Hamil

376 Kata
Satu bulan telah berlalu menyisakan kesedihan yang mendalam dihati Kirana Saputri. "Mas Hendra... Dimanakah Kamu saat ini? sudah satu bulan kamu pergi tanpa kabar.. Apakah Kamu baik-baik saja? Ku harap dimana pun Kamu berada, Kamu dalam keadaan sehat Mas..." kata Kirana dengan mata yang bengkak sambil mengelus foto pernikahan Dia dan suaminya. "uek...uek...Kenapa rasanya Aku ingin muntah? dan kepalaku agak sedikit pusing." kata Kirana sambil memegangi perutnya yang mual. Sudah satu bulan ini Dia memang tidak makan makanannya dengan benar, tetapi baru kali ini Dia merasakan pusing dan mual. Jadwal datang bulannya pun sudah telat satu minggu. Dia merasa ada yang tidak beres dengan dirinya. Tetapi Dia tidak mau menerka-nerka apa yang sedang terjadi pada dirinya. Dia pun pergi ke Apotek untuk membeli Test Pack karena pada saat malam sebelum kepergian Suaminya, Dia merasa telah ternodai oleh suaminya itu. Hal itu didasari oleh keadaan tubuhnya yang hanya terbungkus selimut di pagi harinya. Dengan perasaan takut Kirana memasukkan urine ke Test Pack dan menunggunya selama satu menit. " Bagaimana ini..!.. Aku merasa belum siap jika harus membesarkan anakku sendirian. Aku harus apa sekarang? Suamiku menghilang tanpa kabar, sedangkan disini Aku tengah mengandung anaknya." kata Kirana sambil menangis tersedu-sedu. Ayah dan Arana yang mendengar suara tangisan dari kamar Kirana segera mendekatinya. " Ada apa Kirana sayang? kenapa Kamu menangis nak? " tanya Ayah khawatir. " Tak perlu khawatir seperti itu Ayah. Paling-paling Dia itu cuma frustasi karena ditinggalkan si cacat itu. Hahahaha... Suami dan istri sama saja. Sama-sama menyusahkan...!!!" kata Arana berkacak pinggang. Ayah menatap tajam kearah Arana, membuat Arana diam seketika. Sambil sesenggukan Kirana menceritakan apa yang terjadi padanya kepada Ayah. "Kirana... Kamu harus kuat demi anakmu. Ingat !!! Kamu itu tidak sendirian. Ada Ayah dan kakakmu Arana yang akan selalu ada untukmu." kata Ayah sambil memeluk Kirana. "Ayah benar.... tak seharusnya Kirana bersikap begini. Kirana seharusnya lebih kuat dari yang kemarin, karena ada satu alasan yang menuntut Kirana harus melakukan itu. Ya... ada sebuah benih yang ada di perutku sekarang." kata Kirana. "Maafin mama ya sayang... mama tidak bermaksud mengabaikanmu. Mama janji, akan memberikan yang terbaik untuk kamu. Kuatkan mama sayang ya.." kata Kirana sambil mengelus perutnya yang masih rata. " Nah... itu baru namanya Kirana Saputri. Anak Ayah..." kata Ayah sembari menepuk-nepuk bahu Kirana bangga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN