3. konfrensi pers

1342 Kata
"Apakah kau sedang mengingat kejadian saat itu?" Nadia menyentuh pundak Haidar. "Seharusnya Nenek tidak membawaku ke rumah ini" kata Haidar menyesal. "Apakah rumah ini tidak nyaman untukmu?" Nadia menatap Haidar was-was. "Seumur-umur aku hidup sebagai orang yang miskin, Aku tidak tahu cara hidup di keluarga kaya." "Ternyata kau masih memikirkan ucapan Aryan dan Rania. Jangan pedulikan mereka. Anggap saja itu hanyalah angin lalu," kata Nadia mencoba menghibur. "Tapi kenapa Nenek begitu peduli, padahal aku hanya orang asing. Kenapa Nenek memperlakukanku seperti keluarga sendiri?" Haidar menatap Nadia lembut meski kenyataannya banyak pertanyaan yang belum bisa diutarakan. "Tidak! kau bukan orang asing!" Mata Nadia membeliak, tidak menyangka Haidar akan menanyakan hal itu lagi. Dia berpikir Haidar akan senang jika tinggal di rumah ini namun kenyataannya pemuda itu nampak sangat gelisah. "Maaf Nenek," kata Haidar terkejut melihat sikap Nadia. "Apa Nenek tersinggung dengan pertanyaanku? Bukankah hal itu wajar aku tanyakan. Aku adalah orang asing yang tiba-tiba berada dirumah besar dan Nenek juga meminta ku menjadi CEO di perusahaan milik kalian. Apakah aku tidak pantas menanyakan hal itu?" Haidar bertanya dengan perasaan kalut. "Maafkan Nenek." Nadia menarik nafas berat. " Nenek yakin kau sangat lelah, sekarang tidurlah! Besok kita akan pergi. Akan kutunjukkan sesuatu padamu," ucapkan Nadia dengan mengacak rambut Haidar dan mengecupnya lembut. Nadia pergi meninggalkan ruangan. Haidar pun memilih memejamkan mata setelah beberapa jam hanya menerka-nerka tentang sifat-sifat mereka. Sementara di kamar lain, Nadia masih mengamati sebuah benda. Sesekali dia membersihkan benda itu dengan tisu. "Aku tidak akan membiarkan dia meninggalkan rumah ini lagi, kehadirannya sudah cukup menjadi obat rinduku padamu sayang," ucapkan Nadia menunduk dengan mata terpejam, menempelkan sesuatu yang ia pegang ke dadanya. Rasa lelah membuat dirinya berbaring di tempat tidur dengan sebuah bingkai foto kecil yang dipeluknya. *** Keesokan harinya Nadia, Ariana, dan Aryan sudah berada di meja makan. "Siapa lagi yang kita tunggu, Nenek?" tanya Aryan kesal, menatap semua hidangan di atas meja. Namun belum boleh untuk menyentuhnya. "Saat ini aku sudah sangat lapar." "Iya, siapa lagi yang kita tunggu, Bibi? Setiap hari kita hanya makan bertiga di meja makan ini setelah ayahnya Aryan keluar kota," timpal Rania. "Kasihan putraku sudah kelaparan." "Haidar. Dia belum datang. Kita tunggu sebentar lagi," ucap Nadia sedikit cemas. Dirinya khawatir Haidar tidak mau sarapan bersama karena keminderannya itu. "Nah,itu dia datang." Nadia menoleh ke tangga. "Haidar, kemarilah! Ayo kita sarapan bersama." Bibir Haidar mengulum senyum, diiringi anggukan kecil. "Oh pemulung itu!" Rania mendengus kesal dengan bola mata memutar ke atas. "Aku ada acara bersama teman-temanku, Aku sudah terlambat! Aku tidak ikut sarapan! Aku pergi!" Rania berdiri dengan kasar sehingga kursinya terjatuh ke lantai. "Aku juga tidak ikut sarapan!" Kali ini Aryan menggebrak meja, hingga Nadia terkejut. "Hei kalian! Makanlah dulu sebentar! Jangan pergi dengan perut kosong," teriak Nadia. Namun tidak dihiraukan oleh Rania dan putranya. "Jangan berpikir kau bisa menguasai rumah ini," ucap Aryan sinis, ketika berpapasan dengan Haidar yang hendak menuju meja makan. Haidar menatap Nadia dan melambaikan tangan. Dia tidak memperdulikan ucapan Aryan yang menusuk telinga dan ulu hatinya itu. "Nenek, kenapa mereka bersikap seperti itu?" tanya Haidar setelah mendaratkan tubuhnya di kursi. "Itu sangat buruk," gumamnya lirih. "Sudahlah, kamu jangan memikirkan ucapan mereka. Mereka itu sebenarnya memiliki hati yang sangat baik." "Ngomong-ngomong, apakah mereka pergi dalam keadaan perut kosong? Apakah mereka belum sarapan, Nek?" tanya Haidar setelah menatap semua piring yang masih bersih dan makanan masih utuh. "Biarkan saja mereka, mereka punya urusan. Ayo kita sarapan bersama, ini adalah sarapan pertama mu di rumah ini. Nenek sengaja meminta Debby untuk memasak banyak macam makanan. Pilih saja mana yang kamu suka," ucap Nadia dengan menaruh beberapa makanan ke piring Haidar. "Terima kasih, Nek. Aku menyukai semua makanan, aku tidak memilih-milih makanan, karena memang dari kecil aku hidup pas-pasan. Dari kecil aku diajari Ibu tidak boleh memilih makanan apapun yang di kasih orang." "Kalau begitu baguslah, ayo tambah lagi! Ambil saja makanan yang kamu suka." ucap Nadia riang. "Terima kasih. Nenek sangat baik padaku." "Oh ya Haidar, bagaimana tidurmu tadi malam, apakah kamu bisa tidur dengan nyaman?" tanya Nadia di sela-sela kunyahannya. Dia sangat mengkhawatirkan Haidar. "Nenek tidak perlu khawatir tentang itu, tidurku sangat baik, sangat nyenyak, Nek." Haidar membalas dengan senyum yang lebar sehingga tampak barisan gigi atas yang putih. "Oh, ya syukurlah. Setelah ini kau harus bersiap-siap, kita akan pergi ke suatu tempat. Apakah kau sudah melihat bingkisan di atas meja kamarmu?" "Bingkisan?" Haidar mencoba mengingat-ingat. "Oh ya, aku tadi sempat melihatnya tapi belum aku buka. Apakah itu untukku, Nek?" "Ya itu untukmu, nanti setelah ini kamu lihat bingkisannya dan kamu pakai,ya!" Nadia menatap Haidar penuh harap. ** "Wah, kau tampan sekali Haidar! Kau sangat cocok mengenakan pakaian ini!" ucap Nadia girang. Lalu wanita yang hampir 100 abad ini berjalan mendekati Haidar dengan bibir tersenyum lepas. "Nenek, sungguh aku tidak nyaman menggunakan jas seperti ini. Aku ganti baju biasa aja, ya?" Haidar berulang kali menarik tangan yang terasa sesak. "Jangan sayang, kau sangat sempurna dengan pakaian ini. Lagi pula kau akan terbiasa nanti. Sudah, ayo kita berangkat. Kita sudah ditunggu." Nadia melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Mereka berdua segera memasuki mobil yang sudah tersedia. "Ayo jalan, Pak!" perintah Nadia pada sopir pribadinya. "Sebenarnya kita mau ke mana, Nek?" tanya Haidar penasaran. "Tunggu dan lihat saja, ini adalah kejutan untukmu, di hari pertamamu di rumah kami." Haidar hanya mengangguk mengerti *** Mereka berdua memasuki gedung berwarna putih, dengan berbagai ukiran indah dan arsitektur yang modern. "Kenapa banyak sekali media di sini, Nek?" Haidar menatap satu persatu orang yang menyambut mereka dengan jepretan kamera. "Sudah jangan banyak bertanya saat ini. Ayo ikuti saja Nenek!" Nadia berbisik dengan menarik tangan Haidar kemudian menuju sebuah kursi yang telah disiapkan. Semua mata tertuju pada mereka berdua, dengan jepretan yang tiada henti. "Haidar, cobalah untuk tersenyum. Jangan tegang. Kita akan ditonton jutaan orang," ucap Nadia berbisik. "Iya, Nek. Aku sedang berusaha," balas Haidar dengan tersenyum kaku. "Nyonya Nadia Rahadian, Apakah benar saat ini kau telah menunjuk seorang CEO baru untuk perusahaan Rahadian," tanya salah satu dari mereka dan sebagian yang lain mengarahkan kamera untuk merekam dan memotret. "Iya itu benar! itulah alasan Saya mengundang kalian. Saya telah lama menunggu kesempatan ini dan saat ini juga saya Nadia Rahardian mengumumkan bahwa Haidar Hardian akan menggantikan saya sebagai CEO di perusahaan Rahardian Group." Nadia bersuara lantang dan tegas. "Tapi yang kami ketahui nyonya Nadia Rahardian, kalian tidak memiliki seorang putra. Kalian hanya memiliki seorang putri tunggal yang telah menghilang 20 tahun yang lalu. Apakah dia ada kaitannya dengan putrimu yang hilang itu?" tanya salah seorang di antara mereka. "Masalah itu adalah rahasia keluarga. Saya tidak bisa mengatakannya, tapi saat ini saya hanya akan mengumumkan Haidar Rahardian akan menjadi CEO di perusahaan Rahardian Group," Nadia menelan saliva perlahan. "Saya adakan pertemuan pers ini agar semua orang tahu, bahwa sebelumnya saya adalah pemilik tunggal rahardian grup tapi sekarang ada Haidar yang akan menggantikan posisiku, seperti yang kalian ketahui bahwa aku sudah cukup tua maka dari itu aku harus istirahat." "Apakah anda tidak khawatir menyerahkan posisi sebesar itu kepada orang asing?" "Dia bukan orang asing! Dia adalah keluargaku!" Nadia berucap lantang. "Itu berarti dia putra dari putrimu, Nyonya Nadia Rahardian?" "Jika itu benar, berarti putrimu telah ditemukan," lanjut reporter yang lainnya. Di tempat lain "Apakah ibu sudah melihat berita?" tanya Aryan melalui sambungan telepon. "Belum. Buat apa ibu lihat berita," jawab Rania di seberang telepon. "Sekarang lihat berita dimanapun ibu berada," perintah Aryan. "Berita apa sih, apa sangat penting. Nanti saja di rumah. Saat ini ibu sedang belanja." "Ibu!" pekik Aryan geram. "Saat ini Nenek sedang melakukan konferensi pers. Dia sudah mengumumkan, si pemulung itu pada dunia!" "Sungguh? Apakah Nenekmu juga mengumumkan dia dijadikan CEO?" " Iya Ibu. Ternyata ucapan Ibu kemarin tidak mempan!" Aryan mendengus kesal. Rania nampak berpikir sesaat. "Apakah Ibu masih hidup di sana!" Aryan berteriak lagi karena Rania tidak juga bersuara. "Iya Ibumu masih hidup. Ibu tak jantungan mendengar kabar ini. Malah kamu yang akan jantungan!" balas Rania sewot. "Kenapa aku yang jantungan, Bu? Apakah Ibu punya kabar buruk?" "Kabar buruk itu bukan hanya untukmu tapi untuk posisi kita juga!" ucap Rania kemudian memutuskan sambungan telefonnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN