! Apa yang kau katakan, kau pikir Ibu sedang mengecoh Nenekmu! Ibu ingatkan, kau jangan pernah berpikir untuk menentang Nenekmu. Kau mengerti! Ibu tidak akan pernah mendukung perbuatanmu yang melenceng." Rania melotot menatap Aryan tajam. Aryan bangkit dari kursi karena terkejut mendengar penuturan ibunya. Bahkan berulang kali dia menyugar rambut frustasi, sungguh tidak percaya bahwa ibunya akan mengatakan hal seperti itu. "Apakah Ibu sudah berubah? Apakah Ibu mulai luluh melihat pemulung itu. Ayolah Ibu,kau adalah Ibuku, tidak mungkin kau mengecewakan aku," pekik Aryan kecewa, maniknya berlari ke sana ke sini menatap ibunya yang masih menunduk. "Tatap aku!" teriak Aryan. Rania yang dari tadi menunduk perlahan mengangkat wajahnya dan menatap putranya lekat-lekat. "Jawaban apa yang kau dapatkan setelah melihat wajah Ibumu ini, Aryan!" Rania berteriak geram.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN