2. Pertengkaran

1143 Kata
" Ada apa dengan Ibu sebenarnya! Sungguh Ibu sangat mengecewakanku," teriak Aryan dengan tatapan yang berapi-api menatap Rania. Tak berselang lama dia pun pergi dari ruang itu entah ke mana, meskipun Rania mencoba menghentikan tapi Aryan sama sekali tidak menggubris. "Sungguh Aryan, Ibu melakukan semua ini hanya untuk kamu. Cobalah mengerti, Nak. Di dunia ini tidak ada Ibu yang ingin anaknya menderita. Kau harus mengerti itu," bisik Rania. Disusutnya bulir bening yang telah menganak sungai di diiringi dengan semburat senyum di wajah oval miliknya. *** Di sebuah ruangan yang cukup luas, dengan interior yang sempurna, Haidar terbaring di atas tempat tidur. Dengan kasur yang sangat empuk, sprei yang sangat lembut, bantal dan guling yang empuk dan juga halus. Belum pernah dia rasakan selama ini. Namun ada rasa sesal yang menyeruak di dalam hatinya. Brak … Pintu kamar terbuka secara kasar, hingga membuat Haidar terkejut. Dipandangnya sosok yang berdiri di ambang pintu. Aryan, si pemilik tubuh tinggi 182 cm itu dengan manik berwarna coklat menatap Haidar penuh amarah. "Ada apa?" Haidar menghampiri Aryan yang masih berdiri dengan tatapan membunuh. Nafas Aryan memburu, netranya yang sedari tadi menatap Haidar kini beralih pada sebuah benda yang tergeletak di dekat tempat tidur. Benda dengan bentuk persegi panjang berwarna merah maroon, yang diyakini Aryan memiliki sebuah rahasia besar. Tanpa menjawab pertanyaan Haidar, kini Aryan dengan beringas menyambar tas yang ia lihat. Kemudian menghamburkan segala isinya hingga berserakan di lantai. Kemudian meniti satu persatu benda yang teronggok di sana. " Hei apa yang kau lakukan pada tasku itu!" Haidar menghampiri Aryan kemudian menunduk untuk mengumpulkan barang-barang miliknya. "Tunggu, siapa namamu?" tanya Haidar setelah dirinya bangkit. "Kau memang pantas menjadi pemulung, mengingat namaku saja tidak mampu!" teriak Aryan geram. "Aku bukannya tidak mampu, tapi hanya menguji dirimu saja. Ternyata benar dugaanku, kau tidak bisa di jadikan saudara," ucap Haidar penuh penekanan. " Dan, apakah Kau sudah tidak ingat, Nenek telah memperkenalkan aku kepada kalian bahwa aku akan menjadi CEO di perusahaan kalian. Maka berhentilah merendahkan aku seperti itu!" "Cuih … Omong kosong! Kau tetap saja pemulung! Tunggu, bukan pemulung tapi juga pencuri." Aryan yang berjalan-jalan pelan sontak memelototkan matanya menghadap Haidar. "Terserah apa yang kau pikirkan tentangku. Pergilah dari kamar ini. Aku ingin istirahat," usir Haidar menatap pintu keluar. "Kau berani mengusirku!" teriak Aryan berang. "ini adalah rumahku, dan kau adalah tamu! Bagaimana mungkin kau bisa mengusir tuan rumah!" Aryan senyum sinis. Pandangan Aryan meneliti ke setiap tempat. "Apa yang kau gunakan hingga Nenek membawamu ke rumah ini!" Kakinya menendang pakaian Haidar yang telah bertumpuk jadi satu. "Bersikaplah yang sopan. Hewan saja bisa bersikap baik jika menginginkan sesuatu," sindir Haidar menatap pakaiannya berserak lagi di lantai. "Kau ini!" Aryan memegang kerah Haidar sehingga Haidar sedikit berjinjit. "Tinggimu saja tidak seperti pada umumnya. Bagaimana mungkin kau bisa menjadi seorang CEO? Memalukan!" Seketika Aryan melepas kerah Haidar begitu saja hingga tubuh Haidar tersungkur ke lantai. "Satu hal yang harus Kau tahu, aku tidak tertarik dengan posisi itu. Tapi jika Nenek memaksa, aku tidak bisa menolak." "Haidar!" Bentak Aryan. "Jangan macam-macam!" "Aku tidak pernah berpikir, ternyata orang kaya tidak memiliki akhlak sedikitpun. Hanya bisa berpikir suudzon, meskipun tidak semuanya." ucap Haidar lirih. "Jaga ucapanmu!" teriak Aryan mengangkat telunjuk tangan dan mengarahkan ke wajah Haidar. "Itu memang benar," jawab Haidar. "Jika kau memiliki akhlak, Kau tidak akan melakukan semua ini," ucapnya kemudian. "Memang dasar k*****t," pekik Aryan dengan mengayunkan kepalan ke wajah Haidar hingga membuatnya tersungkur di atas tempat tidur. "Hai, Ada apa ini?" Nadia memasuki kamar, menatap kedua pemuda itu yang sedang bersitegang. "Apa yang Kau lakukan, Aryan!" "Nenek, aku hanya ingin memeriksa. Mungkin dia membawa barang terlarang di sini," jawab Aryan pada Nadia tapi netranya menatap Haidar tajam. Haidar menunduk dengan membersihkan darah segar yang keluar dari sudut bibirnya. "Jangan kau lakukan hal semacam ini lagi, Aryan. Nenek tahu kalau Haidar adalah orang yang baik jadi buang jauh-jauh pikiranmu itu," ucapkan Nadia menggelegar "Kenapa Bibi berbicara kasar pada putraku." Tiba-tiba Rania muncul dan menatap Haidar sinis. "Jika kau mendidik Aryan dengan benar, dia tidak akan melakukan hal semacam ini. Lihatlah dia menghancurkan kamar orang lain dan menyakitinya," ucap Nadia berusaha menjelaskan pada ponakannya itu. "Ya Tuhan," keluhan Rania. "Kenapa sekarang Bibi membela orang asing ini. Lagipula Aryan tidak salah Bibi, Dia hanya ingin menjaga keluarga kita, agar tetap aman." "Rania, jangan coba-coba menutupi kesalahan putramu. Apa kau tidak bisa melihat kamar ini berantakan karena ulah Aryan." Nadia duduk di kursi, berusaha mati-matian meredakan emosi agar bisa bersikap biasa. "Sekarang kalian berdua kembalilah ke kamar," tekan Nadia dengan suara parau. "Ayo kita keluar," ucap Rania mengajak Aryan pergi setelah Nadia membuang muka. "Ingat Haidar urusan kita belum selesai," ancam Aryan tersenyum menyeringai. Rania tersenyum hambar kemudian meninggalkan ruangan itu dengan sedikit menarik tangan Aryan. "Aku yakin Haidar telah memanfaatkan Nenek," tebak Aryan berjalan beriringan bersama ibunya menuju sebuah kamar yang letaknya hanya bersebelahan dengan kamar Haidar. "Mungkin saja," jawab Rania "Sebelum pemulung itu datang ke sini, bukankah Nenek selalu menyayangiku, ibu. Tapi tiba-tiba saja Nenek berubah setelah membawa Haidar ke sini. Pasti dia telah memanfaatkan Nenek atau malah mengguna gunainya. Aku merasa sedang bermimpi buruk, Ibu," keluh Aryan, tangannya menyentuh handle pintu dan membukanya. "Kamu tidurlah, hari sudah larut malam,"ucap Rania di ambang pintu. Keduanya berpandangan dengan wajah tegang. "Ibu!" panggil Aryan, sedikit menekan melihat Rania menutup kembali pintu kamarnya. "Entah bagaimana aku bisa mengatasi masalah ini, yang pasti Bibi Nadia telah mengambil keputusan yang salah. Lambat laun berita tentang CEO baru itu akan segera tersebar. Apalagi jika Bibi Nadia besok jadi mengadakan pertemuan pers. Apa yang harus aku lakukan, semoga saja dia berpikir lagi dan membatalkan keputusannya itu," ucap Rania sebelum benar-benar meninggalkan kamar Aryan, kemudian dipandanginya sebuah benda yang sempat diambil dari kamar Haidar tadi. "Nenek," ucap Haidar terbata. Pemuda itu mematung menatap pakainya berserakan di lantai. Dadanya kembang kempis menghalau rasa sesak. "Mungkin kehadiranku di sini adalah sebuah kesalahan." Akhirnya kalimat itu muncul dari lisan Haidar yang dari tadi ditahan agar tidak keluar. Sejenak Nadia menatap Haidar dan mengulur nafas yang terasa berat. "Tidak ada kesalahan, hanya saja keadaan yang belum bisa menerima." Nadia memejamkan mata dengan tangan menyentuh d**a, dirinya juga merasakan sesak yang Haidar rasakan. "Kemarilah!" Nadia menuntun Haidar duduk di tepi ranjang. "Aku tidak tahu harus bahagia atau bersedih, Nenek," netra Haidar yang teduh bergerak menatap guratan halus yang ada di hadapannya. Sebenarnya meskipun sudah tua pahatan itu masih terlihat indah. Nadia tertawa sumbang. "Kau mirip sekali dengan Roqis." "Siapa itu Roqis, Nek?" "Dia adalah suamiku, tapi sudah lama tiada." Haidar menghela nafas panjang mendengar jawaban Nadia. "Maaf, aku membuat Nenek bersedih." Cukup lama keduanya termenung membiarkan Kesunyian mengisi di antara mereka hanya dentingan jam dinding yang terdengar. Nadia menatap Haidar kemudian mengulum senyum, wanita tua itu mengagumi lukisan hidup yang ada di hadapannya. "Jika saja saat itu aku ada di sana, pasti dia masih bersamaku dan saat ini kau pasti sangat bahagia" gumam Nadia dalam hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN