"Debby, cepat ambilkan aku air minum!" Rania melempar tas ke sofa, tubuhnya pun dihempaskan di atas busa yang empuk itu dengan nafas tersengal dan sorot mata yang tajam.
"Ada apa Ibu? Kenapa datang langsung marah-marah?" ucap Aryan dari lantai atas kemudian melangkah turun mendekati ibunya.
"Ibu tidak habis pikir! Apa yang dipikirkan oleh Nenekmu itu!" ucapnya meledak-ledak. "Bagaimana mungkin Nenekmu mempermalukan Ibu di depan orang banyak." Rania menarik nafas panjang. "Hanya karena pemulung sialan itu!" Rania berteriak dengan melempar vas bunga yang ada di hadapannya itu.
"Apa maksud ibu ?" tanya Aryan tak mengerti.
"Dasar bodoh! Kau ingat setelah kau menelpon? ibu langsung menuju gedung pers tapi Ibu tidak menemui Nenekmu di sana."
"Lantas, kenapa Ibu marah dengan hal semacam itu?" Aryan tetap tidak mengerti juga.
"Ibumu ini belum selesai bicara Aryan! Biarkan Ibu cerita sampai selesai." Kali ini Rania melototi putranya itu yang masih kebingungan.
"Baiklah, maafkan aku. Sekarang ceritakan, apa yang terjadi, apa yang membuat Ibu semarah ini?" Aryan mendaratkan tubuhnya di samping Rania.
"Setelah Ibu mendatangi gedung pers dan tidak menemui Nenekmu di sana, Ibu langsung tahu di mana Nenekmu berada. Ibu langsung menuju ke kantor. Kamu tau apa yang Ibu lihat, Aryan? Disana Nenekmu telah memperkenalkan Haidar kepada para pegawai kantor." Rania diam sejenak dan menatap lurus kedepan." Tapi Ibu marah bukan karena itu!"
"Lalu karena apa?" tanya Aryan antusias.
"Nenekmu mengatakan kalau pemulung itu keluarganya bukan orang asing." Suara Rania parau. Air matanya luruh begitu saja diikuti sesak yang menghimpit d**a.
"Iya, memang dari kemarin Nenek mengatakan hal itu. Kenapa Ibu menangis, Ibu sudah mendengar sebelumnya, kan? dan Ibu baik-baik saja. Kenapa sekarang Ibu sangat menderita?" Aryan mengusap punggung Rania yang semakin terisak.
"Tunggu Aryan! Ibu belum selesai bicara!" Rania membentak kemudian menyusut air matanya.
"Lalu?"
"Nenekmu mengatakan kalau kita ini yang orang asing, kita hanya orang biasa. Apakah ibu tidak pantas marah terhadap ucapan Nenekmu itu?" Rania menatap Aryan dengan mata yang masih berkaca-kaca.
"Sungguh Nenek mengatakan itu?"
"Iya! Nenekmu mengatakan itu dan itu di hadapan orang banyak, Ibu ada di sana. Semua orang menatap Ibu seperti ingin menerkam, Aryan! Apakah ibumu tidak berhak sakit hati!" Rania kembali histeris.
Aryan berdehem nampak berpikir sejenak.
"Aku ada rencana, Bu. Rencana ini akan menjadi hal terburuk dalam hidup mereka." Aryan tersenyum sinis.
"Rencana apa itu? Katakan pada Ibu! Ibu tidak ingin rencanamu menjadi bumerang untuk kita."
"Ya aku akui, rencanaku yang sebelumnya memang gagal tapi kali ini aku sudah mempertimbangkan matang-matang, sehingga kemungkinan gagal sangat kecil," ucap Aryan percaya diri.
"Kau yakin? Kalau begitu katakan apa rencanamu?" tanya Rania. "Mulai sekarang aku akan bertindak, tidak kubiarkan seorangpun menghangcurkan harga diriku." gumam Rania dalam hati.
"Sabarlah Ibu. Ibu akan mengetahui sore nanti, dia akan datang."
Ruangan itu menjadi hening. Mereka sama-sama larut dalam pikiran masing-masing.
***
"Haidar, Bagaimana perasaanmu setelah Nenek kenalkan dengan pegawai kantor dan juga kantor ini, apa kau masih ragu dengan keputusan Nenekmu ini?
"Hm gimana ya Nek, ragu dengan Nenek sih nggak. Tapi jujur, aku ragu sama diriku sendiri. Aku takut nggak bisa amanah." ucap Haidar menatap lantai lift.
"Kau akan mengerti perlahan. Tapi sebelum itu, kau harus tahu bahwa perusahaan ini Nenek sendiri lah yang membangun, Nenek merintisnya dari awal, dimulai dari membeli kebun sendiri, Nenek mengumpulkan uang sedikit demi sedikit dan membeli kebun lagi, begitu terus. Hidup Nenek dahulu sangatlah sederhana , tapi karena kegigihan dan bersabar, sehingga saat ini Nenek bisa mendirikan perusahaan kelapa sawit di Kepulauan Riau ini dan alhamdulillah ini termasuk perusahaan terbesar di pulau Riau. Nenek sangat bersyukur atas semua anugerah Allah yang diberikan kepada Nenek." Nadia mengakhiri ceritanya karena lift sudah berhenti dan pintu pun terbuka.
"Sebelumnya aku belum pernah terjun ke dunia persawitan, Nek tapi sekarang demi Nenek, demi kebaikan Nenek dan untuk membalas budi, aku akan berusaha yang terbaik untuk perusahaan ini. Aku harap Nenek tidak bosan membimbingku." Haidar berjalan berusaha mengimbangi langkah Nadia yang sangat cepat.
"Tentu saja, Nenek akan membimbingmu. Tapi jangan lakukan ini karena balas budi. Lakukan ini karena ini tanggung jawabmu." Nadia berhenti sesaat dan menatap Haidar lekat. "Ayo kita pulang atau kau masih ingin pergi ke suatu tempat?" tawar Nadia.
"Menurutku, kita pulang saja,Nek. Aku sangat lelah, besok kita bisa kan melanjutkan kelilingnya?"
"Ya, tentu saja bisa. Kita akan berkeliling kalau ada waktu luang nanti" jawab Nadia. "Apa masih ada hal yang mengganjal hatimu?" tanya Nadia yang menangkap kebingungan di raut wajah Haidar.
"A-ku-"
"Katakan saja jangan ragu," desak Nadia.
"Kita tidak memiliki hubungan darah, apakah ada alasan khusus Nenek menjadikanku menjadi CEO?"
"Tolong jangan bahas tentang ini lagi, Haidar. Buang jauh-jauh keraguanmu itu. Jangan buat Nenek marah karena pertanyaan konyol seperti itu," ucap Nadia sedikit meninggi.
"Maaf Nenek. Kalau begitu, ayo kita pulang."
***
"Daby, di mana semua orang! Apakah mereka belum pulang dari tadi pagi?" tanya Nadia kepada asistennya itu yang sedang membawa segelas air putih.
"Maafkan aku nyonya, tapi baru saja mereka pergi. Mereka sempat pulang tapi hanya sebentar." Deby berusaha menjelaskan.
"Oh kalau begitu, kira-kira kemana mereka pergi? Apakah mereka sudah melihat beritanya?" Nadia menatap Haidar yang duduk di seberang meja.
"Entahlah Nyonya, tapi tadi nyonya Rania dan tuan muda Aryan mereka sangat marah, mereka juga berteriak-teriak."
"Hm … kalau begitu lanjutkan pekerjaanmu." Nadia memberikan gelas yang sudah kosong kepada Deby.
"Apakah ada pesanan makanan yang harus kubuat untuk nanti malam," tanya Deby ragu.
"Apa maksudmu, selama ini kamu yang mengatur tentang semua masakan itu, bukan? Kenapa harus bertanya sekarang?" Nadia menatap serius kepada Deby yang terlihat tidak nyaman.
"Tadi sebelum nyonya Rania pergi, mereka meminta saya membuat beberapa macam makanan untuk acara nanti malam. Mungkin nyonya Nadia ingin menambahkan jenis makanan yang lain." tanya Deby lagi.
"Acara nanti malam? Kenapa aku tidak tau? Acara apa itu?" gumam Nadia bingung.
"Haidar, istirahatlah kamu ke kamar, kamu pasti kelelahan kan?" Nadia memberi saran seraya mengulum senyum.
"Baiklah Nenek." Haidar bangkit dari tempat duduknya.
"Oke Deby, buat apa saja yang mereka inginkan. Aku mau istirahat dulu ke kamar," pamit Nadia.
**
Baru saja Haidar ingin merebahkan tubuhnya, tiba-tiba di luar sana terdengar kegaduhan. Rasa penasarannya membuat dirinya berlari hingga tanpa sengaja menyentuh vas bunga hingga jatuh dan pecah.