bc

Bukan Aku Lagi di Hatimu, Mas

book_age18+
2
IKUTI
1K
BACA
family
HE
escape while being pregnant
dare to love and hate
heir/heiress
drama
bxg
office/work place
disappearance
musclebear
polygamy
lawyer
selfish
like
intro-logo
Uraian

"Jika hatimu sudah tidak menjadi milikku, untuk apa kita pertahankan semua kepalsuan ini, Mas?" Jasmilla berujar dengan sepucuk harapan yang hanya tersisa di ujung lidahnya saja.

Di depannya, Bagaskara, Sang Pengusaha Kaya yang sudah lima tahun menjadi suaminya itu hanya terdiam dengan mata yang menatap dingin kearahnya. Raut hangat tidak ada lagi di sana. Senyum menawan yang selalu menemani hari Milla kini tidak pernah lagi ia tunjukkan.

"Lebih baik kita cerai, Mas," putus Milla sebelum ia mengambil tas tangannya dan meninggalkan Bagaskara yang masih bergeming di atas kursi kantor kebanggannya itu.

Cinta memang menjadi landasan hubungan mereka, dan kini semuanya sudah pupus. Cinta tidak ada lagi di hati suaminya, namanya sudah terhapus digantikan dengan masalalu Bagaskara yang kembali mewarnai kehidupan pria nya.

Lalu, bagaimana dengan Milla? Apakah perceraian adalah akhir dari kisah nya, ataukah itu merupakan permulaan untuk kisah yang jauh lebih indah yang sudah Tuhan takdirkan kepadanya?

chap-preview
Pratinjau gratis
Episode 1 - Pertikaian kita
Derap langkah kaki itu terdengar berat, diiringi dengan riuh suara kain yang saling bergesek ketika pria itu membuka jas hitam yang membalut tubuh tegapnya. Sekujur tubuhnya terasa linu akibat dari meeting yang tak berkesudahan juga kesenangan kecil yang ia lakukan sebelum pulang ke rumah. Geraman terdengar ketika ia meregangkan lehernya yang terasa kaku. Pria itu mengendus baju yang dikenakannya, dan wangi parfum maskulin yang tercampur dengan aroma manis wewangian wanita juga bau alkohol yang pekat masih samar tercium dari tubuhnya. Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari ketika ia berhasil mendudukkan dirinya di sofa empuk yang berada di ruang tamu rumahnya yang sudah gelap. Pria itu menggulung lengan kemeja biru panjangnya hingga ke sikut, menunjukkan lengannya yang cukup kokoh dan dipenuhi bulu halus. Efek dari minuman yang ditenggak nya beberapa waktu lalu, membuat pria itu tidak menyadari seorang wanita di ujung lorong yang memerhatikannya sedari awal dia masuk ke dalam rumah. Mata sayu itu menatap sendu ke arahnya, seperti berusaha menumpahkan perasaan yang tertahan di ujung lidahnya namun tidak bisa dia utarakan. "Mas, kok baru pulang?" Wanita itu memberanikan diri untuk bersuara setelah beberapa menit lamanya. Seketika lampu di ruang tamu itu menyala, memperlihatkan sosok wanita anggun dengan balutan baju tidur satin berwarna biru navy dengan rambut yang terikat asal di belakang kepalanya. "Mas banyak rapat," timpal pria itu singkat, terkesan acuh dan tidak merasa kaget sama sekali dengan kehadiran sang wanita dari arah lorong rumahnya. Adhipati Bagaskara, seorang pengusaha muda yang karirnya sedang melejit pesat beberapa tahun belakangan ini. Perusahaannya yang bergerak di bidang teknologi, tentu sangat teruntungkan di era sekarang. Beberapa robotic AI menjadi produk utama yang mereka jual hingga kancah internasional. Namun, ditengah kesukesannya itu, rumah tangga lelaki yang kerap dipanggil Bagaskara atau Bagas itu terancam kandas. Jasmilla Ayudari, anak dari pemilik kebun teh ternama di Kota Bandung yang dipersunting Bagaskara selepas mereka menyelesaikan kuliah sarjananya itu terpaksa menelan pahitnya prahara rumah tangga. Semuanya bukan karena dirinya tak elok lagi, bukan pula karena dirinya yang tidak becus menjadi seorang istri. Ada hal lain yang jauh lebih dalam dari sekedar masalah visual yang tidak pernah ada ujungnya. Masalalu sang suami yang tidak pernah diharapkan datang, kini kembali menunjukkan batang hidungnya. Mengeruk kembali kenangan yang menimbulkan dilema dan juga prahara. "Gilang tadi bilang sama aku kalau rapat kalian selesai jam 5 sore, tepat beberapa menit sebelum jam pulang kantor Mas Bagas," timpal Jasmilla seraya berjalan menghampiri suaminya. Kaki jenjangnya terekspos dari balik jubah tidurnya yang terikat sembarangan ketika tungkainya bergerak membawa Milla menuju sofa yang diduduki suaminya. Kantung mata yang menghitam terlihat jelas. Bohong jika Milla berkata ia bisa tidur lelap ketika suaminya selalu pulang tengah malam dan beraroma alkohol bercampur parfum wanita lain di setiap harinya. Helaan napas kasar Bagaskara membuat Milla sedikit berjengit. Wanita itu menatap suaminya, bersiap dengan apapun yang akan Bagaskara lakukan kepadanya. Dua maupun tiga tamparan sudah biasa ia terima ketika menyambut suaminya seperti ini atau bentakan kasar yang menggores hatinya jauh lebih dalam lagi. Namun malam ini, Milla tidak gentar. Ia mengangkat wajahnya berani. Dengan matanya yang memerah, Milla berusaha memaku tatap dengan Bagaskara yang sudah terpancing emosinya. "Kamu tuh kebiasaan, selalu berprasangka buruk sama suamimu!" Bagaskara menatap dingin ke arah Milla sebelum jari telunjuk pria itu menekan keningnya sedikit kasar. "Ini nya dipake, Mas kerja kayak gini juga buat siapa kalau bukan buat kamu!" "Mas, aku tuh cuma butuh kabar dari kamu. Kalau semisal kamu masih ada rapat atau mau pergi ke mana dulu, 'kan bisa kabarin aku lewat chat. Gak akan makan banyak waktu ... paling lima menit. Itu udah cukup Mas buat bikin hati istrimu tenang." Suara Milla mencicit lemah, sedikit bergetar, nyaris menangis. Namun, malam ini ia tidak ingin kembali menjadi wanita lemah. Milla tahu jika ucapannya ini akan menyulut emosi Bagaskara. Namun, hatinya sudah terlalu berat menahan ini semua. Lima bulan bukan lah waktu yang sebentar. Sudah cukup bagi Milla menahan dan mencoba memaklumi sifat suaminya yang berubah. Kali ini, semuanya tidak bisa lagi ia belenggu. "Kamu mana ngerti! Jangankan buat pegang handphone, buat makan aja Mas kadang lupa!" Bagas menyentak tangan sang istri ketika Milla berusaha mengenggam jemarinya. "Kalau gitu, mulai besok aku anterin makan siang ke kantor ya, Mas? Biar aku tetep bisa tau keadaan mas hari itu." Milla kembali berusaha memasang senyum di wajahnya walaupun matanya sudah memerah menahan sakit yang timbul akibat sikap suaminya. Ia berbicara dengan lembut dan kembali menjulurkan tangan untuk mengenggam jemari kokoh Bagaskara. Namun, rasa sesak semakin membuncah di dadanya ketika melihat respon Bagaskara yang ternyata sesuai dengan pikiran terburuknya. Pria itu membelolot, menggertakkan giginya, membuat rahang tajamnya terlihat semakin tegas membingkai wajah penuh emosinya itu. Tangannya kembali ditepis, kali ini lebih kasar hingga membuat punggung tangan Milla terasa perih. Kekehan sinis keluar dari bibir tipis Bagaskara yang menyeringai kecil. Tatapan dingin yang suaminya layangkan ke arahnya terasa menghunus jiwa. Tatapan yang dulu penuh cinta itu kini sudah tidak ada. Sinar cinta itu semakin pudar, menyisakan sorot dingin yang terasa membekukan dirinya dari dalam. "Kamu emang gak pernah bisa ngertiin Mas ya, Mill. Gak usah, lebih baik kamu jangan ganggu Mas kalo gak mau bikin Mas tambah stress!" sentak Bagas. Hati Jasmilla bergemuruh, ia memejamkan matanya sejenak sebelum kembali menatap suaminya. "Kenapa gak boleh? Apa mas nyembuyiin sesuatu dari aku?" tuduh Milla kali ini lebih berani walaupun dengan sudut matanya yang sedikit basah. "Mas kerja sampai mau gila tapi kamu malah nuduh Mas yang enggak-enggak. Gak habis pikir lagi Mas sama kamu!" Cela Bagaskara dengan gigi yang bergemeletuk. Jasmilla menunduk seraya menautkan jemarinya di atas kain satin yang menyelimuti setengah pahanya itu sebelum perlahan kembali mengangkat wajahnya, menatap Bagaskara seraya menggelengkan kepalanya ribut. "Aku gak maksud nuduh kamu, Mas," cicitnya. "Aku cuma khawatir ada apa-apa sama kamu, makanya aku butuh kabar dari kamu." Air mata nyaris luruh ketika Milla berkata seraya menatap ke dalam netra Bagaskara. Namun, mata basah dan juga hidung merah sang istri tidak juga membuat Bagas melunak. Justru, emosinya semakin memuncak. Pria itu kini tak segan untuk mencengkram rahang Milla, memaksa wanita itu untuk semakin memusatkan pandangan ke arahnya. "Kamu tuh gak akan pernah ngerti sesibuk apa orang kerja. Kamu gak pernah kerja, dari dulu selalu terima hasilnya aja! Ngertiin Mas sekali ini bisa kan, Mill? Mas capek!" Bagaskara berujar tepat di depan wajahnya sebelum melepaskan cengkraman itu sedikit kasar, membuat kepala Milla sedikit terpelanting ke belakang. Satu tangan Bagas sudah terangkat di udara. Milla memejamkan mata bersiap untuk menerima tamparan dari telapak tangan suaminya, namun Bagas urung melakukan. Ia mengepalkan tangannya sebelum melayangkan kepalannya ke punggung sofa tempat Milla meringkuk ketakutan. Bugh! Sofa itu sedikit bergeser dan Milla membuka matanya, menatap Bagas yang dadanya masih kembang kempis menahan emosi. "Masih untung Mas gak suruh kamu kerja dan tetep manjain kamu kayak pas kamu masih gadis dulu. Semua perawatan mahal kamu, uang jajan kamu, kalo bukan karena kerjaan Mas, mana bisa kamu nikmatin ini semua, Jasmilla!" Bagas menyentak di depan wajah istrinya. Air mata semakin menggenang di pelupuk Jasmilla. Terlebih, ketika melihat Bagas yang mulai beranjak, meninggalkannya di ruang tamu seorang diri. "Tapi, hari ini ulang tahun pernikahan kita, Mas ... Aku udah nyiapin makan malam istimewa," lirih Jasmilla dengan pandangan nanar yang terus menatap ke arah kepergian suaminya yang berbelok masuk ke sebuah kamar tamu yang berada di dekat tangga menuju lantai dua. Air mata itu luruh seketika, bersama dengan pintu kamar yang ditutup dari dalam oleh Bagaskara. Meninggalkan luka menganga di hati sang istri yang hanya bisa menangis seraya mendekap dirinya sendiri di atas sofa.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
5.7K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
194.0K
bc

TERNODA

read
201.8K
bc

Kali kedua

read
222.0K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
236.4K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1.1K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
22.8K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook